Fresh House

Fresh House
32.



"Panggilkan Ima dan Rosa." ujar Nenek Tina pada Diana.


Diana mengangguk nurut, ia pun pergi ke atas hendak memanggil dua orang yang bernama Ima dan Rosa itu.


“Rosa elo maksudnya tuh?" tanya Diraz di telinga Luki.


Luki angkat bahu, tapi memang tegang juga sih.


Beberapa saat kemudian Diana sudah turun lagi dan membawa dua nenek-nenek lain yang sepertinya tenaganya masih umur 40-an.


"Nah, guys, kenalin nih... Nenek Ima dan Nenek Rosa, nenek gue yang lain."


Alex langsung tersedak dan Diraz terbahak pelan. Luki tersenyum hambar. 'Jadi nenek-nenek? Gue kira beneran ada orangnya di sini.'


"Ng...?" Rai terlihat ragu, masih ga ngerti kok bisa ada banyak nenek di rumah ini. Apa ini rumah jompo ya?


Diana yang sudah mengerti dengan pertanyaan Rai langsung menjawab, "Kalo yang lagi motong buah itu Nenek kandung gue, panggil aja Nenek Tina... Sedangkan Nenek Ima dan Nenek Rosa adalah adik-adik dari Nenek Tina."


Rian balas tersenyum. "Brarti rumah lo rame ya tiap hari."


Diana mengangguk. "Kalian belum liat yang lain. Kalau sabtu gini memang kebanyakan ada acara, tapi kalo hari biasa di rumah ini ada kakak gue, dua adik gue, papa, mama, trus ada paman gue juga yang masih bujang."


"Ramai amat." Luki tidak bisa membayangkan seperti apa ributnya rumah ini ditambah dengan dua anak kecil adik Diana.


"Aduh ganteng-ganteng ya," komentar Nenek Ima, "Temen-temen kamu, ya, Na?"


Alex tersenyum tipis karna dipandangi oleh Nenek Ima. Mendadak dia jadi tegang juga kalau diliatin gitu sama nenek-nenek.


'Diana, ayo kamu bikinin minum buat pria-pria ganteng ini." tukas Nenek Rosa pada Diana yang memang belum menyuguhkan apa-apa dari tadi.


"Oh iya, Nenek Rosa..." Diana langsung buru-buru ke dapur untuk mengambil minum.


Luki dan Rai saling lirik. Hehe, jadi itu Nenek Rosa?? Haha, masih terasa janggal.


Tak lama, Diana datang membawa minuman sirup jeruk segar dengan es. Ya inilah yang dinanti-nantikan anak Freshouse dari tadi : minum! Tenggorokan mereka sudah kering minta diairi.


"Nah, ayo-ayo silakan diminum." ujar Diana sambil meletakkan minuman satu per satu. Namun saat akan meletakkan gelas terakhir, yaitu gelas untuk Rian, Diana malah tak sengaja menumpahkan air sirup itu hingga setengahnya habis. "Aduh-aduh, maaf ya maaf..."


Diraz nyengir kaku. Belum juga diminum sudah tumpah lagi.


"Maaf ya, Rian," ucap Diana sambil membungkukkan badan, "Tar gue bikinin lagi buat lo."


Diana langsung berlari masuk ke dapur untuk mengambil lap.


Rian juga ikut membantu dengan menyisikan semua barang-barang di atas meja supaya tidak terkena tumpahan sirup. Dia sih sudah cukup sadar kalau Diana tipe cewek lugu dan ceroboh, jadi Rian ga terlalu surprise.


Diana datang lagi membawa segelas sirup yang lain dan juga membawa lap. Dia melap meja yang basah yang turut dibantu juga oleh Rian. Sementara itu Nenek Ima dan Nenek Rosa mengajak yang lain mengobrol dengan semangat, bagaimana kuliahnya, sudah punya pacar atau belum, kabar keluarga dan lain-lain.


Sampai akhirnya Nenek Tina yang ditinggal sendiri di dapur membuat rujak dan dilupakan Diana karna terlalu asik mengobrol dengan yang lainnya di ruang tamu, Nenek Tina muncul sambil berkacak pinggang.


"Bagus ya, Diana, Nenek bikin rujak sendirian sementara kamu enak-enakkan ngobrol."


Nenek Ima dan Nenek Rosa tertawa pelan.


"Oh iya, maaf Nenek Tina, maaf... Diana lupa." Diana langsung bangkit berdiri, "Diana bantu ya, Nek."


"Ga usah, rujaknya udah jadi.. Kamu ajak yang lainnya ke teras belakang, kita makan di sana."


Akhirnya mereka pun berkumpul di teras belakang yang sepoi-sepoi sambil menikmati rujak segar buatan Nenek Tina dengan ditemani segelas jus jambu (mimpi Rai kesampean juga). Mereka asik mengobrol di sana, tidak memedulikan perbedaan usia yang begitu jauh (bahkan Luki sampai menganggap nenek-nenek Diana cukup menyenangkan juga). Ya memang sesekali agak takut juga karna nenek-nenek itu begitu semangat mengobrol dan terus memuji kalau mereka itu tampan seperti boy band.


Setelah kenyang makan rujak, Diana langsung membereskan semuanya dan Rian dengan senang hati mau membantu Diana. Rian yang memang sejak awal sudah tertarik pada cewek konyol ini akhirnya mengajak ngobrol Diana saat mereka sedang di dapur, meletakkan peralatan makan yang kotor.


Rian melirik Diana dulu sebelum ia mulai berbicara. "Na, lo tau bad boy ga?"


Alis mata Diana mengernyit. "Bad boy?"


Rian mengangguk, sedikit tegang. Dia ingin tau apa Diana yang terlihat ceroboh dan kanak-kanak ini juga tidak tau bad boy. Rian masih merasa dongkol sendiri sejak peristiwa bad boy dimana pipinya kena gampar itu.


"Ng... maksudnya cowok jelek?"


"Bukan... bad boy itu kayak cowok yang suka mainin cewek, mempermainkan perasaan cewek gitu."


Diana mengangguk-angguk baru tau.


"Gue juga waktu itu ga atau bad boy, eh si Luki malah bilang kalo bad boy itu artinya bagus buat cowok. Pas ada cewek yang nyatain perasaannya ke gue, dengan PD-nya gue ngaku gue bad boy, eh gue langsung ditampar."


"Haa??" Mulut Diana menganga, "Hanya karna itu lo ditampar?"


Rian mengangguk kelu. "Tragis ya? Sejak itu gue kapok ngaku diri bad boy."


"Tapi gue rasa lo ga bad boy." ucap Diana membela.


Rian tersenyum. "Lo juga ga keliatan bad girl." Rian langsung pergi, kembali ke teras. Diana masih terbengong di sana, kurang ngerti.


Bad girl?? Trus bad girl apa?


Diana yang polos itu hanya angkat bahu cuek lalu mengikuti Rian ke teras.


Hari ini memang sungguh menyenangkan dan penuh tawa. Sekarang Diana memiliki 5 teman baru sekaligus tetangga baru. Diana senang sekali karna lima cowok itu tidak seperti cowok kebanyakan yang ia kenal. Mereka apa adanya dan obrolannya juga seru-seru.


 ---skip---


Pagi ini sepertinya lebih heboh dibandingkan pagi-pagi sebelumnya. Pagi ini supir Freshouse kali ini adalah Diraz dan Luki. Di mobil Diraz ada Rian dan Alex sedangkan Rai ikut bersama dengan mobil Luki.


Belum jauh mobil Diraz meninggalkan Freshouse, tiba-tiba saja Rian yang duduk di belakang langsung teriak.


"Eh, stop stop!!"


"Kenapa?" tukas Diraz yang kagetnya minta ampun.


"Itu!" Rian menunjuk seorang cewek yang sedang berjalan di dekat mobil mereka. Tak salah lagi, cewek itu memang Diana! "Itu Diana kan?"


Alex dan Diraz memperhatikan yang ditunjuk Rian. Ya memang benar itu Diana, sepertinya cewek itu mau berangkat kuliah, entah naik apa, mungkin naik angkot.


Cepat-cepat Rian langsung membuka kaca mobil. Dia memanggil Diana. "Diana!"


Cewek yang dipanggil menoleh dan terkejut, "Hei!"


"Ayo bareng aja, Na..." ucap Rian semangat, "Ke kampus kan?"


Akhirnya Diana pun nebeng di mobil Diraz bersama dengan yang lainnya. sedangkan mobil Luki sudah jauh di depan.


"Emang biasanya kalo kuliah pergi sendiri?" tanya Rian yang duduk di sebelah Diana.


"Engga juga... Biasanya dianterin Bokap tapi kebetulan Bokap lagi di luar kota. Nyokap sih udah nyuruh gue bawa mobil, tapi gue takut."


"Takut kenapa?" tanya Alex menoleh heran.


"Takut nabrak tiang atau jatuh ke jurang kayak di TV-TV."


Alex melongo. Diraz dan Rian langsung terbahak-bahak.


"Jatuh ke jurang? Di Jakarta mana ada jurang." ucap Diraz masih geli.


"Tapi gue tetep aja takut." sahut Diana lagi.


"Motor deh, motor." ucap Diraz lagi, Banyak kok cewek yang bawa motor matic.


"Naik sepeda sih gue bisa... Tapi kalo naik motor gue belum pernah nyoba," jawab Diana, "Nyokap emang udah ngebeliin gue motor matic. Dan gue juga disuruh latihan naik motor tiap hari."


"Tapi bukannya dibandingin motor mending naik mobil?" tanya Rian.


"Iya... tapi gue kan takut," ucap Diana dengan suara lemah, "Takut ada kecelakaan, takut ditilang, pokoknya takut."


"Sama aja lagi kayak motor... Motor juga ga jauh beda kayak mobil." ujar Alex.


"Gue juga ga tau kenapa, tapi yang jelas gue lebih takut nyetir mobil dibandingin naik motor."