
Akhirnya Luki, Diraz, Rai, Rian, Alex dan pacarnya, Karin, mulai memesan makanan sambil mengobrol.
Rian dan Luki terus saja mengorek mengenai proses Alex bisa pacaran dengan Karin.
Diraz makan dengan tenang sedangkan Rai sesekali nyeletuk, menasihati Rian yang makan berantakan.
"Sepupu kami ini pendiem lho," ucap Luki pada Karin membicarakan Alex yang dari tadi sedikit bicara, "Tapi dia memang berkharisma."
"Dan dia juga susah dibangunin..." celetuk Rian membuat Alex hanya mengangkat kepalanya sedikit memandang Rian, sama sekali tidak terlihat marah sedang dipermalukan begitu.
Karin hanya tersenyum, "Ga masalah... Aku nerima Alex apa adanya."
Alex hanya tersenyum, Luki dan Rian sibuk bersuit-suit. Sementara Diraz merasa perutnya mual, dia merasa cewek yang duduk di samping Alex itu hanya menggombal saja.
Diraz melirik kantong besar belanjaan yang disimpan di lantai dekat kaki Karin. Diraz mengerti sekarang.
'Apa-apaan ini... Si Alex kenapa pacaran sama cewek matre?' batinnya.
Saat Alex pergi ke toilet, feeling Diraz mengenai cewek itu semakin kuat.
"Kalian semua sejurusan sama Alex?" tanya Karin sok manis.
Rian yang memang polos mengangguk, "Iya, bahkan kami juga satu rumah lho..."
"Oh ya?" Karin terlihat tertarik dengan pembicaraan ini.
"Keluarga besar kami ingin kami makin kompak, jadi kami dibuat serumah... katanya sih supaya nanti saat kami jadi penerus dua perusahaan keluarga, kami udah matang dan bisa bekerja sama dengan baik."
"Hal yang kayak gitu ga usah dibicarain, Rian," gumam Rai pelan.
Senyum Karin makin lebar. Dia baru tahu kalau ternyata ada dua perusahaan keluarga yang menanti 5 orang sepupu itu.
'Wow... gue ga nyangka...' batinnya. Karin membayangkan betapa mapannya dia kalau terus pacaran dengan Alex atau salah satu dari orang-orang ini.
"Emang Alex ga pernah cerita sama lo?" tanya Luki agak heran.
Karin tersentak dan menggeleng. "Belum... mungkin karna kami baru pacaran."
Diraz mendengus dalam hati. Entah kenapa hatinya slalu tidak damai apabila matanya beradu pandang dengan Karin.
Karin melirik Rai yang baginya sangat keren dan fashionable itu. Alex memang ganteng tapi Rai lebih menarik apalagi karna sorotan matanya yang tajam. Kalau ingin mengakui, sebenarnya Karin lebih menyukai tipe seperti Rai ini.
Tiba-tiba tangan Karin sudah terjulur menyentuh pipi Rai yang kontan membuat yang lainnya terkejut.
Rai yang kaget menjauhkan wajahnya dengan agak tak suka akan tindakan tiba-tiba yang dilakukan cewek itu.
"Ada sisa makanan nempel di pipi kamu," ucap Karin tersenyum manis.
Rai hanya bergumam pelan sendiri dan membersihkan pipinya dengan serbet, merutuki dirinya yang makan tidak rapi sampai cewek bernama Karin itu harus menyentuh pipinya. Ia agak tak nyaman dengan sikap pacar Alex ini.
Diraz nyengir hambar, semakin yakin kalau Karin itu memang sesuai dengan instingnya.
Luki dan Rian sama-sama melongo, antara terkejut dengan sikap Karin barusan dan menyadari kalau Karin itu kan baru kenal dengan mereka, baru kenal juga dengan Rai.
"Udah bersih kok, Rai," ucap Rian pada Rai yang masih saja terus membersihkan pipi (Rai tidak mau Karin memiliki kesempatan lagi menyentuh pipinya dengan alasan ada sisa makanan).
Sejak kejadian itu Rai jarang sekali melihat ke arah Karin. Dia bahkan jarang berbicara atau menimpali semua omongan Karin.
---- skip ----
"Lex, hari ini kita berlima mesti pergi ke supermarket belanja bulanan," ucap Diraz datar sambil meminum orange juicenya.
Dari tadi Karin begitu cerewet mengobrol pada Alex membuat Diraz tertarik untuk menyela. Diraz melempar pandangannya pada Karin, "Lo bisa kan untuk hari ini aja pulang sendiri?"
Karin langsung tertegun apalagi dengan sorotan mata Diraz yang terlihat tidak ramah.
"Belanja bulanan kenapa harus berlima? Dua orang juga cukup kan?" sahut Alex.
Luki mengangguk-angguk dan memandangi Diraz dengan heran campur bingunf.
"Biarin aja si Alex nganterin Karin pulang."
Sekarang Luki yang dipandangi sinis oleh Diraz, "Lo gimana sih... Yang belanja bulanan tuh harus kita berlima. Masing-masing kita kan punya kesukaan dan kebutuhan yang berbeda-beda."
Rai juga kini ikut membela Diraz.
"Diraz bener. Belanja bulanan tuh memang harus dilakukan oleh kita berlima."
Luki memandangi Diraz dan Rai dengan alis berkerut. Ada apa coba dengan 2 sepupunya ini.
Namun untuk kali ini Luki yang walaupun kepala suku tidak ingin membantah, atau adu argumen apalagi dengan 2 orang seperti Diraz dan Rai yang keras kepalanya minta ampun.
Rian melirik Karin yang tersenyum kecut.
"Ga apa-apa kan pulang sendiri?"
Karin mengangguk tidak ikhlas. Dia agak kesal juga, kenapa sebagai wanita dia tidak didahului kepentingannya. Dan Alex pun tidak mengatakan apa-apa lagi membuat Karin ingin marah padahal dia ingin Alex membelanya atau apa.
Iphone Rai yang berada di atas meja bergetar. Rai melirik sebentar namun ia biarkan saja.
"Kok ga diangkat?" tanya Rian polos.
"Cuma orang iseng." jawab Rai datar sambil kembali makan.
Luki terkikik pelan. "Emang lo belum tau ya, Yan? Akhir-akhir ini banyak banget yang nelepon Rai."
Diraz ikut mengekeh dan Rai terlihat tidak peduli.
"Emang siapa yang nelepon O Mama?" tanya Rian.
"Penggemar." celetuk Diraz, "Gue salut sama lo, Rai. Baru bentar di kampus baru udah banyak fans lo. Sama sekali ga berubah, kayak SMA."
Rian menganga. Ia memandangi Rai dengan takjub. Dia saja yang sudah 3 semester kuliah di kampus ini baru ada segelintir cewek yang tak dikenal yang menelepon dan mengajak kenalan.
"Kenapa ga diangkat, Rai?"
Rai tak menyahut.
"Capek ya?" sindir Diraz.
"Atau jangan-jangan Rai udah punya cewek yang disuka?" celetuk Karin ikut menimbrung sambil menatap Rai sunguh-sungguh, berharap Rai masih single.
Rai tersenyum tipis saja makin malas menimpali semua obrolan ini.
Rian masih memandangi Rai dengan takjub. Rai yang fashionable, jago masak, dan cerewet kayak nenek-nenek, ternyata punya banyak pengagum rahasia.
Rian juga melirik Alex yang sudah punya pacar itu. Baginya para sepupunya sudah mulai dewasa.
Kalau dipikir-pikir Rian sama sekali memang belum tertarik dengan love stuff. Dia sudah cukup puas dengan julukan bad boy dari Rai dan Luki padanya.
--- skip ----
* jangan lupa tinggalkan jejak sehabis membaca ya. kasih dukungan vote juga untuk author ya 😆 makasih! *