
Rai berjalan masuk ke dalam ruangan studio tanpa siapapun yang tau. Rai duduk seperti biasa di bangku yang slalu ia pakai dekat pintu kalau ia akan melihat Rahel yang latihan dance.
Rai tersenyum sambil merapikan kupluk hijaunya saat melihat Rahel memakai kaos panjang hijau dengan penutup kepala.
'Sekarang gue yakin kalo dia emang pecinta hijau sejati.'
Kali ini yang menjadi lagu latihan untuk Rahel dan teman-temannya adalah lagu korea : Kill This Love (Blackpink).
Rai sih sama sekali tidak tahu lagunya tapi baginya Rahel tetap yang paling cemerlang di antara yang lainnya kalau soal dance dan ekspresi wajah.
Rai memandang ke sekeliling. Untunglah hari ini pria aneh yang waktu itu menonton tidak ada. Rai paling malas kalau sudah diajak mengobrol oleh pria itu. Dan sepertinya rata-rata yang menonton latihan dance ini 5-7 orang. Hari ini Rai menghitung ada 6 orang yang menonton dekat pintu. Ya sepertinya tidak ada larangan untuk orang luar yang ingin melihat atau menonton, hitung-hitung publikasi klub juga.
Lagu Blackpink sudah berakhir dan enam cewek dancer itu istirahat sambil mengobrol. Rai sendiri sudah sibuk dengan Iphonenya karna sibuk membaca twit teman kampus lamanya.
Rai terkekeh pelan sendiri saat membaca twit teman-temannya : "Kemana lu?? Kelas makin sepi... ga ada cewek yang betah nongkrong di sini lagi."
Baru Rai akan membalas, ia merasakan aroma parfum peach dan Rai melihat sebuah kaki di hadapannya.
Rai yang bingung mengangkat kepalanya dan kaget saat melihat Rahel berdiri di hadapannya sedang tersenyum ramah.
Rasanya Rai sudah kehabisan nafas karna Rahel tiba-tiba saja mendatanginya. Rai bisa melihat bulu-bulu mata lentik Rahel dari sedekat ini.
"Hei.. bawa mobil? Bisa temenin gue ke supermarket beli cemilan?" tanya Rahel enteng dengan nada yang sangat ramah namun sopan.
Rai langsung mengangguk dan berdiri. "Gu-gue bawa mobil... Oke, gue anterin lo."
Rahel tersenyum lalu pergi keluar duluan diikuti Rai yang jantungnya sudah deg-deg-plas.
"Kenalin nama gue Rahel." kata cewek itu ramah saat mereka sudah berada di mobil dan mobil yang dikendarai Rai sudah meninggalkan parkiran kampus.
"Gu-gue Rai." sahut Rai menoleh sebentar dengan senyum gugup.
"Duh sorry, gue ngerepotin ya? Lo pasti kaget banget, tau-tau gue nongol dan minta dianterin ke supermarket?"
"Eh-eh.. ga apa-apa kok. Lagian gue juga ga ada kerjaan, nunggu sepupu gue yang lagi kuliah."
"Gue beberapa kali ngeliat lo di studio ngeliatin kami yang lagi latihan, jadi langsung aja deh gue minta dianterin ke supermarket. Temen-temen gue pada ga bisa, sibuk kuliah."
"Tapi latihan dancenya belum selesai kan?"
"Belum... ini kami lagi istirahat. Lo bener ga keberatan nganterin gue?"
"Ga apa-apa kok, beneran." Rai nyengir impuls.
"Oh ya baju kita sama ya warnanya. Gue suka banget sama warna hijau."
'Gue udah tau.' batin Rai.
"Iya kebetulan..."
"Lo suka dance juga, Rai?"
Rai langsung menggeleng-geleng. Dia sih mana mau kalau diajak bergabung, dia kan tidak bisa ndance.
" Gue cuma seneng liatnya aja."
Rahel terkekeh. "Yaaa... kirain lu mau gabung. Berarti kan lo jadi anggota pria pertama dalam satu dekade terakhir."
Rai hanya tertawa. "Oh ya, lo itu jurusan apa sih?"
Rai tersenyum. "Oh teknik lingkungan... Pasti gue kunjungin lo."
Sesampainya di supermarket Rahel mengajak Rai untuk ikut masuk. Mereka langsung ke bagian rak-rak cemilan.
"Duh enaknya ngemil apa ya??"
"Gimana yang ini?" tanya Rai menunjuk snack ringan kentang, berusaha membantu Rahel dalam memilih.
Mulut Rahel langsung mengerucut. "Lo tau, bungkusnya aja yang segede tas gue.. tapi isinya... waduh segram juga ga nyampe. Parah."
Rai tertawa pelan. "Jadi lo pengalaman dalam makan cemilan?"
"Oh jelas..." sahut Rahel. Cewek itu kemudian mengambil snack ringan yang bungkusnya berwarna kuning keemasan. "Menurut lo ini enak ga?"
Rai memandangi bungkus berwarna cerah itu. Ia mengangguk, "Kayaknya sih enak tapi gue belum pernah nyoba, emang kenapa?"
Lagi-lagi mulut Rahel mengerucut. "Rasanya enaaaakk banget. Gue ampe beli 3 bungkus dan pas gue ngaca, tau ga, bibir gue langsung kuning, lidah kuning, gigi juga kuning."
Rai tertawa spontan.
"Gue langsung teriak, ngeri dong... takut nanti muka jadi kuning, kalo rambut kuning sih ga masalah deh."
Tawa Rai makin keras. Tak ia sangka kalau Rahel itu kocak juga, berbicara apa adanya sekalipun pada orang yang baru dikenal.
Rahel tersenyum melihat Rai yang enak tertawa itu. Kali ini Rahel mengambil snack isi coklat. "Gue bisa praktekkin iklan makanan ini. Watch this."
Rahel langsung menari ala anak kecil enam tahunan persis di iklan makanan yang dipegang Rahel.
Rai terkekeh. Apalagi Rahel juga sampai hafal dialog anak manja yang ada dalam iklan itu :
"Mamaaahh... Indra mau makan yang ini... Beliin segudang!"
Rai tertawa terpingkal-pingkal. "Okeh okeh, gue beliin deh buat lo."
Rahel langsung menggeleng. "Engga ah. Gue sih mana suka makanan beginian. Lidah gue langsung panas."
"Ngeliat lo nari gila kayak tadi, gue jadi ingat sama sepupu gue yang hobi banget nari-nari ga karuan di pinggir jalan."
"Oh ya? Kenapa?"
Rai angkat bahu, menahan geli. "Dia itu kalo lagi seneng dan jalan bareng ke mal pasti deh nari-nari di pinggir jalan. Bikin malu."
"Kayak gimana, Rai, kayak gimana?" tanya Rahel ingin tau.
Rai langsung saja mempraktekkan tarian Rian yang seperti ombak menggulung, atau yang ular kobra atau juga yang mix dengan lagu poco-poco.
Salah satu pengunjung supermarket yang melihat Rai menari-nari itu langsung syok. Ganteng-ganteng kok nari malu-maluin gitu. Anak jaman sekarang.
Rahel mengekeh keras, tak tahan melihat kekonyolan Rai. Rahel saja tertawa sambil bertepuk tangan karna gelinya.
Rai yang sadar kalau dia ternyata sedang mempermalukan diri, tak hanya di hadapan Rahel tapi juga di hadapan pengunjung yang lain, langsung saja berhenti menari. Berdiri terpaku. Ngeri juga karna sampai lose control kayak tadi. Apa ini karma?
“Good looking but totally fool."
Komentar Rahel membuat Rai makin malu abis, walau sebenarnya komentar itu juga setengah pujian kan.