Fresh House

Fresh House
Perjodohan (2)




Dengan penuh tanda tanya kelima cowok itu pun mrnurut saja dan mengikuti Mama Luki menuju dekat pintu yang mana banyak orang sedang mengobrol membicarakan bisnis penting.


"Bapak dan Ibu Arya, ini dia yang ingin saya kenalkan." ucap Mama Luki pada sepasang suami istri yang umurnya tak beda jauh dengan Mama Luki.


"Ah.. ini toh yang tadi Ibu ceritakan soal 5 anak yang dipersatukan dalam satu rumah?" tanya Bu Arya dengan senyum lebar menyapa 5 sepupu itu.


"Betul... Mereka ini yang nantinya akan menjadi penerus perusahaan ini." sahut Mama Luki dengan seulas senyum manis.


"Jadi siapa? Yang mana, Bu?" tanya Bapak Arya pada Mama Luki dengan sangat penasaran.


Baik Luki, Diraz, Rai, Rian dan Alex hanya bengong saja, tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Bapak Arya.


"Yang ini..." gumam Mama Luki sambil memegang pundak anaknya, "Ini anak saya, namanya Luki."


Luki yang seolah latah, langsung saja berjabat tangan dengan Bapak dan Ibu Arya. Tidak mengerti dengan maksud ibunya, namun sepertinya dia sedang dipromosikan secara spesial. Luki mengerling pada 4 sepupunya, merasa sekarang berada di atas awan.


"Dia ini yang paling cerdas dan dapat dipercaya." puji Mama Luki di hadapan Bapak dan Ibu Arya. Ketiga orang dewasa itu tertawa pelan sementara Diraz, Rai, Rian dan Alex sudah dongkol mendengarnya. Ini sih sama aja dengan penghinaan! Luki dianggap yang paling baik dibandingkan yang lainnya, padahal kan belum tentu.


Diraz yakin kalau Luki itu emang lola tapi entah kenapa nilai-nilai Luki memang selalu bagus, dan bahkan terakhir yang ia tau IPK Luki di atas 3,8.


"Ya sudah saya panggil Rosa ya." gumam Bu Arya dan langsung memanggil seorang wanita yang tak jauh dari sana.


Baik Luki dan yang lainnya masih terbengong dan tak mengerti melihat seorang wanita yang memakai stelan formal : rok span, kemeja dengan blezer, high heel, dan make up wanita karir.


Mereka menyangka kalau sepertinya wanita itu lebih tua 3 atau 4 tahun dan bisa saja merupakan sekretaris Bu Arya.


"Kenalkan ini Rosa, anak saya..." ujar Bapak Arya sopan pada 5 cowok, terlebih pada Luki.


Rosa tersenyum formal. Cewek yang rambutnya digelung dan memakai kacamata itu terlihat dewasa. Luki dan kawan-kawan juga balas senyum walau bingung dengan tujuan apa dikenalkan.


"Nah, Ki," ucap Mama tiba-tiba, "Ini adalah wanita yang Mama jodohkan untuk kamu. Kami sepakat akan menjodohkan kalian..."


"Haaahh??" Luki tercengang bukan main. Rian juga ikut-ikutan menganga. Alex melotot, Rai dan Diraz masih hilang kendali.


Rosa hanya tersenyum melihat reaksi Luki. Sepertinya wanita ini sudah mengetahui dirinya akan dijodohkan dari jauh-jauh hari karna ia terlihat sangat tenang, seolah tidak ada masalah baginya apabila dijodohkan dengan Luki.


"Mama rasa kamu pantas, Ki..." lanjut Mama tak kalah membuat syoknya.


Mendengar itu Rai dan Diraz sudah ingin tertawa. Jadi ini pemilihan yang dimaksud Luki dari kemarin sampai tuh anak cerewetnya minta ampun? Jadi untuk menentukan siapakah yang layak untuk bersanding dengan wanita kantoran?


'Makan tuh jackpot.' Diraz tertawa dalam hati.


"Tapi, Ma..." Tenggorokan Luki langsung kering. Ia melirik wanita yang bernama Rosa dengan ga yakin, "Luki lebih muda."


"Luki!" tukas Mama galak, "Kamu itu ga sopan. Rosa itu setahun lebih muda dari kamu."


Luki langsung menggigit lidahnya sendiri, makin ngeri. 'Jadi tuh cewek lebih muda? Kok penampilannya begitu sih??'


Rian dan yang lainnya juga tak menyangka. Mereka berpikir wanita itu memang lebih tua dibandingkan mereka. Mungkin karna stelan, gaya rambut dan kacamatanya kali ya.


"Ga apa-apa kok, Tante..." ucap Rosa tersenyum manis, "Mungkin karna penampilan Rosa yang seperti ini."


Ibu Arya juga tertawa pelan dan berkata pada Luki, "Rosa kuliah di jurusan bisnis. Mungkin karna penampilannya yang begini dia keliatan lebih tua ya? Maklum tadi dia baru dari kampus, tidak sempat berganti pakaian."


Luki meringis, tak enak juga karna sudah menuding yang engga-engga. Tapi kan tetep aja... Dia mana mau dijodohin.


Rai mengekeh sebentar lalu berdehem dan berkata pada Bibinya, "Sepertinya terlalu cepat di umur segini untuk langsung menikah bagi mereka... Tapi kalau maksud Bibi adalah untuk mereka saling mengenal satu sama lain saya setuju-setuju saja. Perjodohan memang sedang tren sekarang."


Luki memelototi Rai, tidak percaya sepupunya tega begitu.


Diraz juga angguk-angguk, berlagak kalem. "Sudah tingkat 2 begini sepertinya tidak apa kalau ada teman dekat cewek, ya ngga, Ki?"


Kali ini giliran Diraz yang dipelototi. Sedangkan mamanya tersenyum makin lebar.


"Bi, Luki itu romantis dan bijak lho," tambah Rian, "Dia sendiri yang ngaku."


Rai dan Diraz menahan kikik. Pengakuan Luki di masa lampau ternyata menjadi batu sandungan juga sekarang. Makanya jangan banyak omong doang.


Rasanya wajah Luki sekarang sudah seperti kepiting rebus, tidak ada yang membelanya.


Ia melirik Alex dengan muka memohon berharap Alex memberikan komentar yang mendukungnya.


Alex tersenyum sekilas. "Saya slalu berpendapat kalau Luki itu harus cepat-cepat punya teman wanita supaya tingkahnya tidak seperti anak kecil lagi."


Rian, Rai dan Diraz langsung tertawa terpingkal-pingkal. Statement Alex itu kontan saja bikin kocak. Ibu dan Bapak Arya juga sampai ikut tertawa pelan.


Luki hanya bisa menutupi sebagian hidung dan mulutnya lantaran sudah malu banget. Dia tidak mau melihat siapapun saat ini. Hari ini seperti mimpi buruk!


'Segala persiapan dan jerih payahku adalah untuk ini... Marriage? Oh noooo....'


"Untuk Rosa dan Luki sepertinya kita harus berikan kesempatan bagi mereka untuk saling mengenal..." gumam Diraz dengan muka sok serius pada para orang dewasa.


Mama Luki mengangguk setuju. "Iya... Kita tinggalkan saja mereka mengobrol ya."


Akhirnya yang lain langsung pergi meninggalkan Rosa dan Luki di sana.


Sebelum pergi Rian sempat berbisik di telinga Luki : "Tunjukkan jurus romantismu, Kepala Suku. Haha."


Luki sudah ingin menjitaki satu per satu 4 sepupunya itu tapi dia tahan karna gengsi. Ya memang dia juga sih yang ngesok dari awal. Tapi Luki memutuskan untuk tidak akan menyerah. Dia akan tetap menunjukkan sisi keprofesionalismenya. Bagaimanapun juga Rosa adalah anak dari salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan ini.


"Lo tahun ini ya baru masuk kuliahnya?" tanya Luki membuka pembicaraan.


Rosa menggeleng. "Kita kuliahnya seangkatan kok tapi kalo umur kayaknya gue di bawah setahun deh. Soalnya waktu SMA gue akselerasi."


"Wahh..." Luki kagum juga. Ya tapi memang sih, kan udah keliatan dari kacamata yang dipakai Rosa. "Kalo kuliah emang harus pake baju kayak gini ya?"


Rosa mengangguk, "Tapi kalo sehari-hari juga gue emang sering berpenampilan begini... Emang bikin keliatan tua ya?"


Luki garuk-garuk kepala, jadi merasa tidak enak. "Engga juga kok... Tapi emang jadi keliatan lebih dewasa."


Rosa tersenyum. "Walau sebenarnya dewasa itu bukan dilihat dari penampilan, tapi gue terima aja pernyataan lo itu."


.


.


👀👀


well kita lihat kelanjutannya. Jangan lupa like dan comment ya. ppyong~~