Fresh House

Fresh House
31.



Sabtu sore ini anak-anak Freshouse olahraga lari keliling perumahan. Kalau Diraz sih memang sudah biasa olahraga sore begini tapi yang lainnya kan tidak, apalagi Rian. Makanya ga jarang Diraz manggil Rian si Kulit Bayi selain manggil si Bungsu (Diraz emang seneng banget ngasih julukan ke orang lain dengan seenaknya). Tapi kali ini Luki juga ikut-ikutan mengomandoi yang lain untuk ikut olahraga sore seperti Diraz. Sebagai kepala suku, Luki mewajibkan semuanya untuk ikut lari sore. Alex yang sudah berminat main PS pun tidak jadi karna perintah Luki yang tidak bisa ditolak itu.


"Aduh capek... nafas gue..." Rian memegangi dadanya. Baru lari satu keliling dia sudah merasa nafasnya tersengal. Rian berada di paling belakang kalau lari beginian.


"Ah cemen amat lu... Ayo, masih ada dua keliling lagi," ucap Luki terkekeh, "Ya ngga, Raz?"


Diraz menahan tawa. Untuk kali ini dia sehati dan sepikir dengan Luki. "Yes, sport is good.”


"Aduh haus gue." ucap Rai berhenti berlari sambil membungkuk memegang kedua lututnya yang mau copot. "Berhenti dulu deh... gue haus nih."


"Tapi kan kita ga ada yang bawa minum," ucap Alex mengingatkan, "Kita main asal pergi aja tanpa persiapan."


Diraz melirik tajam pada Luki. Kalau dia sih sudah biasa olahraga, jadi haus juga masih bisa ditahan tapi yang lainnya kan kasihan.


"Dasar lo, kasihan kan ini mereka kehausan. Freshouse masih agak jauh dari sini."


"Haus... haus..." rengek Rian minta tolong sambil mengulurkan tangan seperti orang yang berada di penampungan.


Luki menyengir tipis. Dilihatnya sebuah pohon jambu di dekat mereka berdiri. Pohon jambu itu letaknya berada di halaman rumah namun ranting-rantingnya mencapai sampai luar tembok pagar.


"Kayaknya gue ada ide." Luki memandangi rumah itu yang sepertinya penghuninya tidak berada di luar. "Kalian haus kan?"


"Banget." sahut Alex menelan ludah.


"Mau ga kalo gue suguhin buah jambu?"


"Mau deh.. apapun jadi." tukas Rian.


Luki nyengir. "Nih..." Luki menunjuk pohon jambu air, "Tinggal ambil."


"Gila lo... Gimana kalo kita ketahuan penghuninya!" tukas Rai sambil memandangi rumah di depan mereka itu. Rumahnya besar dan halamannya juga besar, ada ayunan kayunya juga.


"Ya jangan ketahuanlah!" semprot Luki gemes. Luki melirik Diraz, minta dukungan.


Diraz terbengong sesaat. "Ya okelah... Cicip sedikit kayaknya ga apa-apa, kebetulan gue juga lagi pengen makan jambu. Pasti seger."


"Deal!" Luki terkekeh. Lantas dengan cekatan ia mengambil ranting kayu yang panjang yang berada di sana.


"Kita pake ini buat ngambil jambu. Diraz, lo bantu gue menggapai jambu-jambu merah itu... Alex dan Rai, kalian pake jaket gue untuk menampung jambu-jambu yang bakal kami jatuhin. Bungsu, lo di situ aja pantau keadaan."


Rian merenggut namun menurut juga. Luki sepertinya begitu tau kalau Rian terlalu lemas untuk membantu mereka. Rian berdiri dekat pagar rumah, sesekali melirik ke dalam takut pemilik rumahnya muncul, sesekali juga memandang sekitar perumahan yang untungnya sedang sepi.


Diraz tersenyum saja melihat Luki yang begitu semangatnya hendak menggapai jambu-jambu merah yang menggantung. Memang pantas si Luki yang menjadi ketua, otaknya cerdas kalau soal beginian.


"Itu tuh yang merah, yang merah." tukas Rai pelan sambil menengadah ke atas pohon. Jaket yang ia pegang bersama dengan Alex sudah terisi lebih dari 10 buah.


"Udahlah segini juga udah cukup." gumam Alex memperhatikan jambu air yang ditampung di jaket.


"Masih kurang... Mau gue bawa ke Freshouse, gue pengen nyobain gimana rasanya jus jambu merah." sahut Luki masih meloncat-loncat menggapai buah yang paling merah, namun akhirnya dia serahkan pada Diraz yang badannya lebih tinggi itu.


"Setuju-setuju..." ucap Rai jadi semangat, "Gue juga mau bawa pulang buat dijus."


Rian yang anteng memandangi teman-temannya yang mengobrol itu sampai tidak sadar ada seseorang yang keluar rumah dan membuka pagar. Rian yang bersandar di pinggir pagar hampir saja tergelincir jatuh.


Rian langsung menoleh kaget, begitu juga dengan yang lain karna mendengar suara pagar berdecit. Diraz saja sampai mendadak seperti patung, beku, dengan tangan masih memegang ranting.


"Ah..." ucap cewek yang membuka pagar itu terkejut. Wajahnya polos memandang lima cowok itu bergantian.


Rian tercengang saat melihat cewek itu adalah cewek yang dilihatnya banyak menubruk orang di kantin. 'Si cewek ceroboh!' Rian menutup mulut dengan salah satu tangan.


Rai nyengir kaku sambil melirik jaket yang ia pegang yang berisi buah jambu. Ia mendesis pada Luki. "Woi.. gimana nih."


Diana memiringkan kepalanya memandangi Luki. Ia memang ingat sedikit, "Ah ya.. gue juga inget sedikit.. Lo Luki kan yang IP-nya 4?"


Luki mengekeh sok malu. Diraz sampai ternganga. Dia saja baru tau kalau Luki IP-nya 4. Ternyata si Luki cerdas beneran ya... karna jarang anak teknik yang IP-nya sempurna begitu.


"Lo juga..." Diana menunjuk pada Alex yang memegang jaket berisi jambu itu, "Kita juga sekelas kan waktu tingkat 1?"


Alex mengangguk-angguk, walau sebenarnya dia tidak pernah melihat Diana sekali pun.


“So..." Diraz mendesis pada Luki, minta masalah ini cepat diselesaikan karna tangannya sudah keringat dingin memegang ranting. Dia sih mana mau dibawa ke pos satpam karna diadukan telah mencolong beberapa buah jambu.


"Trus kalian kenapa....?" Diana memandangi heran jaket yang dipegang Rai dan Alex yang berisi buah-buah jambu.


"Ah! Kami tadi ngebantuin mungut buah jambu yang berjatuhan." seru Luki, "Takutnya kegeleng mobil yang lewat, kami pungutin aja dan rencananya kami mau kasihin ke pemilik rumah."


"Oh ya..?" Diana tersenyum manis, "So kind..."


Rian menatap cewek yang bernama Diana itu. Dia sama sekali belum percaya kalau dia akan berjumpa dengan cewek ceroboh itu di perumahan ini, dekat Freshouse!


"Hmm, yah... karna kalian begitu baik..." ucap Diana tersenyum ramah, "Kalian mau ga masuk dulu ke rumah? Kebetulan gue dan nenek gue lagi bikin rujak dan jus jambu..."


“With pleasure." jawab Rai spontan. Dia sih paling seneng sama jus.


"Tapi bener nih ga ngerepotin?" tanya Alex lagi karna masih merasa bersalah sudah mencolong jambu dan Luki yang membohongi Diana yang lugu itu.


“Of course!" Senyum Diana makin lebar, "Ng, kalian juga tinggal di sekitar sini?”


“Actually yes." Rian yang menjawab.


Diana menoleh pada Rian, agak bingung juga karna tidak kenal. Diana hanya mengenal wajah Luki dan Alex di kampus. Rian baru sadar kalau saat tingkat 1, dia sekelas juga dengan Diana. Ternyata dunia itu memang sangat sempit.


"Ini sepupu-sepupu gue." ujar Luki akhirnya karna melihat wajah Diana yang bingung, "Sama kayak gue, mereka juga anak teknik industri. Tapi ya memang di tingkat 2 ini kami ga sekelas sama lo jadi mungkin lo ngerasa asing."


"Oh.. oh gitu..." Diana mengangguk-angguk, "Ya udah ayo masuk aja ke dalam rumah... karna ternyata selain sekampus kita juga tetangga."


Akhirnya lima sepupuan Freshouse itu pun masuk ke dalam rumah Diana sambil membawa buah-buah jambu yang mereka colong sebagai oleh-oleh untuk nenek Diana yang sedang membuat rujak. Diana yang tadinya keluar rumah untuk pergi ke minimarket, akhirnya tidak jadi karna mendadak ia menemukan 5 tamu ini.


"Wah cakep-cakep ya." ucap Nenek kandung Diana yang biasa dipanggil Nenek Tina oleh Diana. Nenek Tina sedang di dapur, memotong buah-buahan dengan gesitnya.


Untuk ukuran nenek-nenek dan cucu sebesar Diana, nenek itu tidat terlihat ringkih sama sekali. Sekalipun rambutnya sudah memutih tapi suara dan tenaganya seperti ibu-ibu saja. "Siapa aja ini?"


Luki tersenyum sopan. "Nama saya Luki, Nek... Ini sepupu-sepupu saya... Alex, Diraz, Rai dan Rian..." Luki memperkenalkan yang lain satu per satu, "Dan kami semua sejurusan dengan Diana."


"Wah satu jurusan ya di kampus," ucap Nenek Tina, "Rumahnya deket sini juga?"


"Iya, Nek... rumah kami hanya 2 blok dari sini." gumam Rai.


"Kalian suka rujak?" tanya Nenek Tina.


"Kayaknya enak, Nek, karna kami juga tadi baru kecapean lari sore." sahut Diraz jujur.


Nenek Tina terkekeh. "Kalian ini anak muda yang ganteng-ganteng dan ramah... Ima dan Rosa pasti seneng ngeliat kalian."


Doeng!


'Rosa????' Luki langsung melotot tak percaya. 'Maksudnya Rosa yang mana nih?'


Rian terkekeh pelan sambil menyenggol-nyenggol lengan Luki. Ga disangka juga di rumah ini Luki bakal ketemu sama calonnya.


"Panggilkan Ima dan Rosa..." ujar Nenek Tina pada Diana.