Fresh House

Fresh House
30.



Hari ini sesuai dengan janji, Rai sengaja datang ke seminar FMIPA karna Rahel dan klubnya akan tampil menari di sana. Rai yang niatnya datang diam-diam sendiri, malah ditarik-tari yang lain untuk nonton sama-sama. Luki, Diraz, Rian dan Alex tidak akan membiarkan momen ini lewat begitu saja. Mereka juga ingin memantau si fashionable Rai yang sedang jatuh cinta. Diraz juga sengaja membawa kamera fotografer untuk memotret gambar-gambar yang bagus. Sejak dulu Diraz memang paling suka seni fotrografi.


"Kalian ngapain ikut sih?" protes Rai di tengah-tengah kerumunan orang di lapangan olahraga depan FMIPA.


"Biarin dong... Ini kan acara umum..." tukas Luki menahan kekeh.


"Gue sih mau jeprat jepret." sahut Diraz sambil siap-siap dengan kameranya mengarah ke panggung.


"Mana pacar lo? Kok belum nongol?" sindir Rian pada Rai dengan kata pacar.


Rai tersenyum tipis. Dia merasa dia tidak akan konsen di sini kalau sepupu-sepupunya mengelilinginya begini. Akh!


"Sambil menunggu pemateri siap, gimana kalo kita liat penampilan tari dulu?" ucap sang MC di depan panggung yang bernama Mika.


"Wah ide bagus!!" seru Ibel, "Dari klub dance kan? Mereka mau nampilin apa ya?" tanya Ibel, sang pendamping MC.


"Kita liat aja yuk!"


Kedua MC itu langsung keluar dari panggung berbarengan dengan munculnya 6 cewek klub dance yang memakai sweater besar bertuliskan DancingQueen dengan warna tiap orang yang berbeda-beda. Mata Rai langsung menangkap Rahel yang tentu saja memakai sweater hijau limau. Cewek itu terlihat siap dan percaya diri, tidak terlihat nervous sama sekali.


"Doi lo tuh." sindir Diraz pada Rai yang sudah memandang Rahel lurus-lurus.


Musik mulai terdengar, lagu Long Kiss Goodbye Halcali mengalun. Mengejutkan memang karna mereka akan menari dengan lagu Jepang. Terdengar tepuk tangan penonton dan sorak nyaring. Ini sih lagu yang cukup populer.


Keenam cewek itu menari dengan kompak namun dengan gaya dan karakteristiknya masing-masing. Ada yang bergaya lugu, feminin ataupun cuek. Sedangkan Rahel bagi Rai, terlihat misterius, untouchable.


Ada yang berbeda memang dari penampilan DancingQueen kali ini. Bibir mereka juga bergerak sesuai dengan lirik lagu yang ada. Bahkan sepertinya mereka sudah bagi-bagi lirik bagian masing-masing, sehingga terlihat seperti girlband saja.


Rahel menari dengan totalitasnya sendiri. Ia memang yang paling menonjol di antara yang lain. Walau sedikit tersenyum namun mimiknya memang sesuai dengan ekspresi lagu.


"Wow keren..." puji Rian. Dia yang senang menari kurang kerjaan di tengah jalan atau di rumah menjadi semakin tertarik dengan seni tari terutama popping dance.


Rai tersenyum melihat Rahel. Mungkin inilah yang ia suka dari Rahel : ekspresi Rahel saat menari sungguh menarik seperti sedang bercerita.


Luki terbengong, melirik Rai di sebelahnya. 'Tadi cewek itu senyum ke Rai kan?? Wow... Are they fallin love each other?'


Diraz menyenggol Alex yang berdiri di sampingnya, "Gue rasa ada yang jatuh cinta nih."


Seusai penampilan DancingQueen, Rai ijin sebentar untuk ke belakang panggung menemui Rahel. Rian dan yang lainnya hanya mengikik geli, tak tahan dengan wajah Rai yang haus akan cinta itu. Hehe.


Di belakang panggung Rai mendekati Rahel yang sedang duduk sendirian sambil menyeka keringat dengan handuk hijau, tidak seperti 5 cewek DancingQueen lainnya yang sedang asyik mengobrol di sisi yang lain.


"Hai..." sapa Rai tersenyum manis pada cewek itu.


Rahel mendongak dan langsung tersenyum. "Hei..."


“Good job." puji Rai memberikan dua jempol tangan.


“Really? Im glad too."


Rai langsung mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah ikat rambut berwarna hijau. "Nih."


Rahel menerimanya dengan keheranan. "Ini buat apa?"


"Buat lo." Rai tersenyum.


"Bukan buat siapa tapi buat apa?"


"Ya buat rambut lo, masa buat nyendok makanan.”


Rahel langsung tertawa. “Thanks ya, Rai...”


Rai tersenyum dan pandang-pandangan dengan Rahel. “You’re welcome.”