
Sekitar jam sepuluh malam Luki baru bisa pulang ke Frehouse. Dan di saat badannya sudah pegal-pegal nian dan kantuk rasanya sudah di pelupuk mata, para sepupunya malah menghujaninya dengan berbagai pertanyaan seputar makan malam tadi. Semuanya memaksa Luki untuk cerita padahal mata Luki sudah berat.
Rian mengguncang-guncangkan badan Luki yang lemes itu. Saat ini mereka masih di ruang keluarga.
"Ki, ceritain dong... Tadi itu pertunangan ya?"
"Pertunangan kepala lo!" tukas Luki dengan mata yang 5 watt.
"Terus apa dong? Tuker cincin?" sindir Rai.
"Yang ini lagi ngomong tuker cincin... Kami cuma makan malam doang kali." gumam Luki.
"Tadi para orangtua ngomongin pernikahan ga?" tanya Alex ikut-ikutan penasaran.
"Ga ada. Mereka ga ada ngobrolin pernikahan. Udahlah jangan bahas gituan, gue eneg."
"Lho kenapa? Lo tuh harusnya siap-siap kali... kalian kan dijodohin." ucap Diraz terkekeh pelan.
"Dijodohin kan bukan berarti gue mau sama cewek kantoran gitu," tukas Luki sudah setengah tidur. Kepalanya terkulai di sofa dan matanya terpejam. Luki tertawa pelan sendiri, "Liat aja tar pas pernikahan gue bakalan kabur kayak di film-film."
"Dia ngigau ya." celetuk Rai tak yakin dengan apa yang diucapkan Luki itu dengan kesadaran.
"Siapa yang ngigau!" sentak Luki keras namun matanya masih juga terpejam. Ia mengacungkan tangannya ke udara, entah ke siapa, tapi spertinya maksudnya untuk Rai. "Emang gue ga punya pendirian apa sampai mesti dijodohin segala? Asal kalian tau ya, tipe cewek gue itu mesti cantik, anggun kayak artis atau model, rambutnya panjang mempesona... bukan pake baju kantoran kaku formal kayak si Rosa itu!"
Dengan kesal Diraz menjitak pelan kepala Luki. "Dasar songong lu!"
Luki sudah tidak berkata apa-apa lagi. Dia sudah tertidur pulas. Mungkin pukulan Diraz barusan makin membuatnya pingsan di tempat. Wajar saja memang kalau Luki capek begitu. Tadi dia banyak mengobrol dengan Rosa, tertawa-tawa, membicarakan buku atau juga film yang bagus.
Rian geleng-geleng kepala melihat kepala suku Freshouse yang tepar itu. "Dia ngapain aja sih di sana ampe langsung lelap gini?”
"Kerja rodhi kali." sahut Rai asal membuat yang lainnya langsung meringis.
---skip---
“Aduh, Luki Kepala Kambing, kapan lo nikah?” sindir Diraz. Saat ini mereka berlima sedang berjalan menuju kantin untuk makan siang. Kuliah selanjutnya dua jam lagi.
“Sembarangan aja lo manggil gue Kepala Kambing.” tukas Luki agak tersinggung juga.
Si Diraz memang yang paling senang memberi julukan kepada orang-orang. Setelah Rian yang kini beken dipanggil si Bungsu, Rai yang dipanggil O Mama dan Alex dipanggil Raja Tidur, skarang masa giliran dia dipanggil Kepala Kambing? Ga enak banget kan?
Rian mengekeh keras. "Kalo lo kepala kambing berarti Diraz kambingnya kan, Ki? Lo kan ketua di sini."
Diraz hanya tersenyum pahit memandang Rian. "Dasar lo ga bisa ngeliat orang seneng aja." Diraz kembali melirik Luki yang berjalan di sebelahnya, "Jadi mau kapan nikah?"
"Nikah dari Hongkong! Siapa yang mau nikah?" tukas Luki.
"Itu lho... sama si doi, Rosa... Rosa..." olok Rai ikut-ikutan.
Luki meleletkan lidah. "Eh sorry ya... Gue ga akan nerima perjodohan itu. Enak di dia dong, ga enak di gue."
"Hah? Maksud lo?!" tukas Diraz dan Rai dengan kompaknya membuat Rian dan Alex hanya mengikik.
"Gue rasa dia juga mana mau sama lho." gumam Alex mengekeh.
"Aduuuh jangan salah kalian ya... Gue ini cowok yang paling romantis! Gue ada pengalaman menarik soal cinta!"
"Ah bosen gue, lo terus-terusan ngaku romantis," ejek Rai, "Romantis dari sisi mana? Pandangan mata lo ke cewek aja aneh gitu."
Luki memonyongkan mulutnya. "Waktu gue SMP, biar kalian tau aja, gue pernah direbutin cewek-cewek."
"Hah, masa?" tanya Diraz. Kini mereka berlima sudah duduk di salah satu meja yang kosong dan hendak memesan makanan.
Rian hanya mendengus saja. Apa coba yang direbutin sama dua cewek itu dari seorang Luki? Sampai musuhan? Oh my God.
"Baru pertama kali ini gue ngedenger ada orang yang bangga udah bikin sepasang sahabatan musuhan." ujar Alex terkekeh.
Sementara mereka berlima sedang tertawa, tiba-tiba Rahel datang mendekati meja mereka. Dan sekilas ia menyapa Rai. Ini yang mengejutkan Diraz dan yang lainnya!
"Rai, besok klub gue tampil di pembukaan acara Seminar FMIPA." ucap Rahel begitu ramahnya.
"Oh ya?" Rai juga terlihat excited. "Gue pasti nonton."
Rahel tersenyum. "Oke, see ya..." Cewek itu pun langsung pergi setelah tersenyum sopan pada sepupu-sepupu Rai.
"Wah siapa tuh cewek?" tanya Luki memandangi cewek yang memakai syal hijau limau dengan rambut yang diikat tinggi.
"Itu cewek yang pernah kita liat bareng Rai itu kan?" tanya Rian sambil mengangkat alis saat melihat senyum Rai yang terus menerus mengembang. "Jadi bener O Mama jatuh cinta?"
"Siapa sih dia? Kok lo ga pernah cerita?" protes Diraz.
"Gue ga sengaja kenal kok." gumam Rai masih tersenyum, Ia mengeluarkan kunci mobilnya yang ada gantungan boneka monyetnya, "Nah gantungan ini dari dia... Namanya Rahel, anak klub dance. Sambil gue nunggu kalian selesai kuliah hari Selasa, gue di klub dance ngeliatin Rahel yang latihan."
"Jadi lo suka ma cewek itu?" tanya Luki benar-benar tercengang, tak menyangka kalau Rai yang baru menginjakkan kaki di kampus ini sudah mendapatkan temen cewek!
Rai terkekeh, "Maybe.. I dont know."
"Wah special nih." ucap Diraz sambil memegang gantungan monyet, "Baru kenal, dia udah ngasih gantungan monyet?"
"Mungkin ngeliat Rai dia ingat monyet?" celetuk Rian asal.
"Enak aja lo!" semprot Rai pada Rian, "Gue rasa gantungan monyet ini punya dia deh, soalnya dia tiba-tiba ngasih gitu dari saku celananya."
"Wow..." Diraz masih terkagum-kagum, "Tapi kalian emang keliatan cocok tadi."
"Yang bener?" Rai mendadak terlihat happy.
"Iya." Luki juga setuju, "Dan kayaknya dia juga cewek baik-baik."
"Dia emang baik kali. Orangnya asik, menyenangkan, ramah... Gue suka ama tipe cewek kayak gitu."
"Ciyeeee!!!" seru Luki, Diraz, Alex dan Rian.
“Ah lo juga kok, Raz... Lo juga cinta lama bersemi kembali kan?" sindir Rai memilih untuk mengalihkan pembicaraan saja, "Dasar lo!"
"Iya nih... lo juga udah ada gebetan ga bilang-bilang." Kini Luki malah membalik mengolok Diraz, "Ga banget deh lo. Di rumah kayak tarsan, di depan cewek aja sok manis."
Diraz hanya tertawa. "Itu karna kalian ga perlu gue baikin. Kalo dia beda dong."
"Huuu!!" seru Luki sambil melempar gantungan kunci mobil ke muka Diraz yang langsung membuat Rai marah lantaran gantungan kesayangannya dilempar sembarangan.
Sementara yang lain masih ribut, ada yang bertengkar, ada yang memperolok, Rian tak sengaja melihat seorang cewek yang baru masuk ke kantin. Entah kenapa Rian begitu tertarik memperhatikan cewek itu. Cewek itu adalah cewek dua hari lalu yang ia lihat menjatuhkan buku-buku dengan konyolnya.
Ah dia...
Rian memperhatikan cewek manis kecil yang rambutnya dikuncir. Entah kenapa bagi Rian cewek itu seperti anak kecil dari ekspresi wajah dan matanya yang jernih.
Cewek yang bernama Diana itu berjalan masuk ke kantin. Namun karna memang kantin yang agak penuh karna sudah banyak mahasiswa yang berdatangan untuk mengisi perut, Diana menabrak salah seorang cowok. Diana membungkukkan badan meminta maaf. Baru berjalan beberapa langkah dia sudah menabrak seorang cewek (hampir saja soda yang dibawa cewek itu tumpah). Diana meminta maaf lagi dan baru saja meminta maaf dan melangkah, ia menubruk orang lain. Begitu terus sampai 3 orang berikutnya. Jadi yang dikerjakan Diana adalah sibuk meminta maaf sementara dirinya tidak sampai juga ke meja teman-temannya.
Rian tercengang bodoh. Astaga. Rian tertawa sendiri, tidak menyangka dia sudah melihat ada cewek unik yang agak konyol namun lucu juga.
Yang lain sama sekali tidak menyadari apa yang dilihat oleh Rian. Mereka menyangka Rian tertawa karna Diraz menyebut Luki sebagai Pangeran Songong karna Luki yang bersikeras menganggap diri begitu romantis.