
Rian memandangi Alex yang menonton TV namun dengan pandangan kosong. Rian merasa ikut merasakan perasaan Alex.
Di Freshouse ini Rian merasa paling dekat dengan Alex. Yah sekalipun keliatannya Rian lebih akrab dengan yang lain dibandingkan dengan Alex, namun Rian merasa sangat senang saat mengobrol dengan Alex, membicarakan hal-hal yang ringan atau juga lelucon Rian yang sangat ditanggapi oleh Alex.
Walau sudah satu minggu putus dengan Karin tapi Alex masih saja kelihatan depresi dan kecewa berat. Akhir-akhir ini Alex banyak bengong, tidak nafsu makan dan cenderung sering mengasingkan diri. Rian yang paling dekat dengan Alex karna sekamar menjadi khawatir.
"Lex..." gumam Rian sambil duduk di sofa.
Alex tak menyahut.
"Apa lo masih sedih karna sikap Karin?"
Mata Alex semakin sayu menatap kosong TV.
"Yang lalu biarlah berlalu... Dia emang udah nyakitin lo tapi jangan sampai lo mikirin itu terus."
"Gue sama sekali ga berkeinginan untuk mengingat dia. Tapi gue ngerasa hati gue dingin... masih terluka, Yan..."
Rian menggigit bibir. Mereka berdua sama sekali tak sadar kalau Rai, Luki dan Diraz tengah menguping di balik dinding.
"Ini pertama kalinya gue pacaran dan gue dikhianati... Perasaan gue yang tulus dan murni ternyata disalahgunakan." Alex tersenyum hambar. "Tapi gue juga emang salah. Gue hanya ngeliat cewek dari luarnya doang. Hanya karna dia cewek ideal gue bukan berarti dia cocok sama gue."
Rian yang walaupun seumuran dengan Alex, sama sekali tidak tahu menahu soal cinta. Tidak mengerti dan tidak paham sama sekali mesti berkomentar apa.
Di balik dinding Luki dan Diraz berharap si Bungsu Rian mengucapkan kata-kata bagus dan keren untuk menghibur hati Alex.
"Cinta itu memang sulit dilupakan... Tapi bukannya PSP lebih menarik daripada cinta?" ucap Rian si buta cinta.
Rai terbelalak mendengarnya. Ia berbisik di telinga Luki dan Diraz. "Tuh anak ga bisa ngomong yang lebih bener lagi apa?"
"Maklum aja, masih hijau..." bisik Diraz terkekeh pelan.
Alex tersenyum tipis. Walau memang kalimat Rian sama sekali tidak membangun tapi Alex menghargai sikap Rian yang sudah mencoba itu.
"Gue ga habis pikir sama orang yang bisa hilang kesadaran dunia nyata hanya karna cinta. Atau hanya karna cewek!" tukas Rian masih saja mencoba memberikan petuah. "Dunia kan ga akan kiamat kalo putus cinta."
"Astaga..." ucap Luki pelan, "Parah tuh si Bungsu. Kali-kali kita mesti kuliahin dia soal cinta."
Alex malah terkekeh. Rian si Bungsu ini memang yang paling bisa membuatnya tertawa walau leluconnya tidak lucu sama sekali.
"Lo punya games ga?"
"Punya dong... Gue punya banyak di laptop.”
"Boleh dicoba tuh," sahut Alex membuat Rian tersenyum lebar.
"Yeah... not bad..." ucap Rai nyengir. "Liat tuh matanya si Rian... Kedap kedip kayak lampu neon."
Rai malah meniru mata Rian yang setiap 3 detik berkedip. Luki dan Diraz yang melihatnya menahan kekeh.
"Haha gokil... mirip banget lu." gumam Luki pelan.
"Tapi ada yang kurang... senyumnya itu lho..." ucap Diraz berlagak kurang puas dengan lelucon Rai.
"Oh iya bener..." Rai lalu tersenyum diimut-imutkan sambil mengerjap-ngerjapkan matanya tiap 3 detik sekali.
"Kenalin nama gue Rian... Rian Imut.."
Luki yang memang selalu tidak bisa menahan tawa langsung tertawa keras sampai hampir terjengkang karena konyolnya wajah Rai yang dibuat-buat mirip Rian itu.
Otomatis gelegar tawa itu didengar Rian dan Alex yang masih mengobrol di ruang keluarga. Mereka berdua menoleh ke belakang dan kaget melihat badan Luki setengah nongol dari tembok sambil masih tertawa.
"Heh, lo terlalu berisik!" tukas Rai pelan sambil berusaha menarik badan Luki kembali bersembunyi. Namun memang tak sempat, Rian dan Alex sudah keburu mendatangi mereka.
"Kalian lagi apa?" tanya Rian heran dan tampang polos.
Diraz menahan tawa melihat mata Rian yang masih sering mengerjap-ngerjap seperti boneka barbie.
Rai nyengir gugup namun matanya masih juga mengerjap-ngerjap, entah kenapa. Mungkin karna tadi meniru-niru mata Rian, mata Rai juga jadi ikut-ikutan terus mengerjap.
"Tadi kami cuma saling berbisik lelucon." sahut Rai.
Alex memandang Rai aneh karna tumbennya mata Rai begitu.
Luki tertawa keras lagi sampai berjongkok di lantai, tidak kuat melihat mata Rai. Diraz juga. Bahunya naik turun karna menahan tawa.
"Lelucon apa?" tanya Rian tertarik karna melihat reaksi Luki dan Diraz yang seperti itu.
"Lelucon tentang mata neon..." gumam Rai dengan senyum imut.
Luki tertawa terus sampai ia merasa perutnya keram. Sementara Diraz lebih bisa mengontrol tawanya sendiri.
"Udah ah..." tukas Diraz sambil menyenggol lengan Rai. Ia menarik Luki untuk berdiri. “Jangan diterusin, kalo engga gue bisa gila...”
Kali ini Rian dan Rai yang tertawa.