Fresh House

Fresh House
Sakitnya Putus Cinta



Sekitar jam tiga kuliah usai. Rian, Rai, Diraz, Luki dan Alex sama-sama keluar kelas. Mereka berjalan menuju tempat parkir. Tidak seperti pagi tadi yang agak canggung, siang ini lebih rileks. Diraz mengajak Alex mengobrol seperti biasa membicarakan kuliah barusan yang cukup menarik. Luki pun sudah lupa mengenai ketegangan tadi pagi dan malah asik bercanda menyebut Rai adalah Bunda dan Rian adalah si Bungsu. Tadi saat di kelas Rai kumat lagi cerewetnya dan terus menceramahi Rian tentang bagaimana sikap pria dewasa.


"Akh belum nyampe rumah Nenek aja gue udah dapat ceramah." gumam Rian pelan yang langsung disambut kekehan Luki dan Rai.


Di parkiran, handphone Alex berdering. Yang lain langsung siaga satu mendengarnya, menduga dalam hati kalau itu pasti Karin.


"Ya, Rin?" sapa Alex tenang menjawab telpon.


Nah kan benar, ternyata memang Karin yang menelepon.


"Kan aku udah bilang aku ga bisa nemenin kamu ke FO," ucap Alex, "Gue ada acara keluarga..."


Luki memandangi Rai. Sebenarnya tidak ada acara keluarga hari ini. Semua itu hanya akal bulus Rai saja.


"Tega lo..." Luki mengucapkannya tanpa suara pada Rai. Luki heran kenapa Rai nekat juga untuk menjauhkan Alex dari jangkauan Karin.


"Hah kamu mau ke sini?" tanya Alex tak percaya.


Diraz dan Rian langsung saling pandang mendengarnya. Sepertinya akan semakin runyam kalau Karin ke sini.


Rai melipat tangan di dada, ingin melihat seego apakah cewek itu. Baginya sama sekali tidak etis kalau marah hanya karena tidak bisa mengantar ke FO, itu pun pasti Alex yang akan membayar semua yang dibeli Karin.


"Rin? Karin!" Alex sudah tak bisa mendengar suara Karin lagi karna cewek itu langsung memutus komunikasi. Alex memandang 4 sepupunya dengan bingung.


"Dia bentar lagi nyampe di sini."


Diraz hanya berdehem tidak jelas. "Bilang aja kalo lo ga bisa nganterin dia karna mesti ke rumah Nenek."


"Udah... tapi dia ga mau nerima," sahut Alex kalut sambil memegang kepala dengan salah satu tangan. Lama-lama ia bisa migran kalau terus-terusan menerima sikap Karin yang begini : keras kepala dan semua keinginannya harus dituruti.


Dan benar saja Karin muncul, seperti biasa dengan gaya berbusana girly dan cantik namun wajahnya terlihat tak ramah.


"Lex! Aku butuh ke FO sekarang. Besok temenku ada yang ulang tahun." tukas Karin terlihat sekali egonya.


"Aku kan udah bilang, Rin... hari ini aku mesti ke rumah Nenek bareng sepupu-sepupuku."


Karin mengerling sesaat pada Rai dan yang lainnya.


"Iyaa... tapi aku butuh ke FO. Sekarang. Kamu bisa kan batalin acara keluarga kamu yang ga terlalu penting itu?"


Rai tiba-tiba mendengus dan memandang Karin dingin. "Ke rumah Nenek lebih penting dibandingkan nemenin cewek ke FO."


Karin melotot, tidak percaya kalau Rai terang-terangan menunjukkan rasa tak suka. Dia kira hubungannya dengan Rai bisa lebih maju lagi.


"Ayo, Lex..." ucap Luki, "Kita udah lama banget kan ga ngunjungin Nenek."


Sebenarnya dalam hati Luki tegang juga, acara ke rumah Nenek kan cuma taktik Rai aja bukan karena Nenek yang meminta.


Dalam hati Alex setuju dengan perkataan Rai dan Luki. Baginya bertemu dengan Nenek bahkan lebih penting dibandingkan dengan menemani Karin ke FO.


"Maaf, Rin, untuk kali ini aku ga bisa."


"Tuh kan!" ketus Karin kesal, "Kamu slalu aja ga ngutamain aku!"


Diraz malah tertawa hambar, "Keluarga tuh lebih penting lho."


Karin menggeram semakin naik darah.


"Dan sepupu-sepupu kamu, Lex! Lihat! Mereka semua ngerendahin aku di depan kamu! Mereka mau adu domba kita!"


"Pertama, mereka sama sekali ga mau adu domba kita. Kedua, apa yang mereka omongin itu bener. Aku juga sependapat kalo keluarga yang lebih penting." tukas Alex.


Karin melotot marah.


"Ayo, Lex," ucap Rai tenang, "Nanti kita nyampe rumah Nenek terlalu sore.”


Alex sudah tak berniat mengatakan apa-apa lagi. Agak jenuh juga dengan sikap Karin yang begini, membuatnya capek. Dia berbalik pergi menuju mobil. Mungkin mendinginkan kepala adalah hal yang tepat untuk saat ini. Dan selebihnya nanti malam saja ia menelepon Karin mengenai masalah ini.


"Alex!!" gerutu Karin tidak terima. Emosinya makin memuncak karna Alex tidak menoleh.


"Jadi lo lebih percaya sama sepupu-sepupu lo dibandingkan dengan gue? Kok lo gitu sih? Pacar gue yang di Bandung aja ga kayak lo!"


Alex langsung berhenti berjalan mendengar kalimat terakhir Karin yang sepertinya dikeluarkan tanpa sadar. Yang lain juga langsung menoleh dan melotot pada Karin.


Karin menggigit bibirnya. 'Mampus gue. Ngomong apa gue barusan.'


Saking emosinya Karin sampai tak sadar mengeluarkan kata-kata kramat.


Alex membalik badan dan menatap Karin lurus-lurus. Ia sama sekali tak percaya kalau semua yang dikatakan sepupunya itu benar, bahkan sekarang dia mengetahui sikap Karin masih lebih parah dibandingkan dengan apa yang dilaporkan Luki dan Rai.


"Oke," gumam Alex dingin, "Gue emang ga sebaik pacar lo yang di Bandung... We are over."


Karin seperti menelan empedu pahit. Kalimat Alex itu menghujam jantungnya. Bahkan di depan 5 sepupu tampan yang sangat berada, Karin sudah mempermalukan dirinya sendiri.


Alex berbalik pergi. "Rian, lo yang setir mobil gue ya."


Rian mengangguk kaku lalu mengikuti Alex masuk ke dalam mobil. Rai masih memandang Karin dengan dingin karna cewek itu sudah sangat menyakiti dan mengkhianati perasaan tulus Alex. Sampai akhirnya Diraz yang menarik Rai untuk pergi dari sana dan masuk ke mobil.


"Anggap aja ini sebagai peringatan Tuhan buat lo." Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Luki untuk Karin.


Karin menahan nafas. Dia merasa harga dirinya sudah luluh lantak. Ingin sekali menceburkan diri ke dalam sumur saking malunya. Di hadapan 5 pria, dia sudah memberitau aib sendiri.


.


.


Di perjalanan menuju rumah Nenek, Rian sesekali melirik Alex yang terus-terusan memejam mata di sebelahnya. Rian menggigit bibir. Dia bisa merasakan bagaimana rasa sakit hati Alex saat ini.


"Lex, kalo lo ga enak bedan, gue bisa muter balik ke rumah sekarang juga," kata Rian.


Alex menggeleng. "Ga usah. Kita tetep ke rumah Nenek. Di Freshouse ataupun di rumah Nenek sama aja."


Rian hanya bisa berharap Alex baik-baik saja dan bisa segera melupakan masalah tadi.


Alex memalingkan mukanya ke arah jendela dan melihat jalanan dengan tatapan kosong.


'Seharusnya aku udah peka sejak awal... Seharusnya.'


Namun rasa sakit hatinya yang seperti diiris-iris itu tak kunjung hilang.


* status twitter *