
Setelah selesai membayar semua barang belanjaan di kasir, mereka berdua duduk di depan parkiran supermarket sambil menikmati eskrim di tengah cuaca yang memang cukup gerah.
"Lo berapa bersaudara, Rai?" tanya Rahel sambil menjilat eskrimnya.
"Gue tiga bersaudara dan gue anak terakhir."
"Wah enak ya lo punya saudara. Gue sih anak tunggal."
"Iya enak, tapi sekarang mereka udah kerja."
"Di rumah lo sendiri?"
Rai nyengir. "Lo mungkin baru tau, kalo gue ini anak baru di kampus, tepatnya di teknik industri. Dan selain gue dipindahkan orangtua, gue juga hanya tinggal serumah dengan 4 sepupu cowok gue yang seangkatan dan yang sekampus dan yang sejurusan ma gue."
"Haah?" Rahel bengong tak percaya mendengar rentetan pernyataan Rai.
"Maksud lo, di rumah yang sekarang lo tempati cuma lo dan 4 sepupu lo yang lain?"
Rai mengangguk tenang.
"Enak banget..." Rahel menyipit tanda iri.
"Ya. Gue jadi makin kenal sepupu gue, tau kebiasaan mereka dan gue juga jadi tertular sifat posotif mereka. Tujuan orangtua kami untuk nyatuin kami supaya kami lebih solid lagi apalagi saat bekerja nanti."
"Keren keren."
Rai tersenyum, jadi malu juga. "Jangan ngedengerin aja, itu eskrimnya makan juga dong."
Rahel terkekeh. Ia menjilat eskrimnya. "Enak nih eskrimnya. Coba deh..."
Rai gugup dengan pernyataan Rahel barusan.
"Iya, ayo deh cobain, rasa coklatnya lain."
Akhirnya dengan kikuk dan gugup Rai menjilat eskrim Rahel. 'Memang enak sih... Tapi kan. Aduhh.. ini indirect kiss ga ya....'
Namun Rai menyangka kalau Rahel sama sekali tidak ada maksud apa-apa. Sepertinya cewek ini memang open banget dan tidak peduli dengan indirect kiss.
"Hmm... iya, emang enak."
Setelah selesai makan eskrim duluan, Rahel mengambil kunci mobil Rai yang diletakkan di antara mereka.
"Ini kunci mobil lo kan? Mobil lo pribadi kan?"
Rai mengangguk sambil menjilati eskrimnya.
Rahel mengeluarkan sesuatu dari saku celana jeansnya. Sebuah gantungan kunci boneka monyet yang wajahnya konyol namun menggemaskan. Rahel langsung memasangkan gantungan itu di kunci mobil Rai.
"Nah ini buat lo."
Rai terpana.
Rahel memandang Rai dan tersenyum manis. "Tanda persahabatan."
Dunia seolah campur aduk bagi Rai. Dan di hatinya ada dentuman drum yang keras dan darahnya mengalir dengan cepat. Rai hanya bisa tersenyum. Mungkin inilah yang dinamakan jatuh cinta. Rai merasa dia sedang jatuh cinta pada cewek di hadapannya itu.
Oh. My. God.
Setelah mengantar Rahel kembali ke studio dance, Rai buru-buru ke gedung fakultasnya. Sepupunya yang lain pasti sudah dongkol karna dibuat menunggu sampai setengah jam. Apalagi tadi Rai memang tidak mau mengangkat panggilan masuk dari Diraz, Rian ataupun Luki karna tadi dia asik mengobrol di mobil dengan Rahel.
"Nah ini dia orangnya." tukas Luki menyindir saat Rai muncul dari balik pintu masuk.
Rai hanya nyengir. "Sorry, bro. Tadi ada urusan."
"Kemana aja lo? Kami nunggu sampai kering gini. Dasar lo. Kami nelpon juga ga lo angkat. Buang aja deh tuh hape, ga ada gunanya." tukas Diraz mencaci maki Rai, teman terdekatnya itu.
Rai hanya terkekeh lalu memeluk bahu Diraz brotherly. "Ayo dong... kan slama ini gue yang slalu nungguin kalian.. Skali-kali boleh dong kalian yang nungguin gue? Hehehe."
"Sinting. Mending kalo lo ngasih tau lo di mana." tukas Luki.
"Gue sampe ngira lo kecelakaan." ucap Rian.
Rai tertawa lebar. Tak menyangka kalau hari ini sungguh luar biasa untuk dirinya.
"Gila lo, Yan." sahut Diraz.