
Alex duduk di dalam mobilnya dengan pandangan tenang. Sesekali dia melirik spion, mengecek apakah yang ditunggunya terlihat muncul atau tidak. Namun tidak ada tanda-tanda orang datang di tempat parkir fakultasnya itu.
'Mana dia ya? Katanya mau makan.'
Alex melirik jam tangannya. Sudah empat puluh menit Karin, cewek yang ditunggunya, belum nongol juga.
Tiba-tiba seorang wanita cantik, rambut panjang tergerai, bulu mata lentik dan berpakaian terusan pink selutut muncul. Dengan nafas agak tersengal ia masuk ke dalam mobil Toyota Yaris Alex. "Sorry, Lex... tadi aku dicegat temanku dulu..."
“Never mind.... setidaknya kamu ga lupa..."
Karin menunjukkan senyumnya yang manis. "Jadi kan makannya?"
Mau tak mau melihat senyum itu Alex balas senyum juga. Ia mengangguk. Baru saja akan menstarter mobilnya, Handphonenya berbunyi sekali menandakan ada pesan masuk. Alex membacanya sekilas, ternyata pesan dari Rian yang menanyakan keberadaan Alex sekarang karna Rian dan yang lainnya mau mengajak makan siang bareng. Dengan cepat Alex membalas singkat bahwa dia tidak bisa ikut makan siang bareng hari ini.
Sudah sebulan ini Alex memang sedikit mulai mengasingkan diri dari hiruk pikuk kehidupan para sepupunya itu. Alex sudah pacaran dengan Karin sejak sebulan yang lalu dan dia sama sekali belum memberitau sepupunya mengenai hal ini. Entahlah kenapa.
Dari dulu Alex memang sudah memantapkan dirinya sendiri kalau dia mempunyai standar tinggi dalam memilih wanita sebagai pacar. Dia sebenarnya bukan tipe laki-laki yang hanya melihat wanita dari penampilan saja. Namun dia mengakui kalau dia memang memiliki tipe ideal tersendiri. Alex menyukai wanita yang ayu, manis, feminin dan memakai gaun/ terusan. Karin memenuhi semua syarat itu. Cewek yang berbeda jurusan dengannya ini, dikenalkan oleh teman SMA-nya. Alex mungkin memang tipe pangeran yang sangat pas bila disandingkan dengan tipikal putri seperti Karin. Begitulah, Alex memang memiliki tipe ideal khusus dalam memilih wanita.
.
.
"Dia balas apa?" tanya Luki ga sabaran saat melihat Rian yang sedang membaca pesan balasan dari Alex dengan mata menyipit.
"Dia cuma nulis kalo dia ga bisa," sahut Rian agak kecewa.
“Again?" tanya Rai sambil menyeruput lemon teanya.
"Sibuk apa sih tuh anak?" tanya Diraz setengah tak terlalu tertarik dengan pembicaraan itu karena dari tadi intens memperhatikan anak kecil yang berkeliaran di kantin fakultasnya. Dengar dari Rian sih, anak kecil yang kira-kira berumur 6 tahun itu anak dari penjaga kantin. Diraz memang slalu tertarik melihat anak kecil. Dia slalu ingin memeluk dan menyayangi mereka.
Luki cuma mendengus. "Ya sudah... kalo gitu kita berempat aja yang makan."
Luki masih heran ada apa dengan sepupunya satu itu.
'Tumben-tumbennya Alex punya kesibukan akhir-akhir ini. Ga bisa pergi barenglah, ga bisa pulang barenglah, atau makan bareng. Liat aja... aku sebagai kepala suku akan melakukan perombakan besar-besaran di Freshhouse. Peraturan apa ya yang cocok untuk si Alex?' pikir Luki.
Luki menerawang. Dia menyadari kalau dengan adanya 5 mobil di Freshouse yang dimiliki masing-masing dari mereka membuat mereka berlima akan jarang sekali pergi dan pulang bareng. Terutama untuk Alex. Luki tersenyum licik sendiri, tenggelam dalam pikirannya.
"Lo napa?” tanya Rian sambil menyenggol lengan Luki.
Luki menggeleng namun masih saja ada cengiran di wajahnya.
.
.
Benar saja selesai makan malam, Luki sengaja mengadakan rapat mendadak sekaligus rapat pertama yang dipimpinnya sebagai kepala suku Freshouse. Di ruang makan mereka rapat.
"Rapat apa nih?" tanya Diraz sambil menguap. Baginya Luki belum pantas menjadi kepala rumah ini. Diraz slalu menganggap Luki itu lola alias loading lama, belum lagi kalau kegaringannya kumat. Ah kacau.
Luki berdehem, berusaha terlihat berwibawa. "Pada malam yang berbahagia ini, ijinkanlah saya untuk—“
"Udah to the point aja..." potong Rai malas-malasan, sama sekali tidak menghargai usaha Luki yang mencoba untuk melawak dan mencairkan suasana.
Luki cemberut memandang Rai. "Oke oke... Jadi tujuan gue ngadain rapat adalah untuk mengumumkan sesuatu. Sebagai orang kepercayaan yang ditunjuk keluarga besar kita untuk mengelola dan memimpin rumah ini...."
Mendadak perut Diraz mual saat mendengar kalimat orang kepercayaan dan mengelola dan memimpin rumah ini. Rasa-rasanya seperti seriusan saja.
"Peraturan?" ulang Rian menelan ludah.
Luki mengangguk manis. Ia berdehem lagi. "Nah... untuk awal, karna gue juga belum nyiapin semua peraturan, mulai besok hanya akan ada dua mobil yang boleh keluar dari rumah ini..."
Hening.
Rai dan Diraz melongo, Alex yang dari tadi melihat ke arah lain langsung menoleh impuls, dan Rian tidak mengerti sama sekali.
"Maksud lo apa? Ngomong belat belit gitu gue ga ngerti," gumam Diraz akhirnya.
"Gue juga ga ngerti dengan yang lo omongin," celetuk Rian membuat Luki merasa harga dirinya semakin jatuh.
"Maksud gueee," tukas Luki dengan memonyongkan mulut, "Kita berlima hanya akan menggunakan 2 mobil tiap harinya bukan lima kayak biasanya."
"Kenapa?" tanya Rai memandang Luki penuh selidik.
"Karenaaa... Yang pertama, asap kendaraan bermotor itu bisa menambah polusi kota Jakarta, negara kita, dunia ini. Buat apa kita kuliah tinggi dengan jurusan favorit kalau menjaga lingkungan saja tidak bisa?"
Diraz mengerutkan keningnya, tak menyangka Luki yang lola bisa juga berpikir sampai setinggi itu.
"Yang kedua..." lanjut Luki makin percaya diri, "Untuk penghematan bensin... Bukan soal uang kita, tapi untuk menjaga sumber daya alam non diperbaharui untuk generasi mendatang. Dan yang ketiga... kita harus menjaga kekompakan kita. Buat apa orangtua kita menempatkan kita dalam satu rumah kalo toh akhirnya kita tetep hidup individualis?" Luki mengerling pada Alex yang terdiam. "Gue ingin sekali kita menjadi semakin kompak dan smakin bisa bekerja sama."
"Setujuuu!!" seru Rian entah mengapa semangat.
"Ya gue juga setuju deh," gumam Rai agak terpaksa. "Tapi pake mobil siapa nih? Kalo mobil didiemin doang di garasi sih buat apa dong dibeli? Apalagi sampai rusak. Sama aja itu dengan menyia-nyiakan sumber daya alam yang tak bisa diperbaharui.”
Luki tersenyum tipis, menyadari cerewet Emak-Emak Rai mulai kambuh.
"Kita akan gantian pake mobilnya... Dan lagian kalau memang kita ada keperluan mendadak yang berbeda dengan schedule yang biasa, boleh kok bawa mobil sendiri."
Diraz mengangguk-angguk, sudah mendapat ilham tentang latar belakang masalah yang membuat Luki membuat peraturan beginian. Ia melirik Alex yang masih terdiam namun terlihat sedang berpikir.
"Gue juga setuju... ucap Diraz, Menurut lo, Lex?"
Alex seperti tersetrum. Ia dipandangi oleh empat sepupunya. "Yah kalau semua sepakat, gue sih ikut aja."
Luki nyengir puas. "Nah gitu dong... Skarang gue merasa selangkah lebih semangat mengemban tugas berat sebagai kepala suku."
Semua terdiam, tidak ada yang tertawa dengan lelucon garing Luki. Yeah seperti biasa...
Melihat Rai dan Diraz yang garuk-garuk kepala menyindir, Rian yang tersenyum hambar dan Alex yang langsung sibuk dengan handphone, Luki langsung menyadari kalau dia baru saja menggaring. Bener-bener deh... dia ga tau apa memang 4 sepupunya yang menyebalkan atau memang dia saja yang garing.
"Oya ada satu hal lagi..." Luki berkata lagi sambil bangkit berdiri membuat yang lainnya langsung menoleh. "Gue udah beli whiteboard kecil yang gue gantung di dekat dapur."
Rian langsung menoleh ke belakang, ke arah dapur. Memang benar ia melihat whiteboard yang tergantung di dekat kulkas.
"Buat apa lagi tuh?" tanya Diraz.
Luki nyengir lebar. "Ya kalau ada pengumuman atau peraturan baru gue akan menulisnya di situ biar kita semua bisa lihat dan tau.”
Yang lain hanya memandangi Luki dengan tak percaya. Entah apa lagi yang akan dilakukan oleh Luki sebagai kepala suku Freshouse.
Alex mendengus dalam hati. Baginya peraturan pertama saja sudah cukup mengganggu bagaimana dengan peraturan yang lain ya.