Fresh House

Fresh House
College Life



“I have a dream!! Yuhuuuu!!!” teriak Rian menyanyi keras-keras di mobil. Ia bahkan membuka kaca mobil dan membiarkan wajahnya bisa dilihat orang yang lalu lalang.


"Lo sarap ya?" tukas Diraz yang duduk di depan menoleh pada Rian. Ini bahkan masih pagi, jam tujuh kurang tapi Rian sudah membuat kehebohan di jalan raya.


"Tutup tuh kaca. Malu-maluin aja..."


Rian tertawa lebar. Dia sedang gembira sekali. Moodnya sedang bagus. Dia malah menyanyi semakin cempreng.


"I have a dream!!!! Lalalala."


Rai mengekeh sementara Diraz berusaha menjangkau kepala Rian untuk menggetoknya tapi tak bisa.


"Si Rian itu emang kalo lagi seneng ya tingkahnya kayak begitu." gumam Rai masih fokus menyetir. "Kalo sedih bakal gimana ya?"


"Nyanyi di kamar mayat mungkin..." ucap Diraz asal namun akhirnya mengekeh juga.


"Lo seneng kenapa sih?" tanya Rai.


Rian tersenyum lebar dan matanya makin mengerjap. "Ya seneng aja... Ga ada lagi yang neleponin Alex malem-malem. Ga ada yang manja-manja minta dianterin pulang atau minta ditemenin ke mal. Akhirnya Alex my roommate kembali bebas. Free!!"


Diraz tertawa. "Oh jadi itu yang bikin lo happy sampai setengah gila gini... Gue juga turut senang akhirnya Alex ga pacaran sama cewek itu."


"Tapi gue rasa sembuh dari sakit hati itu ga cepet," gumam Rai tiba-tiba.


Rian langsung mendekatkan kepalanya pada Rai. "Hah? Emang sakit putus cinta tuh segitunya ya?"


"Ya engga jugaaa..." Rai membelokkan setir dengan lincah untuk masuk kampus.


"Kita semua tau kan kalo Alex itu tipe orang yang perfectionis. Dan dia juga pemikir. Gue cuma takut kalo dia mikirin terus hal yang melukai hatinya."


"Gue juga emang menduga Alex belum benar-benar sembuh," gumam Diraz menimpali.


Rian terbengong. Dia sih slama ini percaya saja kalau Alex sudah melupakan luka hatinya. Tapi sepertinya dia saja ya yang bodoh sehingga tidak bisa peka dengan urusan seperti ini?


"Trus gimana dong?" tanya Rian.


"Ya kita liat aja reaksi Alex yang putus cinta itu sampai kapan... Tapi kita sebagai sepupunya harus bisa merubah kekurangannya itu."


Diraz mengangguk-angguk setuju.


"Oya... by the way... lo sendiri gimana, Raz?" tanya Rai enteng sambil memberhentikan mobilnya.


"Cinta pertama lo?"


Nafas Diraz seperti tertahan saat mendengarnya. Untuk pertama kalinya Rai membahas Sandra sejak pertemuan di kantin itu. Rian terlihat antusias mendengar topik ini. Ia memandang Diraz dengan serius.


"Apanya? Ya kabar Sandra baik." ucap Diraz terbata.


Rai cengengesan. "Kalo ada kabar baik undang-undang ya..."


Tawa Rian langsung meledak dan muka Diraz langsung memerah. Sebenarnya dia dan Sandra masih telpon-telpon biasa nanya kabar dan mengenang masa-masa SMP, mengenang teman-teman dan guru-guru. Sandra dan Diraz juga masih menceritakan kuliah masing-masing. Diraz sama sekali belum berani untuk mengajak ketemu atau makan berdua. Diraz terlalu malu. Ketahuan banget gitu masih cintanya kalo langsung tiba-tiba ngajak makan.


"Ceritain dong tentang cewek yang namanya Sandra..." pinta Rian memelas pada Diraz yang berjalan di depan menuju gedung kuliah.


"Ceritain tentang apa?" tanya Diraz setengah malu, berasa dia sudah menikah saja.


"Ya kisah kalian..." Rian dan Rai saling lirik sambil angkat alis.


"Kami deket dari kelas 1 SMP sampai kelas 3, main bareng, dan sering juga pulang bareng."


"Ciyeee...." celetuk Rian mengikik. "Trus kenapa SMA-nya ga bareng lagi?"


"Nah itu dia..."


Suara Diraz mulai terdengar lemah, "Kami sebenarnya punya keinginan masuk ke SMA yang sama. Tapi entah kenapa tiba-tiba dia ga jadi masuk SMA itu.. Dan kami malah lose contact."


Diraz menahan tawa. Dia memang senang sekali padahal awalnya dia merasa tidak betah di kampus baru ini. Tapi setelah bertemu dengan Sandra, dunia perkuliahan dipandang menjadi lebih indah. Haha.


"Oh ya hari ini kita kuliah sampai setengah empat kan?" tanya Rian membuka topik pembicaraan yang baru saat mereka sudah hampir tiba di kelas.


"Yah cuma gue aja ya yang sampe setengah dua?" tanya Rai dengan sedih.


Walau lima sepupu ini satu kampus dan juga satu jurusan namun bukan berarti semua jadwal mereka akan slalu sama. Contohnya Rai. Setiap hari Selasa dia sendiri yang pulang jam setengah dua sedangkan 4 sepupunya yang lain pulang jam setengah empat.


"Lu sih pake acara beda dosen segala," tukas Diraz, "Padahal menurut gue semua dosen itu sama aja, gimana mahasiswanya."


Rai nyengir tipis. "Gue kan ngejar libur hari Kamis."


"Ah biasa lu... hari libur cuma pengen baca majalah sambil dengerin mp3. Bener-bener gila lu." tambah Diraz.


Rai hanya terkekeh. Obrolan itu tidak dilanjutkan kembali karna kedatangan Alex dan Luki yang berbarengan dengan dosen yang akan mengajar pagi ini.


 *****


Rai duduk sendirian di depan kelas. Sesekali ia mengintip seperti orang yang tidak disekolahkan saja. Bagaimana tidak? Ia harus menunggu empat sepupunya yang kuliah Statistika. Rai sih bawa mobil dan dia bisa saja pulang duluan meninggalkan sepupu-sepupunya. Tapi masalahnya peraturan konyol Luki yang mengikatnya dimana hari ini yang menjadi supir adalah Rai dan Alex.


Akhirnya karna sudah mencapai titik kejenuhan, Rai angkat kaki dan memutuskan untuk keliling-keliling kampus saja, melihat-lihat kampus baru.


Rai berhenti di depan sebuah ruangan. Ia menengadah dan melihat tulisan di atas pintu : Studio Dance.


'Studio dance? Aku baru tau di kampus ini ada studio dance...'


Rai yang memang kalau sudah penasaran tidak mungkin dihentikan akhirnya masuk saja karna mendengar musik beat dan suara-suara orang yang sedang latihan.


Rai melongok ke dalam dan langsung melihat sebuah ruangan yang dikelilingi kaca dan ada enam cewek yang sedang latihan menari.


"Suka yang seger-seger juga ya?"


Seorang laki-laki seumuran Rai yang sedang berdiri di dekat pintu yang sepertinya dari tadi menonton, nyengir pada Rai.


Rai tersenyum tipis. Tidak mau kalau disamakan dengan pria itu.


"Kebetulan lewat kok... dan ngeliat ke sini..."


Pria itu mengangguk namun masih nyengir dan memandang Rai penuh arti. Rai yang dipandangi seperti itu jadi tidak enak, serasa dia ini cowok gatel yang suka mengintip saja.


'Ih ogah banget disamain ama dia.'


Rai memilih untuk berdiri agak jauh. Sebenarnya sih dia memang tidak terlalu berniat masuk ke studio dance tapi mungkin karna lagu Backstreet Boys diputar, lagu kesukaannya yaitu Quit Playing Games With My Heart, Rai jadi tertarik juga. Lagu lama ini ternyata menjadi lagu pengantar tari enam cewek itu.


Mata Rai menangkap sesosok cewek yang menari di depan. Wajahnya cerah bagai mentari, senyumnya merekah alami dan Rai merasa cewek itu sangat menikmati lagu dan gerakan tarinya.


Rai memiringkan kepala, matanya kini hanya tertuju pada cewek yang memakai kaos hijau tua dan celana training. Cewek itu menari dengan lincah dan ceria, sesekali juga bibirnya mengucapkan syair lagu tanpa suara.


Rai mundur tanpa mengalihkan matanya dari sang cewek. Ia duduk di salah satu bangku kosong. Entah kenapa lagu Quit Playing Games With My Heart menjadi lebih bermakna lagi saat cewek itu menari sesuai ritme seolah sesuai dengan gerakan hati sang pencipta lagu. Lagu ini memang sudah menjadi lagu kesukaan Rai sejak lama tapi melihat cewek itu menari tastenya menjadi lebih kental lagi, seolah ada chemistry-nya.


Laki-laki alay yang tadi meresahkan Rai sekarang malah duduk di sebelah Rai.


"Cantik-cantik ya? Suka yang mana?"7


Rai menoleh, risih banget. Dari alis matanya saja sudah terbaca seolah berkata, Apa sih lo??


"Gue tiap hari di sini ngeliat mereka latihan.. ya siapa tau ada yang kepincut ma gue." ucap pria itu PD.


Rai memberi cengiran hambar. Ia langsung bangkit berdiri memilih untuk angkat kaki saja dari ruangan itu sebelum pikirannya tercemar sudah dengan semua omongan ga penting laki-laki itu. Lagipula lagu BB juga sudah selesai, keenam cewek itu terlihat sedang beristirahat.