Fresh House

Fresh House
Part 4. Rai Jago Masak



"Masak apa?" tanya Luki agak sangsi.


"Ya masak nasi... masak telur... masak daging... apapun deh yang ada di rumah ini..." Rai tersenyum penuh percaya diri lalu berjalan menuju dapur sendirian. Dia menyiapkan peralatan memasak dengan tenang sambil bersiul sementara yang lain memandangnya dengan tak percaya. Rai mau masak? Memangnya dia bisa masak apa? Laki-laki macam Rai (gentle dan fashionable) apakah bisa memasak dengan enak?


"Kita liat aja nanti," gumam Luki sambil menghela nafas.


"Gue mau bantu Rai ah..." ucap Rian sambil keluar dari selimutnya dan berlari kecil menuju dapur.


"Heh, mandi dulu lo!" suruh Diraz yang sama sekali tidak digubris Rian.


Diraz melirik Luki yang masih berdiri di sana. Mumpung ada Luki di depannya, kenapa tidak sekalian saja dia marahi sepupunya itu karna semalam menyelinap dan tidur di kamar Diraz-Rai?


"Heh, semalam lo kenapa tidur di kamar gue?" tanya Diraz to the point, "Bukannya kamar kepala suku itu di kamar utama yang ada TV, radio dan AC-nya ya?"


Luki meringis disindir begitu oleh Diraz. "Emm.. yahh... kayaknya gue mimpi dan ga nyadar jalan ke kamar kalian..."


Salah satu alis Diraz terangkat sebelah. Baginya alasan Luki sangat tidak masuk diakal dan kalaupun memang Luki punya kebiasaan langka begitu, kenapa mengincar tempat tidur? Kenapa tidak tidur di lantai atau sofa? Atau kuburan gitu (Diraz biasa nonton serial hantu norak).


"Dan lo udah sukses ngebuat leher gue kaku kayak abis dicekik," lanjut Diraz kembali mengingat kejadian tadi pagi, "Gue baru tau kalo lo tidur ternyata ga bisa diem juga."


Luki menyengir hambar. Sebenarnya tadi saat di kamar dan berebutan mandi dengan Rai, Rai juga memang sempat mengomel karna Luki menempelinya seperti cowok homo. Hiii. Luki bergidik geli.


"Ah! Alex mana ya? Gue bangunin dulu yaa..." Dengan cepat Luki berusaha kabur saja dari investigasi Diraz dan langsung lari ke lantai dua untuk membangunkan Alex yang masih saja tidur padahal di luar sudah terang.


"Dasar ubur-ubur..." tukas Diraz pelan melihat kepergian Luki yang tiba-tiba itu.


Diraz melirik ke arah dapur. Harum wangi masakan membuatnya menoleh ke sana. Dia masih tidak percaya kalau harum masakan itu dibuat oleh Rai dan Rian. Sebenarnya Diraz masih belum percaya. "Ya kita liat aja nanti pas makan."


"Wah Rai hebat ya masaknya..." Rian terkagum melihat Rai yang mengangkat sosis dan nugget yang selesai digoreng. Walau yang dimasak hanyalah sosis dan nugget namun bagi Rian itu sudah merupakan prestasi karna dirinya sendiri saja tidak pernah menyalakan kompor gas apalagi memasak.


Rai hanya tersenyum simpul. "Lo masak telur dadarnya ya... Gue mau nyiapin makanannya di meja."


"Siap, Bos!" Rian memberi hormat pada kopral Rai. Sesungguhnya Rian itu hanya latah saja, dia nyadar diri, dia mana bisa masak. Tapi apa boleh dikata... dia juga harus menunjukkan kemampuannya, tidak mau kalah dari Rai.


Rian menaikkan bibirnya, memberi semangat pada diri sendiri. Ia menuangkan minyak pada katel panas. Sedetik kemudian ia hampir saja menuangkan telur yang sudah dikocok ke dalam katel. Untungnya Rai yang memang sudah bad feeling langsung menahan tangan Rian.


"Woi, lo apa-apaan! Itu minyak belum panas, jangan main asal celup aja dong," tegur Rai, bawelnya langsung kumat.


"Ah... eh... uh..." Rian langsung bingung dan malu sendiri.


"Minyaknya tuh harus panas dulu... kalo udah panas baru telurnya boleh dimasukkin... By the way, ni telur udah dikasih garam kan??"


Rian mengangguk seperti anak kecil.


"Lo liat gue ya..." tutur Rai yang semangat mau mengajari Rian yang kekanakkan itu untuk masak. "Nah... skarang minyaknya udah panas. Dari apa coba diceknya?"


"Dicicip?" Rian balik tanya dengan wajah takut-takut.


"Dasar buta masak!" tukas Rai tak habis pikir dengan keminiman pengetahuan memasak sepupunya itu. "Masa dicicip! Mengeceknya dengan cara menuangkan sedikit telur ke minyak itu..."


Dengan ahli Rai mengocok telur di mangkuk itu sebentar lalu menuangkan sedikit ke dalam minyak panas. Telur yang dituang itu langsung tergoreng.


Rian hanya mengucapkan wah... wah... dengan pelan. Sepertinya ini pertama kalinya baginya melihat adegan memasak telur secara nyata.


"Belum selesai..." lanjut Rai, "Kita harus siaga saat memasak, jangan sampai gosong. Gosong itu artinya membuang-buang makanan."


Diraz yang duduk di ruang makan dan mendengar celotehan panjang Rai itu hanya geleng-geleng kepala.


"Cerewetnya Rai kambuh lagi deh... Kalo udah petuah-petuah begitu, dia kayak nenek-nenek."


Mata Rian yang polos berbinar-binar memandang Madame Rai. Dia sama sekali tak menyangka laki-laki tampan dan slalu berpenampilan gaya seperti Rai pandai juga dalam memasak.


"Wow, lo berbakat juga dalam memasak... Takjub..."


Hidung Rai agak mengembang mendengar pujian itu. "Bukan hanya wanita aja yang harus bisa masak, cowok juga harus mau masak. Cowok yang memasak itu bukan berarti banci. Cooking experience is fantastic as I know."


Rian mengangguk-angguk semangat, seolah menjadi mahasiswa kutu buku yang sedang diberikan ilmu oleh dosennya.


"Liat kompor gas ini," Rai menunjuk kompor gas, "Menakjubkan bukan? Menarik bukan? Buat laki-laki bukan cuma PS aja yang menarik tapi kompor gas pun bisa menarik. Bahkan... Ini..." Sekarang Rai menunjuk selada yang ada di atas meja, "Selada juga bisa menjadi sangat menarik... asal... kita mau belajar... Bla... bla... bla... tralalala..." (masih banyak ceramah panjang kuliah umum Rai tentang memasak)


"Mereka lagi apa sih?" tanya Luki yang muncul dan duduk di hadapan Diraz. Luki sudah menyerah untuk membangunkan Alex yang ternyata raja tidur itu, makanya dia balik lagi aja ke bawah, siap-siap untuk sarapan. Namun sayup-sayup dia mendengar khotbah si Rai juga.


Diraz nyengir, "Biasa... lo kayak ga tau Rai aja... ceramahnya kumat... Heran gue ma si Rian, orang ceramah malah didukung dan didengerin, makin aja kan Rai ngelunjak ceramahnya."


Luki tertawa pelan. "Biarin aja mereka. Mereka itu ibu dan anak."


Diraz terkekeh.


"Besok kuliah lagi seperti biasa..." Luki meregangkan kedua tangannya lalu memandang Diraz. Luki tau sekali pasti sangat tidak enak kalau sudah enak-enak kuliah satu setengah tahun di kampus sendiri dengan teman yang sudah akrab, eh, malah dipindahkan orangtua ke kampus baru, hanya karna alasan supaya 5 sepupu ini slalu solid, ke manapun slalu bareng (memang kolot sekali). "Ayo semangat, bro..."


Diraz menghela nafas. Dibandingkan dengan Rai yang juga dipindahkan, nyatanya dialah yang paling bermasalah. Rai sama sekali tidak terlalu memusingkan dengan pindah mendadak ke kampus baru. Rai memang tipe cowok seperti itu, kadang aneh juga kalau dipikir. Tapi kalau Diraz... dia masih belum mendapat feel di kampus baru. Namun ia mengakui kalau dirinya sangat senang karna bisa satu kampus dengan 4 sepupunya, serumah dengan mereka, bahkan sekamar dengan 2 di antara mereka.


Diraz hanya mengangguk sesaat. "Kuliahnya sih asik... tapi ya seperti biasa, gue masih kangen suasana lama."


"Ini saatnya lo beranjak dari comfort zone.”


Diraz memandang Luki dan tersenyum tipis. "Yeah... comfort zone." Diraz menyadari kalau dirinya memang tipikal orang yang senang dengan kondisi lama dan nyaman, tidak mau beranjak, tidak mau menghadapi tantangan baru dalam hidup, atau berkenalan dengan banyak orang di luar sana. Walau berat tapi gue bakal coba.


.


.


.


BONUS CUITAN TWITTER FRESHOUSE