
Kuliah masih dua puluh menitan lagi pagi ini dan Rai sudah berada di kantin bersama dengan Rahel. Tadi dia tak sengaja bertemu dengan Rahel di depan kantin saat akan menuju kelas bersama-sama dengan Luki. Rai bertanya Rahel mau apa ke kantin dan cewek itu jawab dia mau sarapan, maka langsung saja Rai berlagak mau sarapan juga, padahal niatnya mau menemani Rahel juga. Luki saja hanya tersenyum tipis, karna rasanya tadi Rai sudah sarapan di rumah.
Rai dan Rahel sama-sama memesan bubur ayam, yang paling tokcer di kantin kalau soal makan pagi.
"Lo emang ga biasa makan di rumah?" tanya Rai sambil meniup-niup buburnya yang panas.
Rahel menggeleng. "Nyokap gue ga masak buat sarapan. Kami udah biasa makan sendiri-sendiri di luar."
"Ohh..."
Rahel memandangi Rai. "Rai, keberatan ga kalo gue cerita tentang masa SMA gue?"
Rai mendongak dan tertegun, "Ya enggalah... Crita aja..."
"Lo tau ga kalo gue ini trauma temenan sama cewek."
"Hah? Kenapa?"
Rahel tersenyum tipis, "Waktu SMA gue pernah dimusuhi sama semua teman sekelas yang cewek."
"Kok bisa?" tanya Rai prihatin.
"Jadi ceritanya ada ketua osis yang populer gitu di sekolah yang suka sama gue sampai mutusin pacarnya yang sekelas ma gue demi ngejar gue."
"Hah?" Mulut Rai menganga, "Yang bener?"
"Ya benerlah, masa gue boong? Ga enak banget, Rai, dijauhin tiba-tiba gitu... Apalagi saat itu adalah 3 bulan sebelum Ujian Nasional."
"Ya ampun... Trus lo trauma?"
Rahel mengangguk ragu, "Gue emang ga benci mereka, tapi entah kenapa seperti sudah ada pola sendiri di pikiran gue kalo sesama cewek itu ga bisa dijadiin sahabat. Sahabat alias teman sebangku gue sendiri aja juga ikut-ikutan ngejauhin gue, Rai. Masa-masa itu menyakitkan banget."
Rai bisa membayangkan seperti apa perasaan Rahel yang terluka itu : dijauhi, istirahat sendiri, ke toilet sendiri atau bahkan tidak memiliki teman berbicara segender di kelas.
"
Skarang gue lebih seneng main sama temen cowok. Mereka asik-asik, gokil... Termasuk lo."
Pipi Rai langsung memerah.
Rahel tersenyum. Ia menyendokkan buburnya dan mulai makan namun ternyata buburnya masih terlalu panas untuk lidahnya ini. "Aduh!" Rahel mengipas-ngipas lidahnya yang seolah terbakar itu.
"Kenapa?" tanya Rai langsung sigap.
"Ga kenapa-napa kok... cuma kaget aja karna buburnya masih panas banget."
Rai tersenyum dan mengangguk kecil. Ia mengambil mangkuk bubur Rahel yang masih penuh dan mulai meniup-niup bubur Rahel dengan sekuat tenaga. "Biar ga panas lagi."
Rahel memandangi Rai, tersentak namun takjub juga. Rahel sama sekali tak menyangka kalau sikap Rai begitu perhatian dan sungguh-sungguh, cewek itu sampai terharu. Sikap Rai yang seperti ini dan sikap-sikap lainnya (seperti slalu menunggu slama latihan atau memberi minuman saat latihan) membuat Rahel merasa dirinya begitu spesial seperti putri. Tidak seperti teman-teman cowoknya yang memperlakukannya sebagai sesama lelaki.
Rahel masih memperhatikan Rai yang mengocok-ngocok bubur Rahel supaya uap panasnya hilang. 'Rai...'
---skip---
“Yang romantis itu gue kali...” tukas Luki malam itu. Saat ini ia dan 4 sepupunya sedang berada di ruang keluarga. Luki dan Rian menonton TV, Alex mengerjakan tugas,
Diraz bermain gitar di sofa terpisah sedangkan Rai membaca buku untuk kuliah besok (tumbennya. Sepertinya dia sudah tertular sifat Luki). Tadi Luki masih saja membahas kalau dirinyalah yang paling romantis karna kebetulan dia sedang menonton acara yang menentukan sejauh mana kadar romantis seseorang.
"Eh enak aja. Di mana-mana gue kali yang paling romantis dibandingkan elo. Cih, lo mana ada romantis-romantisnya."
"Eh jangan salah ya," tukas Rai mendongak dari balik buku tebal, "Gue ini paling baik dalam memperlakukan wanita."
Rian hanya terkekeh dan Luki tetap tak mau mengalah. "Emang apa aja yang udah lo lakuin ke Rahel? Lo udah jadi Romeonya emang?"
"Setidaknya sikap gue lebih baik dan tulus dibandingin lo," jawab Rai, "Gue peduli sama dia, sama hal yang terkecil pun gue peduliin. Misalnya kayak habis latihan, gue pasti bawain minum... Dan dia slalu tersenyum."
"Ah gituan doang sih, murahan." ejek Luki sadis membuat Alex sampai terkekeh, "Waktu SMA ada dua cewek yang bersahabat yang suka sama gue. Bayangin aja mereka sampai musuhan karna ngejar gue. Yang satu nyari perhatian gue dengan ngasih barang atau kartu ucapan, yang satu lebih agresif biar yang lainnya cemburu. Hehe, gokil kan gue?"
Diraz menguap keras-keras. "Dia sudah bosan mendengar cerita Luki yang itu-itu mulu."
"Itu sih bukan romantis namanya," tukas Rian, "Itu sih lo aja yang playboy."
Rai juga ikut tertawa, "Mana ada romantisnya lo dari cerita tadi! Nafsu banget lo pengen romantis."
Luki memberengut.
Diraz yang dari tadi memetik-metik gitar, akhirnya langsung bernyanyi saja biar Luki tidak bicara lagi. Diraz memang yang paling senang menyanyi di Freshouse dan dia juga sangat mahir memainkan gitar, bass ataupun drum.
“I think about you a lot take care I wanna do
and I wish I think about you all the time my life.
I think about you a lot take care, do you wanna do?
of course I know your situation backwards too...
See my eyes, see my lips, See my face,
I would like to know what you really think I wanna
I don't know why I don't know why I love you baby
I don't know why I don't know how to put it baby, I don't know how to do."
Rian langsung mengetuk-ngetuk kaki di lantai sesuai irama. Dia paling senang kalau Diraz sudah menyanyi, karna suara Diraz cukup enak didengar. Dan ini adalah bagian Diraz nge-rap.
“Long time no see anything new down your way can you hear this
She is not fussed about my news I don't care I'm understand
Long time no see anything new down your way can you hear this
She is not fussed about my news world you mind look at me boo."
"Wah gila lo... mantap banget." puji Rai sambil bertepuk tangan keras-keras.
"Itu tuh lagu seruan hatinya buat doi Sandra." sela Luki terkekeh.
"Kapan dong nyatain perasaannya?" tanya Rian penasaran pada Diraz yang sepertinya tidak pernah siap mengakui perasaan sendiri di depan Sandra.
Diraz yang tadi asik main gitar langsung berhenti karna tak kuat menahan tawa. "Sarap kalian semua... sinetron abis muka kalian!"