Fresh House

Fresh House
Part 10. Cinta itu Buta



Esok paginya saat sarapan, Luki segera memberitau Rian mengenai sikap Karin semalam pada Rai. Di ruang tengah itu ada Rian, Rai, Luki dan Diraz. Alex masih mandi, sebentar lagi mungkin akan bergabung di sana.


“Hah? Ma-masa sih?” tanya Rian tak percaya.


Diraz mengangguk, “Gue sih udah menduganya sejak awal ngeliat gelagat Karin."


"Ta-tapi bisa aja kan si Karin cuma basa basi ngajak temenan karna Rai itu sepupunya Alex?"


Rai menatap Rian, "Beda, Yan... Cewek itu seperti udah biasa menelepon cowok dan basa basi panjang lebar. Lagian dia ngajak gue jalan tanpa sepengetahuan Alex."


"Mungkin dia ngira lo cowok gampangan." sahut Luki terkekeh membuat Rai sebal.


Rian agak menunduk, masih syok juga kalau ternyata Karin, pacar Alex, bersikap begitu.


"Lo kenapa?" tanya Diraz pada Rian, "Kok lo keliatan sedih gitu? Apa jangan-jangan lo jatuh hati sama Karin?"


Rian mendongak kaget dan langsung geleng-geleng. "Ih engga kok... Gue cuma... cuma..."


Rai memperhatikan wajah Rian yang kebingungan itu. "Rian, lo ga ditelepon ma cewek itu juga kan?"


Yang lain terkejut dan Rian masih menunduk bingung.


"Dia ga nelepon sih... Tapi sejak dua hari yang lalu kami emang WA-an."


"Apa?!" Luki berdiri spontan dan terbelalak pada Rian. Bahkan Rian yang masih bocah ini diincar juga?


Rian membalas pandangan sepupunya dengan takut-takut, "Gue pikir kalian semua juga WA-an ma Karin."


"Riaaan.... Karin itu pacar sepupu kita," ucap Diraz gemas.


Wajah Rian semakin terlihat *****. "Ya gue kira ga apa-apa..."


"Lo itu terlalu polos." ucap Rai, "Lo masih belum ngerti yang beginian. Yang jelas lo mesti inget baik-baik, cewek yang udah punya pacar tapi masih WA-an sama cowok lain itu udah serong namanya. Kalau cuma WA nanya kuliah atau apa sih masih mending tapi kalo udah terlalu sering, itu yang mencurigakan."


Rian mengangguk, "Sorry gue udah ga peka."


Diraz menghela nafas, "Sekarang yang jadi masalahnya gimana cara kita ngasih tau Alex?"


"Ngasih tau apa?" tanya Alex tiba-tiba, tau-tau saja sudah muncul dari tangga dan memandangi 4 sepupunya dengan heran.


Luki dan Rian melotot, Diraz dan Rai pun menahan nafas.


Alex memandang Diraz penuh tanya. "Tadi lo bilang mau ngasih tau gue kan? Ngasih tau apa emangnya?"


Bibir Diraz mendadak kering. "Ng... itu... a-anu..."


Entah kenapa keberanian Diraz langsung ciut.


"Tentang Karin..." ucap Rai akhirnya dengan nerani karena Diraz terlihat belum siap untuk memberitau. Yang lain langsung melirik Rai, menahan nafas, tegang jadinya.


Alex mengernyit," Karin? Kenapa?"


Rai menarik nafas dalam-dalam. Alex memang termasuk yang paling irit bicara di rumah ini tapi bukan berarti Rai menyepelekan perasaan Alex. Rai menyayangi Alex sama seperti dia menyayangi yang lain. Dan memberitau Alex saat ini merupakan hal yang tersulit. Rai tidak mau menyakiti hati Alex. Tapi bagaimanapun Rai tetap memilih menjaga diri Alex dari awal saja dibandingkan dengan pada akhirnya hati Alex akan lebih hancur dan sakit.


Alex masih memandang Rai dengan heran, menunggu penuturan Rai selanjutnya.


"Gue mau lo putus dari Karin." ucap Rai.


Luki menoleh kaget, Diraz melotot, Rian menganga. Ini sih terlalu frontal. Rai benar-benar tidak berusaha menyusun kalimat baik dengan induk kalimat dulu baru diahiri anak kalimat. Rai benar-benar to the point.


Alex berusaha tertawa namun tak bisa.


"Kenapa lo tiba-tiba ngomong kayak gitu?"


Rai merasa lambungnya sakit, "Gue rasa Karin itu ga pantas buat lo. Dia ga sebaik yang lo bayangkan."


"Alasan lo sama sekali ga masuk diakal." gumam Alex masih tenang namun seluruh badannya bergetar.


Rian memandangi Rai berharap Rai lebih menyederhanakan kalimatnya supaya dimengerti Alex.


"Dia bukan tipe cewek setia yang lo cari... Dia mungkin keliatan bersikap manis, tapi masih banyak yang belum lo tau tentang dia. Kalian juga baru kenal kok."


Alex mendengus, "Jadi lo mau bilang kalo lo lebih tau dari gue? How come?"


Luki meringis, gemas juga lama-lama karna Rai tidak mengatakan yang sebenarnya tentang Karin yang menelepon semalam.


Rai hanya terdiam, kehabisan kata-kata.


Alex memandangi sepupunya yang lain. "Trus kalian? Apa kalian juga mau minta hal yang sama dari gue? Putus dari Karin karna alasan yang ga masuk diakal?"


"Lex, untuk kali ini lo dengerin nasihat kami... demi perasaan lo juga." ucap Diraz.


Alex mengangkat satu tangan menyatakan kalau semua ini cukup.


"Gue berangkat duluan, mau jemput Karin."


"Lo ga sarapan dulu, Lex?" tanya Rian buru-buru karna Alex sudah berbalik pergi.


"Gue ga laper..." tukas Alex sambil berlalu begitu saja meninggalkan ruang makan.


Rai menghembuskan nafas keras-keras, sudah menyangka kalau Alex tidak akan percaya dengan sebegitu mudahnya.


"Tadi lo kenapa ga langsung kasih tau aja kalo Karin nelpon lo semalam dan juga sering nge-WA Rian?" tanya Luki protes pada Rai.


"Ga ada gunanya... Ntar dia malah nyangka kalo gue ma Rian yang belang di belakang dia. Slama belum ada bukti di depan mata, semua orang akan menyalahkan pihak prialah yang mulai duluan." sahut Rai.


Luki mengernyit masih tidak mengerti.


"Kok? Buktinya kan udah jelas elo. Dan yang belang itu kan udah jelas si Karin..."


"Ah lola lo!" tukas Diraz sebal juga, "Tetep aja Alex akan lebih percaya sama pacarnya sendiri dan malah akan balik nuduh kalo Rai dan Rian lah yang nelpon atau WA Karin duluan."


"Iya... tapi kan yang nelpon dan WA duluan itu Karin..." Luki masih saja bersikeras dengan pendapatnya.


Diraz menahan diri untuk tidak menjitak kepala Luki saat itu juga. "Akh terserah lo lah... Capek gue."


Rai masih duduk dengan tatapan kosong. "Mungkin suatu saat nanti Alex akan tau dengan sendirinya."


Sore itu Alex update di snapchat



Makasih yang sudah baca. Jangan lupa like, komen dan favorit ya😄