Fresh House

Fresh House
34.



Malam itu sekitar jam setengah dua belas, Luki dan Alex sudah tidur, sementara itu Rai, Rian dan Diraz belum tidur sama sekali. Mereka masih di ruang keluarga, mengobrol atau crita-crita. Biasalah, ga bisa tidur.


"Aduh ngobrolin apa lagi nih ya," gumam Rian, "Gue belum ngantuk nih."


"Sama, gue juga." sahut Rai sambil menatap langit-langit. Ingin sekali dia langsung tidur lelap namun tak mengantuk.


"Oh iya!" celetuk Diraz tiba-tiba, "Gue penasaran banget nih sama buku koleksi si Luki."


"Hah? Maksudnya?" tanya Rian ga ngerti.


"Mungkin kalian ga liat, tapi waktu kita pertama kali pindah ke sini, gue liat Luki bawa tas yang isinya buku doang. Tapi anehnya kebanyakan buku diari."


"Haaahh??" Rai menatap Diraz ga percaya, "Maksud lo si Luki seneng nulis diari dan ngoleksi diari?"


Diraz angkat bahu, "Gue sih ga tau... tapi yang jelas gue yakin yang gue liat di tasnya itu buku diari semua."


"Luki emang suka nulis diari kok," gumam Rian, "Dia pernah bilang kalo selama SMP dan SMA dia banyak nulis diari. Katanya sih penulis itu adalah cita-citanya yang ga akan pernah kesampaian."


Rai tersedak tawa. "Jadi dia suka nulis diari? Oh my God."


"Ayo kita liat bukunya." ajak Diraz bangkit berdiri sambil tersenyum jail pada Rian dan Rai.


Mereka bertiga pun ke kamar utama alias kamar Luki seharusnya namun Luki malah anteng tidur di kamar Diraz dan Rai.


"Dia napa sih ga pernah tidur di sini aja?" tukas Rai sebal memandang kamar Luki yang besar itu, "Tapi kalo gue minta tidur di sini, dia ga ngijinin."


"Ah ini bukan?" tanya Rian tiba-tiba karna menemukan sebuah tas berisi buku-buku sejenis buku diari.


"Nah iya itu." sahut Diraz melihat tas yang dipegang Rian.


Mereka bertiga pun mengambil salah satu buku yang disimpan paling atas. Dilihat dari tulisan dan nama sekolah, itu sih buku diari Luki saat SMP.


"Baca-baca.." suruh Rai pada Rian yang memegang buku diari itu.


Rian melotot dulu sebelum membaca karna tercengang saat melihat judul : My First Kiss.


"Gila ni anak," tukas Diraz pelan, "Masih SMP udah kiss? Makhluk macam apa dia!"


Rian tidak menimpali, dia mulai membaca.


“Ah pacaran ya....


Gue rasa kata itu masih jauh dari hidup gue.


Mungkin gue pacaran saat kuliah nanti, bahkan saat akan lulus, hehe. Dan pacarannya juga ga usah lama-lama (ngapain juga lama-lama, nanti busuk), langsung aja nikah, kan beres perkara.


Gaston nanya ke gue kenapa gue ga keliatan mau pacaran padahal ada yang suka sama gue, ya gue bilang aja, ngapain juga mesti pacaran umur segini, belum berpenghasilan. Masa brarti kalo gue jalan ma cewek atau makan, duitnya minta ke Nyokap dong?? Iihh... ga etis menurut gue.


Tapi slain berita pacaran, ada berita lain yang bikin gue syok sampai saat ini. kejadiannya sih dua hari yang lalu... My first kiss. Yaiks.


Gue piknik sama keluarga gue ke gunung. Saat lagi duduk sendiri sambil dnegerin musik, tiba-tiba aja ada kambing lari ke arah gue. Kami langsung tabrakan dan gue ngerasa di bibir gue ada yang basah. Taunya gue ciuman ma kambing itu!!! ya maksud gue ga ciuman kayak gitu aja... Maksudnya bibir gue bersentuhan dengan bibir kambing ga tau diri itu. Akh sial. Ini sih ga boleh ada yang tau,. Aib sepanjang masa... my first kiss is gone...”


Rian, Rai dan Diraz terkekeh-kekeh, berusaha untuk tidak berisik karna takut Luki atau Alex akan bangun dan memergoki mereka mengutak-atik barang Luki.


Rai tertawa tanpa suara sambil memegangi perutnya, "First kiss-nya sama kambing?? Haha, konyol..."


"Sesuai dengan yang slalu ia katakan, Luki memang romantis." gumam Diraz terkekeh-kekeh.


"Gokil amat si Luki," ucap Rian merasa perutnya sakit karna tertawa. "Skarang kita tau aibnya."


Diraz mengekeh, senang sekali karna akhirnya sudah mengetahui titik lemah Luki. Sepertinya Diraz akan mulai menghina Luki dengan sebutan kambing aja deh.


Tiba-tiba mereka sama-sama mendengar suara gedebuk di bawah. Keduanya langsung tersentak dan tertegun.


"Suara apa tuh?" bisik Rai.


"Apa Luki atau Alex ya?" Diraz balik tanya dengan suara pelan.


Mereka bertiga saling pandang dan sedetik kemudian langsung sama-sama berdiri keluar dari kamar utama. Mereka mengintip dari atas ke bawah, ke ruang keluarga yang sudah gelap.


Entah kenapa firasat mereka bertiga sama. Yang di bawah bukanlah Luki atau Alex, karna mereka bertiga bisa mendengar dengkuran halus dari kamar tempat Luki tidur. Dan Rian juga yakin Alex tidak mungkin bangun di tengah malam.


"Siapa sih itu?" bisik Rian tegang.


Mereka bertiga hening dan kemudian mata mereka menangkap sebuah sosok manusia di bawah sedang mengangkat laptop Alex yang memang ada di bawah karna Alex lupa membawanya kembali ke kamar.


Melihat maling itu, kontan saja Rian langsung teriak impuls. "Woi, maliiingg!!!"


Orang yang memang maling itu langsung mendongak kaget ke atas, terkejut karna dia tertangkap basah.


Rai tanpa takut langsung saja turun, melompati dua anak tangga sekaligus. Dia tidak akan membiarkan ada maling di rumah ini. Rian juga ikutan turun, mau tak mau harus menemani Rai juga, takut Rai akan ditodong atau apa. Sementara Diraz langsung merogoh iphone-nya dan menelepon polisi.


Rai yang sangar kalau soal beginian, tanpa takut langsung saja menyerbu maling yang sudah berusaha kabur itu. Mereka bergulat di lantai dan laptop Alex jatuh, sepertinya retak.


"Ayo terus, Rai.. jangan biarin malingnya kabur." seru Rian memberi semangat walau tidak bisa melihat pergulatan Rai dengan sang maling.


Akhirnya maling itu berhasil diringkus oleh Rai. Yah untungnya maling itu tidak membawa senjata apa-apa, jadi bisa dengan mudahnya Rai menaklukan sang maling. Polisi juga akhirnya datang membawa maling untuk dipenjara.


"Astaga, gue ga nyangka kalo di rumah ini bakal kedatangan maling juga." ucap Luki yang juga terbangun karna teriakan dan keributan di bawah. Sekarang dia dan yang lainnya berada di ruang keluarga, sementara polisi sudah pergi.


Alex mengangguk. Dia juga terbangun dan langsung tidak bisa tidur.


"Lex, maaf ya laptop lo langsung retak." gumam Rian.


Alex tersenyum tenang, "Laptop kan bisa dibeli lagi... Nyantai aja."


Diraz menghela nafas. "Gila ya... malam ini malam yang menghebohkan."


Rai terkekeh pelan, teringat kembali dengan buku bacaan mereka sebelum mereka menemukan maling. "Ya give thanks untuk Luki yang telah menyelamatkan Freshouse kali ini."


"Kok gue?" tanya Luki heran sekaligus ga ngerti, "Yang mergokin kan kalian?"


Rian terbahak keras, kembali membayangkan Luki saat piknik di gunung dan bertubrukan dengan kambing. Sungguh mengenaskan.


"Rai bener... Lo lah sang penyelamat rumah ini." gumam Diraz mengikik.


"Kok?" tanya Luki makin ga ngerti. Alex juga hanya memandangi Rian yang terus tertawa itu.


"Menurut lo kalo bukan karna baca buku diari lo, gimana mungkin kami bertiga bisa tau ada maling di bawah?" tanya Rai.


Luki masih tidak mengerti namun mendengar penuturan Rai selanjutnya dia langsung tau maksudnya apa.


“First kiss dengan kambing? Cool." lanjut Rai membuat Diraz dan Rian terbahak abis.


"Jadi kalian baca buku diari gue?!" seru Luki tak percaya.


"Yeah... Tapi sayang baru baca satu cerita aja." sahut Diraz.


Luki hanya bisa menatap Diraz, Rai dan Rian dengan berang. Dia berjanji dia akan langsung menyembunyikan semua buku-bukunya itu di tempat yang aman, bahkan kalau bisa akan dia gembok sekalian.


"Gue heran, lo ngapain bawa buku diari lo ke sini?" tanya Rian terkekeh, "Bacaan ringan saat ga ada kegiatan ya?"


Alex ikut tertawa. "Gue juga mau baca dong, Ki..."


Muka Luki sudah memerah karna malu. Sebenarnya tujuan dia membawa buku diari itu memang untuk dibaca kalau ada waktu senggang. Dia hanya ingin mengenang masa-masa berkesan yang ia kristalkan dalam buku-buku diarinya.


“Gue juga kepengen baca lagi dong, Ki...” kekeh Rai.


“Diam kalian semuaaa!!” seru Luki malu abis.