
Rai berjalan lambat dan agak ragu melewati gedung teknik lingkungan. Dia mencari-cari Rahel di sana, berharap bisa sekedar berpapasan saja. 'Dia mana ya...?'
"Hei!" Seseorang menepuk bahu Rai dari belakang.
Rai menoleh kaget namun langsung tersenyum saat melihat Rahel. "Hei..."
"Lagi ngapain di sini, Rai?"
"Haha, lagi nyari lo. Mau makan siang ga?"
“Of course..." Rahel menunjukkan senyum yang disukai Rai lagi.
"Karna gue ini termasuk awam di kampus ini, silakan lo yang nunjukkin tempat makan enak di daerah sini."
"Siap!" Rahel nyengir. "Di belakang kampus ada warung steak yang dijamin yummy banget. Mau coba?"
Rai mengangguk. "Absolutly."
.
.
"Rai mana sih?? Kok dia ngilang terus?" tukas Luki yang sekalipun adu mulut sama Rai tapi ternyata kangen juga. Saat ini ia, Rian, dan Alex sedang berada di kantin untuk makan siang.
Rian yang baru saja akan mengangkat bahu langsung terperangah saat melihat Rai lewat di depan kantin. "Ah! Itu dia."
Luki dan Alex menoleh pada arah yang ditunjuk Rian. Keduanya sama kagetnya melihat Rai lewat bersama dengan seorang cewek dan mereka kelihatan akrab.
"Cewek itu siapa?" tanya Alex pada Luki.
"Meneketehe." sahut Luki, "Waduh... si Rai utang cerita nih sama kita-kita."
Rian memperhatikan Rai dan cewek itu yang berjalan makin jauh. "O Mama lagi jatuh cinta ya? Ya wajar sih... lagian dia juga ganteng."
"Akh!" seru Luki tiba-tiba, mukanya langsung berubah kusut.
"Kenapa?" tanya Alex.
"Ngomongin cewek, gue jadi inget kalo nanti malam gue mesti ke rumah si cewek kantoran itu."
"Cewek kantoran? Maksud lo Rosa?" Alex balik tanya.
Luki mengangguk lesu. "Nyokap tuh minta ditemenin. Ahh apes banget sih gue dapat cewek kantoran begitu, padahal gue ganteng gini."
“Lo ga boleh ngomong kayak gitu. Karma lho nanti." Alex memperingatkan.
Luki mendengus cuek lalu kembali meminum sodanya. Baginya sih tidak masalah kalau Rosa penampilannya kantoran begitu, tapi kan dia gengsi sama Diraz, Rai dan Alex, karna teman cewek mereka cantik dan ABG.
Rian memperhatikan Luki sambil memakan sandwichnya. Ia tak menyangka kalau sekarang semua sepupunya tengah mengalami urusan dengan yang namanya wanita. Mulai dari Alex yang pasca patah hati dari bad girl langsung dicomblangi Luki pada Dela. Diraz yang bertemu dengan cinta pertamanya kembali yang membuat Diraz sering autis WA-an atau telponan. Luki yang dijodohkan tiba-tiba dengan Rosa yang penampilannya terlihat dewasa bahkan dari penampilan Luki sendiri. Sekarang Rai juga ikut-ikutan mengalami senyumnya mengalihkan duniaku ala cowok-cowok yang jatuh cinta. Tidak tau sih bener atau engga tapi Rian tetep saja dongkol karna Rai memang sering menghilang, tidak bergabung akhir-akhir ini.
Sial. Rian kembali teringat lagi dengan sebutan rakyat jelata.
Rian memandang kosong Diraz dan Sandra yang sedang mengobrol di meja lain di kantin itu.
"Marchel mau makan apa?" tanya Diraz pada Marchel, anak kecil yang duduk di pangkuannya. Anak itu adalah anak dari salah satu penjaga kantin. Marchel memang paling akrab dengan Diraz, padahal Diraz adalah mahasiswa baru.
Marchel menggeleng. "Kaka aja yang makan. Beli jualan Mama."
Diraz langsung membelai kepala anak lucu itu. Anak itu sungguh polos meluruhkan hati Diraz. Diraz agak terharu mendengar anak ini ingin jualan Mamanya laku. "Iya, Kakak pasti akan beli jualannya Mama Marchel."
Sandra mengangguk, berkata pada Marchel, "Kakak juga kok."
"Nah sekarang Marchel bilang ya ke Mama, Kak Diraz dan Kak Sandra mesen makanan seperti biasa."
"Tuh anak polos banget ya," ujar Diraz, "Gue ga tega ngeliat kalo dia kenapa-napa."
Sandra tersenyum. "Gue baru tau lho kalo lo suka anak kecil."
Diraz menoleh tersentak. "Emang gue keliatan seperti laki-laki penyiksa anak ya?"
Sandra terkekeh-kekeh. "Bukaaan. Tapi lo keliatan penyayang kalo sama anak kecil."
"Yaaahh... Gue cuma ga mau aja anak yang masih kecil mengalami hal yang harusnya ga dia alami, seperti misalnya ga dapat perhatian orangtua atau diperlakukan dengan semena-mena. Ya jangan kayak gue deh."
Sandra tersentak. "Emangnya lo kenapa waktu kecil?"
Diraz meringis. "Biasa... Sejak kecil orangtua gue kan sibuk banget kerja. Gue slalu di rumah sendiri, main dengan komputer atau nonton film sama baby sitter. Ga enak banget, Dra. Gue aja udah pengen nuntut kasih sayang orangtua gue tapi ga pernah bisa gue lakuin. Hhh... makanya gue ingin banget anak kecil ga kayak gue. Masa kanak-kanak kan harus yang paling diperhatikan biar nantinya saat dewasa ga aneh-aneh."
"Tapi lo ga keliatan kayak orang yang kurang kasih sayang lho, Raz..."
Diraz tersenyum. "Gue punya 4 sepupu yang slalu care. Itu yang gue syukuri. Sepertinya kalo ga ada mereka, gue pasti udah sangat kesepian."
Sandra dan Diraz kompak memandang ke meja lain, ke mejanya Luki, Alex dan Rian. Mereka berdua sama-sama tersenyum.
"Lex, gimana?" tanya Luki pada Alex dengan senyum aneh, "Lo udah dapat nomornya si Dela kan?"
Alex mengernyit. Dia hanya menggeleng.
"Hah?! Jadi apa aja yang lo lakuin kemaren? Masa lo ga minta nomornya?"
"Buat apa?" tanya Alex merasa ga penting.
"Akh elo!" Luki langsung mengambil handphone Alex di atas meja dan mengetik nomor Dela di sana dan menyimpannya. "Nih! Gue udah masukkin nomor Dela."
Alex terlihat tenang, tidak peduli. Ia memakan gado-gadonya dengan santai.
"Telponin dia... atau chat atau apa kek.." tukas Luki.
Walau Luki sudah bercuap-cuap begitu tapi sepertinya Alex tidak akan terlalu peduli deh. Semua yang dikatakan Luki hanya akan masuk telinga kiri keluar telinga kanan.
Rian dari tadi hanya melamun, masih mellow. Ia memandang jalan di luar kantin yang dilewati mahasiswa yang berlalu lalang itu.
Rian tak sengaja melihat seorang cewek yang membawa setumpuk buku tebal dan salah satu bukunya jatuh. Rian memperhatikan kalau cewek itu berusaha mengambil bukunya yang jatuh. Buku sudah terambil namun satu buku yang lain malah jatuh. Sudah diambil lagi namun kali ini buku lain yang jatuh. Dan begitu seterusnya. Rian saja sampai terbengong, intens memperhatikan cewek imut yang rambutnya lurus panjang itu.
Akhirnya saat akan mengambil buku yang terakhir, semua buku yang dipegang cewek itu malah berjatuhan semua. Mulut Rian menganga dan sedetik kemudian dia langsung tertawa.
Luki dan Alex yang kaget melihat sepupunya itu tiba-tiba tertawa, mulai merasa Rian gila juga.
"Lo kenapa ketawa?" tanya Luki memandangi Rian seperti memandangi orang freak.
Rian tak menjawab namun masih saja tertawa. Dilihatnya cewek itu buru-buru mengambil buku-buku dan pergi dengan segera. Memang sih cewek itu tidak tau kalau ada orang yang tadi memperhatikannya.
'Konyol banget. Hahaha.'
"Tadi bengong sendiri kayak ayam, skarang ketawa sendiri kayak orang gila." Luki geleng-geleng prihatin.
“Maklum, namanya juga anak bungsu.” sahut Alex terkekeh.
*Cuap-cuap author.*
i sometime think that nobody read my novel.. like all my efforts are useless😅 but idk i still continue this.. because maybe.. mayhaps... some people actually reading this without comment or anything.
Also... i feel nothing in noveltoon esp in group chat. It was like im stranger... and i feel uncomfortable. So yeah.. maybe i'll talk less in group. but i promise i'll still upload my story since its alr ending you know.
So once again, i told you, if you're reading my story please give like, comment and vote. Thank you!