
“Asiiikk!! Refreshing otak!” seru Rian gembira bukan main. Hari Jumat ini sesudah pulang kuliah mereka akan langsung pergi ke Ancol. Tujuan utamanya mungkin untuk menghibur hati Alex yang tak menentu itu.
“Lo suka pantai kan, Lex?”
Alex mengangkat kepalanya dan hanya tersenyum sedikit.
"Semua orang suka pantai kali." tukas Luki sambil melotot pada Rian. Luki sudah menduga kalau Rian tidak bisa menjaga rahasia dengan begitu baik. Kalau Alex sampai tau tujuan mereka ke Ancol adalah untuk menghibur hati Alex pasca putus cinta kan gawat.
Diraz berjalan sambil asik WA-an dengan Sandra. Sandra mengajak Diraz untuk Sabtu depan pergi main bersama, ke mana saja. Makanya Diraz seneng banget, tak henti-hentinya tersenyum sendiri.
"Kita main di pantai semalaman aja yuk," ajak Rian, "Besok kan libur."
"Jangan lupa besok kita tetep datang ke acara perusahaan keluarga," ucap Luki mengingatkan, "Gue sih ada feeling kalo kita mesti menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh karna kayaknya para orangtua kita akan memilih salah satu dari kita sebagai pewaris."
"Ah lebay lo..." gumam Diraz yang ternyata mendengarkan.
"Eh beneran.... Nyokap bilang ke gue kalo besok kita harus tampil profesional karna akan banyak orang yang memperhatikan kita."
Rian hanya mengangguk-angguk saja. "Brarti kita sedang bersaing ya?"
"Betul sekali! Siapa tau kan ini menentukan masa depan kita seumur hidup?”
"Menentukan masa depan seumur hidup? ulang Diraz mengekeh, "Masa sih?"
“Believe me! tukas Luki sungguh-sungguh.
"Oh ya si Big Mama mana?" tanya Rian tiba-tiba yang baru sadar kalau Rai tidak ada bersama dengan mereka. Rai memang diberi julukan yang bermacam-macam, entah Big Mama, O Mama, Bunda Rai dan lainnya.
"Katanya ada urusan sebentar. Dia nyuruh kita nunggu di parkiran aja." gumam Diraz.
Rai sedang berdiri di dekat pintu studio dance. Kepalanya melongok ke dalam dan melihat beberapa cewek sedang latihan menari. Kali ini lagu yang mengalun adalah lagunya Justin Bieber.
Rai menatap Rahel yang hari ini juga memakai baju hijau dan yang rambutnya diikat tinggi itu.
Rai tersenyum. Dia ke sini hanya untuk melihat Rahel saja, walau sebentar tapi baginya sangat berarti. Rai senang saat melihat Rahel latihan dengan wajah yang selalu semangat itu.
'Apa gue jatuh cinta ya?'
Rai mengikik sendiri. Rasanya sangat konyol. Dia mana mungkin jatuh cinta pada cewek yang tidak ia kenal. 'Mungkin hanya terpesona sesaat... nanti juga hilang.'
Rai tersenyum lalu berbalik pergi. Empat sepupunya pasti sudah menunggu di parkiran.
.
.
.
'Pantai...'
Alex memandang kosong Rian dan Luki yang sedang kejar-kejaran seperti anak kecil. Rai juga ikut-ikutan karna merasa adik bungsunya sudah diganggu oleh si kepala suku Luki. Diraz yang duduk agak jauh dari Alex pun tertawa juga melihat Rai yang sudah seperti ibunda Rian, apalagi wajah konyol Luki yang terkadang super ngeselin.
Alex mengalihkan matanya melihat laut jauh-jauh. Dari dulu dia memang sangat menyukai berenang. Dia juga suka ke pantai. Baginya pantai adalah tempat favorit kedua setelah rumah. Dan sebenarnya Alex juga pernah berencana akan membawa Karin ke pantai untuk makan malam. Tapi rasanya semua itu hanya bayang-bayang saja.
Alex tidak tau mesti bersyukur atau apa karna akhirnya dia tau juga belangnya Karin. Namun Alex merasa dirinya kosong, antara sebal pada diri sendiri dan kecewa.
Alex bangkit berdiri. Ia memutuskan untuk jalan-jalan di pasir sendirian. Berjalan di atas pasir tanpa alas kaki memberi perasaan tersendiri di hatinya. Nyaman.
Tiba-tiba ada seorang cewek yang berlari ke arahnya. Detik berikutnya tanpa mereka sadari (mungkin karna keduanya juga melamun) tubrukan tak terhindarkan. Keduanya jatuh di pasir dan mengaduh bersamaan.
Alex hanya mengerang pelan karna tadi dadanya seperti terhantam sesuatu, mungkin kepala si cewek.
Cewek yang memakai kupluk juga mengaduh di atas pasir. Badannya sakit karna menubruk orang. Tadi dia memang sedang berlari sambil melihat ke belakang tanpa melihat di depannya ada orang yang sedang berjalan.
Alex mendongak dan melihat seorang cewek sedang membersihkan lengan dari pasir. "Lo ga apa-apa kan?"
Dela, begitu nama cewek itu, mendongak juga dan hanya tersenyum tipis. "Harusnya gue yang minta maaf... Sorry ya..."
"Lex, lo kenapa?" Rian yang saat melihat tubrukan terjadi langsung mendekati roomate-nya itu dengan khawatir. Luki, Rai dan Diraz juga ikut mendatangi Alex.
“Engga... tadi gue cuma nubruk−“
“Dela?!” potong Luki yang tiba-tiba aja langsung teriak sambil menunjuk cewek yang terduduk di atas pasir itu.
“Luki?!” Dela juga langsung teriak.
“Dia ini Dela, temen SMA gue..” gumam Luki, "Lo lagi apa di sini, Del?" Luki menatap Alex dan Dela bergantian.
Dela bangkit berdiri dan nyengir, "Main doang."
Walaupun maksud pertanyaan Luki tidak sesuai dengan jawaban yang diterimanya tapi Luki hanya tersenyum saja. Alex bangkit berdiri lalu ngeloyor pergi sambil bergumam tak jelas pada Rian.
Dela menatap kepergian Alex itu, masih bingung dan agak merasa bersalah juga.
"Lo kenal Alex?" tanya Luki pada Dela yang masih memandangi Alex.
"Ha? Alex? Alex siapa?"
"Itu..." Luki menunjuk Alex yang sudah berjalan makin jauh. "Itu sepupu gue."
Dela menggeleng, "Engga, gue ga kenal kok... Tadi gue ga sengaja nubruk dia ampe jatuh."
"Kenalin, ni juga sepupu gue." Luki langsung memperkenalkan Diraz, Rai dan Rian pada Dela.
"Lo punya sepupu yang banyak juga ya, Ki," ucap Dela tersenyum ramah pada yang lainnya, "Ke sini mau main juga?"
Luki angkat bahu. "Sebenarnya kami ke sini untuk mengibur hati Alex. Dia suka banget sama pantai."
"Menghibur?" Dela mengernyit, jadi bertanya-tanya apa jangan-jangan Alex baru mengalami peristiwa duka.
Rian mengangguk. "Alex baru putus dari bad girl... Dan dia agak berubah, makin ga peduli sama sekitar."
Dela memandang Alex yang berdiri sendiri jauh dari mereka sambil memandang laut.
Baru putus dari bad girl?
"Alex dibohongin sama pacarnya yang ternyata selain matre juga udah punya pacar lain." lanjut Luki.
Diraz dan Rai saling lirik, kok masalah Alex malah dikasih tau sama orang lain ya.
"Ya seandainya ada yang bisa gue bantu." gumam Dela yang tulus prihatin. Dia memang belum pernah pacaran tapi sepertinya bisa membayangkan betapa terlukanya perasaan Alex. Tadi Dela sempat menyadari sesuatu saat melihat mata Alex, sepertinya dalam mata itu ada kekosongan dan kejenuhan.
Luki tersentak mendengar kalimat yang diucapkan Dela itu. Ia langsung mencengkram kedua lengan Dela. "Beneran? Beneran lo mau bantu Alex?"
Dela terkejut dengan sikap Luki yang tiba-tiba ini apalagi mata Luki yang melotot menatapnya seolah hendak menerkamnya. Dela hanya mengangguk ngeri.
"Bener?" tanya Luki lagi lebih menyeramkan.
Dela mengangguk-angguk lagi.
"Yesss!!" seru Luki kenceng, "Oke, mulai sekarang lo mesti jadi temen cewek buat Alex, buat dia berubah ya."
"Lo gila ya?" tukas Diraz sambil menggetok kepala Luki. "Mereka ini ga saling kenal, jangan mempermainkan hidup orang dong."
Luki tidak menghiraukan Diraz. Wajahnya masih memelas pada Dela. "Gue yakin banget, Del... Gue sebagai cowok yang berpengalaman soal cinta dan gue yang romantis ini, merasa kalo cowok baru akan keluar dari patah hatinya saat ia bertemu dengan putri yang lain."
Rai mendengus, jijik juga dengan pengakuan Luki yang berlebihan.
"Tapi gue..." gumam Dela jadi kebingungan. Kok dia mendadak harus menjadi teman cewek Alex sih??
"Ayo, Del, lo pasti bisa." ucap Luki makin memelas.
"Iya, Del..." Rian juga malah ikut-ikutan memohon, "Tolongin Alex, Del. Kasihan dia. Alex itu tipe orang pemikir. Dia akan mikirin putus cintanya terus menerus. Gue takut dia nanti autis."
Diraz geleng-geleng. Sekarang Rian yang tiba-tiba memohon juga, bergabung pada kubu Luki untuk memojokkan Dela.
"Gue ga minta lo pacaran sama Alex kok, Del..." ucap Luki, "Gue cuma minta lo jadi temen cewek yang slalu ada di samping Alex."
"Tapi gue ga kenal." sahut Dela meringis.
"Nanti kami kenalin!" seru Rian, "Nanti kami ajak lo ke Freshouse, ke rumah kami."
"Ya ya ya?" Luki makin memelas, "Apa perlu gue bersujud?"
"Eh gak usah gak usah.."
Dela akhirnya terjepit juga. "Oke deh oke... gue bersedia bantu."
Diraz dan Rai menghela nafas bersamaan. Mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan rencana mendadak kepala suku ini. Ide Luki mungkin tidak terlalu buruk juga. Ya memang bisa jadi sikap buruk Alex akan berubah dengan kehadiran Dela. Tapi kalau ternyata tidak? Kasihan juga kan Dela yang jadi korban.