
Akh... aw...
Diraz merasa semua badannya sakit.
Jam setengah enam pagi matanya mulai membuka. Diraz memang selalu bangun di jam seperti ini secara teratur. Dia adalah tipe orang yang sangat menghargai kesehatan. Setiap bangun pagi dia akan langsung berolahraga lima belas menit lalu mandi setengah jam.
Tapi entah kenapa Diraz merasa hari ini otot badannya sakit semua. Ia membuka mata dan melihat langit-langit, masih setengah tidur agaknya. Namun Diraz merasa lehernya seperti dicekik, bukan mimpi. Tenggorokannya yang tercekik begitu nyata terasa.
"Akhh..." erangnya. Ia melirik lehernya sendiri dan terkejut saat melihat ada lengan yang ternyata menimpa lehernya. Sepertinya sejak tengah malam makanya Diraz merasa tercekik pagi ini.
Ia menoleh ke samping, berpikir itu adalah tangan Rai namun ternyata...
"Luki?!!"
Diraz langsung duduk tegak sambil memegangi lehernya yang sakit. Dengan dendam ia pandangi Luki yang tertidur lelap dengan senyum damai itu.
"Pengganggu..." gerutu Diraz sebal. Dia tidak habis pikir kenapa Luki tiba-tiba sudah tidur di sini? "Bukannya Luki tidur di kamar utama?"
Diraz beranjak dari tempat tidur dan olahraga sebentar di beranda. Semua badannya pegal, dirusak oleh badan si Luki yang entah mungkin gerayangan ke mana-mana.
Sambil meregangkan otot lehernya yang kaku, Diraz berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh badan.
Sekarang Rai yang terbangun. Ia menatap langit-langit dan kemudian sadar saat mendengar dengkuran halus di sebelahnya.
Rai melirik dan terkejut juga melihat Luki mendengkur di dekat telinganya dan bahkan nyaris mencium telinganya!
"Gay!" Itu adalah kata-kata spontan yang keluar dari mulut Rai beserta dengan bantal yang sukses menimpa muka Luki yang damai itu.
Rai langsung bangkit dari tempat tidur, menjauh dari Luki. Beberapa detik kemudian Rai benar-benar sadar kalau dia hanya syok sesaat saja.
Luki terbangun karna rasa sakit wajahnya yang ditimpa bantal. "Hah, udah pagi ya...?"
Rai tersenyum hambar lalu pergi ke kamar mandi dan gosok gigi karna shower dipakai Diraz yang sedang mandi sambil bersenandung ria.
Kira-kira jam setengah tujuh, Diraz turun ke bawah sendirian karna Rai dan Luki sedang berebutan mandi. Di ruang keluarga yang berhadapan dengan taman belakang yang asri, Diraz heran melihat seseorang dengan selimut sampai kepala. Diraz tidak tau siapa karna ia berjalan dari belakang orang yang berselimut itu.
"Siapa?" tanya Diraz sambil menepuk bahu orang berselimut.
Orang tersebut menoleh dan ternyata Rian. Terlihat sekali kalau anak itu belum mandi dan bahkan juga belum menggosok gigi. Saat ini Rian seperti anak kecil di mata Diraz.
"Belum mandi?" tanya Diraz dan duduk di sebelah Rian.
"Kalo udah mandi ga akan dingin kok. Lagian kan ada water heater. Alex mana?"
Rian angkat bahu. "Tadi sih masih tidur."
Diraz geleng-geleng kepala. Tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Fresh House ini, tanpa pembantu, tanpa orangtua, hanya tinggal bersama dengan 4 sepupu yang diketuai oleh kepala suku yang garing dan kadang juga lemot.
"Gimana kampus baru?" tanya Rian tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan itu Diraz menghela nafas. Dia dan Rai memang dipindahkuliahkan ke kampus dan fakultas yang sama dengan Luki, Rian dan Alex sejak seminggu yang lalu. Dan kalau Rai terlihat biasa saja dengan adaptasi baru itu, Diraz berbeda. Dia agak tidak terima. Dia memang senang akan terus bersama-sama dengan 4 sepupunya, tapi kalau di kampus baru sih.... Diraz emmang tipe orang yang tidak suka suasana baru. Dia sudah merasa nyaman mengikuti hari-hari di kampusnya yang lama.
Rian nyengir melihat Diraz yang mukanya berubah warna itu. "Tapi yang gue liat lo bukan tipe orang yang susah bersosialisasi. Lo udah banyak temen kan..."
"Memang!" tukas Diraz membuat Rian tertawa. "Tapi karna kalian juga gue banyak temen."
"Belum ngerasain betah ya di kampus baru?" tanya Rian lagi.
Diraz mengangguk pasrah. "Yeah..."
"Ah lagi pada ngumpul di sini ya..." ucap Luki yang muncul tiba-tiba membuat Diraz dan Rian kompak menoleh ke belakang. "Sarapan apa ya enaknya? Bubur ayam atau roti?"
"Nasiii... gue mau nasii..." sahut Rian sambil menarik-narik celana Luki seperti anak kecil yang minta permen pada ibunya.
"Jam segini di sekitar sini mana ada yang jual nasi, Rian..." gumam Diraz.
"Gimana kalo makan mie instan?" celetuk Luki semangat dengan idenya, "Gue lagi ngidam makan mie nih... udah lama ga makan mie.."
"Kayak ibu hamil lo pake ngidam segala..." tukas Rian.
"Pokoknya gue ga setuju kalau makan mie! Mending ga usah makan deh daripada makan mie," tukas Diraz.
"Tapi mie kan ga racun juga buat perut..." sahut Luki masih ngidam mie instan.
"Ga tau deh apa isi otak lo, yang jelas mie itu merusak kesehatan. Udah mending cari makanan laen yang lebih bergizi dikit. Pagi-pagi masa makan mie..." celoteh Diraz panjang lebar.
"Trus kita makan apa?" tanya Rian menggigit selimut sambil memandangi baginda Diraz.
"Ya kita masak aja..." ucap Rai yang nongol dari tangga.
Semua mata memandangnya.
Masak? Ga salah?