
Diraz duduk-duduk di bangku taman dekat gedung fakultas. Ia menunggu dengan sabar, sesekali tersenyum. Siang ini dia janjian untuk bertemu dengan Sandra.
Diraz senang sekali, baginya bertemu dengan Sandra di kampus baru ini adalah anugrah. Setelah sekian lama tidak bertemu atau berhubungan sekarang mereka tiba-tiba saja dipertemukan begitu.
'Ahh... Sandra... Enaknya gue ajak ke mana ya? Pengen banget ngajak dia jalan.'
Diraz tersenyum malu-malu.
'Kapan ya gue nyatain cinta?? Hehehe.'
Tiba-tiba dari belakang kepala Diraz ada sepasang tangan yang menutup mata Diraz.
Diraz yang kaget langsung memegang sepasang tangan yang lembut itu.
"Sandra!"
Diraz langsung berbalik badan dan melihat sosok yang memang Sandra yang nyengir childish.
"Sorry ya lo lama nunggu."
Diraz tersenyum lebar, "Ga apa-apa kok."
Sandra duduk di sebelah Diraz, "Ahh liat lo gue jadi kangen masa-masa SMP..."
"Kemana aja lo? Langsung lose contact gitu aja... ganti nomor juga ga bilang-bilang."
Sandra tetap nyengir. Pertanyaan itu slalu saja terlontar dari mulut Diraz padahal perasaan Sandra sudah sering jawab, walau memang jawabannya tidak memuaskan.
"Ya maaf... Maklum aja orang sibuk. Dan waktu itu juga ada masalah keluarga. Ya lo tau kan? Gue kan udah cerita ke lo."
Diraz hanya mengangguk, "Yeah... Nyokap lo nikah lagi waktu lo kelas 1 SMA."
Sandra tersenyum gugup, dia paling malas kalau harus membahas masalah keluarganya lagi. Dia tidak ingin membiarkan Diraz tau lebih banyak. Sandra hanya ingin menikmati waktu-waktunya bersama dengan cowok itu.
"Raz, slama ini lo slalu nyariin gue?" tanya Sandra begitu saja. Ia menatap Diraz sungguh-sungguh.
Saat ini Sandra ingin Diraz mengatakan yang ingin didengar hatinya. Sekalipun dadanya berdebar-debar, Sandra sudah tak peduli lagi.
Diraz mengerjap sekali dan ia berpandangan lama dengan Sandra. Ia bisa melihat bulu mata Sandra yang lentik, membuatnya gemetaran.
Diraz mengaku dia tidak siap kalau saat ini juga mengungkapkan perasaan! Dan rasanya Diraz hanya ingin seperti ini terus berpandangan dengan mata itu.
Tapi tidak seperti itu juga. Diraz tipe pria yang sangat pemalu namun slalu sukses menyembunyikannya.
"Iyaaa, Peseeekk!!!" Diraz langsung menarik hidung Sandra dengan kedua jarinya sampai hidung Sandra memerah.
"Aaawww!!" Sandra memberengut dan memegangi hidungnya yang merah. Dia cemberut memandangi Diraz. Hidungnya sudah tidak sepesek saat SMP. Sekarang hidungnya sudah bagus kok... tapi Diraz tetap saja memanggilnya pesek, panggilan saat SMP memang.
"Gue kan udah ga pesek lagi.. Liat nih hidung gue!"
Diraz hanya tertawa. Dia lebih suka seperti ini, banyak tertawa dan menyembunyikan perasaannya baik-baik hingga waktunya tiba nanti.
"Ayo, Sek, kita makan..." Diraz mengambil tas Sandra dan dengan gentle Diraz membawanya dan berjalan duluan.
Melihat itu Sandra tersenyum diam-diam juga. Ia langsung bangkit berdiri dan mengikuti Diraz.
"Daripada lo, Model Adidas!"
Dua orang itu malah terkekeh-kekeh sambil saling melempar julukan saat SMP.
"Gila mesra banget," bisik Rian yang dari tadi memang standby di belakang pohon dekat taman sambil memandangi Sandra dan Diraz yang berjalan di depan. Si Pesek dan Model Adidas. Hehe.
"Oh itu yang namanya Sandra, yang suka ditelpon si Diraz itu kan?" tanya Luki sambil angguk-angguk.
Luki yang senang mengetahui urusan sepupunya dan Rian yang tidak ada kerjaan bergabung dalam pasukan Bigos alias Biang Gosip. Dua cowok ini memang tak ada dewasanya sedikit pun, ingin sekali mengetahui urusan pribadi orang.
"Akan gue catet baik-baik," ucap Luki dengan cengiran yang khas, "Lo liat ga senyumnya si Diraz? Beda banget dengan senyumnya yang biasa. Sok ganteng juga dia ya di depan cewek itu."
Rian terkekeh. "Namanya juga orang yang jatuh cinta..."
"Dan lo? Lo bad boy kan?"
Rian menggeleng tegas, "Gue ga mau lagi disebut bad boy, gue ini gentle boy!"
Luki tergelak tawa apalagi saat ingat insiden Rian yang digampar cewek saat mengaku bad boy.
"Si Alex gimana? Sudah makin membaik kan?" tanya Luki tiba-tiba saat ingat dengan sepupunya yang lain yang juga mengalami dilema cinta.
Wajah Rian langsung berubah. "Nah itu dia... Entah kenapa sejak putus cinta, sikapnya makin acuh ga acuh. Dari dulu dia emang cuek tapi ga separah akhir-akhir ini.”
"Emang dia kenapa?" tanya Luki yang menyadari betul bahwa hanya Rianlah yang tau perubahan Alex karna sekamar.
"Dingiiiin banget kayak es, Ki! Ah parahlah... Masa gue yang lagi asik-asik cerita tiba-tiba aja dia langsung pergi tanpa bilang sepatah katapun!"
"Korslet kali ya otak tuh anak..." Luki sangat prihatin membayangkan betapa gondoknya Rian.
"Gue juga bingung... Kadang Alex tuh autis sendiri, main PS di kamar sendiri... Mukanya itu lho... datar banget, kayak ga mikir. Kasihan gue ngeliatnya."
"Ya terus kita mesti gimana? Masa kita nyuruh Karin balik lagi? Gue sih ga setuju banget!"
"Ya sama, gue juga..." gumam Rian, "Mungkin sekali-kali kita mesti ngerefresh pikirannya. Kepala suku, pikirin ya cara ngerefresh pikiran... entah main atau apa deh..."
Luki nyengir, merasa sangat dipercaya dan bertanggung jawab.
"Oke. Gue pasti akan berpikir keras untuk ini. By the way si Rai mana? Dari tadi kok ga keliatan batang hidungnya."
"Ga tau tuh... Abis selesai kuliah dia langsung cabut. Gue juga kaget pas ngeliat ke sebelah dia udah ga ada lagi."
Seusai kuliah Rai memang langsung angkat kaki. Cowok penasaran ini berjalan cepat menuju studio dance. Dia penasaran banget sekarang. Cewek kemarin yang ia lihat tidak bisa ia lupakan begitu saja. Rai benar-benar ingin melihatnya lagi. Begitulah Rai... cowok penasaran dan yang tak bisa dihentikan kalau sudah ingin tahu.
Rai mengintip sedikit ke dalam ruangan, berharap supaya laki-laki alay yang kemarin tidak ada di dalam. Dan untungnya memang tidak ada, bahkan memang ruangan itu kosong.
Kedua alis Rai mengernyit. 'Ah ga ada ya... Kemana ya...'
Rai mondar mandir di depan pintu. Rasa ingin taunya malah semakin besar. Dia ingin bertemu. Ingin sekali bertemu.
"Rahel! Nanti jam satu jangan lupa latihan ya!!"
Spontan saja kepala Rai mendongak ke sumber suara yang berada di ujung kelas beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Oke!!" seru seseorang dari belakang Rai.
Rai berbalik badan hendak melihat suara renyah yang menjawab seruan itu.
Mata Rai membesar saat melihat cewek yang kemarin ia lihat dan yang sekarang memenuhi benaknya dengan rasa penasaran. Cewek yang sudah ia anggap pengalih perhatiannya beberapa jam ini. Cewek yang membuat Rai sangat penasaran. Dan ternyata cewek itu bernama Rahel. Kali ini pun Rahel memakai baju hijau dengan tas hijau juga. Rai menduga Rahel pasti penggemar warna hijau. Dan memang bagi Rai cewek itu sangat hidup dengan warna hijau.
Rahel berada beberapa meter dari tempat Rai berdiri. Cewek itu sedang bersama dengan teman-teman satu klubnya. Setelah menjawab oke, Rahel berbalik lagi dan berjalan berlawanan arah dari tempat Rai.
Sesekali terdengar tawa renyah lalu Rahel terlihat menari atau melompat-lompat kecil.
Melihat senyum itu Rai puas.
Skarang hatinya sudah semakin mantap.