Fresh House

Fresh House
29.



"Ah ada panggilan nih." celetuk Luki tiba-tiba saat melihat handphonenya yang berkedip menandakan ada pesan masuk. Luki membaca pesan itu sekilas, nyengir lalu pergi begitu saja meninggalkan yang lain.


"Eh mau ke mana lu, Preman Songong!" seru Rai sambil terbahak namun tidak dihiraukan oleh Luki karna cowok itu langsung berlari menuju parkiran.


"Dasar, sok sibuk banget tuh orang." ucap Alex juga terkekeh.


Tidak sampai lima menit, Luki kembali lagi. Dan kagetlah mereka saat melihat ada orang lain yang ikut datang bersama dengan Luki.


Mata Alex spontan membesar. 'Dela?'


Dela tersenyum agak gugup, kurang sreg karna bukan di kampus sendiri. "Hai... Apa kabar kalian semua?"


Diraz melempar pandangannya pada Luki yang sudah nyengir panjang. Diraz menyipit. 'Jadi dia udah ngerencanain semua ini? Dia pasti sengaja ngajak Dela ke sini.'


"Kami baik kok, sehat bugar," sahut Rian, "Ayo duduk, Del."


Cewek yang memakai kupluk biru tua itu sudah akan duduk di sebelah Rian namun tiba-tiba saja Luki seperti mendorongnya untuk duduk di bangku sebelah Alex yang juga kosong itu. Agak kaku, Dela menurut juga, tersenyum pada Alex lalu duduk di sana.


"Lo ke sini diajak Luki, Del?" tanya Rai menahan senyum.


Dela mengangguk. "Iya, kebetulan juga gue udah selesai kuliah dan Luki ngajak gue main ke sini."


Diraz tertawa. 'Main? Maksudnya memainkan peran menjadi pelaku makcomblang Luki?'


"Kok lo mau sih diajak ke sini?" tanya Rai penuh selidik pada Dela.


Dela tersenyum tipis dan mengerling sebentar pada Alex. "Gue juga sebenernya malu, tapi Luki bilang skali-skali mengunjungi kampus temen."


"Ah emang si Luki ini kadang suka seenaknya," tukas Rian, "Masa di rumah dia enak-enakan nyuruh kami yang ngerjain tugas rumah, sedangkan dia cuma nyapu."


Luki terkekeh sambil duduk kembali di bangkunya. "Oh iya dong... Gue kan kepala suku kalian jadi kalian harus nurutin dong semua apa kata gue."


Diraz geleng-geleng, sudah tak kuat untuk meladeni Luki yang banyak cingcong ini.


"Ya udahlah ayo kita pesen makanan.. Perasaan dari tadi ngobrol terus sampai lupa mesen makanan.”


Akhirnya mereka sibuk membicarakan enaknya memesan makanan apa. Dan Luki juga nyeletuk kalau nanti Dela harus pulang dengan Alex. 'What? Crazy...!'


.


.


Dela berdehem. Kali ini dia sudah berada di mobil Alex bersama sang pemilik mobil. Betapa konyolnya hari ini. Dia dengan bodohnya menerima ajakan Luki untuk datang ke kampus ini dan dengan lugunya juga mau menunggu mereka selesai kuliah selama dua jam, lalu sekarang disuruh pulang bareng Alex.


Dela tertawa hambar dalam hati. 'Duh jadi canggung gini...'


Dela melirik cowok di sebelahnya yang sedang siap-siap menyetir mobil. Sebenarnya sejak pertama kali bertemu di pantai, Dela sudah merasakan simpati tersendiri, chemistry tersendiri saat ia melihat mata Alex. 'Ah entahlah... mungkin karna dia cakep makanya aku terpesona.'


"Hari ini mau langsung ke mana?" tanya Alex datar sambil memutar mobilnya meninggalkan parkiran. Luki dan yang lainnya memilih untuk bersedek-sedek ria di mobil Rian demi supaya tidak mengganggu Alex dan Dela.


"Langsung pulang sih... Eh tapi, lo mau ga nganterin gue ketemu temen gue dulu? Gue mau ngembaliin jaket temen gue."


Alex melirik Dela dan sebuah jaket hitam agak besar yang dipegang Dela, sepertinya jaket cowok. "Oke, no problem, tunjukkin aja tempatnya."


Selama di perjalanan dan hening, Dela terkadang mencuri-curi pandang melihat Alex yang begitu tenang seperti air tak beriak.


Dela tak mengerti mengapa cowok itu sebegitu tidak pedulinya, tidak mengajak ngobrol. Ya mau tak mau Dela yang tidak betah dengan keheninganlah yang mengajak ngobrol duluan.


"Alex... Ng gue boleh nanya sesuatu ga?"


"Apa?"


"Lo...ng...baru putus dari pacar ya?"


Mendengar itu Alex langsung menoleh walau hanya sebentar. Dia tak menyangka kalau pertanyaan itu akan terlontar dari Dela, seorang cewek teman SMA Luki yang baru ia kenal.


"Ya, memang kenapa?"


"Ng... Luki pernah sih cerita sekilas gitu."


Alex tersenyum tipis. "Ya itu pacar pertama gue... Terkadang gue jadi ga ngerti wanita maunya apa. Gue udah ngasih semuanya. Dia minta dibeliin ini itu, gue kasih, dia minta ditemenin, gue nurut. Tapi untuk ngasih kesetiaan aja dia ga bisa."


"Dia ngeduain lo ya?" Bibir Dela bergetar saat mengucapkannya.


Dela tersentak mendengarnya. Sejujurnya mungkin saat inilah Alex terlihat sedikit cerewet dan juga galak.


"Ga semua cewek gitu sih, Lex... gimana orangnya. Tapi gue memang setuju dengan pendapat kalo perasaan ga bisa dipaksa dengan apapun sekalipun dengan harta dunia."


Sekarang Alex yang tersentak mendengarnya. Ya mungkin maksud Dela adalah kalau perasaan Karin yang memang tidak pernah tulus mencintainya tidak bisa dibeli dengan semua kebaikan yang slama ini ia berikan.


"Ya tapi gue tetep ga terima aja... Kalaupun memang perasaan dia ga bisa dipaksa, ya ga usah sampai ngeduain orang juga."


Dela tersenyum tipis, "Ya kan sesuai yang gue bilang, cewek itu beda-beda, Lex..."


Alex menoleh. Sekarang lampu lalu lintas sedang merah dan Alex memandangi Dela lama sampai Dela beku, tak bisa berpaling.


"Oh ya? Trus kalo boleh tau lo tipe cewek seperti apa?"


Dela tertegun, seperti ada batu yang mengganjal di tenggorokannya. "Gue? Ya gue tipe cewek normal."


Alex tertawa hambar. "Normal? Memangnya ada kriteria cewek ga normal?"


"Ya engga gitu juga... Gue sih bukan tipe cewek yang bakal ngeduain pacar sendiri karna gue juga ga mau diduain."


Alex hanya terdiam, sampai klakson mobil di belakangnya berbunyi karna lampu sudah hijau, Alex kembali menyetir.


"Tapi yang gue liat, kayaknya lo belum bisa terima ya putus dari cewek itu?" tanya Dela hati-hati.


Alex masih terdiam, enggan menjawab. Dia tidak bisa bilang tidak karna memang dia masih ingin Karin kembali (Yah Alex memang sangat perfectionis, tidak mau apa yang sudah menjadi miliknya pergi). Dia juga tidak bisa bilang iya karna sebetulnya dia benci dengan sifat Karin yang begitu. Alex tidak mau dilukai lagi.


Dela garuk-garuk kepala sendiri, jadi bingung dan merasa bersalah. "Kayaknya gue udah terlalu banyak bicara deh."


Saat melihat jalan di tengah kota, Dela langsung berkata, "Nah stop di sini dulu."


Dela menunjuk beberapa orang cowok dan cewek di trotoar dimana orang-orang itu sedang bermain skateboard. Trotoar depan sebuah bangunan Belanda itu memang sering dipakai tempat bermain skateboard kalau sore-sore begini.


"Nah itu temen-temen gue."


Saat mobil sudah menepi, Dela segera keluar. Alex yang agak ragu akhirnya ikut-ikutan keluar saja.


"Bima!" panggil Dela sambil berlari kecil mendekati orang-orang itu.


Cowok yang bernama Bima yang memakai tudung jaket abu menoleh. Ia mengangkat tangannya menyapa Dela. "Ah, lo kemana aja?"


Dela hanya nyengir lalu menyerahkan jaket yang ia pegang pada Bima. Sementara Alex berdiri agak jauh, tidak biasa juga dengan pergaulan anak skateboard.


"Siapa tuh?" tanya Bima pelan sambil memperhatikan Alex.


"Alex, temennya temen gue."


Bima mengernyit, "Napa lo? PDKT ma cowok itu?"


"Engga ah." Dela hanya tertawa kecil.


"Ya udah lo main dulu dong sama kami di sini. Lo udah jarang banget sih kumpul."


"Ya ngapain juga gue kumpul, gue mana bisa main skateboard."


Bima terkekeh kembali teringat kalau Dela dulu ikut kumpul hanya karna abangnya juga pemain skateboard di perkumpulan itu.


"Ayo dong... kapan lagi kita kumpul bersama."


Dela terlihat masih ragu, akhirnya ia memanggil Alex. "Lex, di sini dulu yuk bentar?"


Alis mata Alex terangkat. "Oh lo masih mau di sini? Ya udah lo di sini aja, tapi gue pulang duluan ya..." Alex dengan datarnya langsung berbalik badan pergi kembali ke mobilnya sedangkan Dela di sana tercengang.


"Tuh cowok ga punya adat ya?" tukas Bima jadi naik darah, "Dia ga mau nungguin lo bentar aja apa. Kenal dari mana sih lo?"


Dela tersenyum tipis masih memandang mobil Alex yang mulai bergerak jauh. "Gue baru aja ingin berusaha mengenal cowok yang ga pedulinya minta ampun itu."


'Someday... aku pasti bisa ngubah sifat buruknya itu... menghapus luka lamanya.'


Dela tertawa dalam hati. 'Kenapa aku mendadak perhatian banget sama tuh cowok?'