Fresh House

Fresh House
Part 1. Serumah??!!



"Hmm... keputusan para orangtua kita gaul juga..." gumam Rai duduk di sofa ruang keluarga.


Rian memberi cengiran halus, setuju sekali dengan pendapat Rai. Diraz hanya terbengong, sejak tadi begitu terus (mungkin masih syok dengan situasi ini). Sedangkan Luki sedang bermain game di handphone dan Alex memejamkan mata di sebelahnya.


Sejam yang lalu mereka dan para orangtua mereka yang workaholic itu berkumpul di rumah asing ini, rumah baru yang cukup besar, yang terdiri dari dua tingkat. Hari ini memang sudah diresmikan kalau kelima cowok sepupuan ini tinggal bersama satu atap dalam rumah. Sudah sejak seminggu yang lalu sebenarnya direncanakan dan dibicarakan. Para orangtua mereka memang sudah sepakat sejak lama untuk menyatukan anak-anak mereka yang seumuran dalam satu atap ini. Beliau-beliau itu berharap anak mereka akan semakin kompak, bersahabat dan mendukung satu sama lain (baik dari segi sosial maupun pendidikan kuliah mereka). Namun inti dari tujuan itu ialah bahwa suatu hari kelak di tangan kelima orang inilah nasib perusahaan merk kendaraan ternama dan perusahaan batu bara di Jakarta. Para orangtua ingin anak-anak mereka bisa bekerja sama dengan baik tanpa ada saling sikut menyikut satu dengan yang lainnya.


Luki yang payah dalam bersosialisasi namun cerdas itu akan mengalami kemajuan jikalau satu atap dengan Diraz.


Rian yang masih kekanak-kanakan padahal sudah kuliah tingkat dua mungkin akan mengalami kedewasaan yang sebenarnya karna satu atap dengan Alex.


Rai yang lebih mengutamakan penampilan dibandingkan isi otaknya akan tertular kecerdasan dari isi otak Luki.


Alex yang terlalu tenang akan tertular sedikit kejenakaan Rian. Dan Diraz yang keras kepala akan meneladani sikap Rai yang berkepala dingin.


Semuanya itu adalah harapan orangtua mereka masing-masing yang tergabung dalam keluarga besar.


Tidak tanggung-tanggung untuk semakin mendekatkan lima sepupu itu (yang sebenarnya sudah dekat sejak kecil), Rai dan Diraz dipindahkan ke kampus yang sama dengan Luki, Alex dan Rian. Mereka berlima berada di satu fakultas yang sama yaitu fakultas Teknik Industri.


Semua kegilaan ini belum cukup, karna Luki yang tiba-tiba ditunjuk sebagai kepala suku rumah, artinya Luki yang akan mengatur uang saku, siapa yang harus beres-beres rumah dan lain sebagainya, layaknya kepala keluarga. Mungkin karena Luki yang paling tua di antara mereka (hanya karna ia lahir di bulan Januari).


Diraz masih terbengong kaku. Walau dia sudah akrab dengan empat sepupunya itu, tapi tetap saja masih ada rasa syok kalau tiba-tiba mereka diasingkan begini, seperti diusir.


Diraz adalah anak tunggal yang sifatnya penyayang dan ramah pada siapa saja. Di antara yang lain badannyalah yang paling berotot karena Diraz paling senang berolahraga dan menjaga kesehatan. Saat SMA saja dia pernah dijuluki Model Adidas.


Rian melirik Diraz, terkekeh pelan melihat wajah sepupunya yang tak karuan itu. Rian mengibaskan tangannya di depan mata Diraz dan Diraz sama sekali tidak berkedip. Rian tertawa semakin keras. Cowok ini adalah anak pertama dari tiga bersaudara, memiliki 2 adik perempuan. Walau Rian anak pertama tapi entah kenapa sikapnya masih kekanak-kanakan. Kadang tingkahnya memalukan dan di luar dugaan. Rian memiliki wajah yang selalu cerah karna sering tersenyum dan rambutnya berwarna coklat alami, entah turunan dari siapa. Dia pernah dapat award di SMA sebagai Rainbow Prince.


Luki masih saja enak-enakan main game di ipad-nya, seolah semua yang terjadi sama sekali tidak menjadi beban pikirannya. Luki juga anak pertama dan hanya memiliki satu orang adik laki-laki. Wajahnya sangat Asia dan kalau ia tersenyum akan tampak lesung pipi kecil. Luki memang cukup payah dalam bersosialisasi, itu dikarenakan dia tidak tahu bagaimana cara membuat orang lain tertawa, sehingga temannya tidak sebanyak milik Diraz ataupun Rai.


Rai menghela nafas dan langsung bersandar di sofa. Rai adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Dua kakaknya yang lain sudah bekerja bergabung di perusahaan keluarga besar. Rai sangat memperhatikan penampilan sehingga ia dijuluki Master Fashion. Tiap bulan pasti ada yang berubah dari dirinya, entah gaya rambut, atau gaya berbusana.


Sedangkan yang terlihat tidur namun sebenarnya sedang berpikir itu adalah Alex, merupakan anak tunggal di keluarganya. Cowok ini tidak banyak bicara karna pikirnya lebih baik bicara seperlunya saja. Dari SD sampai SMA Alex selalu mendapat vote cowok terganteng atau cowok terkeren. Saat SMA ia mendapat poling cowok populer berkharisma.


"Jadi gimana nih sekarang?" tanya Rian celingak celinguk pada para sepupunya.


Hening. Tidak ada yang menjawab.


Namun beberapa saat kemudian Luki yang dari tadi main game langsung mengangkat kepala.


"Gimana apanya? Ya kita jalanin aja..." Luki kemudian berdehem, "Gue sudah ditunjuk secara resmi oleh para orangtua kita sebagai kepala keluarga rumah ini, jadi, emm, mulai sekarang gue yang akan ngatur segalanya... Haha."


"Lo tuh yang dituakan sebenernya..." gumam Diraz akhirnya bercuap juga.


Rian mengekeh dan Alex langsung membuka mata.


Luki menyipit dendam pada Diraz. Mungkin memang benar Luki dipilih karena dialah yang paling tua dan ayahnya merupakan anak pertama dalam silsilah keluarga, jadi mungkin ini alasan kuatnya.


“Yeah apapun sebutannya...” lanjut Luki setengah BT, “Gue tetep−“


“Kepala suku!!” potong Rian membuat yang lain langsung tertawa lebar.


Rai berlagak memberi hormat pada Luki. “Hormat Kepala Suku grak!”


Dan dengan kompaknya yang lain langsung memberi hormat pada Luki seolah bawahan pada jendralnya.


Luki merasa sudah di atas awan sekarang, merasa benar-benar orang penting di rumah ini.


"Oke... sebagai kepala suku kalian, gue mensahkan rumah ini menjadi rumah kita semua..."


"Yeee!!!" tempik Rian bertepuk tangan norak agak dipaksakan. Sekarang sudah jam 10 malam dan sebenarnya ia sudah mengantuk, berharap Luki tidak akan ada acara sambutan kepala suku.


Luki menyunggingkan senyum. "Rumah ini adalah rumah kita, harus kita pertahankan seumur hidup kita! Ini adalah warisan yang tak ternilai yang tidak boleh kita biarkan dirampas oleh orang lain. Setuju semuanya?"


Tidak ada yang menyahut. Diraz menganga dan Alex geleng-geleng kepala.


"Lo ngomong apa sih, gue ga ngerti..." tukas Rai sambil garuk-garuk kepala.


Luki memberi cengiran hambar, sebenarnya dia berusaha melucu tadi tapi sepertinya tidak ada yang ingin tertawa karna suasana tiba-tiba berubah sangat garing.


to be continued...


**BONUS gambar


Cuitan Rian di twitter**...