Fresh House

Fresh House
Part 6. Cowok Harus Memperhatikan Penampilan




“Woi cepetan woi! Nanti kita telat kalo ga cepet-cepet!” seru Diraz keras-keras pagi itu dari ruang makan. Diraz sudah tengah menyantap sarapan yang dibuat oleh Rai pagi ini : nasi goreng keju.


Terdengar gedebak gedebuk dari lantai dua. Luki tiba-tiba muncul dari kamar.


"Kok kalian berdua ga ngebangunin gue sih!" tukasnya sambil menatap Diraz dan Rai yang sarapan di bawah.


Diraz dan Rai saling lirik lalu nyengir halus. Sebenarnya mereka malas membangunkan teman sekamar mereka yang satu itu, semalam saja tidurnya sangat menganggu. Kaki Luki menindih kaki Diraz, sedangkan Rai mendapat jackpot. Dia dijadikan bantal guling oleh Luki. Jadi anggap saja pagi ini sebagai pembalasan ringan untuk Luki.


"Udah cepetan mandi sana..." gumam Rai tenang. Luki hanya mendengus lalu langsung masuk kembali ke kamar untuk mandi.


Beberapa menit kemudian Rian turun dan bergabung di ruang makan. Anak itu sudah mandi namun rambut coklatnya masih saja acak-acakkan.


"Alex udah bangun kan?" tanya Diraz pada Rian karna Alex itu susah sekali bangun pagi.


"Baru bangun..." gumam Rian lesu, "Dengan susah payah gue bangunin dia. Hhh akhirnya dia bangun juga... capek gue."


Rai mengikik, "Slamat deh... karna tiap pagi lo akan terus ngebangunin dia."


Rian menoleh pada Rai dengan tampang sedih seperti anak kecil.


"Lo belum nyisiran ya?" tanya Diraz tiba-tiba memandangi rambut Rian yang berantakan.


"Hah?" Rian memegangi rambutnya sendiri, "Udah kok tadi..."


"Kok masih berantakan? Nyisir pake apa lo? Pake pensil?"


Rian nyengir polos. "Nyisir pake tangan. Hehehe."


Rai menganga dan Diraz langsung melotot.


"Lo pikir rambut lo pemenang iklan shampo apa!" tukas Diraz.


Rai malah tertawa. Dia tak menyangka kalau teman satu rumahnya ada yang begini, bahkan untuk menyisir saja malas. Rai yang slalu menjadi teladan fashion dan berpenampilan menarik, merasa harus melakukan sesuatu pada bocah seperti Rian ini.


Rai bangkit berdiri dan mengeluarkan sisir dari saku celananya. Ia pun langsung menyisirkan rambut Rian tanpa banyak bicara. Rian berusaha mengambil sisir itu karna tidak enak kalau rambutnya disisir begitu tapi Rai tidak mau. Dia tetap ingin menyisir rambut Rian.


Diraz hanya geleng-geleng. Saat ini dia sudah membayangkan Rai adalah Mamanya Rian.


"Walau cowok rambutnya lebih sedikit atau lebih pendek dari cewek..." ucap Rai sambil menyisir (nah mulai lagi cerewetnya, pikir Diraz), "... tapi rambut cowok itu harus dirawat. Justru karna sedikit maka harus diberikan perhatian besar. Lo mau rambut lo rontok di umur segini sampai kepala lo botak setengah?"


Rian menggeleng ogah.


"Ga mau kan? Makanya lo mesti rawat rambut lo..." Rai sudah selesai menyisir rambut Rian lalu kembali duduk untuk makan.


"Rai ini sangat memperhatikan penampilan, Yan," puji Diraz membuat Rai tersenyum senang.


"Saking pedulinya sama penampilan..." lanjut Diraz nyengir, "Dia ga merhatiin studi. Rai itu juga paling malas belajar."


Senyum Rai langsung memudar. Dia cemberut menatap Diraz di hadapannya. Rai sadar kalau pernyataan Diraz itu memang benar, tidak direka-reka.


"Kalau aja lo menyisihkan setengah waktu lo dari baca majalah atau nonton film untuk belajar, nilai lo ga bakalan banyak C-nya." tutur Diraz.


Luki tiba-tiba muncul dengan rambut yang setengah basah.


"Aduh aduh... gue telat... Aduh... belum sarapan lagi gue..."


"Ya udah sarapan aja dulu, Kepala suku..." gumam Rian.


Diraz baru saja selesai makan saat Luki datang. Dengan tenang ia meletakkan sendok garpunya dan berkata, "Gue, Rai dan Rian berangkat duluan dengan mobil gue. Lo ma Alex nyusul aja ya..."


Luki menoleh terkejut. Ia langsung memasang tampang memelas pada Diraz. "Bareng dong... Tungguin ya.. Ya?"


"Yeee... lo sendiri kan yang bilang kalo kita hanya boleh pake dua mobil aja..." tukas Rai, "Diraz bener, lo berangkat sama Alex."


"Tapi gue takut telat kalo sama Alex..." ucap Luki karna tau Alex bahkan masih mandi.


"Baik-baik ya, bro..." Diraz malah bangkit berdiri dan menepuk bahu Luki lalu pergi keluar, "Gue mau manasin mobil dulu... Rian, makannya cepetan."


Rian langsung mempercepat makannya takut ditinggal oleh Diraz.


"Tenang aja, Ki... tar gue sediain dua bangku buat lo dan Alex," gumam Rai nyengir halus melihat Luki yang tidak bersemangat.


Diraz, Rai dan Rian pun berjalan bersama-sama masuk ke dalam mobil. Hari ini mereka memakai mobil Honda Jazz Diraz namun Rianlah yang menyetir. Agak aneh juga memang kalau pergi ke kampus tanpa mobil sendiri. Yah tapi mau bagaimana lagi, Luki sudah membuat peraturan baru.


"Duh.. gue pengen naik angkot..." gumam Rai yang bersandar duduk di belakang.


"Naik angkot?" tanya Rian sambil melirik Rai dari spion.


Rai mengangguk, "Gue pengen nyoba rasanya naik angkot kayak apa. Seumur hidup gue belum pernah naik angkot..."


Diraz mengekeh, "Gue sih pernah waktu SD, waktu kabur dari jemputan supir."


"Gue juga udah..." celetuk Rian sambil memundurkan mobilnya dari *car*port. "Masa lo belum pernah naik angkot??? Ckckck... Naik ojek pernah?"


"Belum..." sahut Rai makin merana, "Naik bemo juga belum pernah..."


"Astaga parah lu. Orang Jakarta bukan sih?" hina Diraz.


Rai tersenyum tipis. Ya itulah sebabnya dia ingin sekali mencoba naik angkot atau bemo. Hanya ingin mencoba.