
"Bangun... Woi bangun...!" ucap Diraz sambil menampar-nampar pipi Luki selasa pagi ini. "Mau kuliah ga lo? Bangun cepetan..."
Luki yang masih ingin tidur langsung berbalik badan.
"Bangun, Ki. Sadar dunia nyata. Jangan mimpiin si Rosa mulu." tukas Rai membuat Diraz mengikik geli.
Luki langsung bangun dan memandang 2 teman sekamarnya itu dengan sebal.
"Siapa juga yang mimpiin dia? Ikh... cewek penampilan kantoran kayak gitu."
"Jangan ngomong kayak gitu dong, Ki," ucap Diraz, "Don’t judge book by its cover, oke? Remember Karin?”
Luki hanya mendengus dan menggaruk-garuk kepala, masih mengantuk. 'Kalo Karin sih emang udah lain cerita.'
"Ayo cepet mandi, kita kan kuliah pagi." sahut Rai pada Luki yang masih duduk di atas kasur.
"Iya ya kuliah ampe sore. Lo gimana? Lo kan cuma ampe jam setengah dua." tanya Diraz pada Rai.
Rai nyengir, "Ya seperti biasa dong gue setia kawan. Gue akan nungguin kalian kuliah sampe beres."
"Pasti membosankan banget." tukas Luki membayangkan Rai tidak ada kerjaan di kampus sementara yang lainnya kuliah di kelas.
"Ga juga kok..." Rai cengengesan sendiri, hari ini kan dia akan menonton Rahel yang latihan dance. "Ayo cepet mandi, Ki... gue mau bikin sarapan dulu." Rai langsung bergegas keluar dari kamar.
"Rajin banget ya tu anak, tiap pagi masak...
Emang O Mama sejati dia itu." tambah Diraz.
Setelah selesai sarapan, lima sepupu ini langsung berangkat ke kampus. Seperti biasa hanya boleh dua mobil yang dipakai dalam satu hari (seperti apa yang slalu dinasihatkan Luki mengenai global warming dan blablabla). Kali ini mobil yang dipakai adalah mobilnya Rai dan Rian. Diraz dan Luki berada di mobil Rai sedangkan Alex berada di mobil Rian.
Sesampainya di parkiran kampus, lima cowok ini masih asyik mengobrol. Rian yang tetep saja seperti bocah cilik di mata yang lain, Luki yang masih garing, Rai yang slalu berpenampilan trendi dan keren, serta Diraz yang banyak bicara, sedangkan Alex masih dengan sifat buruk barunya : careless to everyone.
"Ah tali sepatu gue lepas," ucap Rian melihat sepatu Reeboknya. "Kalian duluan aja deh."
Yang lain akhirnya jalan duluan meninggalkan Rian namun Rai tetap berdiri di sebelah Rian, menunggu. Hehe, kan O Mama yang baik.
"Lo tuh ya... skali-skali rubah penampilan dong. Jangan kayak anak kecil begitu : jaket gambar kartun, spatu kets anak SMA."
Rian yang sedang jongkok menali sepatu mengangkat kepala dan menyengir saja.
"Gue ga tau bagaimana cara jadi orang dewasa."
Rian terkekeh. Baru dia akan berbicara lagi tiba-tiba terdengar suara tawa cewek yang berada di toilet yang tidak jauh dari tempat mereka berada. Tawa cewek-cewek itu menggelegar dan apa yang mereka bicarakan juga sampai terdengar ke telinga Rai dan Rian.
“Kalo lo ngincer anak pengusaha, gue sih ngincer salah satu sepupu-sepupuan yang ganteng di jurusan teknik industri ini deh..."
"Sepupu-sepupuan?? Oohh...! Ya ya ya, lima cowok ganteng yang slalu bareng ke mana-mana itu kan?"
"Gue sih emang kenal sama Luki. Asalnya kan mereka cuma bertiga tapi tiba-tiba aja 2 sepupu yang lain pindah tahun ini. Oh my God! Gue langsung kepincut sama si Rai..."
"Hahaha iya bener banget tuh. Tu cowok trendi dan cakep abis. Tapi gue juga suka sama si Alex."
"Iya ya, Alex tuh cool abis. Tapi gue juga pernah sekelas kok sama Rian waktu tingkat 1."
"Oh yang kayak anak kecil itu? Kalo ada kerajaan, bagi gue Rai itu rajanya, Alex pangerannya, yang lain bolehlah jadi perdana menterinya, tapi kalo Rian itu kayak rakyat jelatanya."
"Hahahaha, tega banget lo....!"
Rian dan Rai yang sebetulnya tidak berniat dari awal untuk mendengar namun akhirnya terlanjur juga mendengar apalagi topik yang terakhir yang dibahas mengenai Rian.
Rian langsung bangkit berdiri, berusaha terlihat biasa saja setelah apa yang ia dengar. "Ayo, O Mama, kita ke kelas, nanti telat."
Rai bingung juga. Sebenarnya dia tidak terima kalau Rian dikatakan seperti itu. Kalau cewek-cewek itu bukan berbicara di toilet, Rai pasti sudah mendatangi dan memarahi mereka.
Rai berlari mendekati Rian dan menepuk bahu sepupunya itu. "Hei, Bungsu, jangan dengerin apa kata cewek-cewek itu ya?"
Rian tersenyum tipis melirik Rai. "Udah terlanjur kedengaran kali, Rai... Lagian gue juga ga terlalu peduli. Tiap orang kan berhak berpendapat, Rai."
"Hmm. Tapi bagi kami lo ga seperti yang dibilang cewek-cewek itu."
Rian tersenyum lebar. "Ya iya dong. Gue juga mana mau jadi rakyat jelata kalo lo jadi raja."
Rai tertawa. "Nanti juga lo akan tumbuh dewasa dengan sendirinya."
Rian hanya mengangguk. Mereka berdua pun berbelok dan masuk ke kelas. Sebenarnya di dalam hati Rian masih merasa dongkol juga karna dikatakan seperti itu apalagi oleh cewek. Ga terima sih, ya tapi mau gimana lagi.
Diam-diam Rian memperhatikan Rai yang penampilannya memang keren dan cakep itu. Hari ini Rai memakai T-shirt hijau tua dengan kupluk warna senada dan aksesori lainnya yang menunjang penampilan Rai hari ini. Kalau dibandingkan dengan dirinya tentu sangat jauh sekali.
Rian mengerucutkan bibir.