
Dalam perjalan ke sekolah kami tidak banyak bicara dan sampai pada suatu ketika...
"Jadi kir, bisa kau jelaskan," kata Tomo.
"Apanya?" tanyaku.
"Sok polos," kata Tomo.
"Apa sih, aneh banget sumpah," kataku.
"Ngomong ngomong suratnya sudah kamu kasih kan, kir?" Tanya Tomo.
"Sudah aku terima," saut Geovani.
"Hmmm, botol Yang kamu kasih tadi isinya apa kir?" tanya Tomo.
"Kepo banget, ya jelas air lah isinya."
"Kalau boleh jujur Kira, aku lebih suka minum dari sumbernya," kata Geovani.
"Sumber?" heran Tomo.
"Sumber apaan?" tanyaku.
"Malah nanya balik si kadal," kata Tomo.
"Mungkin langsung dari Sumber air pegunungan," kata Tomo.
"Pengunungan apa? itu kan dar- tunggu kamu tau namaku dari mana?" tanyaku pada Geovani.
"Apa sih Kir, enggak jelas banget," kata Tomo.
Memangnya tadi malam aku ada beritahu namaku? lagian maksudnya sumber apaan.
"Dari absen sekolah waktu hari pertama aku sekolah," kata Geovani.
"Diam-diam jadian mungkin kalian ni," kata Tomo.
"Jadian pala kau," kataku.
"Ngomong ngomong Geovani besok kamu pergi ke pertemuan orang tua murid?" Tanya Tomo.
"Enggak, karena orang tuaku di kampung dan aku tinggal sendirian. Kalau enggak Salah Kira juga enggak pergi kan?" tanya Geovani.
"Iya aku enggak pergi, orang tuaku dah mati," kataku.
"Gausah kaget kalau Kira ngomongnya gitu, dia enggak sensitif kalau tentang orang tuanya," kata Tomo.
Ya memang begitu, aku tidak pernah dianggap anak oleh mereka, aku hanya dianggap monster. Kematian memang paling cocok bagi mereka.
"Tapi tenang, Kira bakal tetap pergi liat aja besok," kata Tomo.
"Serahmu dah," kataku.
Singkat cerita saat sampai di depan sekolah kami melihat spanduk di pagar dan bertuliskan 'Akihiro Akira dan ......... Tomo diharapkan langsung pergi ke ruang kepala sekolah, sekian terima kasih.'
"Apa ini?" tanya Tomo.
"Pasti masalah kemaren," kataku.
"Kalau begitu aku ke kelas duluan," kata Geovani dan langsung pergi meninggalkan kita yang akan menghadapi masalah baru.
"Gini amat hidup," kataku.
"Aku belum sarapan lagi," kata Tomo.
"Sama."
Kemudian aku berjalan dengan Tomo menuju ruang kepala sekolah, saat sampai di depan pintu kami melihat pak kepala polisi yang menangani kasus kemaren ada di ruang kepala sekolah.
"Permisi pak, kami-"
"Akhirnya datang juga, ada yang mau di bicarakan ini sama kalian berdua," kata pak kepala polisi.
"Maaf pak, sebelum itu boleh kami sarapan dulu di kantin pak? kami belum sarapan di rumah karena takut terlambat," kataku pada pak kepala polisi.
"Boleh, silahkan. Kalau sudah selesai langsung datang ke sini lagi," kata pak kepala polisi.
Saat dalam perjalanan kami berdua dihentikan oleh kepala sekolah dan dia berbicara kepada kami.
"Kalian pesan makanan aja, nanti minta diantar ke ruang kepala sekolah,"kata kepala sekolah.
"Emang boleh makan di sana pak?" tanyaku.
"Kalian sambil makan aja bicara sama kepala polisi biar cepat selesai," kata kepala sekolah.
"Ok pak," kata Tomo.
Kepala sekolah kemudian pergi meninggalkan kami dan langsung menuju ke ruang kepala sekolah.
"Buset dah, sekolah aja sudah malas banget," kata Tomo.
"Berhenti sekolah, apa susahnya," kataku pada Tomo.
"Ngomong-ngomong kamu kan abadi, kenapa harus makan?" tanya Tomo.
"Sebenarnya sih mau begitu, tapi karena mendekati sekaratnya itu sakit jadi malas mau mati." jawabku.
"Huh, panas banget hari ini," keluh Tomo.
"Iya juga, masih pagi udah panas gini."
Panas ya... kok Geovani bisa tahan di bawah sinar matahari? oh iya aku baru sadar, ternyata Geovani tadi malam tidak memberitahuku tentang sinar matahari.
Saat sampai di kantin kami terkejut karena tidak ada satu warung pun yang buka.
"Sialan Kir," kata Tomo.
"Dari banyaknya warung enggak ada yang buka satupun, parah."
"Jadi kelanjutannya gimana ini?" tanyaku pada Tomo.
"Terserahlah, aku pasrah aja," kata Tomo.
"Ya udah, langsung ke ruang kepala sekolah aja."
Saat sampai di ruang kepala sekolah kami disambut dengan roti oleh kepala sekolah, sepertinya dia tau bahwa kantin tidak buka.
"Ah, terima kasih pak," kata Tomo.
"Jadi apa yang mau dibicarakan pak?" tanyaku.
"Ini tentang kasus KN," kata pak polisi.
"Jadi," kataku.
"Kami ingin kamu membantu kami dalam menangani kasus KN ini, apakah kamu bersedia nak Kira?" kata pak polisi.
"Tidak."
"Kalau boleh tau apa alasannya?"
"Tidak ada untungnya bagiku."
"Tentu saja ada, jika kau membantu kami menangkapnya maka korban tidak akan berjatuhan lagi, itu artinya kamu telah menyelamatkan banyak orang," kata pak polisi.
"Betul juga, aku jadi terlihat seperti pahlawan kalau seperti itu," kataku.
"Jadi apa kau mau membantu nak Kira? tanya pak polisi.
"Jawabanku tetap tidak. pembicaraan omong kosong ini tidak ada gunanya."
"Iya benar."
"Dan mereka meninggal karena dibunuh oleh KN, benar bukan?" tanya pak polisi.
"Tepat sekali" kataku.
"Kami tau kau ingin balas dendam kepadanya, jika kau berhasil menangkapnya maka akan kami izinkan kau melakukan apapun kepada KN entah itu menyiksanya atau apapun itu akan kami serahkan padamu," kata pak polisi.
"Akan aku pikirkan."
"Kalau begitu ini tanda pengenal saya, hubungi jika kau sudah menentukannya," kata pak polisi.
Aku mengambil tanda pengenal itu dan langsung beranjak pergi ke kelas.
"Ayo Tomo, kita ke kelas," kataku pada Tomo.
Saat sampai di depan kelas aku merobek tanda pengenal tersebut dan membuangnya ke dalam tempat sampah.
"Kenapa kau buang Kir?" tanya Tomo.
"Karena aku enggak butuh, lagian juga aku enggak pengen balas dendam sama KN karena dia membunuh orang tuaku," kataku.
"Sepertinya kamu serius banget enggak mau bantu," kata Tomo.
"Jelas lah, aku enggak mau lagi berurusan sama yang gitu lagi," kataku.
"Kalau ketahuan yang tadi kamu robek gimana Kir?" tanya Tomo.
"Entah, mungkin aku nanti dipaksa sambil ditodong benda tajam sama polisi."
Saat aku masuk ke kelas, aku heran kenapa semua anak melihat padaku, dan bertanya kepada Tomo apa yang sedang terjadi.
"Kira itu?"
"Iya, Kira yg itu."
"Ngeri ya, padahal pendiam gitu tapi hebat."
"Sulit dipercaya seorang Kira."
"Aku dengar dia selesaikan itu tidak sampai 3 jam."
"Buset ngerinya."
"Diam-diam menghanyutkan."
"Tomo, ada apa ini? kenapa semua lihat aku," kataku pada Tomo.
Aku sedikit tidak menyukai keramaian dan juga sangat tidak suka menjadi pusat perhatian, tapi kenapa pagi ini baru masuk kelas udah jadi pusat perhatian, tidak seperti biasanya.
"Tunggu-tunggu ada apa ini ribut ribut?" tanya Tomo.
"Lah, kamu enggak tau? padahal kamu sama Kira kan kemaren," kata seorang murid.
"Berita kira yang berhasil menangkap pelaku pembunuhan dengan cepat kemaren."
"Hah? pembunuhan apa? kemaren aku sama kira datang terlambat terus bersihkan toilet dan dengar pengumuman, langsung pulang. Enggak ada tau kita ada pembunuhan."
Apa ini? ada yang bocorin, tapi siapa?
"Loh, tapi kata polisi Kira yang nangkap pembunuhnya."
"Kita enggak tau ada pembunuhan kan Kir?" tanya Tomo.
"Loh mana Kira?"
"Dia pergi tadi, enggak tau kemana," saut seorang murid.
Kalau sudah begini Kira paling malas pasti, orang introvert jadi pusat perhatian. Sialan kau orang yang membocorkan ini. Gumam Tomo
Aku berlari mencari tempat paling sepi di sekolah yaitu di toilet. Saat sampai dan mengunci pintu terdengar seseorang berbicara tentang aku yang menangkap pelaku pembunuhan.
"Sialan kau orang yang membocorkan hal ini, mungkin baiknya aku pergi ke ruang kepala sekolah untuk bertanya padanya. Padahal aku sudah berbicara pada kepala sekolah untuk merahasiakannya."
Kriiiiiiing!!!
Itu suara bel masuk, setelah ini akan sepi dan aku akan pergi ke ruang kepala sekolah.
"Ah, bikin frustasi!"
Setelah keluar dari toilet aku bergegas pergi ke ruang kepala sekolah, dan saat berada di depan pintu aku mendengar kepala sekolah memarahi polisi. Ternyata yang membocorkannya kepada murid di sekolah ini adakah dia pak polisi.
"Memang tidak tau terima kasih, kau sudah dibantu tapi malah menyiksanya," kata kepala sekolah.
"Ini adalah satu cara agar dia mau membantu polisi menyelesaikan kasus KN, Kami menyelidikinya, kepribadiannya introvert"
"Bagi seorang introvert menjadi pusat perhatian adalah siksaan paling mengerikan," kata polisi.
Aku kemudian membuka pintu dan berjalan perlahan menuju polisi.
"Orangnya datang, saya tau kau tidak akan mau membantu tapi ini adalah caranya agar kau mau membantu."
"Inilah alasan kenapa aku tidak pernah mau menolong orang," kataku.
Aku menghadap kepada polisi tersebut dan langsung memukul wajahnya dengan sangat keras sampai memar dan terjatuh.
"Hey, Kira apa yang kau lakukan!" kata kepala sekolah.
"Inilah alasan kenapa aku tidak mau membantu orang, entah itu kau atau siapapun. Setiap aku membantu seseorang aku memang mendapat terima kasih tapi kata itu bertolak belakang dengan tindakannya," kataku.
"Kir-Kira! ada apa ini?" tanya Tomo yang baru sampai di ruang kepala sekolah.
"Terima kasih, terima kasih, terima kasih, terima kasih, itu hanya kata omong kosong, kalau saja Tomo tidak terlibat waktu itu, aku tidak akan pernah membantu," katak dengan marah.
Emosiku meluap dan ku keluarkan semuanya disana, aku kemudian pergi dari ruang kepala sekolah.
"Hey Kir, kau mau kemana? tanya Tomo.
"Mau pulang," saut ku.
Huh, aku sudah muak membantu orang.
"Hey pak polisi, jika benar kau yang membocorkannya kau sudah keterlaluan padahal dia sudah berkata untuk merahasiakannya, asal kau tau dulu Kira orangnya sangat suka menolong tapi karena 1 hal terjadi padanya dia berkata padaku
'Apa gunanya membantu seseorang? apa untuk mendapat terima kasih? membantu/menolong orang itu nggak ada gunanya bagiku, itu masalah mereka dan bukan urusanku.'"
"Kau harusnya bersyukur dia mau menyelesaikan kasus tersebut hanya karena aku terlibat," kata Tomo.
"Jadi begitu, kau adalah pemicu dia," kata pak polisi.
Tomo kemudian berjalan pergi ke kelas untuk melanjutkan pelajaran dan aku pergi pulang ke rumahku.
Saat sampai di rumah, aku berbaring di tempat tidurku.
"Rei, aku ingin bicara denganmu, setidaknya aku ingin ke makam mu." kataku.
"Aku ini laki-laki terburuk dalam sejarah, hanya karena menjadi pusat perhatian aku jadi memukul seorang polisi tanpa sadar, aku sendiri benci menjadi seorang introvert."
"Sebenarnya aku juga ingin membantu menolong seperti diriku yang dulu, tapi aku nggak mau mendapat hal buruk setelah membantu, aku sulit mempercayai orang tapi kalau tentang Tomo aku sangat mempercayainya. Semakin jauh aku berpikir, pikiranku tetap berpikir kalau membantu orang tidak ada gunanya. Andai saja orang tuaku seperti orang tua pada umumnya, pasti aku nggak bakal begini."
Niiing!!....Nuuung!!.....Niiing!!....Nuuung!!....
"Siapa yang datang ke rumahku, kok dia tau aku enggak sekolah."
Aku berjalan dan saat membuka pintu tidak ada siapapun melainkan aku menemukan surat yang bertuliskan 'untuk Psycho 7', tanpa pikir panjang aku langsung pergi ke dapur dan menyalakan kompor dan membakar surat tersebut tanpa membacanya isi suratnya.
"Omong kosong, palingan dari orang yang menusukku kemaren."