
"Apa yang ingin kau katakan tadi?" tanyaku.
"Rei masih hidup," kata wanita tersebut.
Sontak aku langsung terdiam karena mendengar nama itu.
"Aku tau kau ingin menghiburku karena tentang sahabatku, tapi tidak dengan candaan sampai membawa Rei segala," kataku.
"Ini benar, aku mengatakannya agar kau tidak pindah dari sini," kata wanita tersebut.
"Terserah padamu ingin percaya padaku atau tidak, aku sebenarnya tau hubunganmu dengan Rei," kata wanita tersebut.
"Hmmm, kalau begitu apa hubunganku dengan Rei?" tanyaku.
"Hubungan suami istri." jawab wanita tersebut.
"Ha!? ap-apa maksudmu," bingungku.
"Lihat wajahmu memerah, sepertinya kau memang menyukai adikku," kata wanita tersebut.
"Jadi kau kakaknya ya," kataku.
"Ya, dia lah yang memintaku untuk menjagamu setelah kekuatan psycho berpindah," kata wanita tersebut.
"Oh, begitu."
"Maaf aku belum memperkenalkan diri dengan baik, namaku Shirahara Haato, kau boleh memanggilku Hato."
"Hmmm, berarti nama dia Shirahara Rei, itu nama yang indah," kataku.
Ya, walaupun tidak ada arti dari nama argh sudahlah itu tak penting.
"Kau tahu, aku merasa Rei juga menyukaimu walau belum pernah bertemu denganmu secara langsung," kata Hato.
"Kenapa kau beranggapan begitu?" tanyaku.
"Akan kuceritakan semuanya dari awal," kata Hato.
"Panjang?" tanyaku.
"Hmm, sedikit panjang."
"Dari jawabanmu pasti panjang," kataku.
"Kalau begitu di rumahku saja," kataku.
"Hey spycho yang di sana," panggilku.
"Spycho pala kau, psycho, dan aku punya nama yaitu Aki," kata pria tersebut.
"Kau mau ikut?" tanyaku.
"Tentu saja aku ingin ikut untuk menemani Hato, tidak mungkin aku membiarkannya sendirian. Tapi karena aku bertemu dengan anggota Assasin aku tidak bisa membiarkan mereka, apalagi setelah bertemu denganmu," kata Aki.
"Ada apa emangnya?" tanyaku.
"Cukup aneh mengetahui bahwa psycho sepertimu masih belum diberitahu semua yang berkaitan dengan psychokinesis, akan kuberitahu semua yang kutahu setelah aku mengurus anggota Assasin ini," Kata Aki sambil mencoba mengangkat ketiga pria tersebut sekaligus.
"Kau bisa mengurusnya sendirian? apa perlu kubantu?" kataku.
"Tidak perlu, dihadapan Hato aku harus terlihat keren," kata Aki.
Aku dan Hato kemudian pergi menuju rumahku untuk mendengarkan hal yang ingin dia katakan.
Sepertinya telingaku akan bengkak untuk hari ini karena penjelasan dari Kak Hato dan Aki nantinya.
"Tentang yang katakan Rei masih hidup apa itu benar?" tanyaku.
"Ya, itu benar tapi kondisinya sedikit lebih buruk sekarang," kata Hato.
"Apa aku bisa menjenguknya?" tanyaku.
"Aku memang berniat mengajakmu ke sana nanti," kata Hato.
Ah syukurlah, akhirnya aku bisa bertemu dengan Rei lagi.
"Kalai boleh jujur, aku sekarang tidak ingin lagi berurusan dengan psycho-psychoan itu," kataku.
"Kenapa begitu?" tanya Hato.
"Aku cuma ingin hidup normal seperti manusia biasa," kataku.
"Satu-satunya cara agar keluar dari masalah psychokinesis ini cuma bunuh diri seperti Yang dilakukan psycho 7 gen kedua," kata Hato.
"Sepertinya kau tau sangat banyak," kataku.
"Ya, karena beberapa hal, Rei memberitahuku tentang dunia psychokinesis dan itulah Yang akan kujelaskan nanti padamu," kata Hato.
Saat kami berdua dalam perjalanan, Aki datang menemui kami dengan sangat kelelahan.
"Hey, kita harus lari sekarang," kata Aki.
"Ada apa? jangan bilang kau membunuh ketiga pria itu," kata Hato.
"Anggota Assasin lainnya datang dan mereka melihatku menggendong ketiga pria itu," kata Aki.
Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan jadi aku memutuskan untuk diam saja.
"Sudah, yang penting kita lari dari mereka," kata Aki.
Buset dah, cuma gara-gara aku yang kembali ke masa lalu jadi ribet gini. Tunggu, mungkin aku bisa pergi ke masa lalu untuk mencegah hal ini.
Apa tidak apa di depan mereka, mereka juga tahu tentang psychokinesis jadi mungkin tidak apa, mungkin.
Saat masih berlari bersama aku menutup mataku dan membayangkan yang diajarkan Rei padaku.
Saat aku membuka mataku kembali aku tidak tidak pergi ke masa lalu dan masih tetap berlari bersama mereka.
Ha? tidak bisa lagi, ada apa sebenarnya dengan kekuatan ini, apa ada pemicunya?
"Ada apa Kira?" tanya Hato.
"Ah, tidak ada apa-apa," jawabku.
Aku sangat tidak mengerti dengan kekuatan ini, kadang bisa dan kadang tidak bisa, ini seperti sampah saja.
Saat Kak Hato dan aku melihat kebelakang ternyata ada sekitar 7 orang Yang mengejar kami, seragam yang digunakan sama dengan ketiga pria yang tadi.
"Kalau begini tidak ada pilihan lain," kata Hato sambil mengeluarkan benda tajam dari sakunya dan melepaskan penutupnya.
"Hey hey tunggu tunggu, kau ingin membunuh mereka?" tanyaku padaku Hato.
"Tidak ada pilihan lain, kalau begini terus mereka bakal ngikutin kita terus," kata Hato.
"Selain membunuh mungkin kita bisa lakukan yang lain," kataku.
"Naif sekali kau Kira, dalam dunia psychokinesisi kenaifanmu tidak diperlukan, tapi akan ku usahakan agar tidak membunuhnya," kata Aki.
Aki kemudian berhenti berlari dan menghadap kepada 7 orang yang mengejar kami.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Hato.
"Memperlambat mereka."
"Yah, walaupun tidak jauh mereka terpental setidaknya itu bisa menghambat mereka," kata Aki.
Jadi itu kekuatan psychonya miliknya, Telekinesis, itu keren dibanding punyaku.
"Wow, jadi kau pengguna Telekinesis," kata Hato.
"Tidak, ini bukan kekuatan awalku," kata Aki.
"Bukan kekuatan awalmu? artinya kau membunuh pyscho lain untuk mendapatkan itu," kata Hato.
"Ya bisa dibilang begitu," kata Aki.
"Mundur Kira, pria ini berbahaya, bisa saja dia juga ingin membunuhmu," kata Hato.
"En, bukannya dia memang ingin membunuhku," kataku.
"Benar juga, aku hampir lupa saat dia menusukmu di sekolah," kata Hato.
Kak Hato memasang kuda-kuda sambil memegang benda tajam miliknya dan bersiap bertarung melawan Aki.
"Tidak perlu khawatir, kalian bisa percaya padaku," kata Aki.
"Dengan apa kau bisa membuktikannya," kata Hato.
Aku memang tidak ada gunanya, di saat seperti ini aku hanya menjadi patung.
"Tidak ada, kita urus hal itu nanti sekarang kita pergi dulu," kata Aki.
Sepertinya aku tau apa alasannya, bahkan terlihat jelas dari sifatnya saat bertemu tadi.
Kami kemudian melanjutkan berlari dan aku meminta kita untuk memutar dan langsung pergi ke rumahku.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak jadi pancing mereka semua menjauh," kata Hato.
"Baiklah, kalau kau yang minta," kata Aki dan langsung pergi memancing mereka semua pergi menjauh.
Dari yang aku tangkap dari kejadian ini, yaitu pasti Assasin ada hubungannya dengan psycho karena Aki memperlihatkan kekuatannya di depan Assasin jadi kurasa mereka sudah tau tentang psycho.
"Ayo kita pergi," ajak Hato.
"Bagaimana nanti Aki pergi ke rumahku? apa dia tau rumahku?" tanyaku.
"Kau terlalu memikirkannya, dia pasti tau," kata Hato.
Saat kami sampai di rumahku dan masuk di dalam rumah aku melihat Aki yang sedang lari dari ketujuh pria tersebut.
Ya ampun, betapa bodohnya dia malah mancing di dekat rumah sini, padahal kita ada di sini.
Bodohnya lagi ketujuh pria itu nggak bisa tangkap Aki sendirian, hadeh.
Aki kemudian terdiam di depan rumahku dan dia masuk ke halaman rumahku dan bersembunyi di balik pagar beton di halamanku.
"Ada apa?" tanya Hato.
"Tidak, aku hanya melihat Aki yang tanpa sadar dia sembunyi di tempat kita," kataku dari jendela.
"Hey, ngapain kau di sana, cepat masuk!" kata Hato yang membuka pintu dan mengajak Aki.
"Loh Hato, ngapain di sini?" tanya Aki.
"Huh, cepat aja sini!" kata Hato.
Aki kemudian masuk ke rumahku.
"Huh capek juga, jadi ini dimana?" tanya Aki.
"Ini rumahku," kataku.
"Hoh, jadi kau tinggal sendiri di rumah besar ini," kata Aki.
"Ya begitulah," kataku.
"Kalian tau, aku tidak suka basa basi jadi bisa kalian jelaskan sekarang?" tanyaku.
"Aku masih capek sih," kata Aki.
"Duduk tuh di depan ruang tamu, udah aku siapin minum daritadi," kataku.
"OK."
"Kau saja yang jelaskan duluan Aki," kata Hato.
"Kenapa begitu?" tanya Aki.
"Aku mau mandi dulu," kata Hato.
"Di sini?" tanya Aki.
"Ya, bisa pinjam handuk Kir?" kata Hato.
Setelah Hato mengatakan hal itu padaku Aki langsung menatapku.
"Sebentar," kataku.
"Kiraaaa."
"Ada apa denganmu?" tanyaku pada Aki.
"Abaikan saja dia Kir," kata Hato.
"Ini, ada handuk ibuku waktu masih hidup, bersih kok santai aja," kataku.
Sontak mereka berdua langsung terdiam.
"Ada apa?" tanyaku.
"Eee, tidak ada apa-apa," kata Hato dan langsung pergi ke kamar mandi.
Aku kemudian mengambil cemilan yang ada di kulkas dan membawanya kepada Aki.
"Asal tau saja, aku masih belum percaya padamu," kataku.
"Itu hakmu," kata Aki.
"Jadi sekarang apa?" tanyaku.
"Aku kasian padamu Kir, kau jadi psycho tanpa tau beberapa hal lain," kata Aki.
"Aku hanya memberi tau tentang Assasin, sisanya kau," kata Aki.
"Apa! kau serius? kau masih belum tau semuanya? yang kau tau hanya kekuatan psycho saja? huh, bakal report banget ini," kata Aki.
"Apa Yang kau bicarakan?" tanyaku.
Kenapa dia bicara seperti itu, aku bahkan belum mengatakan apapun.
"Ah sudahlah, Kau ingin tau apa itu Assasinkan?" kata Aki
"Assasin adalah anggota grup yang terbentuk sekitar 12 tahun Yang lalu, dan mereka memiliki tugas, yaitu memburu semua psycho. Jadi Assasin adalah pemburu psycho." kata Aki.