Fate 7 Psychokinesis

Fate 7 Psychokinesis
Ch 31. unknow



Saat aku memasuki ruangan kokpit, aku melihat pilot dan kopilot sudah tewas dengan lobang di kepala mereka dan ada 2 orang pembajak di sana.


"Kalian tau apa yang kalian lakukan?" kataku.


"Ya, kami tau, kami bosan hidup jadi ingin melakukan bunuh diri di pesawat ini dengan semua yang ada di dalamnya."


"Pikiran kalian pendek sekali, jika ingin bunuh diri kenapa ngajak orang? bukan satu bahkan seluruh penumpang pesawat," kataku.


Dor….


Salah satu pembajak tadi tiba-tiba menembak temannya yang juga berada di kokpit.


"Kau anak kecil banyak bicara. Lebih baik kau cari cara menyelamatkan semua orang yang ada disini."


Pria itu kemudian mengarahkan pistolnya ke arah kepalanya dan "Dor…." dia menembak dirinya sendiri.


Pesawat ini masih terbang, artinya auto pilotnya masih beroperasi.


"Sebenarnya aku bisa mudah menyelesaikan ini dari awal kalau seandainya aku tidak menggunakan kekuatan time travelku untuk hal tidak berguna seperti hanya mengantar surat."


Jadi sekarang, bagaimana caranya agar semuanya penumpang bisa selamat. Di pesawat sudah ada lobang dan juga pilot dan kopilot sudah mati jadi tidak ada yang bisa melakukan pendaratan darurat.


Sial! padahal hanya perjalanan Osaka ke Tokyo yang hanya memakan waktu 1 jam dan itu sangat sebentar sekali tapi malah jadi masalah gini.


"Kuharap mereka sudah bangun, kalau masih belum, kalau masih belum lihat saja nanti," kataku dan kembali ke tempat penumpang.


"Masih belum bangun ya? apa semengerikan itu obat tidurnya?" kataku.


"Kenapa tidak kau coba hirup saja di masker itu?" tanya Asada.


Lihatlah! betapa tidak bergunanya diriku, di saat seperti ini hanya mengandalkan kekuatan bawahanku. Tapi ya mau bagaimana lagi, aku memang hanya bisa mengandalkan orang lain.


"Bagaimana ini?" tanya Asada padaku.


"Ini perintah pertamaku sebagai wakil pemimpin, gunakan listrik terkuatmu untuk membangunkan mereka tapi jangan sampai membuat mereka mati!" perintahku pada Asada.


"Baik tuan," jawab Asada.


Tidak biasa di memanggil aku dengan sebutan 'tuan'.


Sepertinya yang digunakan bukan obat tidur, mungkin obat bius.


Aku kemudian mengeluarkan maskerku yang diberikan oleh pramugari tadi dan pergi ke belakang meninggalkan Asada.


Saat sampai aku melihat pramugari tadi bunuh diri dengan pisau menancap di lehernya. Saat melihat orang mati, terpikir olehku aku iri dengan mereka yang bisa mengakhiri hidupnya dan lepas dari segala masalah.


"Enaknya ya, tinggal bunuh diri kalian sudah terlepas dari masalah. Andai aku juga bisa bunuh diri," kataku.


Kira-kira pramugari yang lain dimana ya?


Aku kemudian mengecek toilet dan tidak menemukan pramugari yang lain, melainkan aku menemukan cairan putih yang berserakan di toilet.


Iuh, apa ini? banyak sekali. Setelah ku amati dengan lebih teliti ternyata itu adalah ******.


Jadi begitu, pantas saja pramugari itu bunuh diri. Dia diperkosa oleh para pembajak dengan paksa, pantas saja saat membagikan masker tadi dia terlihat sehabis menangis.


Bunuh diri setelah hidup hancur adalah salah satu pilihan terbaik, aku menghormatimu pramugari. Sekarang waktunya melakukan hal yang ingin aku ketahui dari tadi.


Alasan aku membawa masker yang mempunyai obat bius atau obat tidur ini aku ingin membuktikan apa ini sebenarnya, dan apakah sehebat itu? sampai membuat orang susah dibangunkan walaupun menggunakan listrik kejut.


Sesaat setelah aku menggunakan masker itu aku tak merasakan efek apapun, hanya saja baunya yang asing di hidungku sampai membuat aku bersin.


Tak ada hal aneh yang terjadi padaku, bahkan aku tak mengantuk atau berasa ingin pingsan. Tapi baunya membuatku ingin bersin.


Ha….


Hacih!….


Huh, apa benar mereka semua pingsan berkat ini?


Tiba-tiba Asada datang memanggilku dari ruang penumpang. "Kira! … Kira! …," panggil Asada dan langsung masuk ke pintu belakang.


"Mereka sud-"


"Ada apa?" tanyaku.


"Pra-pramugari itu," kata Asada.


"Biarkan dia, dia sudah tak bernyawa lagi," jawabku.


"Bunuh diri?" tanya Asada.


"Iya, jadi ada apa?" tanyaku.


"Mereka sudah bangun, tapi masih belum kuat untuk berdiri, mungkin itu akibat obatnya," kara Asada.


"Oy, setelah ini akan ada hukuman untuk kalian berdua," kataku pada kak Yui dan Ibnu.


"Pesawatnya berlubang? apa yang terjadi?" bingung Ibnu.


"Aku tau kalian masih bingung apa yang terjadi, yang aku inginkan hanya menurunkan pesawat ini ke bandara Tokyo yang akan sampai sebentar lagi, apa kalian bisa?" tanyaku.


"Kita gunakan teleport Ibnu saja," jawab Asada.


"Itu tidak bisa, karena orang akan panik setelah melihat pesawat muncul tiba-tiba di bandara," kataku.


"Atau ada yang bisa mengendarai pesawat ini untuk mendaratkannya di bandara sana?" tanyaku.


Mereka berempat hanya terdiam dan tidak mengatakan apapun.


"Tunggu! dimana Masaki?" tanya Ibnu.


"Benar juga, dimana dia?" tanya kak Yui.


"Itu kita bicarakan nanti, yang penting cara menyelamatkan penumpang dulu," kataku.


"Itu gampang, serahkan padaku," kata kak Yui.


"Hal apa yang akan kau lakukan?" tanyaku.


"Lihat saja nanti tuan Kira," jawab kak Yui


"Baiklah kalau kau bilang begitu. Satu lagi, untuk sekarang jangan ada yang ke toilet dulu, setidaknya tahan lah karena sebentar lagi kita sampai " kataku.


"Kenapa?" tanya Yui.


"Ada apa emangnya? apa rusak? atau hancur?" tanya Ibnu


"Itu urusan polisi dan sangat tidak manusiawi," kita serahkan saja pada polisi di bandara nanti," jawabku.


"Dan juga terutama wanita jangan kesana," kataku.


"Kalau kau seperti itu, kami malah jadi penasaran," kata kak Yui.


"Ini perintah!" kataku dengan tegas.


"Ikuti saja Yui," kata Nobu.


"Baik," jawab kak Yui.


Saat sudah hampir sampai di bandara, kak Yui langsung pergi ke kokpit.


"Apa yang akan dia lakukan?" tanyaku pada Nobu.


"Dia mempunyai kekuatan mengendalikan gravitasi dan dia mau mendaratkan pesawat ini dengan gravitasinya sendiri," jawab Nobu.


Mengendalikan gravitasi ya, itu hebat. Aku pernah dengar juga dari Ibnu kalau kak Yui adalah yang terkuat artinya kekuatannya tidak itu saja.


Hebat ya, bawahanku lebih hebat dari wakil pemimpinnya. Bahkan setara dengan mereka saja tidak, apa aku pantas ya menghukum mereka?


Tiba-tiba pandanganku merasa kabur serta aku sangat lelah sekali dan perlahan terjatuh.


Loh? kenapa aku? apa ini reaksi dari obat masker tadi? aku akan pingsan entah sampai kapan. Kenapa baru sekarang? tidak tepat sekali, banyak yang ingin aku bicarakan dengan polisi dengan kasus ini.


"Loh, Kira? kamu kenapa?" tanya Nobu dan kemudian menangkapku saat aku mulai terjatuh.


"Apa kau memakai masker itu?" tanya Asada dengan khawatir.


"Tolong sampaikan pada polisi nanti, bahwa semua petunjuk kasus yang terjadi disini ada padaku dan aku ingin bicara dengan mereka," kataku kemudian tertidur karena menggunakan masker itu walaupun efeknya terlambat tapi aku tetap tak sadarkan diri.


"Kira!.… Kira!…." kata Nobu mencoba membangunkanku.


"Biarkan saja nyonya Nobu, mungkin dia lelah karena hal ini jadi dia memingsankan dirinya sendiri," kata Asada.


"Oh begitu," kata Nobu.


Mana mungkin ada orang yang membuat dirinya pingsan sendiri, gumam Ibnu.


"Baiklah Kir, akan kita sampaikan pada polisi hal yang kau katakan," kata Nobu.


Tuan, kau sudah berjuang keras.


"Ngomong-ngomong di mana Masaki?" tanya Ibnu.


"Iya, aku juga tidak melihatnya," kata Nobu.


"Dia … dia … sudah meninggal karena jatuh dari pesawat," jawab Asada.


"Ha?!"