
Aku terdiam di tempat sambil melihat kearah rumah Tomo.
In-ini pasti mimpi, hahahaha mungkin sudah saatnya aku bangun.
Aku kemudian mencubit pipiku sendiri untuk membuatku terbangun, tapi tidak terjadi apa-apa, aku kemudian mencubit tanganku dengan sangat keras berkali berkali dan aku tak kunjung bangun.
Mungkin dengan tidur aku bisa terbangun dari mimpi ini, ya pasti, pasti.
Aku berjalan menuju rumahku dan masih yakin ini hanya mimpi.
Saat dalam perjalanan di gang sepi aku berjalan dengan lesu ke rumahku terdengar suara sepeda motor yang sangat berisik sekali di belakangku.
Bruak!!!
Sepeda motor tersebut menabrakku dari belakang sampai aku terpental dan jatuh sangat keras.
"Ha?! apa itu? sakitnya a*jeng, langsung lari lagi enggak ada tanggung jawab gitu? kataku yang masih terbaring di jalanan.
Aku mencoba berdiri tapi aku merasakan sakit di kakiku, saat kulihat ternyata pergelangan kaki kananku patah.
"Buset dah, gini amat pagi-pagi," kataku sambil mencoba duduk dan bersandar di tiang lampu jalanan.
Untung di sini sepi jadi bisa regen di sini.
Aku terdiam sambil menatap langit.
"Hah, ternyata bukan mimpi, walaupun hanya sebentar aku kehilangan diriku sendiri saat mendengar berita itu, untung ada yang menabrakku tadi jadi aku sadar," kataku.
Tapi ini serius sakit banget ******, parah.
Kalau aku memutar waktu kira-kira aku bisa ubah enggak ya? percuma juga karena aku enggak bakal ingat apa-apa. Mungkin bakal kucoba pergi ke masa lalu, mudahan aja enggak paradoks tapi tidak di sini.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kakiku pulih dan aku langsung berlari menuju rumahku untuk melakukan perjalanan waktu yang kedua dalam hidupku.
Aku bakal pergi 3 jam yang lalu dari sekarang, dalam waktu 10 menit apa yang bisa aku temukan? semuanya, semuanya kalau bisa aku ingin melihat langsung orang yang membunuhnya dan seorang KN sebenarnya.
Saat sampai di rumah aku duduk di satu tempat dan berkonsentrasi mengikuti arahan yang Rei berikan padaku waktu itu.
Saat aku membuka mata, aku mendarat di halaman rumahku dan anehnya tidak terlalu membuatku pusing seperti pertama kali aku mencobanya saat ada Rei.
"Hey, ini tidak terlalu buruk dan tidak membuatku pusing sama sekali," kataku.
Aku melihat jam tanganku yang menunjukan jam 04:30 pagi dan langsung pergi menuju rumah Tomo.
"Saat aku sampai, aku tidak melihat ada siapapun di daerah rumah Tomo dan aku memutuskan untuk masuk kerumahnya.
Tok!!! Tok!!! Tok!!!
"Wow, ternyata pintunya enggak dikunci," kataku.
Aku tau ini tidak sopan, masuk ke rumah orang seenaknya tapi ini penting bagiku.
Aku masuk ke rumah Tomo dan menjelajahi rumahnya cukup lama tapi aku tidak menemukan Tomo dan orang tuanya di rumahnya.
"Aneh, apa mayatnya sudah di bawa oleh polisi?" kataku.
"Aku lihat juga rumahnya tidak ada tanda tanda dibunuh, isi rumahnya masih tertata rapi," kataku.
Ini kematian yang aneh, sejujurnya aku tidak percaya kalau mereka mati tapi kalau sampai di siarkan di TV mungkin bisa jadi. Bahkan tidak ada petunjuk sama sekali di sini.
"Ternyata sudah hampir 10 menit, mungkin aku akan kembali lagi kesini setelah bertanya beberapa hal kepada polisi," kataku.
Aku kembali ke masaku dan beranjak dari rumahku dan langsung pergi ke rumah Tomo untuk bertemu dengan polisi.
Saat aku berjalan aku mendengar suara Geovani memanggilku tapi aku tidak menghiraukannya dan langsung pergi ke rumah Tomo.
"Hey, Kira!" kata Geovani dari rumahnya.
Ada apa dengannya? gumam Geovani.
Saat sampai, aku tidak melihat satupun ada polisi di rumah Tomo maupun di sekitarnya. Aku kemudian bertanya kepada salah satu warga yang ada disitu tentang kemana perginya semua polisi tadi.
Warga tersebut kemudian menjawab bahwa dia juga tidak tahu kemana semua polisi tersebut pergi.
Saat aku memutuskan untuk kembali pulang ke rumah tiba-tiba kepala polisi yang menangani kasus pembunuhan di sekolah datang menemuiku.
"Apa lagi maumu?" tanyaku kepadanya.
"Bukankah itu sedikit kasar jika dikatakan kepada orang sepertiku," kata kepala polisi.
"Siapa peduli," kataku.
"Saya turut berduka cita atas meninggalnya sahabatmu," kata kepala polisi.
"........"
"Aku tidak yakin kalau dia sudah meninggal," kataku.
"Saya tau susah bagimu untuk menerima kenyataan," kata kepala polisi.
"Kalau begitu, bisa berikan aku bukti bahwa mereka sudah meninggal?" tantangku pada kepala polisi.
"Mereka meninggal tanpa perlawanan, mau kuberitahu satu hal?" tanya kepala polisi.
"Apa itu?" kataku.
"Yang membunuh mereka adalah kamu, kamu yang membunuh sahabatmu sendiri," kata kepala polisi.
"Ha!? seperti inikah seorang polisi? saking payahnya tidak bisa menangkap pelaku pembunuhan berantai langsung menuduh seorang anak kecil," kataku.
"Coba bayangkan saat itu kamu mau membantu kami menangani kasus KN maka hal ini tidak akan terjadi dan kau tidak akan kehilangan sahabatmu sendiri," kata kepala polisi.
"Ya, mungkin itu ada benarnya. Artinya kau lah yang telah membunuh ratusan nyawa selama ini karena tidak berhasil menangkap pelakunya.
"Ha!?" kata kepala polisi dengan menahan amarah.
"Mari ikut denganku," kata kepala polisi.
"Kemana?" tanyaku.
"Aku akan membawamu ke makam Sahabatmu," kata kepala polisi.
"Ha!? sudah dimakamkan? kenapa cepat sekali?" tanyaku dengan kaget.
Kepala polisi tak menjawab dan hanya berjalan sambil memanggilku untuk mengikutinya.
Saat sampai di pemakaman, aku di bawa ketempat di mana ada batu nisan Yang bertuliskan nama Tomo.
Aku terduduk lemas di samping makam sahabatku dan tak dapat berkata kata seolah mulutku dikunci.
Kepala polisi kemudian pergi meninggalkanku sendiri di sana.
Kejam banget sih ini dunia, padahal kamu nggak ada salah sama mereka.
Tidak boleh seperti ini terus, aku masih bisa merubah semuanya dengan pergi ke masa lalu, aku akan terus kembali dan kembali karena aku yakin aku dapat merubah masa lalu.
Aku berjalan pulang ke rumahku sambil memikirkan apa yang akan kulakukan nanti saat di masa lalu, saat sampai di depan rumah aku melihat Geovani yang menungguku di depan rumahku.
"Kira, aku sudah dengar tentang berita itu," kata Geovani.
"Ya, terus?" tanyaku.
"Kamu enggak apa-apa kan? aku tau berat bagimu nerima kenyataan tapi kamu harus kuat, aku ada di sampingmu kalau kamu butuh seseorang," kata Geovani
Aku memang tidak tau seperti apa rasanya kehilangan seorang sahabat karena aku tidak pernah punya sahabat, tapi aku tau apa yang terbaik bagi Kira untuk saat ini, Gumam Geovani.
"Apasih?" tanyaku dengan heran.
"Ish, aku lagi perhatian gini malah digituin," kata Geovani.
"Jangan sekarang," kataku sambil berjalan masuk ke rumah.
"Kalau kamu mau nangis jangan sendirian, sini ngobrol sama aku," kata Geovani.
"Kubilang jangan sekarang!" kataku.
"Hehehehe," tawa kecil Geovani.
Ayo fokus Kir, kali ini aku akan kembali ke masa lalu lagi.
Aku kembali melakukan ritual pergi ke masa lalu seperti yang Rei ajarkan dan saat aku membuka mata aku tidak pergi ke masa lalu dan tetap di masa sekarang.
"Ada apa ini? kenapa aku enggak kembali?" kataku dengan heran.
Aku mencoba berkali kali dan tetap tidak berhasil.
Sepertinya yang dijelaskan Rei masih belum semuanya.
Aku terus mencoba dan mencoba tetap tidak berhasil dan aku tidak pergi ke masa lalu.
"SERIUS? APA LAGI INI!?" kataku dengan teriakan yang lumayan kencang.
Aku terus mencoba-mencoba tetapi tetap tidak pergi ke masa lalu.
Perlahan air yang membendung di mataku perlahan keluar sedikit demi sedikit dan membasahi pipiku.
"Oy oy oy oy, ini seriusan? kalau begini aku enggak bisa menyelamatkan Tomo," kataku sambil mengusap air di pipiku.
Kemudian Geovani datang ke rumahku dan langsung pergi ketempat dimana aku terbaring sambil menutup mataku agar tidak terlihat menangis oleh Geovani.
"Kira? ada apa? aku mendengar kamu berteriak tadi?" kata Geovani.
Geovani kemudian mengangkat kepalaku dan membaringkannya di pahanya.
"Udah, nangis aja enggak apa-apa, itu normal kok karena kehilangan sesuatu yang berharga," kata Geovani.
Di sela-sela waktu itu aku tetap mencoba untuk pergi ke masa lalu dan tetap tidak berhasil.
Tidak terbayang aku akan tidak seberguna ini.
Air yang berada di mataku hampir sudah tak terbendung lagi, aku menangis bukan karena aku yang tidak berguna tapi karena aku yang tidak dapat menyelamatkannya karena aku hanya mengandalkan kekuatan psycho ini.