
"Maaf, tapi saya tidak mau membahayakan diri saya sendiri hanya untuk melindungi masyarakat yang tidak tahu terima kasih."
"Siapa yang menyuruhmu melindungi masyarakat?" tanya Tomo.
"Jadi gini, kalau aku bantu polisi berarti aku melindungi masyarakat dengan cara bantu nyelesain kasusnya itu," kataku.
"Oh begitu," kata Tomo.
"Berarti kita sudah boleh pulang pak?" tanya Tomo pada pak polisi.
"Boleh."
"Tunggu, sebelum pulang kalian pergi ke ruang guru dulu minta surat pemberitahuan," kata kepala sekolah.
"Pemberitahuan apa pak?" tanya Tomo.
"Ga usah banyak tanya napa, nanti juga tau sendiri," kataku pada Tomo.
Aku dan Tomo kemudian berjalan menuju ruang guru.
"Pak, kami menginginkan semua data tentang kedua anak itu!" kata polisi pada kepala sekolah.
"Untuk apa data itu?" tanya kepala sekolah.
"Bapak tidak perlu tau untuk apa data itu."
"Maaf, saya tidak akan memberikan privasi murid saya pada siapapun sekalipun itu seorang polisi," kata kepala sekolah.
"Jadi begitu yah."
...****************...
Saat kami sampai di ruang guru kami di beri 2 surat pemberitahuan tapi dari kedua surat tersebut tidak ada surat pemberitahuan untukku.
"Bu, kenapa hanya saya dan Geovani yang diberikan surat pemberitahuan bu?" tanya Tomo.
"Oh itu surat pemberitahuan untuk Geovani tolong diantarkan ke rumahnya, dia nggak turun sekolah hari ini," kata guru.
"Kenapa kita bu?" tanyaku.
"Rumah kalian kan dekat dengan rumahnya."
"Bu!!! kenapa hanya saya dan Geovani yang diberikan surat pemberitahuan, surat milik Kira kok nggak ada?" tanya Tomo
"Coba kalian baca isi suratnya nanti juga bakalan tau kenapa kira tidak dikasih," kata guru.
Aku membaca isi surat pemberitahuan tersebut ternyata memang benar, aku tidak perlu mendapatkannya.
"Memang benar, aku memang tidak perlu mendapatkannya," kataku.
"Aku nunggu di luar," kataku sambil berjalan ke luar dari ruang guru.
"Bu, boleh saya gunakan sebentar mesin Fotocopy itu?"
"Silahkan."
...****************...
Beberapa saat kemudian.
"Ayo pulang!" kata Tomo yang baru keluar dari ruang guru.
"Acara dari surat itu kan lusa, berarti aku nggak pergi ke sekolah lusa nanti," kataku.
"Entahlah," kata Tomo.
Kemudian kami berdua pulang bersama, dalam perjalanan pulang Tomo tidak banyak bicara seperti biasanya. Saat sudah hampir sampai di rumah Geovani Tomo berhenti.
"Kir!!!"
"Apaan?" tanyaku.
"Kamu aja yang kasih surat itu," kata Tomo sambil memberikan surat milik Geovani padaku.
"Kok gitu?" tanyaku.
"Sampingnya kan rumahmu kenapa harus aku yang kasih," kata Tomo.
"Alasan, palingan malu gara-gara kemaren sore." kataku.
"Baguslah kalau kau tau alasannya," kata Tomo.
"Oke," kataku sambil mengambil surat milik Geovani.
"Makasih Kira," kata Tomo sambil berlari ke arah berlawan.
Aku berjalan menuju rumahku, karena rumahku bersebelahan dengan rumahnya aku memutuskan meletakkan tas milikku dulu di rumahku baru mengantar surat ini.
"Hah, mana belum makan lagi aku dari tadi pagi," kataku sambil menghela nafas.
Setelah sampai di rumah aku pergi ke kamarku dan langsung berbaring di kasurku.
Lagi malas masak gini, beli di warung makan ajalah sekalian kasih surat milik Geovani.
Dengan masih menggunakan seragam sekolah aku pergi ke rumah Geovani tapi saat kupanggil berkali-kali tidak ada jawaban dan tidak ada seorangpun yang ke luar dari rumahnya, aku berniat meletakkan suratnya lewat bawah pintu tapi aku takut kalau suratnya rusak. Akhirnya aku memutuskan untuk untuk menyimpannya di rumahku dulu sampai nanti sore atau setelah aku pulang dari warung makan.
Kemudian aku kembali ke rumahku dan meletakkan suratnya di atas meja belajar dan kutinggalkan pergi ke warung makan.
Saat baru sampai aku melihat Tomo yang sedang makan di warung tersebut dan aku pergi menghampirinya.
"Kukira kamu langsung pulang," kataku.
"Oh, kwiwa kamwu mawu mwakaw buga?" kata Tomo dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Jangan bicara kalau mulut penuh," kataku.
Glug, glug, glug....
"Ah, minum es teh habis makan memang yang terbaik," kata Tomo.
"Bu, saya pesan nasi kuning lauk telur," kataku sambil duduk di meja yang sama dengan Tomo.
"Sudah kau antarkan suratnya?" tanya Tomo.
"Enggak ada orang di rumahnya jadi nanti aja, mungkin sore baru kukasih kalau ada orang di rumahnya," kataku.
"Berita apa?"
"Tadi malam, mayat dari korban KN ditemukan lagi."
"Aneh ya, sudah 70 tahun pelakunya belum ditemukan." Diskusi kedua orang yang duduk di meja belakangku.
Kalau menurutku sih mungkin KN 70 tahun yang lalu dan KN yang sekarang adalah orang yang berbeda.
"Hey kira, apa kamu serius enggak mau bantu polisi?" tanya Tomo.
"Sudah kubilang, enggak ada untungnya aku bantu mereka," kataku.
"Tapi kalau kamu bantu, kamu bisa jadi terkenal loh."
"Setelah aku terkenal apa yang kudapatkan?" tanyaku.
"Kau bisa dapat banyak cewek, hidupmu juga bakal dibiayai kan sama mereka," kata Tomo
"Ya, memang betul sih tapi aku kan sudah biayai hidupku sendiri lewat beasiswa dari pemerintah jadi untuk apa dibiayai lagi sama polisi."
"Oh iya, aku lupa kalau kamu dapat beasiswa, terus kenapa kamu enggak sekolah diluar atau di mana gitu yang sekolahnya lebih bagus?" tanya Tomo.
"Itu... entahlah."
"Setiap kali aku bertanya tentang itu pasti jawabannya sama."
"Lah terus harus dijawab apa?" tanyaku.
"Jawablah alasan kenapa kau enggak mau sekolah diluar atau sekolah besar."
"Mungkin karena dekat sama rumah," kataku.
"Dahlah."
Sambil berbincang dengan Tomo, akhirnya makananku tiba juga dan langsung memakannya.
"Kir, soal tersangka di sekolah tadi aku berterima kasih sudah bantu aku," kata Tomo.
"Dih, ngedrama," kataku.
"Orang ngucap terima kasih di bilang ngedrama, maumu apa? kata Tomo.
Aku tidak butuh terima kasihmu, melihatmu mau berteman dengan monster saja sudah cukup bagiku.
"Entahlah," kataku.
"Menurutmu apa besok kita sekolah setelah kejadian tadi pagi?" Tanya Tomo.
"Tentulah, kan yang tau soal itu cuma kita berdua sama guru-guru," kataku.
Singkat cerita saat sudah selesai makan di warung aku pergi pulang ke rumahku tetapi sebelum sampai di rumahku aku menghampiri rumah Geovani untuk mengecek apakah sudah ada orang di rumahnya.
"Hadeh, masih belum ada orang juga, mungkin nanti sore aja lah atau nanti malam."
Kemudian aku pulang ke rumahku. Saat sampai di kamar, aku langsung menjatuhkan badanku ke kasur dan tidak lama setelah itu alu tertidur pulas.
...****************...
Di suatu gang yang sepi, seseorang yang menggunakan Hoodie serta memakai topeng datang dan berbicara kepada seorang pria yang sedang berjalan di gang tersebut.
"Permisi kak, bolehkah saya numpang bertanya?" tanya orang yang menggunakan topeng.
"Hey akan kuberitahu satu hal padamu, jika kau ingin bertanya lepas dulu mainan di wajahmu."
"Apa boleh saya tau alasan kenapa anda menusuk perut seseorang dari belakang tadi pagi di sekolah?"
"Hah? Memangnya aku perlu alasan saat menusuk perut orang dari belakang?.
"Dan juga bukankah sudah kubilang lepaskan mainan itu dari wajahmu jika ingin bertanya," kata pria tersebut sambil mencoba merampas topeng tersebut.
Dengan cepat orang yang menggunakan topeng langsung menendang kaki pria tersebut sampai terjatuh dan mematikan gerakannya.
"Kalau boleh tau atas dasar apa kau menusuk perut seseorang tadi pagi?"
"Seseorang yang kau maksudkan adalah Akihiro Akira kan? Apa hakmu menanyakan hal itu."
"Wah, baguslah kalau kau mengenalnya jadi masalah ini tidak akan panjang."
"Apa masalahmu?"
"Dengar!!! Jika kau berani macam-macam dengan Kira, aku tidak akan segan-segan membunuhmu dan menggantung mayatmu di tiang lampu jalanan," kata orang yang menggunakan topeng.
Setelah memberi peringatan kepada pria tersebut, orang yang menggunakan topeng berjalan pergi meninggalkan pria tersebut yang masih tergeletak di tanah.
"Sudah kubilang kalau bicara dengan seseorang, LEPASKAN MAINAN ITU DARI WAJAHMU!!!" kata pria tersebut dengan marah.
Pria tersebut mengayunkan tangannya ke arah orang yang menggunakan topeng dari jauh dan seketika topeng yang menutupi wajahnya langsung hancur.
"Wa-wanita! kau seorang wanita!" kaget pria tersebut.
"Apa salahnya jika aku seorang wanita?!"
"Hey tunggu, sepertinya aku tau kenapa kau menusuk Kira. Kau menusuknya karena kau juga seorang psycho sama sepertinya," katanya sambil mendekatinya.
"Ka-kau!"
"Kau menghancurkan topengku dan melihat wajahku, kalau sudah begini cukup susah untuk membiarkanmu hidup." dia berkata sambil mengambil pisau dari saku celananya dan mencabutnya dari penutupnya.
"Ka-kau juga seorang psycho bukan?" tanya pria tersebut.
"Aku? Seorang psycho? Jangan bercanda, aku hanyalah bayangan, bayangan dari Akihiro Akira."
Dengan sangat ketakutan pria tersebut mati gaya dan tidak berani melihat matanya.
"Aku tidak berniat membunuhmu hanya karena mengetahui identitasku tapi jika kau macam-macam lagi dengan Kira aku tidak akan berpikir dua kali untuk membunuhmu dan menggantung mayatmu di tiang lampu jalanan."
Setelah mendengar peringatan kedua kalinya pria tersebut langsung lari tanpa sepatah katapun.
Untuk seorang psycho dia sangat penakut, baru ditakuti dengan pisau saja sudah seperti itu, kau menusuk kira tapi kau takut ditusuk juga. Gumam wanita tersebut.
"Jika kau siap membunuh kau juga harus siap untuk dibunuh."