
"Haa, Besok umurmu sudah 18 tahun jadi...." kataku.
"Tapi karena satu hal mungkin aku akan hidup lebih lama lagi," kata Geovani dengan tersenyum padaku.
"18 tahun ya, kukira pertama kali kita bertemu di kelas kita seumuran eh ternyata kamu lebih tua 2 tahun dari aku," kataku.
"Ha? apa penampilanku waktu itu tidak menunjukan aku berumur 18 tahun?" tanya Geovani.
"Enggak, karena kalo dilihat dari tinggimu tidak memadai untuk dipandang 18 tahun," kataku.
"Oh, begitu ya."
Kemudian aku menyiapkan makanan tadi dan meletakkannya di meja makan dan tiba tiba Geovani berbicara tentang vampir.
"Jadi... mau dijelaskan selesai makan atau sambil makan aja tentang vampir ini,"
"Aku tidak mau penjelasan! memangnya untuk apa aku mengetahuinya?" tanyaku.
"Karena aku menjalin kontrak denganmu jadi aku harus menjelaskannya," kata Geovani.
"Kontrak? kontrak apa lagi?" tanyaku.
"Iya makanya itu mau kujelasin."
"Ya udah, nanti aja selesai makan," kataku.
"Aku tidak tau pasti kapan vampir pertama lahir tapi ya–"
"Oy, bukankah sudah kubilang tunggu selesai makan jelasinnya," kataku.
"Aku udah ngantuk banget jadi sekarang aja," kata Geovani.
Inilah kenapa alasan aku tidak ingin berurusan dengan perempuan.
"Kalau kamu mau begitu aku ikut aja, btw kamu enggak makan?" tanyaku.
"Setelah membuat kontrak, vampir tidak akan mati jika dia tidak makan," kata Geovani.
"Akan kujelaskan hal-hal yang penting saja, dengar baik-baik oke!" kata Geovani.
Jawabku hanya dengan anggukan kepala.
Geovani menjelaskan hal-hal penting tentang vampir yang membuatku sedikit terkejut karena vampir asli sangat berbeda dengan mitos, mitologi maupun legenda manapun tentang vampir. Geovani menjelaskan bahwa vampir muda yaitu dari lahir sampai berumur 17 tahun hanya memakan buah-buahan dan makanan yang sama seperti manusia dan ketika umur mereka sudah menginjak 18 tahun mereka akan mati apabila tidak membuat kontrak dengan manusia, jadi vampir harus terlebih dahulu membuat kontrak dengan manusia sebelum umur mereka menginjak 18 tahun.
Apabila vampir telah membuat kontrak, vampir tidak perlu lagi makan makanan manusia, mereka hanya perlu meminum darah manusia yang menjalin kontrak dengannya ditambah vampir yang telah membuat kontrak tidak akan bisa mati kalau manusia yang menjalin kontrak dengannya belum mati.
Ah meresahkan, kenapa hidupku selalu dikelilingi hal-hal yang harusnya tidak diketahui manusia. Pertama aku abadi kedua aku dapat kekuatan psycho atau apalah itu ketiga sekarang aku membuat kontrak dengan vampir.
Arrgghh, selama enggak ada yang tau mungkin enggak apa-apa, mungkin.
Dengan perlahan Geovani berjalan ke arah belakangku dan tiba tiba menggigitku bagian leherku lagi.
"Aw, ngapain weh? tanyaku.
"Aku lagi minum darahmu lah, bukankah sudah kubilang kalau vampir yang sudah membuat kontrak hanya butuh meminum darah," jawab Geovani
"Jadi sampai kapan aku harus memberimu darahku terus?" tanyaku.
"Jadi gini ya Kira, kalau manusia yang menjalin kontrak belum mati maka sang vampir tersebut juga tidak akan mati," kata Geovani.
"Pasti kamu enggak dengarkan betul-betul aku jelasin tadi," kata Geovani.
"Jadi aku harus memberimu darahku terus sampai aku mati?" tanyaku.
"Ya, begitulah."
Gawat, kalau Geovani sampai tau aku ini abadi apa yang akan terjadi ya. Bisa dibilang karena aku abadi dia juga abadi dan bisa kusimpulkan kalau tato di tanganku ini sebenarnya lambang kontraknya.
Kalau aku memotong tanganku yang ada lambang kontraknya apa itu berarti kontraknya batal, lagipula aku ini abadi jadi nanti tanganku akan tumbuh lagi.
"Ngomong-ngomong kamu tinggal sendirian disini?" tanyaku.
"Iya, aku pergi atas izin dari orang tuaku untuk membuat kontrak dengan manusia."
"Tentang lambang kontrak ini, apa bisa dihilangkan?" tanyaku.
"Sayangnya itu tidak bisa hilang. Maaf ya, aku memilihmu tanpa meminta persetujuanmu."
"Jadi, karena kamu tinggal sendiri sepertinya kamu tidak akan pergi ke sekolah besok menurut surat tersebut bukan?"
"Iya, karena surat pemberitahuan itu untuk membawa orang tua murid ke sekolah untuk pemberitahuan," kata Geovani
"Aku juga enggak pergi nanti," kataku.
"Kalau kamu enggak pergi berarti ... apa walimu sibuk?" tanya Geovani.
"Aku tidak punya wali, karena alasan tertentu semua keluargaku tidak ada yang mau merawatku."
"Memangnya apa pentingnya pertemuan orang tua di sekolah itu? tidak ada bukan?"
"Kamu enggak pulang? udah malam banget ini," kata Geovani.
"Benar juga, kalau begitu aku pulang."
"Tunggu!!! sekali lagi," kata Geovani.
"Apanya?" tanyaku dengan bingung.
"Darahmu."
Geovani pun langsung menggigit leherku lagi dan setelah selesai dia berbicara padaku.
"Mulai sekarang kamu akan sering kekurangan darah jadi makanlah yang banyak, bu-bukan berarti aku perhatian padamu aku hanya tidak mau kamu anemia karena aku."
"Udah pulang sana," kata Geovani dan langsung mendorongku keluar dari rumahnya.
Kemudian aku berjalan pulang kerumahku sambil menatap langit malam.
Aku... aku... hanya ingin hidup normal, gimana ya kenapa aku, aneh banget dari banyaknya makhluk hidup di dunia kenapa aku. ada satu yang bisa kuselesaikan sekarang.
Aku dengan cepat langsung masuk kedalam rumahku dan pergi ke dapur mengambil pisau.
"Kalau aku memotong tanganku yang ada lambang ini maka kontraknya mungkin akan batal," kataku sambil memegang pisau yang hendak kupotongkan ke tanganku.
Memangnya kalau aku memotong tanganku, masalahnya akan selesai, berpikir ayo berpikir kira, memangnya apa yang akan terselesaikan. Apa salahnya kamu menampung hidupnya? mungkin dia akan sedikit berguna.
Tunggu, Geovani adalah perempuan, dia seorang perempuan dan pasti berguna bagi pribadiku sebagai laki-laki. Tidak!!! apa yang kau pikirkan kira, laki-laki macam apa kau! Jika aku melakukan itu aku adalah sampah saking sampahnya truk sampah sampai tidak ingin memungutku.
Kalau aku memotong tanganku sekarang, masih ada kemungkinan Geovani masih bisa membuat kontrak dengan orang lain hari ini, sekarang masih jam 2 pagi jadi Geovani masih bisa mencari orang lain hari ini sampai besok.
Aku berkelahi dengan diriku pada saat itu, sampai dimana aku sudah muak dan meluncurkan pisau itu pada diriku sendiri sampai aku pingsan
Di pagi hari masih dengan hari yang sama terdengar suara bel di rumah ku.
"Pasti masih tidur ini kira, aku harus bertanya apa yang terjadi," kata Tomo sambil terus menekan bel.
"Bah mana nih orangnya?" –Tomo memegang gagang pintu– "Astaga enggak dikunci pintunya."
"Bentar ya Geovani, biar aku panggil Kira kamu tunggu di sini aja."
Tomo berjalan ke kamarku namun tidak menemukanku dan dia pergi ke dapur dan melihatku bersujud sambil menusuk perutku dengan pisau.
"Oy bangun, sekolah," kata Tomo sambil memainkan wajahku.
"Ada yang mau kutanyakan," Kata Tomo.
"Kalau soal per-"
"Kalau soal perut aku sudah tau, pasti mau bunuh diri kan?" kata Tomo
"Ini soal Geovani yang menunggu mau berangkat sekolah di depan rumahmu," kata Tomo.
"Kenapa? cemburu?" tanyaku.
"Enggak lah, memang betul aku pernah bilang dia cantik, tapi bukan berarti suka bukan?"
"Oh."
"Cepat sana sekolah woi!!!"
Aku kemudian berdiri dan meletakkan pisau yang masih menusuk di perutku dan bersiap untuk ke sekolah.
"Kira, kamu tau satu pepatah ini?" tanya Tomo.
"Pepatah apa?" tanyaku.
"Rumahmu tanpa darah bukanlah rumahmu."
"Apa sih?"
"Ngomong-ngomong tangan kananmu."
"Oh. Ini, hebat bukan tato ini," kataku.
"Tato lambang itu? tanya Tomo.
"Ini lambang Vampir."
"Keren juga, karena bosan hidup jadi masang tato. Emang enggak apa-apa di situ? Bisa ketahuan guru?"
"Siapa peduli."
Tadi pagi jam 2 aku memutuskan untuk menusuk perutku sendiri untuk membuatku pingsan dan juga aku memutuskan untuk menampung hidupnya, tapi dengan janji jantungku sendiri sebagai taruhannya 'apabila aku mengotorinya dengan tanganku sendiri maka aku akan menghancurkan jantungku sampai 10 kali dengan tanganku sendiri."
"Besok pertemuan orang tua aku enggak pergi," kataku.
"Kenapa?" tanya Tomo.
"Sok polos juga."
"Aku tau orang tua mu sudah meninggal, dan kamu tidak punya wali juga. Liat aja besok kamu bakal pergi," kata Tomo.
"Terserah mu lah."
"Cepat woi, jam segini baru mau mandi. enggak usah mandi lah," kata Tomo.
"Pala kau enggak usah mandi, liat darahku."
"Makanya jangan lebay pengen bunuh diri."
Selesai aku bersiap-siap dan beranjak keluar dari rumah aku terkejut, ternyata benar Geovani menunggu di depan rumahku.
"Tunggu sebentar, ada yang ketinggalan," kataku.
Aku kembali masuk ke rumahku dan mengambil botol air minum dengan warna gelap dan mengambil pisau untuk menggores tanganku dan memasukkan darah itu ke botol air minum.
"Maaf lama."
Aku kemudian memberikan botol itu kepada Geovani.
"Ada apa nih Kir, jangan-jangan kalian."
"Apaan dah, mending berangkat ke sekolah daripada terlambat."