Fate 7 Psychokinesis

Fate 7 Psychokinesis
Ch 30. Resiko dalam kegiatan adalah kematian



Setelah menjatuhkan mereka aku mengambil senjata api mereka dan aku terkejut karena senjata itu hanya mainan.


"Ini hanya senjata mainan, tapi satu senjata yang lain juga asli," kataku.


"Apa sebaiknya kita bangunkan semua orang?" tanya Asada padaku.


"Sebaiknya jangan, karena mereka pasti akan panik karena semua ini," jawabku.


"Pramugari yang tadi!!!" kagetku.


Aku langsung berlari ke arah belakang untuk melihat apa yang terjadi dengan pramugari yang membagikan masker tadi.


Saat aku tiba untunglah pramugari tersebut tidak terluka dan hanya terduduk kelelahan.


Untunglah, sepertinya yang tidak tertidur akibat masker hanya aku, Asada, dan pramugari ini.


"Mbak nggak apa-apa kan?" tanyaku pada pramugari.


"Iya... Salah."


"Salah?" bingungku.


"Salah satu dari mereka membawa bom untuk meledakkan pesawat ini," kata pramugari.


"Apa kau tau yang mana membawa bom?" tanyaku.


"Saya tidak tau, saya hanya mendengar mereka membawa bom untuk meledakkan pesawat ini," jawab pramugari.


"Begitu ya," kataku.


Sebelum bertemu dengan pramugari, Asada menyentuh bahuku dan berkata 'Kalau aku menyentuhmu saat tak terlihat maka kau akan terlihat kembali'.


Tiba-tiba Asada datang menemuiku bersama dengan Masaki yang ada di sebelahnya.


"Masaki? kau bangun?" bingungku.


"Aku menyetrumnya dengan listrikku, hanya dia yang bangun, sedangkan Ibnu dan yang lain tetap tidak bangun saat aku menyetrum mereka," kata Asada.


"Ya begitulah," jawab Masaki.


"Aku sudah dengar semuanya dari Asada, jadi apa rencanamu wakil pemimpin?" tanya Masaki padaku.


"Untuk sekarang aku masih belum terpikir sesuatu," jawabku.


"Tunggu! kalau semua berada di sini? siapa yang berjaga di tempat penumpang?" tanyaku.


"Tidak ada," jawab Asada.


Booom…!


Terdengar suara ledakan dari depan, karena khawatir aku pergi ke sana dan melihat ada lubang di pesawat yang tidak terlalu besar.



"Bomnya sudah diledakkan!" kataku.


"Hey! kau yang di sana!"


Itu orang yang tadi aku pukul sudah terbangun, tapi di mana satunya tadi.


"Angkat tanganmu!" suruh pria itu sambil menodongkan senjata api dari jauh.


Aku menuruti saja perkataannya karena aku belum mempunyai rencana apapun dan aku tak tahu apa itu senjata asli atau mainan saat aku memeriksanya karena aku lupa.


"Aku kira semua sudah tertidur," kata penodong senjata api.


Untung saja para penumpang menggunakan sabuk pengaman jadi tidak ada yang terhisap ke luar pesawat.


Dari belakangku Asada dan Masaki muncul tanpa basa-basi Masaki langsung berjalan sambil menutup wajahnya dengan tangannya yang telah berubah menjadi baja.


"Tangannya!" kataku.


"Itu kekuatannya, dia bisa merubah tangannya menjadi baja," jawab Asada.


"Hati-hati! jangan sampai terhisap ke luar pesawat," kataku pada Masaki.


"Jangan mendekat atau aku tembak!"


Saat sudah dekat Masaki langsung menghantam wajah pria tersebut sampai hancur dengan tangan baja miliknya. Tanpa kita sadari sebelum Masaki menghancurkan wajahnya pria tersebut sudah lebih dulu mengaktifkan bom di badannya.


Pip… pip… pip… pip… pip…


"Suara apa itu?" tanya Asada.


"Itu bom! MASAKI!!! MENJAUH DARI SANA!!!" teriakku dengan sangat keras pada Masaki.


"Ha?!" bingung Masaki.


Duar….


Sekali lagi satu ledakan terjadi dan itu terjadi sangat dekat dengan Masaki.


"Tenanglah Kira, tangannya terbuat dari baja jadi dia bisa melindungi tubuhnya dengan itu dari ledakan bom itu," kata Asada.


"Kalau itu aku juga tau, yang jadi masalah dinding pesawat yang hancur dan akan menghisap Masaki ke luar pesawat," kataku.


"Benar juga," kata Asada.


Di tempat meledaknya bom tadi banyak sekali asap jadi kami tak bisa melihat apa ada Masaki di sana tetapi yang pasti ada lobang akibat ledakan itu.


Tidak terdengar suara jawaban dari Masaki, setelah aku melihat ke luar jendela aku melihat ada 3 orang terhisap ke luar pesawat dan salah satunya adakah Masaki.


"Masaki?!" d-dia jatuh," kataku.


"Bohong!" kata Asada kemudian juga ikut melihat dari jendela.


"Dia pasti punya kan kekuatan yang bisa selamat dari situ?" tanyaku pada Asada.


"Tidak, kekuatannya hanya merubah tangannya menjadi baja tidak bisa anggota tubuh lain dan bernafas dalam air," jawab Asada.


"Jadi, di-dia mati?" tanyaku.


"Mungkin masih bisa selamat kalau sempat membangunkan salah satu dari mereka," kata Asada.


Aku dan Asada mencoba membangunkan salah satu dari mereka tapi tidak ada satupun yang bangun.


~Ruang Kokpit~


"Ada apa sih ribut banget di belakang."


"Sepertinya ada yang bangun dan memberontak melawan."


"Hey! cepat nyalakan auto-pilotnya," kata satu pembajak pada pilot sambil menodongkan senjata apinya ke kepala pilot.


"B-baik-baik."


"Sudah saya nyalakan, tolong ampuni nyawa saya," pintanya pada orang yang menodongkan senjata api padanya.


"Hahahaha, tidak akan."


Dor....


~~


"Mereka tidak mau bangun," kataku.


"Itu ... suara tembakan, asalnya dari kokpit," kataku.


"Masaki sudah tak bisa di selamatkan, lebih baik kita selamatkan yang ada disini," kata Asada.


"Kenapa? kenapa? kenapa kau begitu tenang saat kau tau rekanmu mati?" tanyaku.


"Ini adalah pekerjaan dan kematian adalah resikonya, aku tau aku sedih, tapi sekarang bukan waktunya. Banyak sekali rekanku puluhan- tidak bahkan ratusan mereka semua mati karena pekerjaan memburu psycho untuk membersihkan dunia, dari ratusan rekanku yang telah tiada aku sadar bahwa sedih atau menangis tak akan menghasilkan apa-apa," jawab Asada.


Itu benar, ada apa denganku? saat kejadian Tomo aku tidak begini, Seingatku. Semoga kau tenang Masaki, enak ya dia main terjun dari pesawat setelah itu mati, hahahaha. Sial! apa yang aku pikirkan.


"Bukannya ada 2 orang yang berjaga di sini? di mana satunya?" tanyaku.


"Mungkin dia juga meledakkan dirinya saat bom pertama tadi," jawab Asada.


"Pesawat ini harus mendarat darurat," kataku.


"Kunci dari semua ini hanyalah membangunkan Ibnu, kalau dia bangun kita bisa memintanya untuk langsung teleportkan saja pesawat ini," kata Asada.


"Kenapa tidak dari awal saja kita teleport langsung ke Tokyo," tanyaku.


"Tidak ada gunanya mempermasalahkan itu sekarang," jawab Asada.


"Setelah ini semua selesai akan kutanyakan itu pada Nobu," kataku.


"Kau yakin sekali hal ini akan selesai," kata Asada.


"Ya, akan kuselesaikan ini," kataku dengan serius.


Akan aku bantu, sampai selesai walau hanya kita berdua Kira, gumam Asada.


Dor…


"Suara tembakan lagi, lagi-lagi asalnya dari kokpit," kataku.


"Bisa saja itu suara ancaman untuk pilot dan kopilot yang ada di kokpit sana," kata Asada.


"Aku akan pergi ke sana," kataku.


Saat aku hampir memasuki ruang Asada berkata padaku tapi karena jauh dan suara angin yang bising aku jadi tak bisa mendengarnya dengan jelas.


"KIRA!!! aku menyukaimu!" kata Asada.


"Ha? apa kau katakan?" tanyaku.


"HATI-HATI!" kata Asada.


Dilihat dari mulutnya sepertinya dia berkata 'hati-hati'.


...****************...


"Huh, aku akan mati, terjun dari ketinggian seperti ini tidak mungkin bisa selamat dan juga aku jatuh ke daerah perkotaan," kata Masaki saat terjatuh dari pesawat akibat ledakan tadi.


"Padahal aku baru saja menemukan orang yang benar-benar cocok sebagai wakil pemimpin Assasin, bahkan dia meneriakkan namaku sebelum ledakan terjadi."


Maaf semuanya, perjuanganku hanya sampai di sini. Maaf Ibu, aku tak bisa menemukan orang yang membunuh ayah dan adikku, gumam Masaki.


Perlahan mata Masaki mengeluarkan air mata dan air mata tersebut sampai terbang tak beraturan.


"Ah~ aku akan mati, tidak aku sangka akan mati dengan cara seperti ini tapi ya seperti ini juga tidak terlalu buruk. Aku serahkan sisanya pada kalian dan juga jadilah wakil pemimpin yang hebat Akihiro Akira."