
Indonesia, Jakarta tahun 2003 seorang wanita melahirkan bayi dan memberikan nama pada bayi itu Ibnu Rahman, bayi itu kemudian tumbuh menjadi seorang anak yang kuat dan sehat pada umur 5 tahun. Tapi itu semua tidak bertahan lama.
"Ibu! tahun depan aku sudah bisa sekolahkan?" tanya Ibnu kecil pada ibunya.
"Iya, kamu bakal punya banyak teman nanti," kata ibunya dengan senyum yang hangat.
Keesokan harinya entah kenapa Ibnu kecil kebingungan karena sifat ibunya sangat aneh, mulai hari itu ibunya sering menyakiti Ibnu tanpa alasan yang jelas, saat Ibnu kecil bertanya kenapa dia sering disakiti ibunya menjawab 'Ini adalah bukti kasih sayangku padamu anakku' sejak itu Ibnu sudah mulai terbiasa dengan pukulan ataupun siksaan dari ibunya karena Ibnu kecil menganggap itu semua adalah kasih sayang.
1 bulan kemudian di suatu pagi karena Ibnu kecil merasa tidak kuat dengan semua itu, dia mulai bertanya tentang dimana ayahnya.
"Bu, ayah kemana? sudah lama nggak ketemu," tanya Ibnu kecil.
Ibu Ibnu tidak menjawab dan hanya terdiam sambil menonton TV.
Karena bosan Ibnu pergi keluar rumahnya untuk menghirup udara seger dan melihat kotak surat dirumahnya ada koran dan mengambil koran tersebut.
Ibnu kecil bisa dikatakan sangat pintar karena dia sudah bisa membaca dan menghitung dengan lancar pada umur 3 tahun berkat ayahnya yang selalu mengajarinya walaupun masih belum mengerti beberapa kata.
Ayah Ibnu adalah seorang Polisi, Ibnu kecil pernah berkata bahwa ayahnya sangat hebat dan ingin menjadi hebat seperti ayahnya. Menangkap penjahat dan melindungi orang-orang.
"Suatu saat aku akan menjadi seperti ayah dan akan melindungi semua orang dari kejahatan," kata Ibnu saat masih berumur 3 tahun.
...****************...
"Ini koran bulan lalu, ternyata ada disini," kata Ibnu kecil.
Karena tertarik membacanya Ibnu kecil membawa koran itu ke teras rumahnya dan membacanya di sana.
"Hmmmm, di koran ini mirip sekali dengan wajah ayah," kata Ibnu kecil.
"Pria bernama ... mengalami tabrak lari dan meninggal di tempat," baca Ibnu.
"Namanya juga sama dengan nama ayah," kata Ibnu kecil.
Karena penasaran Ibnu berjalan menemui ibunya dan bertanya apakah di berita ini adalah ayah.
Tiba-tiba Ibnu kecil mendapat tamparan dari ibunya dan dengan kasar ibunya mengambil koran tersebut dan merobeknya.
"Aduh, ibu?" khawatir Ibnu.
"Kenapa kau membawa koran ini padaku hah?" tanya ibu Ibnu dengan kesal sambil mencubit keras Ibnu.
"Duh, sakit bu," kata Ibnu dengan kesakitan.
"Cepat buang sobekan koran ini," kata ibu Ibnu dengan tegas.
"Bu?"
"Apa lagi hah? cepat buang itu!" kata ibu Ibnu dengan kesal.
"Apa ayah sudah meninggal dan kecelakaan di koran itu adalah ayah?" tanya Ibnu.
"Iya, dia ayahmu, sekarang sudah ada di bawah tanah," jawab Ibu Ibnu.
"Pantas saja sifat ibu berubah," kata Ibnu kecil.
"Apa lagi yang kau tunggu!? cepat buang koran itu!" perintah Ibu Ibnu dengan tegas.
Bukannya menuruti perkataan ibunya Ibnu malah memeluk ibunya sembari berkata,
"Sudah bu, jangan begini terus, relakan saja ayah."
"Ha? lepaskan pelukanmu itu!" kata Ibu ibnu dengan tegas sambil mencoba melepaskan pelukan Ibnu kecil.
"Ibnu tau ibu sedih tapi bukan seperti ini caranya, Ibnu juga sedih," kata Ibnu.
"Siapa kau menasehatiku hah?"
"Aku anak kandungmu yang selalu ibu siksa dengan alasan kasih sayang, sekarang aku tau alasan kenapa ibu berubah," kata Ibnu.
"Sudah bu, masih ada Ibnu di sini, mau bagaimanapun ibu mengasuhku aku tetap anak ibu," kata Ibnu.
Di pelukan Ibnu, terlihat ibu Ibnu sudah tak tahan membendung air matanya dan perlahan mengeluarkan air matanya sampai membasahi pipinya.
"Maafkan ibu nak, ibu kehilangan kendali setelah kepergian ayah sampai melampiaskan padamu,"
Sejak saat itu Ibnu mengira ibunya sudah kembali seperti dulu lagi karena sudah tidak menyiksanya lagi, tapi ternyata tidak.
1 tahun kemudian saat Ibnu kecil masuk sekolah untuk pertama kalinya dia diantar ibunya sampai di depan kelas.
"Jadi anak yang pintar ya, rajin belajar, cari teman yang baik tidak perlu banyak yang penting dia selalu ada saat kamu susah atau senang, jangan lupa makan terus setiap hari," kata ibu Ibnu dengan senyumnya yang sangat hangat dan penuh kasih sayang.
"Kamu pulang sendirian bisa kan? ibu lagi banyak kerjaan di rumah jadi pulang duluan boleh?" tanya ibu Ibnu.
"Iya, nggak apa-apa bu, ibu habis pulang istirahat aja nanti Ibnu yang bersih-bersih rumah kalau sudah pulang sekolah," kata Ibnu
Anakku sangat hebat baru berumur 6 tahun dia sudah menjadi seorang dewasa bagiku, maaf yah ibu harus ninggalin kamu sendiri. Dunia ini keras dan jangan lupa yang aku katakan tentang teman tadi, gumam ibu Ibnu sambil meninggalkan kelas dan melambaikan tangan pada Ibnu kecil.
...****************...
"Baiklah karena kalian semua telah memperkenalkan diri, ibu kan beri kalian tugas pertama kalian," kata ibu guru.
"Tugasnya tidak susah, kalian kerjakan saja dan ibu akan menilainya," kata guru.
Setelah semua selesai mengerjakan, guru tersebut terkejut setelah memeriksa ternyata salah satu murid mendapat nilai sempurna, dan anak itu bernama Ibnu Rahman.
"Hebat, untuk seumurannya dia anak yang hebat," kata guru.
Setelah dibagikan hasilnya Ibnu terlihat sangat senang sekali mendapat nilai sempurna.
"Aku harus memperlihatkan ini pada ibu, pasti akan sangat senang dan memelukku lagi," kata Ibnu dengan semangat.
"Ibu! boleh saya pulang?" tanya Ibnu pada guru.
"Kenapa? kamu sakit?" balik tanya guru pada Ibnu.
"Tidak," jawab Ibnu.
"Jadi kenapa kamu mau pulang?" tanya guru.
"Saya mau memperlihatkan pada ibu saya kalau saya dapat nilai bagus," kata Ibnu.
"Oh begitu, boleh tapi nanti saat kamu sudah pulang sekolah," kata guru.
"Oh tunggu pulang sekolah, jadi kapan pulang sekolahnya bu?" tanya Ibnu.
"Hmmmm, masih lama, kita akan pulang saat jarum jam menunjuk pukul 10," kata guru sambil menunjuk ke arah jam yang ada di dinding.
"Oh begitu, apa saya bisa pulang lebih cepat?" tanya Ibnu.
"Hahahaha, tidak bisa nak, kita akan pulang sama-sama nanti," jawab guru.
Tiba-tiba terdengar suara bel yang artinya menunjukan kalau waktu istirahat telah tiba.
Karena baru pertama kali mendengar bel tersebut semua murid ketakutan mendengarnya bahkan ada yang berkata kalau itu serangan monster.
"Bunyi apa tuh?" bingung semua murid.
"Monster, monster akan menyerang."
"Itu bukan suara monster, tapi bel tanda istirahat," kata guru.
"Oh, aku pernah dengar itu dari orang tuaku, kalau ada bel artinya kita ke kantin," kata salah satu murid.
Gurupun tertawa melihat kepolosan mereka karena masih kecil.
Singkat cerita, saat pulang sekolah dan dalam perjalanan menuju rumah, Ibnu sangat bahagia karena dia akan memperlihatkan nilai bagusnya pada ibunya.
"Aku pulang," kata Ibnu saat sampai di depan rumah.
"Ibu? ibu dimana?" kata Ibnu.
Setelah mencari di dalam kamar ibunya, Ibnu juga tak menemukan ibunya.
"Sebaiknya aku meletakkan dulu tasku baru mencari ibu, sepertinya ibu ada di kamar mandi," kata Ibnu.
Saat membuka pintu kamarnya, Ibnu terkejut dan terdiam seperti patung tanpa sepatah katapun karena melihat ibunya yang sudah gantung diri di kamarnya.