
"Tidak berguna, aku tidak mau lagi berurusan dengan psycho lagi mulai sekarang, kalau ada hubungannya dengan Rei baru aku mau" kataku.
Aku meninggalkan orang tersebut dan membiarkannya pingsan di toilet.
Sepertinya dia juga psycho, cih tidak ada urusannya denganku.
Saat dalam perjalan menuju pondok tiba-tiba hujan yang sangat deras turun. Aku langsung berlari menuju pondok walaupun aku sudah berlari secepat mungkin yang kubisa aku tetap kebasahan walaupun tidak terlalu banyak tapi ya tetap basah juga.
"Deras banget hujan, mana tiba-tiba lagi," kata Geovani.
"Iya, padahal tadi cerah banget, nggak ada tanda-tanda mau hujan," kataku.
"Ya ampun Kir!!!" kaget Geovani.
"?"
"Kamu kehujanan," kata Geovani.
"Nih handuk buat keringin kepalamu," kata Geovani sambil memberikan handuknya padaku.
"Makasih, niat banget kamu sampai bawa handuk," kataku.
"Jelas lah," kata Geovani.
Ini sedikit aneh, tidak ini sangat aneh. Bagaimana bisa cuaca yang tadi cerah tidak ada awan hujan sedikitpun tiba-tiba hujan sangat deras. Mungkin ini hujan panas, tidak karena cuaca sekarang sedang gelap.
"Jadi nggak seru nih hehehe," kata Geovani dengan senyum kecilnya.
Duar!!!
suara petir yang begitu kencang mengagetkanku dan Geovani saking kencangnya suara petir tersebut.
"Kamu nggak takut? aku liat kamu cuma kaget doang," tanyaku.
"Kenapa memangnya?" tanya Geovani.
"Kudengar perempuan bakal takut sama petir dan bakal langsung peluk sesuatu kalau ketakutan," kataku.
"Oh, jadi ceritanya kamu pengen di peluk nih?" kata Geovani.
"Enggak."
Apa mungkin psycho yang aku buat pingsan tadi mempunyai kekuatan merubah cuaca, dan karena aku ingin pergi dia mengubah cuaca ini agar aku tidak bisa pergi kemana-mana dan dia bisa mencariku dengan mudah.
Hahahahahaha nggak mungkin lah, aku aja yang terlalu bawa serius padahal cuma hujan. Kalau dipikir emang aneh sih, argh!!!
"Vani!" panggilku.
"Ya?" saut Geovani.
"Tau nggak cara lupa ingatan tapi nggak semuanya yang hilang?" tanyaku.
"Ha? ada apa emangnya?" tanya Geovani.
"Kalau nggak ada ya nggak usah," kataku.
"Ngomong-ngomong Kir, kok bekas gigitan di lehermu nggak ada? padahal taringku selalu kupanjangkan kalau mau minum,"
"Hmmm, 'kupanjangkan' jadi gigimu bisa kamu atur sendiri?" tanyaku.
"Iya."
"Buset, praktis banget," kataku.
"Tentang bekas gigitan yang kamu tanyakan tadi, khusus di bagian leher regenerasi kami manusia lebih cepat di banding anggota tubuh lainnya," kataku dengan santai.
Kumohon, semoga saja dia nggak tau kalau itu cuman bohongan, aku nggak tau lagi harus jawab apaan.
"Oh begitu, aku baru tau. Ternyata tidak semua buku tentang manusia itu benar," kata Geovani.
"Ya, begitulah," kataku.
"Apa vampir lain juga minum dari leher?" kataku.
"Tidak, ketika aku ingin pergi ke sini, orang tuaku menyuruhku untuk hanya meminum dari tangannya saja tapi kakakku berkata 'usahakan sebisa mungkin minum dari leher, untuk mencobanya apakah dia cocok atau nggak tinggal kamu gigit tiba-tiba aja terus kamu liat dia masih hidup apa enggak' " kata Geovani.
"Jadi karena itu kamu tiba-tiba gigit aku di rumahmu saat pertama kali kita ketemu," kataku.
"Hehe, maaf baru bilang sekarang," kata Geovani dengan senyum kecilnya.
"Emang ada bedanya kalau di tangan atau di leher?" tanyaku.
"Entah, aku belum pernah rasain rasanya," kata Geovani.
"Kalau rasanya yang aku kasih dalam botol minum pas berangkat sekolah itu gimana?" tanyaku.
"Hmmmm, aku lupa tapi seingatku ada yang aneh sama rasanya, agak beda sama rasa yang kamu kasih waktu malam pertama kamu bikin kontrak," Kata Geovani.
Ternyata betul, bagian leher dan anggota yang lain berbeda rasanya.
"Malam pertama ya," kataku.
Wajah Geovani kemudian mulai memerah dan langsung membalikkan badannya.
"Aku nggak tau lagi mau sebut itu apaan, jadi ya kusebut malam pertama aja padahal aku tau itu bisa bikin salah paham orang yang dengar selain kita," kata Geovani.
"Hampir aku lupa kasih tau, botol yang aku berikan waktu itu bukan darah leher tapi darah tangan," kataku.
"Ada yang membuatku sedikit aneh Kir," kata Geovani.
"?"
"Bagaimana cara kamu dapat darah dari tanganmu untuk mengisi botol sampai penuh?" tanya Geovani.
Apa mungkin sebaiknya aku kasih tau aja kali ya kalau aku ini abadi.
"Kamu ni aneh Kir," kata Geovani.
Saat hujan mulai reda, seorang pria yang aku temui di toilet langsung datang menemuiku dan mengajakku untuk berbicara serius.
"Kira! ikut aku kali ini aja, setelah mendengar apa yang akan aku katakan sisanya terserah padamu. Ini permintaanmu sendiri, ya walaupun kamu nggak ingat." kata pria tersebut.
"Apa harus ku katakan lagi ha!?" kataku dengan sedikit mengeraskan suaraku.
"Kalau nggak mau yaudah, nanti tiap hari aku ajak terus kok."
"Hmmm, kalau aku lihat-lihat kamu yang masa sekarang lebih tampan daripada masaku."
Ngomong apa sih masa sekarang masaku nggak jelas banget tapi dari perkataannya ada 1 yang membuatku merinding yaitu saat dia berkata 'Tampan' dia laki-laki, tolong jauhkanlah aku dari para gay di dunia.
"Dia siapa Kir?" tanya Geovani.
"Entah, aku juga nggak kenal mungkin dia orang suruhan sekolah," kataku.
Karena aku malas meladeni pria tersebut, aku dan Geovani langsung pulang di rumah kami masing-masing.
"Huh, Refreshing yang tidak berguna, tidak ada gunanya sama sekali," kataku dan langsung membaringkan badanku di tempat tidur.
Saat aku melihat jam aku tidak sadar karena sudah jam 3 sore.
"Ha!? jam 3? serius ini jam, nggak rusak kan," kataku sambil memeriksa jam tersebut.
Nggak rusak, berarti jam 3 beneran. Ngerinya perasaan aku di sana nggak lama-lama amat dah.
Aku melamun sejenak memikirkan apa kemudian tujuanku berada di sini sekarang sedangkan Tomo sudah meninggal.
Aku betah tinggal di sini dan lebih memilih sekolah kecil itu semua karena ada Tomo, tapi sekarang dia sudah nggak ada jadi aku enggak harus tinggal atau berada di sini lagi.
Aku kemudian mulai mengemasi barang-barangku dan bersiap untuk pindah, aku bebas pindah di mana saja karena uang dari beasiswa yang aku punya tidak bisa dibilang sedikit.
"Hmmm, bagaimana dengan Geovani ya," kataku.
"Mungkin dia bisa tinggal di sini dan aku tinggal di tempat yang jauh terus aku kirim darahku lewat paket."
Yeah, nice idea Kir. Aku ambil berkas sekolahku besok aja kali ya, kalau sekarang belum tentu ada guru karena libur.
"Mungkin aku harus mandi, sudah mau malam juga," kataku.
Saat aku sedang mandi Geovani masuk ke rumahku dan pergi ke kamarku tanpa aku ketahui.
Buset dah, habis hujan dingin banget. Sebenarnya mau pake air hangat sih, tapi udah terlanjur selesai mandinya.
Saat aku pergi ke kamarku, aku terkejut ada Geovani di sana.
"Apa!? ha!? ngapain kamu?" tanyaku.
"Ups, kamu baru selesai mandi aku nggak tau," kata Geovani sambil menutup matanya dengan tangan.
Aku tidak tau kenapa dia menutup matanya, padahal aku hanya telanjang dada dan aku masih menggunakan handuk di bagian bawahku.
"Lah, nggak keluar?" tanyaku.
"Ngapain emangnya?" saut Geovani.
"Aku mau pake bajulah!" kataku
"Oh, kalau begitu sedikit minum dan aku akan langsung pulang," kata Geovani.
"Cepat! aku kedinginan ini," kataku.
"Udah tau dingin kenapa mandi," kata Geovani.
"Ah, segarnya, btw dingin banget badanmu," kataku Geovani.
"Sudah?" tanyaku.
"Sudah."
"Ya pulang sana, apa lagi," kataku.
"Ok, dah. Sampai besok," kata Geovani.
Selesai berpakaian aku langsung pergi menonton beberapa hal yang tidak berguna di televisi seperti "seseorang yang jadi gembel, dari zigot udah bisa penghasilan" memang hebat.
Saat malam aku tidur lebih awal karena aku tidak tau apa yang harus aku kerjakan. Sampai saat aku pagi terbangun melihat tempat tidurku penuh bercak darah, aku tidak tau itu darah siapa, mungkin saja itu darahku.
"Ya ampun, ini darahku bukan ya."
Aku mengesampingkan hal tentang itu dan langsung pergi ke toilet, saat aku di toilet dan melihat wajahku di cermin betapa terkejutnya aku ada sebuah pisau yang menancap di dahiku yang cukup dalam.
"Ha? siapa lagi yang coba bunuh aku ni," kataku.
Aku juga melihat tanganku yang sudah kehilangan tanda kontrak dengan Geovani.
Kata Geovani tandanya tidak bisa hilang, kalau nggak salah aku pernah berpikir tentang memotong tanganku yang ada tandanya dan kontraknya akan hilang, artinya tanganku yang ada lambang kontraknya di potong dan aku dibunuh dengan cara menusuk pisau di dahiku.
"Ya benar, Geovani mengkhianati ku, tunggu apa itu bisa dibilang mengkhianati? entahlah, tapi yang pasti Geovani yang membunuhku dan dia membuat kontrak dengan orang lain sekarang."
"Cara membuktikan ini gampang, kalau di rumahnya Geovani tidak ada dia maka itu benar."
Sudah kuduga ada yang aneh dengan vampir itu, sudah saat dia tau tentang daerah sini padahal baru pindah. Dan sekarang setidaknya aku bisa pindah tanpa memikirkan orang lain.
"Tapi ini membuatku terkejut, dikhianati jadi seperti ini, emangnya itu disebut pengkhianat? dia yang membuat kontrak awal denganku tapi karena di mecoba membunuhku jadi bisa dibilang 'Geovani Pengkhianat'" kataku.
Gw ngomong apaan sih :v