
"Siapa kau ini?" tanyaku.
"Bagaimana ya? kalau langsung ku beritahukan jadi tidak seru."
"Kenapa kau tidak memutar waktu? kalau begini terus kau bisa mati kehabisan darah loh, Akihiro Akira."
Kemudian dia berlari pergi dan berkata "Berjuanglah untuk hidup."
Hmmm, dia sudah tau kekuatanku dan kenapa dia tidak langsung membunuhku. Ada yang aneh, dia menyuruhku untuk memutar waktu. Aku yakin dia ingin membuktikan sesuatu dengan cara membuatku memutar waktu.
Saat aku masih terbaring di lantai untuk beregenerasi tiba-tiba seorang guru wanita melihatku terluka langsung berteriak ketakutan.
Waduh bisa gawat kalau begini ceritanya.
Saat guru tersebut ingin berbalik kebelakang, tiba-tiba seseorang langsung memukul tengkuk guru tersebut sampai pingsan.
Aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa guru tersebut dan yang memukulnya karena mereka berada di belakangku.
"Hah," –Tomo menghela nafas– "dari banyaknya tempat di sekolah ini kenapa kamu beregenerasi di sini?"
"To-Tomo!! jadi kamu yang membuat guru pingsan," kataku.
"Begitulah."
"Yang kamu pukul sampai pingsan itu guru loh," kataku.
"Ya gimana lagi, bisa gawat kalau ada yang tahu kamu ini abadi. Mau kugendong?" tanya Tomo.
"Gendong kemana?" tanyaku.
"Ke UKS lah."
"Tidak perlu, kalau digendong nanti darahnya pada jatuh ke lantai jadi sudah dibersihin. Kalau di satu tempat aja kan gampang dibersihkan," kataku.
"Kalau ada orang datang kesini gimana?" tanya Tomo.
"Hadeh, makanya kamu jagalah di tangga kalau ada orang datang cegat dia," kataku.
"Dih ngatur."
Setelah beberapa waktu akhirnya regenerasiku selesai dan polisi juga sampai di sekolah. Aku dan Tomo langsung berjalan ke TKP.
Saat dalam perjalanan aku melihat wajah Tomo pucat dan ketakutan. Aku mencoba berbicara dengannya untuk menghilangkan rasa takutnya.
"Pulang nanti mau mabar game online nggak?" kataku.
"Aku... lagi nggak mood," kata Tomo.
"Bukan sekarang tapi nanti pas pulang?"
"Emang aku bakalan pulang?" tanya Tomo.
Seketika aku langsung berdiri di depannya dan memukul wajahnya dengan sangat keras sampai ia terjatuh.
"Aw... ada apa denganmu?" tanya Tomo.
"Jangan perlihatkan wajah murung mu padaku!" kataku dengan marah.
"Kenapa kau takut, yang membunuhnya juga bukan kau."
"Habisnya aku jadi tersangka, sampai pembunuhnya diketahui aku akan terus menjadi tersangka," kata Tomo.
"Lihat saja akan kubuktikan pada polisi bahwa kau hanya orang yang menemukannya mayatnya," kataku.
Aku berjalan meninggalkan Tomo dan pergi ke Toilet.
Untuk sementara aku tidak boleh menggunakan kekuatan psychoku karena kalau aku menggunakannya akan membuat rencana orang yang menusukku tadi berhasil. Tapi bagaimana cara mengetahui pembunuhnya tanpa melihat ke masa lalu. Oh iya, tadi orang yang menusukku berkata 'kalau kau ingin tau siapa yang membunuhnya dia adalah orang yang paling dibenci di sekolah ini' orang yang paling dibenci di sekolah ini kalau tidak salah guru BK mungkin karena sering menghukum murid. Oh jadi begitu sudah pasti bukan guru BK pelakunya.
Setelah lama aku berpikir di toilet aku langsung berlari menuju ke TKP untuk mengetahui lebih lanjut tentang mayat tersebut.
Ada sesuatu yang janggal bagiku yaitu saat melewati parkiran saat berkeliling tadi aku mencium bau tak sedap dan bau parfum yang sangat menyengat karena bercampur dari parkiran, aku tak terlalu memikirkannya dan hanya mengabaikannya begitu saja walaupun itu janggal bagiku.
"Jadi nak Tomo, bisa kau jelaskan bagaimana kau menemukan mayatnya," kata polisi.
"Tunggu pak polisi, temanku tidak bersalah," kataku.
"Kira."
"Mungkin, dia hanya jadi tersangka pertama dalam kasus ini," kata Polisi.
"Bukankah jika ingin menjadikan orang tersangka harus mempunyai 2 bukti terlebih dahulu," kataku.
"Kamu anak kecil jangan ikut campur," kata polisi.
"Bagaimana jika aku berhasil menangkap pelakunya sekarang," kataku.
"Cukup bualanmu kami sedang bekerja di sini, pergi sana!" kata polisi.
"Jika aku benar-benar menangkap pelakunya bagaimana?" kataku dengan menatap polisi dengan serius.
"Jika kau memang bisa maka akan aku cabut gelar tersangka pada temanmu tapi jika kau hanya bermain-main maka kau juga akan kami jadikan tersangka, bagaimana?" tanya polisi sambil mengulurkan tangannya.
"Baiklah aku terima," kataku sambil menjabat tangannya.
"Hey Kir, ini urusanku kamu nggak perlu ikut campur," kata Tomo.
"kau diam aja telor udang," kataku pada Tomo.
"Heh, apa dia bisa menangkap pelakunya tanpa pergi ke masa lalu ya?" kata seseorang dari lantai 2.
"Baiklah, kasus ini saya ambil alih. Berikan saya informasi identitas mayat tersebut," kataku.
"Pak kepala benarkah ini?" tanya salah satu anak buah polisi kepada kepala polisi.
"Tidak apa-apa berikan saja informasinya." kata kepala pak polisi.
"Identitasnya adalah Rentenir," kata anak buah polisi.
Hmmm, apa yang dilakukan seorang Rentenir di sekolah bukankah biasanya dia menagih hutang di rumah? Kemungkinan orang yang dia tagih tinggal di sekolah ini, tapi siapa yang tinggal di sekolah.
"Pak, kalau boleh tau apa ada orang yang tinggal di sekolah tadi malam," bisikku pada pak kepala sekolah.
"Ada, pak satpam yang tinggal di sini tadi malam. Dia berkata 'Saya ingin tidur di sekolah malam ini pak, apa boleh? karena ada sedikit masalah di rumah saya.' "
"1 lagi pak, apa hari ini murid akan tetap pulang lebih awal apabila tidak terjadi pembunuhan?" tanyaku pada kepala sekolah.
"Tidak," kata kepala sekolah.
Jadi begitu.
Ini pertama kali aku mendengar kira melawak selama hidupku, sepertinya niatnya memang jadi tersangka juga. gumam Tomo.
"Hah, jangan bercanda begitu kira," kata pak satpam.
"Baiklah, bisa jelaskan kenapa begitu?" tanya kepala polisi.
"Pertama mayatnya adalah seorang rentenir, kenapa seorang rentenir pergi ke sekolah? bukankah harusnya dia menagih hutang di rumah orang yang berhutang. salah satu alasan dia pergi ke sekolah adalah orang yang dia ingin tagih berada di sekolah," kataku.
"Lanjutkan," kata kepala polisi.
"Dan orang yang berada di sekolah ini tadi malam adalah pak satpam, benar bukan pak kepala sekolah?" kataku pada kepala sekolah.
"Iya benar."
"Yang menemukan mayatnya pertama kali adalah Tomo dan mayat tersebut berada di gudang. Bukankah itu harusnya tugas seorang satpam memeriksa gudang saat pagi hari, apalagi dia tinggal disini tadi malam tidak mungkin dia lupa mengeceknya," kataku.
"Tomo, apa kamu ingat saat ia berkata 'Mentang-mentang hari ini pulang cepat kalian sengaja terlambat.'"
"Iya," kata Tomo
"Bisa kau jelaskan apa maksudnya itu," kataku pada pak satpam.
"Itu hanya candaan saja," kata pak satpam.
Aku sangat yakin pelakunya adalah pak satpam ditambah pernyataan tentang orang yang membunuhnya adalah orang yang paling dibenci di sekolah ini, karena pak satpam sering menghukum murid yang terlambat sedangkan guru BK tidak mungkin karena guru BK kami tidak terlalu galak.
"Kalau begitu bisakah pak satpam menjelaskan apa yang ada di dalam jok motor bapak," kataku.
seketika pak satpam langsung terlihat takut dan mengeluarkan keringat banyak.
"Sebelum aku sampai di sini aku sempat berjalan-jalan di daerah sekolah, ada hal yang membuatku penasaran yaitu kenapa motor milik pak satpam yang berada di parkiran terdapat bau parfum yang sangat menyengat, aku yakin di jok motor pak satpam ada sebuah kepala yang disembunyikan dengan menyamarkan bau dengan parfum. Karena itu dikunci aku tidak bisa membukanya," kataku.
"Periksa motor satpam sekarang!" perintah kepala polisi pada anak buahnya.
"Dan juga di mana pak satpam tadi malam tidur?" tanyaku pada kepala sekolah.
"Aku memberinya kunci UKS dan aku menyuruhnya untuk tinggal di sana," kata kepala sekolah.
Senjata yang digunakan untuk membunuh tidak ada di UKS.
"Pak kepala lapor, kami menemukan kepala korban terbungkus plastik berada di jok motor milik pak satpam dan alat yang digunakan untuk membunuh di selokan di tutupi dengan daun kering."
"Pak polisi, satpam saya tidak mungkin melakukan hal itu saya mengenalnya dengan baik, dia orang yang sangat baik tidak mungkin membunuh sampai memutuskan kepalanya," kata kepala sekolah kepada polisi.
"Bisakah kau jelaskan bagaiman dia membunuh korban nak Kira," kata kepala polisi.
"Kapan pak satpam pergi kepada kepala sekolah untuk meminta izin tinggal di sekolah tadi malam?" tanyaku pada kepala sekolah.
"Perkataanmu itu sedikit kurang sopan Kir," kata Tomo.
"Kalau tidak salah jam 11 malam."
"Jadi pada saat jam sebelas malam pak satpam pergi ke rumah kepala sekolah untuk meminta izin tinggal di sekolah itu karena dia dikejar rentenir, saat Rentenir sampai di rumah pak satpam Rentenir yang tidak bertemu dengan pak satpam langsung pergi ke tempat kerjanya yaitu di sekolah, saat sampai di sekolah mereka kejar-kejaran di koridor, sampai saat pak satpam bersembunyi di gudang dan menemukan golok dan menunggu kesempatan untuk membacok leher korban.
"Sebenarnya korban sudah mati saat dibacok di leher oleh pak satpam tapi karena ingin menghilangkan kecurigaan ia memutuskan lehernya sekaligus agar terlihat seperti di bunuh oleh psikopat."
"Hey pak satpam, bisakah kau menjelaskan kepala manusia ini?" kataku pada pak satpam.
Pak satpam hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.
"Darimana kau bisa tahu kalau mereka kejar-kejaran tadi malam?" tanya pak polisi.
"Tentu saja lewat kamera pengawas."
"Kebetulan aku membawa rekaman" –aku mengambil memory dari saku celanaku– "dan aku melihat seseorang membawa sesuatu yang bulat di dalam plastik menuju parkiran," kataku untuk memancing amarah pak satpam.
"Sialan kau murid b*ngs*t, kau hanya murid kenapa kau ikut campur hah...!" kata pak satpam dengan marah.
Pak satpam ingin memukulku tapi sayang para polisi lebih dahulu memegangi dia.
"Apa maksudnya ini pak satpam?" tanya kepala polisi.
"Apa tidak punya pilihan lain selain membunuhnya, dia terlalu memaksa saat menagih hutang!!!!" kata pak satpam sambil memberontak polisi yang memeganginya.
"Hey pak satpam, asal bapak tau memory ini sebenarnya bohongan. Kamera pengawas di sekolah ini hanya ada 2 yaitu di UKS dan ruang guru."
"Jadi kamu membual tentang kamera pengawas itu?" tanya Tomo.
"Ya mau bagaimana lagi, hanya itu caranya untuk membuat dia mengaku," kataku.
"Kita beruntung karena motor pak satpam mogok dan tidak bisa dinyalakan untuk membuang kepalanya saat tengah malam."
"Kalau katamu kamera pengawas hanyalah bohongan dari mana kau tahu bahwa mereka kejar-kejaran? tanya Tomo.
"Itu gampang, kau lihat saja pergelangan kaki korban kalau di lihat dengan teliti terlihat keseleo jadi aku yakin dia keseleo karena berlari dan saat ia berhenti saat itu juga dia langsung dibacok," kataku.
"Akan kuingat namamu sampai kapanpun Akihiro Akira, saat aku bebas kau selanjutnya!!!!" teriak pak satpam dengan sangat kesal.
"Psycho 7 memang hebat, bisa menyelesaikan kasusnya tanpa pergi ke masa lalu untuk melihat pelakunya. Ya sudahlah pembuktianku kali ini gagal, untuk sementara mungkin aku belum boleh membunuhnya," kata seseorang dari lantai 2 dengan suara kecil.
"Tung-tunggu ... di mana luka di perutnya? aku yakin menusuknya dengan benda tajam yang lumayan besar," kata seseorang dari lantai 2.
"Jujur saya pribadi tidak menyukai caramu berbohong soal bukti untuk membuat pelaku mengakui perbuatannya tapi saya berterima kasih," kata pak polisi.
"Bawa pelaku ke kantor sisanya biar kami yang urus," kata kepala polisi.
"Kami polisi berterima kasih padamu karena telah memudahkan kasus ini."
"Heh, jangan salah paham dulu. Aku menyelesaikan kasus ini karena aku tidak mau temanku menjadi tersangka terus sampai pelakunya ditangkap."
"Kami tau dan kami memiliki satu permintaan kepada nak Kira."
"Apa itu?" tanyaku.
"Setelah melihat kemampuan kesimpulanmu dan caramu menyelesaikan masalah maukah kamu membantu kami menyelesaikan kasus pembunuhan KN," kata pak polisi.
"Apa itu kasus pembunuhan KN?" tanyaku.
"KN adalah kepanjangan dari KILLER NUMBER. Kami ingin kamu membantu menyelesaikan kasus ini agar tidak banyak korban lagi."
"kasus pembunuhan yang membunuh hanya dengan angka ya?"
"Jika tertarik bisa hubungi kami, kami akan membiayai semua kebutuhanmu," kata pak polisi sambil memberikan kartu nama dia.
"Maaf, tapi saya tidak mau membahayakan diri saya sendiri hanya untuk melindungi masyarakat yang tidak tahu terima kasih."