
~Di taman saat aku dan Geovani pergi dulu~
"Sial! sudah aku cari kemana-mana tetap tidak ketemu."
"Bahkan aku juga tidak bertemu dengan wanita yang bersamanya saat di taman ini."
Sialan kau kira, seenaknya ingin mengubah dunia, ingatan saja nggak ada. Tapi seandainya dia mengubahnya tanpa ingatannya itu sangat hebat. Tapi untuk seorang Akihiro Akira mengubah dunia adalah hal mudah baginya jika dia ingin.
"Saat aku bertemu denganmu akan aku balas pukulan sampai membuatku pingsan saat di toilet taman ini tempo hari."
...****************...
"Kau sudah bangun, syukurlah."
"Di mana ini?" tanyaku yang baru bangun.
"Kau di surga," jawab Asada.
"Untunglah, akhirnya aku bisa mati," kataku.
"Kenapa kau senang kalau mati?" tanya Asada.
"Ya karena aku nggak bisa ma-, tunggu! ini bukan di surga," kataku.
"Memangnya kau tau surga itu seperti apa?" tanya Asada.
"Jadi ini di mana?" tanyaku.
"Ya di rumah sakit lah," jawab Asada.
"Huh, padahal sudah senang sekali kalau aku sudah mati, jadi dimana yang lain?" tanyaku.
"Yang lain datang menemui perdana menteri," jawab Asada.
"Ha?! perdana menteri? kenapa?" tanyaku dengan heran.
"Kan yang panggil kita ke Tokyo adalah perdana menteri jadi ya mereka pergi menemui perdana menteri," jawab Asada.
"Aku masih bingung," kataku.
"Kau tau? Assasin adalah kelompok resmi dari pemerintah dan dibuat oleh pemerintah untuk menangkap para psycho," kata Asada.
"Kalau begitu artinya semua orang tau tentang psycho?" tanyaku.
"Tidak, hanya beberapa orang dari pemerintah yang tau dan bisa dibilang pemerintah menyembunyikan bahwa KN adalah psycho," jawab Asada.
Begitu ya, jadi pemerintah sudah tau siapa KN, kalau sudah tau kenapa para polisi masih menyelidiki siapa itu KN? sepertinya mereka tidak diberitahu.
"Kau tidak ikut mereka?" tanyaku pada Asada.
"Tidak," jawab Asada.
"Aku diperintah menemanimu untuk menemui polisi, kau kan yang minta ingin bertemu dengan polisi," kata Asada.
"Ya, aku yang minta saat aku belum pingsan," kataku.
"Setelah itu, kita akan pergi ke tempat perdana menteri untuk mengikuti Nobu," kata Asada.
"Kira-kira ada apa sampai perdana menteri memanggil kita?" tanyaku.
"Entah, aku juga tidak tau pasti. Dia selalu memanggil kami dengan alasan bermacam-macam bahkan ada dengan alasan aneh," jawab Asada.
"Jadi kapan kau ingin bertemu polisi?" tanya Asada.
"Sekarang," kataku setelah bangun dari tempat tidur dan pergi membuka pintu.
Saat aku membuka pintu dan pergi ke luar aku melihat ada 10 orang menunggu di depan ruangan.
Buset, padahal aku ingin bicara dengan 1 orang saja.
Salah satu polisi kemudian datang ke padaku dan bertanya tentang siapa diriku.
"Apa kau Akihiro Akira?"
"Ya benar," jawabku.
"Kau yang meminta kami untuk menemuimu kan?"
"Ya," jawabku.
"Kalau begitu mari ikut kami ke kantor," kata polisi tersebut.
"Apa tidak bisa di sini saja?" tanyaku.
"Tidak."
Buset, ngeri amat polisi di Tokyo, sangat berbeda dengan polisi di wilayahku.
Tunggu …! memang ini di Tokyo?
"Hey Asada!" panggilku saat dalan perjalanan keluar rumah sakit menuju kantor polisi.
"Ada apa?" tanya Asada.
"Kita sudah ada di Tokyo?" tanyaku.
"Ya, kita sudah di Tokyo," jawab Asada.
"Berapa lama aku tak sadarkan diri?" tanyaku.
"7 jam lebih, hampir 8 jam," jawab Asada.
"Artinya sekarang sudah malam?" tanyaku.
"Ya, kau lihat saja pas nanti kita keluar dari rumah sakit ini," jawab Asada.
Saat keluar dari rumah sakit ternyata benar sudah malam dan saat di dalam mobil menuju kantor polisi Asada tiba-tiba mendapatkan telepon dari Nobu.
Kriiiing…!!!
Asada kemudian mengangkat telepon itu dan dia berbicara dengan Nobu tapi aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, karena aku tau tidak sopan menguping pembicaraan seseorang.
"Oh," kataku dengan acuh.
"Kau tidak ingin tau apa yang dia katakan?" tanya Asada.
"Tidak," jawabku.
"Serius?" tanya Asada.
"Iya, lagian itu pembicaraan kalian, aku tak ada hubungannya," jawabku.
"Nyonya Nobu meminta kita untuk langsung pulang ke hotel kalau sudah selesai urusan dengan polisinya."
"Tidak jadi ke tempat perdana menteri?" tanyaku.
"'Karena sudah terlalu malam kami menunggu kalian berdua, jadi pertemuannya besok saja' itu kata nyonya Nobu," kata Asada.
"Oh, jadi karena aku yang tak sadarkan diri terlalu lama ya," kataku.
"Ya itu karena tuan, kenapa juga malah pake masker itu," kata Asada.
"Karena kan aku mau tes sesuatu jadi ya mau gimana lagi," jawabku.
"Harusnya kau tidak boleh berbuat hal seperti itu, kau harus pikirkan orang yang mengkhawatirkan dirimu," kata Asada.
"Memangnya ada yang mengkhawatirkan aku?" tanyaku.
"Entahlah," kata Asada.
"Kalau kulihat kau seperti mengkhawatirkanku, Asada," kataku.
"Ha?! percaya diri sekali kau ini," kata Asada.
"Hahahaha, aku hanya bercanda," kataku.
"Ya, bisa di bilang benar sih," kata Asada dengan suara yang sangat kecil.
"Ha? apa kau mengatakan sesuatu?" tanyaku.
"Tidak, mungkin kau salah dengar," jawab Asada.
Saat sampai di kantor polisi aku menjelaskan motif para pembajak dan yang dia lakukan pada salah satu pramugari.
"Ada lagi?" tanya polisi.
"Dari yang aku tau, orang yang tewas hanya empat orang. Dua adalah pilot dan kopilot, satunya teman kami dan satu lagi aku tidak tau yang pasti dia juga terjatuh dari pesawat bersama teman kami," kataku.
"Terima kasih atas informasinya," kata polisi.
"Jujur, aku kecewa terhadap bandara yang lalai dan membiarkan ******* masuk ke pesawat dengan senjata apa," kataku.
"*******?" bingung polisi.
"Ya, sepertinya mereka tidak sendirian dan akan melakukan pembajakan lagi dengan orang yang berbeda," kataku.
Pasti ada seseorang di balik kejadian ini dan aku sangat yakin sekali pasti ada kaitannya dengan psycho.
"Saya bukan apa-apa, tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa kejadian pembajakan pesawat oleh ******* akan terjadi lagi dan itu tanggung jawab kalian," kataku.
"Apa kau punya bukti untuk membuat polisi percaya?" tanya polisi.
"Tidak, itu akan 100% terjadi," kataku.
"Baiklah, akan kami coba untuk menyelidiki setiap penumpang sebelum memasuki pesawat," kata polisi.
"Ini berlaku untuk seluruh bandara Jepang! bukan hanya bandara Osaka maupun bandara Tokyo tapi seluruh Jepang!" kataku dengan tegas.
"Baiklah, akan kami lakukan," jawab polisi.
Aku dan Asada kemudian pergi dari kantor polisi dalam perjalanan ke hotel yang disuruh oleh Nobu.
"Kenapa kau sangat yakin sekali saat bicara dengan polisi tadi Kir?" tanya Asada saat dalam perjalanan menuju hotel.
"Karena itu memang akan terjadi," jawabku.
"Dari mana kau tau? kau bisa melihat masa depan? atau kau sebenarnya berasal dari masa depan dan kembali ke masa lalu untuk mencegah hal itu," kata Asada.
"Ha? mana mungkin aku punya hal seperti itu, aku cuma manusia biasa," kataku.
"Kalau kau hanya manusia biasa kenapa Nobu menjadikanmu sebagai wakil pemimpin padahal kau tidak punya kekuatan apapun?" tanya Asada.
"Entahlah. Tapi yang pasti, otakku bisa melawan kekuatan apapun, percayalah," kataku.
"Hooh."
Dalam perjalanan aku melihat ada kedai ramen yang buka, karena aku baru bangun dari pingsan aku jadi kelaparan dan memutuskan makan di kedai itu.
"Pas sekali ada warung ramen disini," kataku.
"Kau mau makan?" tanya Asada.
"Iya, kamu juga mau?" tanyaku.
"Boleh, aku juga belum makan. Aku bayar sendiri jadi … tenang aja," kata Asada.
Kami masuk ke sana dan memesan dua ramen.
"Bagaimana dengan Masaki?" tanyaku.
"Mayatnya sudah ditemukan, bahkan sudah dikubur," jawab Asada.
"Sepertinya aku terlalu lama tidur jadi kupikir polisi sudah tau semuanya sebelum aku beritahu," kataku.
"Ini dia ramennya, selamat menikmati," kata seorang pelayan yang memberikan ramen yang kita pesan dan meletakkan di meja kami.
"Hey Asada, apa menurutmu ini ada kaitannya dengan psycho?" tanyaku.
"Kurasa tidak," jawab Asada.