Fate 7 Psychokinesis

Fate 7 Psychokinesis
Ch 23. Hal tak terduga dari si kacamata



"Apa perlu aku bunuh mereka untuk mempercepat kita?" tanya Ibnu dengan senyumnya.


Orang ini memang berbahaya.


"Kita tunggu saja, pasti sebentar lagi mereka akan pergi," kataku.


"Ngomong-ngomong jam berapa kita akan pergi ke Tokyo?" tanyaku.


"Ketika semua telah siap," kata Ibnu.


"Kalau boleh tau kenapa Nobu menculikmu? tanya Ibnu.


"Entah, aku tidak tau," kataku.


"Aku tidak yakin kalau mereka akan pergi dari sini," kata Ibnu.


"Lihat! mereka sudah mulai berjalan," kataku.


"Benar," kata Ibnu.


"Setelah mereka tidak terlihat lagi, kita akan pergi," kataku.


"Baik."


"Sepertinya sekarang waktu yang tepat," kataku.


"Saya akan mengikuti dari belakang," kata Ibnu.


Aku kemudian membuka kunci mobil dan berjalan seperti biasa menuju rumahku.


"Loh? saya kira anda akan berlari," kata Ibnu.


"Itu melelahkan dan banyak membuang tenaga, kita akan lari kalau mereka melihatku," kataku.


"Oh begitu, baru kali ini aku mendengar sifat asli dari pemalas," kata Ibnu.


Beberapa menit kemudian.


"Argh, aku capek berjalan," kataku kemudian duduk di bawah pohon.


"Apa masih jauh?" tanya Ibnu.


"Ya," jawabku.


"Aku tau kau sebenarnya tidak capek tapi kau hanya malas, benar bukan?" tanya Ibnu.


"Terserah apa katamu, apa kau membawa air mineral?" tanyaku.


"Ada di mobil," kata Ibnu.


"Apa mau kembali ke mobil lagi untuk mengambil air mineral?" tanya Ibnu.


"Nggak lah, bikin capek aja kembali lagi," kataku.


"Bagaimana kalau aku gendong sampai rumahku?" kata Ibnu.


"Ha!? yosh aku sudah sehat, sekarang ayo pergi ke rumahku. kataku.


Apa yang dia pikirkan? aku tidak mengerti jalan pikirannya.


...****************...


"Hey bagaimana pendapat kalian tentang Akihiro Akira?" tanya Asada pada Yui.


"Aku tidak peduli dengan dia," kata Masaki.


"Siapa yang bertanya padamu," kata Asada.


"Cih, aku hanya memberitahu," kata Masaki.


"Aku akan belok, setelah menyiapkan semuanya aku akan datang lagi ke rumah nyonya Nobu," kata Masaki.


"Ok, dah," kata Yui sambil melambaikan tangan.


"Hmmmm, ada apa nih dengan kamu Asada, tumben tertarik biasanya cuek aja," kata Yui.


"Jangan salam paham dulu, aku hanya bertanya pendapatmu," kata Asada.


"Hmmmm, aku tidak tau kenapa kak Nobu memilih dia untuk jadi wakil pemimpin, tapi setelah melihat beberapa tindakannya tadi aku merasa dia memang pantas, ditambah dia juga lumayan tampan," kata Yui.


"He!?" suara Asada dengan sangat kecil.


"Memangnya ada apa? tidak biasanya kau peduli terhadap seseorang, atau jangan-jangan kau... " kata Yui.


"Sudah, hentikan itu, sudah aku bilang aku hanya bertanya," kata Asada.


"Kau menyukainya? tanya Yui.


"Ha!? pertanyaan konyol macam apa itu?" kata Asada dengan wajah kemerah-merahan dan kemudian meninggalkan Yui sendirian.


"Kau mau kemana?" tanya Yui.


Yah, dia tidak menjawabku, gumam Yui.


"Jangan lupa nanti kembali lagi, dah," kata Yui sambil melambaikan tangan.


...****************...


"Jadi ini rumahmu, kau tinggal sendiri?" tanya Ibnu.


"Ya," jawabku.


"Aku akan mempersiapkan barang-barang, silahkan masuk," kataku.


"Tidak perlu tuan, aku akan menunggu di sini," kata Ibnu.


"Baiklah kalau begitu," kataku dan kemudian masuk kedalam rumahku.


"Hmmmm, di mana ya kira-kira aku bagusnya meletakkan surat ini," kataku saat di dalam rumah.


...****************...


40 menit yang lalu saat masih berada di dalan mobil.


"Kalau boleh tau tuan Kira, apa isi surat yang akan kau tinggalkan itu?" tanya Ibnu.


"Ini hanya berisi bahwa aku di culik oleh anggota Assasin dari Assasin," jawabku


"Ya, tidak ada hal lain, kau mau membacanya?" tanyaku.


"Tidak, terima kasih tuan," kata Ibnu.


"Bisa kau hentikan panggilan itu? aku tidak senang mendengarnya," pintaku


"Kalau begitu, jangan di dengar saja," kata Ibnu.


...****************...


"Hmmmm, di mana ya kira-kira aku bagusnya meletakkan surat ini," kataku saat di dalam rumah.


Tunggu, sepertinya akan seru kalau aku sedikit bermain dengan mereka.


Aku kemudian berkonsentrasi dan menutup mataku serta membayangkan aku terhisap oleh lubang hitam.


Saat aku kembali ke masa lalu betapa terkejutnya aku, sebenarnya aku hanya ingin mengantar surat ini ke masa lalu tetapi hal luar bisa terjadi secara tak terduga.


"Yah, aku kembali ke masa masa lalu, tepat berada di dalam rumahku," kataku.


"Tunggu, ada apa ini?"


Ini tidak terlihat seperti masih pagi atau subuh.


Aku kemudian pergi keluar dari rumah setelah membuka kunci pintu dan betapa terkejutnya aku ternyata masih sangat malam.


"Apa ini?"


Tanpa basa basi aku pergi berlari menuju kamarku dan ada aku yang sedang tidur di kasur, tetapi aku pergi ke kamarku bukan untuk melihat aku yang sedang tidur tapi untuk melihat jam.


"Apa!? jam dua pagi?" candaan apa ini?" bingungku.


Bukannya aku hanya bisa kembali ke lingkup tiga jam dari masaku? apa ini bug? memangnya dunia punya bug?


Rei berkata padaku bahwa aku hanya bisa kembali atau memutar waktu ke lingkup tiga jam, tapi entah kenapa aku bisa kembali ke 8 jam yang lalu karena di waktu aku pergi ke masa lalu aku berada di jam sebelas siang.


Kalau aku tau apa penyebab hal ini, aku pasti bisa menyelamatkan Tomo. Sepertinya aku bisa mencari penyebab bug ini perlahan-lahan, tapi apa ini bisa disebut bug? memangnya ada sistem di balik dunia ini? tentu saja tidak karena aku percaya pada tuhan yang mengatur dunia ini dan bukan sebuah sistem.


"Astaga, aku hampir lupa tujuanku datang ke sini," kataku.


Aku kemudian menutup pintu tanpa menguncinya dan pergi ke kamarku dan meletakkan surat itu ke meja belajarku.


Di masa depan mereka berdua mengira bahwa Assasin yang memberikan surat itu padahal nyatanya bahwa aku lah yang mengirim surat itu atas nama Assasin, ya walupun sekarang aku memang anggota Assasin.


10 menit berlalu, aku kemudian kembali ke masa depan dan untungnya Ibnu tidak tahu kalau aku habis melakukan time travel.


Saat itu aku masih belum sadar bahwa salah satu penyebab aku di culik adalah karena aku lupa mengunci pintuku saat berada di masa lalu tadi waktu melihat keluar malam.


Aku kemudian keluar dari rumah dan berbicara pada Ibnu.


"Kau yakin tidak ingin masuk? mataharinya sangat dingin kalau dilihat," kataku.


"Ya, sangat dingin sekali sampai aku ingin membeli es krim di toko dekat sini," kata Ibnu.


"Lah, kau tidak membawa uang?" tanyaku.


"Tidak," jawab Ibnu.


"Kenapa kau tidak minta padaku," kataku.


"Tidak mungkin aku meminta pada atasanku sendiri," kata Ibnu.


"Padahal aku tidak masalah," kataku.


"Nih, kalau kau bosan menunggu kau beli saja," kataku sambil mengulurkan uang.


"Maaf tuan, aku tidak bisa menerimanya," kata Ibnu.


"Ini perintah!" kataku.


"Ba-baiklah kalau begitu," kata Ibnu sambil mengambil uang yang berada di tanganku.


Aku kemudian kembali ke dalam rumah dan mulai menyiapkan beberapa perlengkapan.


"Hey, ternyata handphoneku ada disini, entah kenapa aku merasa handphone milikku ini hidup, karena selalu kehilangan benda ini di saat-saat penting," kataku.


Tunggu, kalau tidak salah aku menyimpan berita tentang orang bernama Ibnu Rahman karena aku belum selesai membacanya.


"Ah ini dia beritanya. 'Ibnu Rahman, seorang pembunuh berantai asal Indonesia yang sudah mendunia karena dia membunuh semua korbannya dengan cara khasnya sendiri yaitu dengan cara membunuh korban dengan biasa lalu menukar otak dan jantungnya berada, dia dikabarkan meninggal di penjara dengan sangat mengenaskan, polisi berkata bahwa sebelum dia dieksekusi mati dia sudah membunuh dirinya sendiri tapi masih belum ada sumber yang membenarkan seperti apa seorang Ibnu Rahman mati.' What? sudah kuduga orang ini sangat berbahaya, jadi itu alasan kenapa Nobu memalsukan kematian Ibnu."


Aku hampir tidak percaya, kalau dia adalah pembunuh berantai itu setelah melihat sikapnya padaku. Nggak kebayang dia menukarkan otak dan jantungnya berada, membayangkan saja membuatku ingin muntah.


...****************...


"Kita bahkan tidak mendapat petunjuk apapun kecuali surat ini," kata Hato pada Aki.


"Aku tau," kata Aki.


"Hey, coba kau lihat orang yang berada di depan rumah Kira itu, apa yang dia lakukan?" bingung Hato.


"Yang kau maksud orang yang sedang makan es krim itu dan menggunakan kacamata itu?" tanya Aki.


"Ya," jawab Hato.


"Entahlah," kata Aki.


"Ummm, es krim ini enak juga," kata Ibnu dan kemudian memalingkan wajahnya dan melihat Aki dan Hato dari kejauhan.


Kalau tidak salah itu orang yang aku hindari bersama tuan tadi, gumam Ibnu.


Ibnu kemudian dengan cepat berlari dan menjatuhkan es krimnya serta mengambil alas kaki yang aku pinjam dari rumah Nobu dan langsung masuk ke rumahku.


"Hey, dia berlari ke dalan rumah Kira," kata Hato.


"Sebaiknya kita mengejarnya," kata Aki kemudian langsung mengejarnya.


"Tuan!!! di mana kau?" tanya Ibnu sambil mencariku.


"Ada apa?" tanyaku.


"Maaf sebelumnya tuan," kata Ibnu kemudian memegang bajuku dan tiba-tiba kami sudah berada di dalam mobil yang kami tumpangi.


"Apa!? bagaimana!? jangan-jangan teleportasi?" kataku dengan sedikit panik karena tiba-tiba aku berpindah tempat.