Fate 7 Psychokinesis

Fate 7 Psychokinesis
Ch 7. Bukan hanya manusia



"Astaga! aku ketiduran," kataku yang baru bangun dari tidur.


Aku kemudian beranjak dari tempat tidur dan melihat ke luar jendela ternyata sudah malam.


"Ya ampun, pulang dari warung tadi jam 10 lebih, niatnya pengen istirahat sebentar doang malah kebablasan sampai malam."


Aku melihat ke arah jam, jam itu menunjukan pukul 8 lebih. Saat itu aku belum sadar kalau surat pemberitahuan untuk Geovani belum kuberikan padanya.


"Parah, jam 8 aku baru bangun. kalau sudah begini aku enggak bisa tidur malam ini terpaksa lah begadang."


Saat itu juga aku mendengar suara perutku yang sudah keroncongan dan aku langsung pergi ke dapur dan membuka kulkas untuk memasak. Aku berniat untuk membuat nasi goreng malam ini tapi saat membuka kulkas ternyata bahannya tidak cukup.


"Hadeh, terpaksa pergi beli makanan langsung aja."


Saat baru keluar dari pintu untuk membeli makanan, aku secara tidak sengaja menengok ke arah rumah Geovani dan baru ingat ada surat yang harus kuberikan.


"Astaga!!! surat pemberitahuan Geovani lupa ku kasih."


Aku kemudian kembali berlari ke dalam rumah dan mengambil suratnya.


"Itu dia, untung masih ada di atas meja."


Aku kemudian mengambil surat tersebut dan langsung pergi ke rumah Geovani, saat sampai di rumahnya aku melihat rumahnya yang sangat sepi bahkan walaupun sekarang sudah malam lampu dirumahnya belum nyala sama sekali. Aku mencoba mengetok pintu rumahnya untuk kesekian kalinya tetap tak ada jawaban sedikitpun.


"Hah," –menghela nafas– "Ini rumah atau apa sih, sepi kayak kuburan aja sumpah."


Aku yang sudah muak kemudian mendobrak pintu rumahnya. Terlihat rumahnya begitu gelap karena semua lampu dimatikan. Kemudian aku berjalan secara perlahan masuk dan mencari tombol lampu, tiba-tiba aku merasa sakit di bagian leherku, saat aku menoleh ternyata seseorang menggigit leherku, dikarenakan gelap aku tidak mengetahui siapa itu. Sempat terpikir olehku yang menggigitku adalah Geovani tapi untuk alasan apa? apa karena aku menghancurkan pintunya?


Setelah digigit aku merasa sedikit pusing dan pandanganku mulai kabur sampai pada akhirnya aku berjalan sempoyongan dan terjatuh.


"Karena sudah terlanjur tak apa lah, aku tak keberatan juga membuat kontrak dengannya itupun kalau dia masih hidup," kata Geovani.


...****************...


"Hai Kira, gimana jadi psycho nya?"


"Rei? kamu Rei kan?" kataku.


"Hmmm."


"Rei!!!" seruku.


"Kalau begitu aku pergi ya, dah." kata Rei dan langsung pergi menjauh.


"Hei Rei!! mau kemana kau?"


"Rei!!!" kataku dengan keras dan baru bangun dari pingsan.


"Wow, kau berhasil," kata Geovani dengan terkejut.


"Di-dimana aku?" tanyaku.


"Di tempat tidurku," kata geovani.


Ternyata hanya mimpi.


"Gimana rasanya tidur di ranjang perempuan?" tanya Geovani.


"Enggak usah sok kenal, aku kesini cuma mau kasih surat pemberitahuan dari guru." kataku.


"Kalau soal surat sudah kubaca tadi waktu kamu pingsan."


"Oh, kalau begitu aku pulang dulu," kataku.


Saat aku berjalan keluar dari kamarnya suara perutku yang keroncongan terdengar sangat keras.


"Kamu belum makan?" tanya Geovani.


"Aku pulang dari sini langsung ke warung beli makan," kataku.


"Semua warung sudah tutup."


"Pasti masih ada yang buka," kataku.


"Enggak ada yang buka sudah tutup semua, kalaupun ada itu juga swalayan mana jauh lagi,"


"Dari mana kamu tau? tanyaku.


"Coba kamu lihat jam," kata Geovani.


Betapa terkejutnya aku saat melihat jam, ternyata sekarang jam 12 malam.


Parah, padahal cuma digigit pingsannya sampai berjam-jam. Tu–tunggu ngomong-ngomong kenapa dia menggigitku?


"Aku kebetulan juga belum makan, jadi aku mau masak. Mau makan bareng enggak? tanya Geovani.


"Diam mu kuanggap jawaban iya," kata Geovani.


Parah, parah, parah, parah, parah, baru kali ini aku serasa mati seharian kerjaan tidur doang.


Sambil menunggu dia memasak aku duduk dengan tenang di kursi meja makan, aku melihat dia memasak tapi aku tidak membantunya karena aku mempunyai alasan untuk tidak membantunya.


"Bukankah ada yang ingin kau tanyakan padaku," kata Geovani.


"Tentang apa?" tanyaku.


"Ya sudah, kalau kamu sudah ingat apa yang kamu mau tanyakan nanti kujawab," kata Geovani.


Tengah malam di rumah perempuan, kira-kira tetangga bakal bicara apa ya?


"Kamu tinggal sendiri?" tanyaku.


"Iya, orang tuaku tinggal di ista–, tinggal di kampung," kata Geovani.


"Oh di kampung, kukira tinggal di istana."


Kulihat dari belakang bahwa Geovani sedikit kaget dengan kata-kataku dan dia tertawa kecil setelah itu.


"Pertama kau menggigitku, kedua kau mentato tanganku dengan simbol aneh ini, dan ketiga sebelum aku pingsan sepenuhnya aku sempat mendengarmu berkata tentang kontrak atau apalah itu, yah apapun itu aku juga tidak peduli selama aku bisa hidup," kataku sambil memainkan jariku.


Aku tau niatnya yaitu ingin menjelaskan sesuatu padaku, Geovani menungguku untuk bertanya tapi aku berpura-pura tidak tahu agar dia menjelaskannya sendiri.


"Haha, kalau kau sudah sadar tentang itu kenapa kau tidak bertanya dari tadi," kata Geovani


"Untuk apa aku bertanya? bukankah sudah kubilang aku tidak peduli tentang itu," kataku.


"Haha, aku tidak menyangka akan menjalin kontrak denganmu tapi tak apa lah, kujalani aja dulu."


Perlahan terlihat Geovani sedikit kesakitan dan tiba-tiba dia terjatuh, untung saja aku mengetahuinya terlebih dahulu bahwa dia akan terjatuh dan aku sempat menangkapnya.


"Huh" –Menghela nafas– "Aku tidak pernah menyangka bahwa vampir itu benar-benar ada di dunia ini," kataku.


"Ba-bagaimana kau tahu?" tanya Geovani dengan kaget.


"Ternyata benar bukan, aku sempat berpikir kau itu bukan manusia dan sekarang aku tau bahwa kau itu vampir," kataku.


Perlahan Geovani berdiri dan ingin mencoba kembali memasak.


Kemudian aku langsung mengambil serok yang dia gunakan untuk memasak.


"Biar aku aja yang masak, kamu duduk istirahat aja," kataku.


"Heh, ternyata kamu punya sikap keren juga walau sedikit," kata Geovani.


"Ngomong-ngomong bagaimana kau tahu tentang aku?" tanya Geovani.


"Lebih baik jangan kamu tanya," kataku.


"Kenapa emangnya?" tanya Geovani


"Kasian author novel ini ngetik banyak-banyak buat jelasin bagaimana aku bisa tau kamu vampir," kataku.


"Author novel? apa maksudmu?" bingung Geovani.


"Bukan apa-apa, jika kau memang ingin tahu caraku mengetahui identitas aslimu aku hanya melihat kejadian beberapa hari lalu, merangkumnya dan menyimpulkan semua kejadian tersebut sampai mendapat kemungkinan terbesar," kataku.


"Tapi kamu hebat juga bisa nebak secara betul padahal banyak yang berkata kalau vampir cuma mitos dan fiksi belaka doang ditambah setelah digigit vampir kamu enggak panik sama sekali," kata Geovani.


"Satu lagi, a-aku minta maaf atas sifat dan kata-kataku yang kasar tadi," kataku.


"Iya enggak apa-apa."


"Aku pernah baca buku tentang vampir menurut manusia," kata Geovani.


"Bagaimana pendapatmu tentang sudut pandang manusia tentang vampir bagimu setelah membaca buku itu?" tanyaku.


"Menurutku manusia terlalu menganggap vampir itu jahat padahal kami saja tidak makan manusia sama sekali, bahkan tertulis bahwa umur vampir bisa sampai ratusan tahun padahal umur kami para vampir hanya sampai umur 18 tahun," kata Geovani.


"Namanya juga manusia tidak pernah bertemu dengan vampir sungguhan jadi mereka hanya beranggapan agar sisi fiksi dari vampir terlihat hebat," kataku.


"Tu-tunggu! 18 tahun apakah tidak terlalu muda?" tanyaku.


"Bagiku itu memang terlalu muda. Bahkan aku belum sempat menikmati hidupku," kata Geovani.


"Maaf nih ya, ngomong-ngomong umurmu berapa sekarang? tanyaku.


""Hmmm, Besok genap 18," kata Geovani.


"Haa, Besok umurmu sudah 18 tahun jadi...." kataku.