
"Apa!? bagaimana!? jangan-jangan teleportasi?" kataku dengan sedikit panik karena tiba-tiba aku berpindah tempat.
"Sekarang kita akan pergi kembali ke rumah Nobu, ok tuan?" tanya Ibnu.
"Tunggu!!!" kataku.
"Kalau kau ingin tau, jangan sekarang, akan aku jelaskan nanti. Sekarang kita pulang dulu," kata Ibnu.
"Bukan itu, aku tidak membawa barang yang sudah aku siapkan," kataku.
"Ya? kau tidak membawa barangmu?" tanya Ibnu.
"Saat kau berteleportasi, aku tidak memegang barangku yang sudah aku siapkan jadi itu tidak ikut terbawa," kataku.
"Hadeh tuan," kata Ibnu.
"Lagian kenapa kau tidak bilang kalau bisa teleportasi? kalau kau memberitahu pasti ini cepat selesai," kataku.
"Aku hanya bisa teleport ke tempat yang sudah pernah aku kunjungi karena aku mengingat tempat tersebut," kata Ibnu.
"Lagian juga kenapa buru-buru banget?" tanyaku.
"Dua orang yang kita hindari melihatku berada di depan rumahmu, dan mereka mengejarku," kata Ibnu.
Sebenarnya mereka tidak akan mengejar jika Ibnu tidak tiba-tiba berlari masuk ke rumahku.
"Oh, jadi ada mereka," kataku.
"Nggak terpikir barangnya akan ketinggalan di sana," kata Ibnu.
"Kalau berteleport ke sana juga percuma, pasti ada mereka yang di sana," kataku.
"Aku kagum padamu tuan," kata Ibnu.
"Ha? tentang apa?" tanyaku.
"Setelah mengetahui manusia bisa teleportasi kau tidak seheboh yang aku perkirakan," kata Ibnu.
"Aku tidak terlaku berpikir panjang, jadi aku mudah menerima hal-hal di luar nalar manusia," kataku.
"Tuanku memang hebat, kau memang pantas menjadi wakil pemimpin," kata Ibnu.
"Hih."
"Jadi sekarang bagaimana tuan?" tanya Ibnu.
"Apanya?" tanyaku.
"Sekarang bagaimana?" tanya balik Ibnu.
"Apanya yang sekarang?" tanyaku.
"Huh, maksudnya sekarang harus kemana?" tanya Ibnu.
"Hmmmmm."
"Memangnya barang apa saja yang akan tuan ambil?" tanya Ibnu.
"Hanya pakaian," jawabku.
"Yang lain? tanya Ibnu.
"Hmmmm, tidak ada, untungnya saat teleport tadi aku memegang handphoneku jadi tidak tertinggal," jawabku.
"Uangmu bagaimana?" tanya Ibnu.
"Aku juga membawanya saat teleport tadi," jawabku.
"Dimana? aku tidak melihatnya?" tanya Ibnu.
"Ah, itu semua ada di rekeningku ini," kataku sambil mengeluarkan kartu rekening dari sakuku dan memperlihatkan pada Ibnu.
"Jadi hanya pakaian saja yang tertinggal?" tanya Ibnu.
"Ya."
"Kalau begitu, sekarang kita kembali ke rumah Nobu," kata Ibnu.
"Hey hey hey, tunggu, bagaiman dengan pakaianku?" tanyaku.
"Itu tidak perlu, karena kau membawa rekeningmu jadi kita beli saja, kalau tidak cukup aku akan menambahnya," kata Ibnu.
Benar juga, lagian pakaianku sudah bolong semua karena hampir setiap hari aku tertusuk oleh pisau entah itu karena aku sendiri atau Tomo yang bercanda denganku, nggak kebayang dulu aku bercanda sama Tomo dengan cara menusuk perut dengan pisau.
"Benar juga, daripada kita kembali dan bertemu lagi dengan mereka," kataku.
"Baiklah, kita berangkat," kata Ibnu sambil menyalakan mobil.
Aku penasaran, apakah benar berita tentang Ibnu Rahman itu adalah Ibnu Rahman yang sedang mengemudikan mobil ini. Daripada aku penasaran sebaiknya aku bertanya.
...****************...
"Kemana orang berkacamata tadi? aku yakin dia masuk ke rumah Kira," kata Aki.
"Kemana dia pergi? kita sudah mencarinya dari tadi tidak ketemu," kata Hato.
"Bagaimana dia menghilang? tempat keluar dari sini hanya ada satu yaitu di depan," kata Aki.
"Bahkan aku tidak menunjukan petunjuk apapun," kata Aki.
"Ha? kau nggak ketemu petunjuk itu?" tanya Hato.
"Petunjuk apa?" tanya balik Aki.
"Aku kira kau sudah tau makanya aku tidak memberitahumu," kata Hato.
"Iya, apa petunjuknya?" tanya Aki.
"Apa kau tidak lihat di kamar Kira ada yang aneh? kau sangat tidak teliti sekali bahkan saat surat itu juga kau tidak ketemu," kata Hato.
"Maaf saja ya," kata Aki dan kemudian berjalan menuju kamarku.
"Apa yang aneh?" tanya Aki saat sampai di kamarku.
"Payah banget kau, lihat itu di dekat lemari, ada sebuah tas dan isinya baju," kata Hato.
"Terus?"
"Hampir semua bajunya ingin di masukkan ke dalam tas dan ini bajunya Kira," kata Hato.
"Jadi?" bingung Aki.
"Hadeh, jadi mereka ke sini untuk mengambil perlengkapan milik Kira dan mereka buru-buru pergi sampai lupa membawanya," kata Hato.
"Ho'oh, jadi mereka bakal kembali lagi kesini untuk mengambilnya karena lupa kan? tanya Aki.
"Sekarang hanya alasan kenapa mereka mengambil pakaian," kata Hato.
"Itu karena sekarang dia berada di pihak Assasin," kata Aki.
"Kenapa begitu?" tanya Hato.
"Karena Assasin pasti sudah menjelaskan beberapa kejamnya psycho, kalau menurutku setelah Kira mengetahui hal itu dengan sifat naifnya aku yakin dia tidak akan kembali," kata Aki.
"Jadi sekarang dia akan berada di pihak pemburu psycho?" tanya Hato.
"Ya, begitulah," jawab Aki.
"Padahal dia sendiri adalah psycho tapi malah menjadi pemburu psycho," kata Hato
"Kalau tentang itu, aku yakin dia akan sangat pintar untuk menyembunyikan hal itu," kata Aki.
"Memang apa yang membuat psycho diburu oleh Assasin?" tanya Hato.
"Lebih baik kau tidak tahu karena psycho memang pantas diburu dan harus bertanggung jawab atas hancurnya dunia," kata Hato.
"Hancurnya dunia?" bingung Hato.
"Ya, aku menyarankan kau tidak terlibat lagi dalam hal ini karena kau sudah tak ada hubungannya, lagipula adikmu sudah bukan bagian dari psychokinesis lagi," kata Aki.
"Tapi..."
"Tapi jika kau ingin terlibat silahkan saja, dan perlahan-lahan kau akan mengetahui beberapa kehancuran dunia yang disebabkan oleh psycho," kata Aki.
Aku tidak tau kalau psycho bisa merusak dunia, aku kira psycho hanya ada di negara jepang tapi ternyata mereka bersembunyi di balik dunia bukan hanya jepang. Sepertinya aku masih belum tau apa-apa tentang dunia psychokinesis, gumam Hato.
"Jika kau ingin melihat salah satu kehancuran dunia akibat psycho, kau bisa mencari di internet Paris Perancis tahun 1978 dan kau akan menemukan salah satu kehancuran akibat psycho," kata Aki.
"Ada apa ditanggal itu?" tanya Hato.
"Kau bisa mencarinya sendiri," kata Aki dan langsung pergi dari rumahku.
"Tunggu! kemana kau?" tanya Hato.
"Tentu saja pulang, kalau sudah begini percuma saja kita mencari Kira sampai ujung dunia sekalipun," kata Aki.
"Apa sebaiknya aku meninggalkan dunia psycho, lagipula benar kata Aki kalau aku sudah tak ada kaitannya lagi," kata Hato.
Aku butuh waktu untuk memutuskan hal ini, maaf ya Rei aku tidak bisa membawa Kira padamu. Aku akan tidur di rumah ini malam ini untuk menghemat uang yang diberikan Kira padaku.
...****************...
Dalam perjalanan menuju rumah Nobu di mobil.
"Boleh aku bertanya padamu?" tanyaku pada Ibnu.
"Apapun tuan, tanyakan saja," jawab Ibnu.
"Apa kau psycho?" tanyaku.
"Hahahahaha, wajar tuan berpikir seperti itu setelah melihat orang berteleportasi," kata Ibnu.
"Sebagai wakil pemimpin memang seharusnya sudah tau tentang ini, jadi akan aku beritahu," kata Ibnu.
"Ya?"
"Kalau dipikir sangat tidak masuk akal kalau orang biasa bisa mengalahkan seorang yang mempunya kekuatan psikis kan," kata Ibnu.
"Iya, manusia biasa memang mustahil bisa mengalahkan seorang dengan kekuatan psikis," kataku.
"Jadi beberapa anggota Assasin membuat kontrak dengan iblis agar mempunyai kekuatan bisa melawan psycho," kata Ibnu.
"Jadi teleportasimu itu hasil kontrak dengan iblis?"
"Ya, bukan cuma teleportasi, aku juga bisa memanipulasi darah, mau lihat?" tanya Ibnu.
"Tidak," jawabku.
"Ketiga orang yang bersamaku juga berkontrak dengan iblis," kata Ibnu.
"Kekuatan kalian sama semua?" tanyaku.
"Tidak, dan yang paling kuat diantara kami adalah Yui Narukami," kataku.
"Perempuan yang selalu tersenyum itu kan?" tanyaku.
"Ya, dia yang terkuat dari kami," jawab Ibnu.
"Apa kekuatannya?" tanyaku.
"Maaf ni sebelumnya tuan, bukannya aku tidak ingin memberi tahu, tapi lebih baik jika tuan melihat kekuatannya sendiri," kata Ibnu.
Jadi mereka membuat kontrak dengan iblis untuk melawan psycho, memang benar sih kalau hanya tangan kosong tidak akan bisa melawan psycho.
"Boleh aku bertanya satu hal lagi?" tanyaku.
"Tentu," jawab Ibnu.
"Berita pembunuh berantai asal Indonesia yang bernama Ibnu Rahman apa itu kau?" tanyaku.
"Hahahahah, pantas saja tuan sangat lama mengemasi barang-barang ternyata sambil membaca berita tentangku," kata Ibnu dengan sedikit tertawa.
"Maaf kalau aku mengungkit," kataku.
"Tidak apa tuan, aku juga tidak berniat menyembunyikannya," kata Ibnu.
"Kalau boleh tau kenapa kau membunuh?" tanyaku.
"Itu karena faktor kedua orang tuaku dan kalau membunuh orang membuat hatiku sedikit terhibur," jawab Ibnu.
"Sudah kuduga jawaban dari seorang psikopat," kataku.
"Tapi, sekarang tuan tidak perlu khawatir karena berkat Nobu aku bisa seperti orang normal sekarang," kata Ibnu.
"Apa tuan mau mendengar cerita masa laluku?" tanya Ibnu.
"Tidak," jawabku.
"Yah, sayang sekali," kata Ibnu.
Tiba-tiba mobil kami berhenti berjalan, karena bingung aku jadi bertanya kada Ibnu.
"Ada apa?" tanyaku.
"Tidak ada apa-apa tuan, saya hanya ingin membersihkan kacamata saya, setelah selesai kita akan jalan lagi," kata Ibnu.
Aneh.