Fate 7 Psychokinesis

Fate 7 Psychokinesis
Ch 29. Insiden di pesawat



Hebat, sepertinya itu kekuatan hasil kontraknya dengan iblis.


Aku jadi penasaran tentang kekuatan mereka berempat hasil dari kontrak dengan iblis.


"Akihiro Akira, itu namaku, senang bertemu denganmu," sapaku.


"Sudah tau," jawab Asada.


Hehehe, benar juga. Dia sudah tau.


"Asada Chuya, itu namaku."


Ah~, setidaknya dia membalas.


~~


Sial! kenapa bisa aku tidak bersebelahan dengan Kira, gumam Nobu.


"Ada apa nyonya? wajah nyonya terlihat kesal," tanya Yui pada Nobu.


"Tidak ada apa-apa," jawab Nobu.


"Mana mungkin tidak apa-apa kalau tuan terlihat kesal," kata Yui.


~~


"Apa kau masih tidak menyukai tuan Kira?" tanya Ibnu pada Masaki yang duduk bersebelahan.


"Mana mungkin aku menyukainya, kau kira aku gay?" jawab Masaki.


"Bukan menyukai dalam hal itu yang aku maksud," kata Ibnu.


"Jadi dalam apa?" tanya Masaki.


"Sudahlah, lupakan saja," jawab Ibnu.


~~


Dalam ketinggian di pesawat aku melihat ke arah jendela dan terpikir sesuatu.


Kalau kupikir-pikir lagi apa yang bisa kulakukan sebagai anggota Assasin? aku bahkan tidak pandai berkelahi, ya tapi setidaknya aku bisa sedikit berkelahi. Bahkan kekuatanku tidak ada yang berguna, keabadian maupun time travel yang hanya bisa digunakan sekali dalam satu hari.


"Kalau boleh tau berapa umurmu?" tanya Asada tiba-tiba.


Aku kira Asada adalah orang yang cuek dan dingin, tapi ternyata dia hanya susah berkomunikasi dengan orang.


"Hmmm, umurku masih 16 tahun sih, hehehe. Masih kecil banget," jawabku.


"Oh," kata Asada.


Apa?! dia masih kecil banget, aku kira di seumuran denganku ternyata masih di bawahku. Btw kok dia diam ya? nggak tanya umurku juga? gumam Asada.


"Hehehe, aku baru sadar juga ternyata aku masih anak kecil," kataku.


Kenapa kau tidak tanya balik? ayo! tanyalah! gumam Asada.


Hah, walaupun baterai hpku sudah penuh, tetapi tetap membosankan diam di pesawat selama 1 jam sebelum aku sampai di Tokyo.


"Ngomong-ngomong boleh aku tau untuk apa kita pergi ke Tokyo?" tanyaku.


"Karena ya, liat sendiri aja nanti," jawab Asada.


"Sebelumnya mungkin aku tidak sopan memanggil namamu, jadi boleh aku panggil 'kak'?" tanyaku.


"Tentu, lagian aku memang aku lebih tua darimu," jawab Asada.


"Kalau boleh tau umur kak Asada berapa?" tanyaku.


"18 tahun," jawab Asada.


"Aku kira kita seumuran," kataku.


"Tapi sebaiknya kau memanggilku Asada saja tanpa 'kak' itu lebih baik di telingaku," kata Asada.


"Kalau Asada yang meminta, akan kulakukan," jawabku.


Sifatnya lebih baik dari yang aku duga, aku berharap aku bisa berdua bersamanya selamanya di pesawat ini, tapi ya tidak mungkin, gumam Asada


"Gila ya, padahal cuma 1 jam perjalanan tapi kenapa malah naik kelas ekonomi premium," kataku.


"Karena nyonya Nobu punya banyak uang dan juga karena kelas ekonomi premium hanya bisa duduk 2 orang jadi bisa bermesraan, pendapatku begitu," kata Asada.


"Memangnya Nobu ingin bermesraan dengan siapa?" tanyaku.


"Entah."


"Apa aku juga harus kontrak dengan iblis untuk melawan psycho?" tanyaku pada Asada.


"Kalau kau tidak mau ya nggak apa-apa tapi setidaknya kau punya cara untuk mengalahkan mereka," jawab Asada.


Mungkin aku bisa mengalahkan mereka menggunakan otakku. Satu-satunya kemampuanku hanya linguistik tapi bagiku ini sudah cukup untuk melakukan apapun.


Saat itu datang satu orang pramugari yang membagikan masker kepada para penumpang.


"Mohon maaf sebelumnya, semua penumpang disegerakan masker yang akan dibagikan ini," kata pramugari pada semua penumpang.


Saat tiba untuk memberikan padaku dan Asada aku bertanya padanya.


"Untuk apa masker ini?" tanyaku pada pramugari sebelum aku mengambil masker tersebut.


"Ini hanya untuk kesehatan jadi gunakanlah," jawab pramugari.


"Oh begitu baiklah," kataku sambil mengambil masker yang diberikan padaku dan juga untuk Asada.


"Satunya punyaku," kata Asada.


"Ya aku tau," jawabku.


Setelah pramugari tersebut memberikan masker pada semua penumpang dia pergi ke belakang.


"Bisa kau berikan maskerku?" minta Asada.


"Tidak," jawabku.


"Kenapa?" tanya Asada.


"Ada yang tidak beres, intinya masker ini jangan digunakan," kataku.


"Kenapa?" tanya Asada.


"Saat pramugari tadi membagikan ini tadi, dia terlihat setelah menangis dan seperti terpaksa melakukan hal sesuatu," kataku.


"Kau teliti sekali, aku bahkan tak tau. Walaupun sudah melihatnya," kata Asada.


Asada menoleh ke arah yang berlawanan dan benar ternyata orang yang duduk sama seperti kita di sisi lain, orang itu kehilangan kesadaran, entah itu tertidur atau pingsan.


"Be-benar, orang itu tak sadarkan diri, tapi bisa saja dia hanya tidur," kata Asada.


"Coba kau berdiri dan lihat sekeliling," kataku


Asada kemudian berdiri dan terkejut setelah melihat semua penumpang tak sadarkan diri termasuk Nobu dan yang lain.


"Ada apa ini? kata Asada sambil terduduk dari beri dirinya tadi.


"Bagaimana kau tau mereka semua kehilangan kesadaran? kau bahkan tak berdiri untuk melihat mereka semua?" tanya Asada.


"Sudah jelas dari masker, kalau orang di sisi lain kita menggunakan masker kehilangan kesadaran pastinya semua yang menggunakan masker kehilangan kesadaran juga karena diminta oleh pramugari tadi," jawabku.


"Benar juga, aku tak terpikir tentang itu," kata Asada.


Tap... tap... tap....


Tiba-tiba dari belakang terdengar suara langkah kaki seseorang berjalan, sontak aku menyuruh Asada untuk pura-pura tidur.


"Tutup matamu dan pura-puralah tertidur," kataku pada Asada.


"Ada apa?" tanya Asada.


"Lakukan saja," jawabku.


"Ba-baiklah," kata Asada.


Dia tidak akan macam-macam kan? atau melakukan hal aneh padaku.


Aku juga menutup mataku dan berpura-pura tidur setelah menyuruh Asada.


"Yosh, semua sudah tertidur," kata seseorang dengan yang baru keluar dari pintu belakang tadi.


Suara itu… pasti dia orang yang aku dengar langkah kakinya.


Tertidur? apa maksudnya? gumam Asada.


Tap... tap... tap.... Tap... tap... tap.... Tap... tap... tap....


Banyak sekali suara langkahnya, sepertinya dia tidak sendiri.


"Aku akan pergi ke kokpit, aku minta 2 orang berjaga di sini dan sisanya ikut aku ke kokpit."


Artinya hanya ada 2 orang yang ada di tempat penumpang dan sisanya di kokpit.


"Mereka ngapain Kir?" tanya Asada dengan suara yang sangat kecil.


"Kemungkinan mereka pembajak pesawat, sepertinya bukan kemungkinan lagi tapi memang pembajak dan pesawat ini telah di bajak," jawabku dengan suara kecil.


Kalau di pikir-pikir kenapa tidak teleport saja kan mudah sampai ke Tokyo. Argh kenapa aku selalu berpikir aneh di saat-saat seperti ini.


"Yang tidak tertidur hanya kita berdua, jadi apa sebaiknya kita melawan mereka?" tanyaku pada Asada.


"Aku tidak berani karena mereka membawa senjata api," jawab Asada.


"Kau melihatnya?" tanyaku.


"Ya, saat mereka melewatiku aku membuka sedikit mataku dan melihat senjata apa," jawab Asada.


"Maaf."


"Tak perlu minta maaf, aku juga tidak berani kalau mereka membawa senjata api," kataku.


"Andai saja salah satu dari mereka ada yang bangun," kata Asada.


"Aku ada ide, sebelumnya boleh aku tau apa saja kekuatanmu?" tanyaku.


"Tentu, yang pertama aku bisa menghasilkan listrik, dan aku bisa membuat sesuatu yang aku sentuh bisa menjadi tembus pandang tak terlihat," kata Asada.


Sepertinya aku punya ide baru saat tau kekuatan Asada yang lain bisa menghilangkan sesuatu.


"Apa manusia juga termasuk?" tanyaku.


"Entahlah, aku tak pernah mencobanya," jawab Asada.


"Tetapi aku masih bisa melihat benda yang aku buat tembus pandang," kata Asada.


"Begitu ya," kataku.


"Kalau begitu bisa kau menghilangkan aku? aku punya ide," kataku.


"Untuk?" tanya Asada.


"Aku punya ide, ya walaupun ini ide yang gampang ditebak," kataku.


"Apa itu rencana kau akan menghilang dan menghantam mereka?" tanya Asada.


"Ya. karena kau tidak pernah mencobanya kekuatan itu pada manusia jadi kau tidak tau kan apa itu akan berhasil?" tanyaku.


"Ya, karena aku masih bisa melihat sesuatu yang aku hilangkan," kata Asada.


Jadi, aku harus ambil resiko ya. Ya nggak apa-apa sih lagian aku juga abadi.


"Tolong hilangkan aku!" mintaku.


"Kau yakin?" tanya Asada.


"Ya," jawabku.


"Tapi ingat, jangan sampai terkena air," kataku.


"Kenapa memangnya?" tanyaku.


"Kau akan terlihat lagi jika terkena air," jawab Asada.


"Ok, ok," jawabku.


Asada kemudian memegang bahuku dan tiba-tiba seluruh badanku terasa dingin.


"Sudah," kata Asada.


Aku kemudian membuka mataku dan aku terkejut karena aku aku bahkan tak bisa melihat diriku sendiri.


Hebat! aku bahkan tak bisa melihat badanku sendiri. Aneh sih, aku bahkan takut dengan diriku yang seperti hantu ini.


Aku kemudian berjalan mendekati 2 orang pembajak yang berjaga, kebetulan mereka berdekatan jadi aku bisa menyelesaikan sekaligus.


Tanpa basa-basi aku langsung memukul wajah mereka dengan sangat keras sampai terjatuh, di sini aku diunggulkan karena aku tak terlihat berkat Asada.


Sial! aku naksir sama dia, tapi gimana ungkapinnya ya? gumam Asada.