
Dia juga berkata bahwa psycho adalah dalang dari semua pembunuhan KN karena psycho membunuh orang dengan angka hanya untuk........
...****************...
"Aneh sekali aku, mencari Kira tanpa petunjuk sedikitpun," kata Aki.
"Kalau sampai orang senaif dia mengetahui kebenaran psychokinesis dari Assasin aku yakin dia sudah tidak bisa di ajak pulang, karena dasarnya seorang psycho memang salah dari 70 tahun lalu," kata Aki.
Sebaiknya aku menemui Hato, mudahan saja Assasin belum memberitahu Kira. Tunggu, astaga aku lupa kalau di seorang psycho, kalau ketahuan pasti dia sudah mati sekarang. Gumam Aki.
"Aku harus segera menemukannya bagaimanapun caranya," kata Aki.
Aki kemudian berlari dengan sangat cepat menuju rumahku untuk menemui Hato.
"Untung kau berada di sini," kata Aki pada Hato.
"Kita harus segera menemukannya!" kata Aki.
"Aku juga tau tentang itu, tapi di mana kita bisa menemukannya?" tanya Hato.
"Kenapa kau bertanya padaku?" kata Aki.
"Huh, susah bicara sama makhluk dunia lain," kata Hato.
"Hey, kami psycho bukan makhluk dunia lain," kata Aki.
"Itu tidak penting, yang penting sekarang kita mencarinya," kata Hato.
"Kenapa kau sangat ingin mencarinya?" tanya Aki.
Setelah mendengar pertanyaan itu Hato hanya menundukkan kepala dan seolah dia tidak mendengar pertanyaan itu dan mulai berjalan.
"Mau kemana kau?" tanya Aki.
"Tentu saja mencari Kira," jawab Hato.
"Saat kau bertanya soal itu aku menjawab, sekarang giliran aku yang bertanya kau tidak menjawab, ada apa memangnya sampai kau harus menemukannya?" tanya Aki.
"Aku punya adik dan dia lupa ingatan, jadi aku ingin dia bertemu dengan Kira dan berharap setidaknya dia ingat tentang Kira," kata Hato.
"Memangnya apa hubungan dia dengan Kira?" kata Aki.
"Itu bukan urusanmu!" kata Hato dengan sedikit marah.
...****************...
Di dunia ini banyak yang beranggapan bahwa kematian adalah akhir dari segalanya dan juga ada yang beranggapan bahwa kematian merupakan awal dari segalanya. Manakah yang benar? yang benar adalah yang mereka percayai.
"Oh, kau tidak kabur melewati tali yang aku sediakan?" tanya Nobu saat aku turun ke lantai satu.
"Tidak, sepertinya aku bisa terlibat dalam hal ini," jawabku.
"Selamat datang. Sekali lagi perkenalkan, aku Nobu pemimpin dari Assasin hanya Nobu tanpa nama keluarga menyambut dirimu dengan hangat di organisasi Assasin, Akihiro Akira."
"Tunggu! kau tau namaku?" tanyaku dengan bingung.
"Tentu saja," jawab Nobu.
Wah, aku kira dia tidak tau namaku karena tidak pernah menyebut namaku.
"Mulai sekarang kau akan tinggal disini, tapi apa kau masih ingin tinggal di rumahmu yang lama?" tanya Nobu.
"Tidak, aku tidak ingin tinggal di sana lagi. Aku tidak ingin orang yang aku kenal ikut terlibat dan memiliki nasib seperti Tomo," jawabku.
"Kalau begitu, akan aku antar kau kamarmu," kata Nobu.
"Baiklah."
"Tidak perlu terlalu formal," kata Nobu.
Dalam perjalanan Nobu memberitahuku tentang jabatan para anggota Assasin padaku.
"Aku adalah pemimpin," kata Nobu.
"Eeeee, ya, kau sudah memberitahuku tentang itu," kataku.
"Dan kamu Kira mulai sekarang adalah wakilku," kata Nobu.
"Eeeee, kok aku?" tanyaku.
"Semenjak Assasin dibentuk dan aku menjadi pemimpin aku tidak pernah punya wakil, karena semua anak buahku bilang kalau tidak ada yang pantas sejajar denganku," jawab Nobu.
Heh, bisa begitu ya.
"Ingat ini baik-baik Kira!" kata Nobu.
"Apa?" tanyaku.
"Aku adalah pemimpin Assasin," kata Nobu.
"Ya ya, kau sudah mengatakan itu tadi," kataku.
"Orang di rumah ini yang menggunakan pakaian pelayan adalah pelayan di rumah ini," kata Nobu.
Soal itu aku juga tau.
"Dan yang menggunakan baju bagus adalah anak buahku yang paling terendah," kata Nobu.
Baju bagus? kalau kulihat semua yang ada di sini menggunakan baju bagus termasuk pelayan juga.
"Sebentar lagi, beberapa orang penting akan datang jadi kau istirahat di kamarmu saja," kata Nobu dan membukakan salah satu pintu ruang.
"Ini kamarmu, kau akan tinggal di sini," kata Nobu.
Buset, gede banget cuma buat aku sendiri.
"Terima kasih," kataku ketika masuk dan menutup pintu.
Ini pilihan terbaik, kau tidak perlu terlibat lagi dalam hal seperti ini, Rei. Aku bersyukur kau hilang ingatan jadi kau tidak tahu apa-apa tentang psychokinesis dan tidak terlibat lagi sekarang.
...****************...
Dia juga berkata bahwa psycho adalah dalang dari semua pembunuhan KN karena psycho membunuh orang dengan angka hanya untuk meningkatkan kekuatan mereka.
Setiap psycho memiliki kekuatan yang berbeda-beda dan memiliki kekurangan masing-masing tapi ada satu cara agar psycho bertambah kuat, yaitu membunuh manusia normal tetapi memiliki syarat agar manusia yang dibunuh dapat memperkuat dirinya.
"Jadi yang membunuh Tomo adalah psycho, sial! aku tidak tau angka yang berada di mayat Tomo jadi aku tidak tau psycho ke berapa yang membunuhnya," kataku dengan kesal.
Kalau aku ingat berita 70 tahun yang lalu tidak ada angka 7 di badan mayat, pantas saja kekuatanku hanya kembali ke lingkup 3 jam karena tidak pernah membunuh untuk ditingkatkan, kalau aku membunuh orang dengan mengambil jiwanya dan meninggalkan jejak angka 7 mungkin aku bisa memutar waktu ke 1 tahun yang lalu dan tidak terlibat dalam hal seperti ini, tapi kalau harus membunuh orang aku tidak mau.
"Jadi misteri dunia yang belum terpecahkan ternyata berhasil dipecahkan walaupun tidak dibocorkan ke dunia."
"Jadi intinya yang dijelaskan Nobu padaku adalah psycho membunuh untuk meningkatkan kekuatannya dan hanya boleh dibunuh dengan diambil jiwanya."
"Dengan begini aku jadi mengerti kenapa Assasin memburu psycho."
Ada apa sebenarnya dengan 70 tahun yang lalu? apa itu semua awal keberadaan psycho? masih banyak misteri yang belum aku ketahui.
Ini akan menjadi sangat menarik saat aku mengetahui dengan mata kepalaku sendiri.
Tok! tok! tok!
"Hey Kira, beberapa orang penting yang aku bicarakan tadi sudah datang," kata Nobu dari luar kamar.
Ha? lantas apa urusannya denganku? ah, malasnya, aku ingin bermalas-malasan saja di tempat ini.
"Iya," kataku dengan suara sedikit keras.
Aku kemudian berjalan dan keluar dari kamar sudah ada Nobu yang menungguku.
"Ikut aku! jangan kemana-mana," kata Nobu.
"Ya ya."
"Anu, boleh aku tanya sesuatu?" pintaku
"Tentu, apa itu," kata Nobu.
"Tentang berita 70 tahun lalu, kalau tidak salah ada dua nomor yang tidak ditemukan yang artinya kedua psycho ini tidak membunuh saat di kaki gunung desa, benar bukan?" tanyaku.
"Ya, yang tidak membunuh waktu itu adalah psycho ke 7 dan ke 4, kemungkinan mereka mempunyai alasan kenapa tidak membunuh dan meningkatkan kekuatannya," jawab Nobu.
"Apa pernah terpikirkan olehmu bahwa sebenarnya mereka berdua juga membunuh tapi setelah mengambil jiwanya dia membakar mayatnya agar tidak ketahuan?" tanyaku.
"Tidak, karena jika mayat sudah terdapat angka dari psycho mayat tersebut tidak bisa hancur atau bisa dibilang mayat itu abadi," jawab Tomo.
Tunggu, apa ada kemungkinan aku ini juga mayat dari psycho karena aku abadi? tapi kalau begitu kenapa aku tidak mati? argh kepalaku semakin pusing saja. Sepertinya itu tidak mungkin karena aku tidak punya angka di tubuhku.
Aku percaya kalau psycho ke 7 tidak pernah membunuh karena Rei pernah mengatakan itu padaku.
Yang membuatku penasaran adakah psycho ke 4 apa alasan dia juga tidak membunuh 70 tahun lalu? sepertinya tujuanku adalah menemukan psycho ke 4 tidak masalah kalau yang aku temukan adalah pewarisnya yang penting dia adalah psycho ke 4.
Saat sampai di ruang tamu aku melihat ada empat orang menggunakan pakaian keanggotaan Assasin berwarna putih hitam serta sarung tangan.
Ngeri, kalau aku menggunakan baju keanggotaan Assasin itu pasti sudah kepanasan.
"Perkenalkan Kira, mereka adalah orang kepercayaanku," kata Nobu.
Keempat orang kepercayaan Nobu, mereka berada di tingkat ketiga yaitu di bawahku. Dua wanita dan dua laki-laki, salah satu laki-laki menggunakan kacamata dan satunya lagi berbadan besar dan sangar, salah satu wanita terlihat tidak peduli sama sekali dan satunya lagi mempunya rambut berwarna pirang dan juga terlihat sangat baik karena selalu tersenyum.
"Ini perintah! perkenalkan diri kalian," perintah Nobu.
"Baiklah," jawab mereka secara bersamaan dan bersikap berlutut pada Nobu.
"Perkenalkan, namaku Ibnu Rahman kau boleh memanggilku Ibnu," Kata pria yang menggunakan kacamata.
Hey, itu seperti nama orang indonesia yang pernah aku baca di internet.
"Asada Chuya," kata seorang perempun yang tidak peduli tadi dengan cuek.
"Perkenalkan, namaku Yui Narukami senang bertemu denganmu." katanya dengan senyum miliknya.
"Iya, aku juga," kataku.
Orang ini terlihat baik, tapi sebaiknya aku tidak menilai dari luarnya dulu.
"Masaki Kenichi, itu namaku," kata pria yang berbadan besar itu.
"Maaf atas kelancanganku, siapa dia sampai berani berdiri sejajar dengan ketua," kata Masaki.
"Sudah aku bilang, kalian tidak perlu memanggilku dengan sebutan ketua," kata Nobu.
"Dia adalah Akihiro Akira, mulai sekarang dia adalah wakilku ya bisa dibilang juga dia wakil pemimpin," kata Nobu.
"Ha? orang seperti dia menjadi wakil? aku tidak tau sehebat apa dirimu tapi kau tetap tidak pantas di posisi itu," kata Masaki dengan marah dalam sikap masih berlutut pada Nobu.
Aku kemudian berjalan kehadapan Masaki dan menginjak bahunya sembari berkata.
"Hey, kau tidak dengar yang dikatakan Nobu? aku adalah wakil pemimpin yang artinya kau masih di bawahku, kau berani melawan wakil pemimpin?"
Wow, sepertinya pilihanku untuk menunjuk dia sebagai wakil pemimpin tidak salah. gumam Nobu.
"Kau ingin berkelahi hah?" tanya Masaki dengan kesal.
"Hentikan itu Masaki, minta maaf lah dia atasanmu," kata Nobu.
"Cih, aku minta maaf, kalau bukan nyonya Nobu yang meminta aku tidak akan pernah meminta maaf padamu. Singkirkan kakimu dari bahuku."
Aku kemudian mengangkat kakiku dari bahunya dan kembali ke sebelah Nobu.
"Jika nyonya Nobu yang berkeinginan seperti itu kami hanya bisa mengikuti saja," kata Yui.
"Baiklah kalau begitu," kata Nobu.
"Tu-tunggu! kau bilang nyonya Nobu" bingungku.
"Ya, itu kataku tadi," kata Yui.
"Jadi kau perempuan?" tanyaku pada Nobu.
"Ha? jadi kau mengira aku selama ini laki-laki?" tanya Nobu.
"Lihat, dia saja tidak tau kalau ketua kita adalah perempuan," kata Masaki.
"Masalahnya kau terlihat seperti laki-laki daripada perempuan," jawabku.
"Kau berpakaian seperti itu jadi aku kira kau seorang laki-laki," kataku.
Tapi kalau aku lihat lebih teliti tentang wajahnya memang terlihat bahwa dia seorang perempuan, bagaimana bisa aku kira dia adalah laki-laki.