
Nobu kemudian berjalan ke arahku dan bertanya padaku sambil memalingkan wajahnya.
"Gi-gi-gimana menurutmu Ki-Kira?" tanya Nobu dengan malu sambil memalingkan wajahnya.
Oy, oy, oy, ini Nobu? sifatnya sangat berbeda dengan saat aku bertemu dengannya pertama kali. Tapi jujur, dia sangat cantik dengan penampilan dan sifatnya yang seperti ini.
"Gimana apanya?" balik tanyaku.
"Kh— Bukan apa-apa," kata Nobu langsung pergi dariku dan kelihatan sedikit marah.
"Haduh, kau sangat tidak peka ya Kira," kata kak Yui padaku.
"Kok gitu?" tanyaku pada kak Yui.
"Ini pertama kalinya dia menggunakan pakaian perempuan pada umumnya itu karena kamu yang salah pikir dan mengiranya pria, jadi dia berpenampilan layaknya wanita untukmu," kata kak Yui.
"Perkataan yang sulit kupahami," kataku.
"Huh, jadi dia berpenampilan wanita untukmu," kata kak Yui.
"Kenapa aku?" tanyaku.
"Entah, mungkin dia ingin terlihat cantik di depanmu," kata kak Yui.
"Oh gitu, tapi kenapa aku?" tanyaku.
"Kau banyak tanya, sekarang cepat katakan pendapatmu tentang penampilannya pada nyonya Nobu," kata kak Yui sambil mendorongku ke tempat Nobu berada.
"Kenapa aku?" tanyaku.
"Karena dia tadi bertanya padamu," jawab kak Yui.
"Memangnya dia ada bertanya padaku tadi?" tanyaku lagi.
"Iya, kau payah sekali, cepat sana!" kata kak Yui setelah mendorongku ke dekat Nobu dan meninggalkanku.
"Anu Nobu," kataku pada Nobu.
"Bisa tolong letakkan koper ini di mobil?" tanya Nobu pada pelayannya.
"Tentu nyonya," jawab pelayannya dan pergi meletakkan kopernya menuju mobil, dan hanya tersisa aku dan Nobu berdua.
Aku tidak habis pikir, orang seperti Nobu membunuh beberapa bawahannya yang mengejarku kemarin bahkan menyimpan kepala mereka di karung. Padahal kalau diperhatikan Nobu sangat baik kepada orang, ya mungkin karena mereka melawan Nobu jadi membunuhnya.
"Ada apa?!" tanya Nobu padaku dengan sedikit marah.
"Kau terlihat cocok dengan pakaian itu," kataku sambil memegang kepala belakangku dengan satu tanganku.
"Dan …?" teriak kak Yui dari jauh.
Hebat sekali kak Yui bisa dengar dari jauh. 'Dan' apanya? aku nggak ngerti.
"Eeee, dan kau juga terlihat sangat cantik dengan itu," kataku.
Aku tidak tau apa maksud 'Dan' dari kak Yui tadi, jadi aku mengungkapkan apa yang aku lihat sendiri.
"Hehehe, terima kasih," kata Nobu dengan senyum manisnya.
Sial! aku hampir lupa kalau aku punya Rei.
Plak!…
Aku mendaratkan tamparan cukup keras ke pipiku sendiri. Membuat pipiku memerah dan terasa panas.
"Hey! kenapa kau menampar wajahmu sendiri?" tanya Nobu.
"Tidak ada apa-apa," jawabku.
Ingat Kir, kau punya Rei, jangan sampai lupa.
"Sebentar lagi kita akan berangkat, jadi siapkan barang yang mau kau bawa," kata Nobu.
"A … aku tidak bawa apa-apa," jawabku.
"Lah? terus kamu pulang tadi ngapain?" tanya Nobu.
"Banyak yang terjadi jadi aku nggak bisa ambil barang-barangku, setidaknya hal-hal yang penting masih ada di aku," jawabku.
"Kita akan pergi ke Tokyo naik pesawat dan biayanya ditanggung sendiri," kata Nobu.
"Ya aku tidak masalah tentang itu," kataku.
Lagian aku juga punya cukup uang jadi aku bisa bayar tiket pesawat sendiri.
Dari jauh kak Yui berlari menuju Nobu dengan wajah yang sedikit menahan nangis.
"Loh, kenapa mau nangis?" tanya Nobu pada Yui.
Apaan? nangis bohongan, sudah keliatan jelas. Tunggu! kalau bisa teleport menggunakan kekuatan Ibnu kenapa harus naik pesawat?
"Hiks, hiks..., aku tidak tau kalau naik pesawatnya bayar sendiri," kata kak Yui sambil berakting menangis.
"Hahahaha, itu hanya candaan saja, tadinya aku mau membuat Kira terkejut tapi reaksinya malah datar," kata Nobu.
Ha?! sepertinya Assasin belum menyelidikiku sepenuhnya karena mereka tidak tau kalau aku hidup berlimpah uang, dan mencoba menakutiku dengan berkata bahwa tiket pesawat bayar sendiri.
"Syukurlah, karena keuanganku bulan ini sudah menipis," kata kak Yui.
"Padahal aku sudah pernah bilang kalau yang berkaitan dengan tugas akan ditanggung olehku, kenapa kau bisa lupa," kata Nobu.
"Hehehe."
"Padahal gaji yang aku berikan sangat besar tapi kenapa bisa menipis sangat cepat?" tanya Nobu pada Yui.
"Wow," Nobu kemudian perlahan mendekatkan mulutnya pada telinga kak Yui dan berbisik.
"Saat di Tokyo nanti apa kau bisa menemaniku untuk…," bisik Nobu.
Tiba-tiba Ibnu datang dan kemudian berbicara padaku.
"Sepertinya tuan, kita tak akan sempat membeli pakaian di sini jadi sebaiknya kita membeli di Tokyo saja," kata Ibnu padaku.
"Ok, ok," jawabku.
"Pakaian?" bingung kak Yui.
"Secara singkat, saat kamu pergi ke rumah tuan Kira, kami tidak dapat membawa pakaiannya karena beberapa hal menghalangi kami, jadi saat di Tokyo nanti aku akan menemaninya membeli pakaian," kata Ibnu.
"Kebetulan sekali," kata kak Yui.
"Bagaimana kalau bersama Kira saja nyonya?" tanya bisik kak Yui pada Nobu.
"Aku tak mau," jawab bisik Nobu pada Yui.
"Lah? kenapa? kan kebetulan bisa berdua," tanya bisik Yui pada Nobu.
"Aku ingin membuat dia jadi terkejut jadi tidak bisa dengannya," jawab bisik Nobu pada Yui.
"Oh gitu, baiklah akan aku temani nyonya," kata Nobu.
Wah, sepertinya nyonya Nobu juga menyukai Kira, aku jadi bingung ingin memihak nyonya Nobu atau Asada dalam mendapatkan Kira, gumam kak Yui.
Selang beberapa menit Masaki datang ke rumah Nobu dan beberapa menit kemudian Asada juga datang.
Saat dalam perjalan ke bandara aku bertanya pada Nobu di dalam mobil, karena kebetulan kami satu mobil. Sebenarnya tidak kebetulan melainkan rencana Nobu sendiri.
"Untuk apa kita pergi ke Tokyo?" tanyaku pada Nobu.
"Kau lihat saja sendiri nanti, dan ingatlah bahwa aku adalah pemimpin Assasin," jawab Nobu.
"Ya aku tau kau pemimpin Assasin, kau sudah mengatakannya hari ini," kataku.
"Kira-kira perjalanan naik pesawat dari Osaka ke Tokyo berapa lama ya?" tanyaku.
"Entah, bukannya kau bisa menggunakan internet di hpmu?" tanya Nobu.
"Baterainya habis," jawabku.
"Kau tidak mengisinya?" tanya Nobu.
"Tidak," jawabku.
Oh ya, aku belum pernah mengatakan bahwa aku tinggal di Osaka dari lahir dan juga lahir di Osaka, mungkin ini sangat terlambat tapi setidaknya kalian semua tau aku tinggal di Osaka.
"Dari yang aku dengar dari Ibnu bukannya kau tidak tahan naik mobil?" tanya Nobu.
"Ya memang benar, tapi aku bisa dengan mudah beradaptasi," jawabku.
"Oh begitu."
~Saat di bandara~
Kami berdua turun dari mobil dan wajahku terlihat sangat pucat.
"Tolong jaga rumah ya!" kata Nobu pada pelayan sopir mobil yang kita gunakan.
"Baik nyonya," jawab pelayan sopir tersebut.
"Lah, kamu nggak apa-apa Kir? wajahmu pucat banget," kata Nobu dengan khawatir.
"Huh, aku terlalu memaksa diriku sendiri," kataku.
Saat di bandara dan masuk ke dalam pesawat aku tidak tau apa yang terjadi tapi sepertinya ini sudah direncanakan aku duduk bersebelahan dengan Asada.
"Anu …, maaf Asada, saat take off tidak boleh menggunakan hp dulu. Jadi sebelum take off sebaiknya matikan dulu kalau sudah take off baru bisa digunakan kembali," kataku pada Asada yang duduk di sebelahku.
"Oh gitu," jawab Asada.
Setelah take off Asada mengambil hpnya dari kantong dan menggunakannya.
Sifatnya dingin banget, aku jadi takut berbicara padanya.
"Hpmu kenapa?" tanya Asada dan langsung membuatku sedikit terkejut.
"Aaa, baterainya habis," jawabku.
"Ada apa memangnya mau bertanya?" tanyaku.
"Saat di bandara tadi aku melihatmu terlihat tidak tenang sambil memegang hpmu, jadi aku berpikir setidaknya bisa membantu," jawab Asada.
Wah, ternyata dia memperhatikanku. Aku kira dia orang yang sangat dingin dan tak peduli terhadap orang lain.
"Kau punya power bank?" tanyaku.
"Tidak."
"Berikan hpmu padaku," kata Asada.
Aku kemudian memberikan hp milikku pada Asada dan dia menunjukan jarinya pada lobang pengisi daya di hpku dan terlihat ada aliran listrik keluar dari tangannya yang mengalir ke hpku dan seketika baterai hpku langsung penuh.
"Te-terima kasih," kataku sambil menyambut saat dia memberikan hpku.
Hebat, sepertinya itu kekuatan hasil kontraknya dengan iblis.