
Tu-tunggu aku tinggal sendirian dan pintunya aku kunci tadi pagi, lantas siapa itu?
Astaga aku baru sadar, saat aku membuka pintu tadi nggak terkunci. Tapi apa benar aku mengunci pintu tadi pagi, aarrrgghh malah bikin pusing. mungkin sebaiknya aku masuk dan langsung pergi memeriksa ada siapa di dalam rumahku.
Tenang kir, mungkin itu suara tetangga yang kebetulan juga ada yang baru pulang. Dengan tenang aku berjalan seperti biasa masuk ke dalam rumah. Setelah kuperiksa beberapa waktu di rumahku aku tidak menemukan adanya orang lain di rumahku, tetapi saat aku ingin masuk ke kamar mandi pintunya terkunci, tanpa sadar aku langsung pergi ke kamarku.
"Astaga!! aku baru ingat kalau kamar mandi dikunci dari dalam."
Dengan cepat aku berlari dan langsung menendang pintu kamar mandi sampai roboh. Dan ternyata... tpidak ada siapa-siapa di dalam kamar mandi itu.
"Heh, gimana lagi memperbaiki pintu ini, panggil Tomo ajalah besok diakan mantan kuli," Kataku sambil merapikan daerah sekitar pintu tersebut.
Dengan tubuh yang kelelahan aku langsung pergi ke kamar. Saat sampai di kamar aku melihat wanita dengan pakaian serba putih di kamarku mirip seperti orang yang meniupkan aura-aura hitam saat di sekolah tadi siang.
"Yoo, gimana rasanya bermain dengan diri sendiri?"
"Jadi bukan kamu yang berada di kamar mandi tadi, dan kau arwah yang meniupkan aura-aura hitam ke arahku tadi siang bukan?"
"Yap, tapi aku heran dengan reaksimu yang datar setelah tau bahwa ada orang di rumahmu padahal kau tinggal sendiri. Tunggu!! bagaimana kau tau bahwa aku arwah?"
"Itu mudah, waktu kau tiba tiba menghilang tadi siang itu sudah mustahil di lakukan orang yang hidup ditambah kalau diperhatikan kau sama sekali tidak menginjak lantai dan wajahmu pucat sekali."
"Aaahhhh, begitu ya," kata arwah tersebut sambil memalingkan badan nya.
"Bo-bodoh" kata arwah tersebut dengan suara yang kecil.
"Maaf, aku tidak memujimu dan juga bagian mana yang kau anggap itu pujian?" tanyaku.
"Jadi, ada urusan apa seorang arwah meniupkan aura-aura hitam ke arahku?" kataku sambil mencari handphone milikku.
"Aura hitam itu bukan apa-apa."
Jleb...!!!
Saat aku mencari handphone milikku tiba-tiba arwah tersebut menusuk perutku dengan tangannya.
"Ukh!.....ada apa denganmu," kataku sambil menahan rasa sakit dan akhirnya terbaring lemas.
"Aku hanya ingin tahu kenapa sebelum aku mati aku selalu bertemu denganmu dalam mimpiku dan terdengar suara untuk memberikan kekuatan ini," kata arwah tersebut.
"Akh!.....apa yang kau bicarakan?" kataku dengan lemas
Aku mencoba tenang agar tubuhku bisa cepat beregenerasi. Bisa dibilang ini sangat sakit sekali bahkan untuk seorang yang mempunyai keabadian sepertiku.
"Ternyata mimpi itu hanya bunga tidur," kata arwah dengan kecewa.
"Kau berisik sekali yaah," kataku dengan darah yang masih mengalir ke lantai.
"Ara-ara, ternyata masih bisa bicara. Baiklah aku akan menunggumu apakah kamu masih bisa bertahan atau akan mati disini," kata arwah.
"Akan kutunggu sampai kapanpun, kalau ada yang bisa kubantu akan kulakukan sebisaku," kata arwah sambil duduk di kasur milikku.
"Kalau begitu bisakah kau menelpon ambulan dengan handphoneku?" tanyaku.
"Apa kau pikir arwah bisa memegang benda?" tanya arwah.
"Aku mempunyai opini, apa kau mau mendengarnya?" tanyaku.
"Lebih baik kau tidak banyak bicara, tapi kalau kau memaksa aku mau mendengarnya. Mendengar kata-kata orang sebelum mati tidak buruk juga," kata arwah.
"Hehe itu lucu, memang mustahil bagi arwah bisa memegang benda dan juga bagaimana kau bisa menusukku dengan tangan kananmu. Sejak aku masuk pertama kali ke kamarku dan melihatmu ada sesuatu yang janggal yaitu kenapa kamu menyembunyikan tangan kananmu, jadi setelah kau menusukku aku akhirnya tau bahwa tangan kananmu masih hidup dan tidak termasuk bagian dari arwahmu walaupun itu sulit dipahami oleh akal tapi memang itu kenyataannya, betul bukan?" tanyaku.
"Aku akui kau memang hebat bisa menyimpulkan itu dalam keadaan seperti ini, lebih baik kau menghemat tenagamu dan juga apa yang kau dapatkan setelah mengetahui hal itu?" tanya arwah.
"Aku mengira kau menyembunyikan handphoneku di tangan kananmu tapi aku salah, kemungkinan kau menyembunyikan handphoneku di suatu tempat agar aku tidak bisa memanggil ambulan. Bisa dikatakan bahwa tujuanmu adalah mencegahku memanggil ambulan agar kau dapat melihatku bertahan hidup dan kau mengalihkan perhatianku dengan mengunci kamar mandi dari dalam agar kau dapat mencari di mana letak handphoneku. Kau boleh menyangkal hal itu karena itu hanya 50% kemungkinan kejadiannya, awalnya aku berpikir bahwa itu 100% kejadiannya seperti itu tapi setelah mendengar kekuatan atau apalah yang kau katakan tadi aku menurunkannya menjadi 50%," kataku pada arwah.
"Sepertinya kau terlalu banyak berpikir, jika kau bisa bicara lebih baik kau hemat tenagamu."
Akhirnya aku bisa bertemu langsung denganmu, semenjak mimpi pertama tentangmu aku selalu ingin bertemu langsung denganmu. Tapi sayang, aku hanya bisa bertemu denganmu dalam keadaan begini, tapi ini tetap membuatku senang. Gumam Arwah.
"Maaf ya, aku terpaksa melakukan cara ini, aku sangat merindukanmu. Awalnya aku merasa biasa-biasa saat pertama kali bertemu denganmu di mimpi, karena terlalu sering ada 1 hari dimana aku tidak memimpikanmu dan itu membuatku... entahlah, aku sendiri tidak mengerti," kata arwah.
"Jujur saja, ini pertama kalinya aku bertemu denganmu, bahkan di mimpi sekalipun, aku tidak tau kenapa kau selalu bermimpi tentangku," jawabku.
Setelah aku melihat perutku yang sudah sepenuhnya beregenerasi aku langsung berdiri.
"Jadi apa kau menyangkal opiniku?" tanyaku sambil berdiri perlahan.
"Ap–ap–apa...!!! pe–perutmu ... sembuh? Makhluk apa kau ini?" tanya arwah dengan wajah yang sangat ketakutan.
Aku heran kenapa dia ketakutan seperti itu padahal dia sendiri adalah arwah.
"Kenapa kau takut begitu padahal kau adalah arwah atau kau takut karena gagal membunuhku?" tanyaku sambil mengambil pel untuk membersihkan darah di lantai.