Fate 7 Psychokinesis

Fate 7 Psychokinesis
Ch 26. Masa lalu si kacamata II



Saat membuka pintu kamarnya, Ibnu terkejut dan terdiam seperti patung tanpa sepatah katapun karena melihat ibunya yang sudah gantung diri di kamarnya.


"I-ibu?"


"Bohong, ini pasti bohong," kata Ibnu dengan wajah tak percaya dengan yang ia lihat.


"Ini pasti hanya boneka yang digantung oleh ibu untuk menakutiku, hahahaha tidak lucu ibu, jadi di mana ibu sembunyi?" tanya teriak Ibnu.


Karena tak percaya, ibnu menyentuh badan ibunya yang tergantung dan ketakutan karena merasakan bahwa itu bukan boneka dan tubuh manusia asli.


"Bohong," –hiks, hiks...– "Kenapa jadi begini bu? Ibnu nggak tau kalau ibu masih merasa terpukul setelah satu tahun ini, kenapa ibu nggak cerita?" tanya Ibnu pada mayat ibunya yang tergantung.


Hiks, hiks, hiks, hiks.


Ibnu kecil tertunduk hanya bisa menangis tanpa melakukan apapun, tidak ada yang tau alasan kenapa Ibnu hanya diam dan tidak memberitahukan pada siapapun.


Dua hari kemudian, guru yang mengajar Ibnu di sekolah mulai khawatir karena sudah dua hari Ibnu tidak turun ke sekolah tanpa kabar.


"Aneh, padahal masih awal-awal sekolah, nggak mungkin orang tuanya melarang dia sekolah," kata guru.


Setelah pulang sekolah, guru tersebut memeriksa data diri Ibnu dan akhirnya menemukan alamat rumahnya dan dia memtuskan sebelum dia pulang ke rumahnya dia akan berkunjung dulu ke rumah Ibnu karena khawatir.


"Permisi," kata guru sambil mengetok pintu.


"Per-, eh? nggak dikunci rumahnya," kara guru.


Walau begitu tetap tidak sopan kalau langsung masuk tanpa permisi, gumam guru.


"Permisi, apa Ibnu ada?" tanya guru pada pintu yang masih tertutup rapat dan melihat melalui jendela.


Cukup lama guru tersebut memanggil tetapi tetap tak ada jawaban.


"Apa tidak ada di rumah ya? kalau mereka pergi pasti pintunya tidak akan dibiarkan tidak terkunci."


"Apa tetangga di sini tak ada yang peduli apa? tidak merasa aneh gitu?" kata guru sambil melihat rumah tetangga sekitar rumah Ibnu.


Apa sebaiknya aku masuk aja kali ya? gumam guru.


"Hey, ada apa dari tadi memanggil?" tanya seseorang wanita yang kebetulan keluar dari rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Ibnu kepada guru.


"Saya gurunya Ibnu dari sekolah, Ibnu sudah dua hari tidak sekolah tanpa kabar karena saya khawatir jadi saya ingin menemuinya," jawab guru.


"Memang benar, selama dua hari ini aku juga tidak pernah melihat ada Ibnu ataupun ibunya keluar dari rumah."


Wanita itu kemudian pergi mendekati guru yang berada di depan rumah Ibnu dan juga ingin ikut memeriksa.


"Kau sudah lama memanggilnya kan?" tanya wanita tersebut.


"Iya, dan tidak mendapat jawaban apapun," jawab guru.


"Kalau begitu langsung masuk saja, lagian pintunya juga nggak dikunci," kata wanita tersebut.


"Ah itu, ya sudahlah."


Setelah masuk mereka berdua mencium bau yang sangat tidak enak sekali.


"Bau apa ini?"


"Iya, bau banget."


Merekapun memilih mengabaikan baunya dan pergi mencari karena tidak mungkin kalau mereka pergi jalan tetapi tidak mengunci pintu.


Saat guru tersebut naik ke lantai dua menuju kamar Ibnu dia mencium bau yang sangat tidak enak itu menjadi semakin kuat, baru sampai di depan pintu kamar yang terbuka guru tersebut terdiam membatu dan mengatakan sesuatu dengan terbata-bata dan langsung terduduk jatuh.


"Ma-ma-ma-ma," kata guru dengan ketakutan.


"Ada apa? sampai kau begitu?" tanya wanita tersebut dari lantai satu.


Guru tersebut tidak menjawab dan hanya bisa terdiam melihat ada orang yang gantung diri. Karena penasaran wanita tersebut juga berjalan menuju kamar Ibnu dan melihat apa yang juga dilihat oleh guru.


"I-itu bo-boneka kan? sepertinya bukan," tanya wanita tersebut.


"Sial! baunya sangat menyengat sekali," kata wanita tersebut.


"Aku akan pergi keluar dan menelpon polisi," kata wanita tersebut.


Karena gelap guru tersebut tidak dapat mengetahui apakah itu ibu dari Ibnu atau bukan.


"Ibnu? dimana Ibnu?"


Di dalam kamar yang sudah sangat bau itu guru tersebut masuk dan menyalakan lampu untuk mencari Ibnu.


"Itu, Ibnu!" seru guru.


Terlihat Ibnu kecil yang terbaring di pojok kamar dengan keadaan pingsan dan guru tersebut kemudian menggendong Ibnu keluar rumah.


"Apa sudah kau panggil polisi?" tanya guru saat baru keluar dari rumah sambil membawa Ibnu kecil dan bertanya pada wanita yang bersamanya tadi.


"Ya aku sudah memanggilnya. Itu Ibnu, bagaimana keadaannya?"


"Dia masih hidup, fisiknya sangat lemah, sepertinya dua hari lalu dia menemukan ibunya bunuh diri dan dia belum makan ataupun minum sejak ibunya sudah tiada sampai sekarang," kata guru.


"Aku menelpon polisi dan memberi tahu ada kejadian bunuh diri, pasti mereka juga akan membawa ambulan dan Ibnu bisa kita serahkan ke pada mereka," kata wanita tersebut.


"Kalau boleh tau dimana ayahnya?" tanya guru.


"Ayahnya... sudah meninggal akibat tabrak lari tahun lalu."


"Astaga," kaget guru.


"Jadi, sekarang dia yatim piatu, apa Ibnu punya keluarga lain?" tanya guru.


"Aku tidak tahu," jawabnya.


"Hidupmu terlalu keras untuk anak kecil sepertimu Ibnu," kata guru pada Ibnu yang berada di gendongannya.


Setelah menunggu kedatangan polisi dan ambulan akhirnya mereka datang dan kedua wanita tadi menyerahkan Ibnu pada mereka dan tentang wanita gantung diri itu.


1 minggu kemudian setelah kejadian itu Ibnu kembali bersekolah lagi dan dia sekarang tinggal di panti asuhan.


Bukannya membaik tapi bersekolah hanya membuat mental Ibnu semakin turun karena dia diejek anak lain ibunya mati gantung, aneh padahal yang mengejek juga seumuran dengan Ibnu. Tanpa tujuan mereka mengejek Ibnu tidak memiliki orang tua, hari-hari yang dilalui oleh Ibnu penuh dengan ejekan walaupun guru sudah meminta untuk berhenti mereka tetap saja melakukan hal buruk pada Ibnu.


Sangat sulit dibayangkan mereka yang melakukan itu adalah anak umur 6 tahun dan masih sekolah dasar kelas 1.


"Hey! mau lihat foto ayahku nggak?"


Tidak diketahui darimana mereka bisa mengetahui hal ini, yang pasti orang tua mereka tidak mendidik dengan baik.


Dibandingkan melawan Ibnu lebih memilih diam terhadap ejekan tersebut dan mengabaikannya.


"Hey! bagaiman kabar orang tuamu yang ada di bawah tanah?"


Suatu hari, karena Ibnu sudah muak dengan itu semua saat pulang sekolah dan keluar dari kelas Ibnu langsung menarik rambut orang yang sering mengejeknya dan membantingkannya ke dinding dengan sangat keras sampai puluhan kali dan membuat wajahnya bengkak.


Tidak diketahui dari mana asalnya sifat brutal milik Ibnu ini berasal, kemana Ibnu yang dulu pergi?


"Hahahaha, ini terasa sangat menyenangkan hahahaha, dadaku... dadaku terasa sangat lega hahahaha," teriak Ibnu kecil sangat keras sampai terdengar satu sekolah sambil membanting terus kepalanya dengan sangat brutal tanpa ampun.


Seorang kakak kelas yang melihatnya tidak tinggal diam dan langsung menjauhkan pengejek Ibnu dari Ibnu.


"Hey!!! kenapa kamu?" sampai membanting wajah temanmu?" tanya kakak kelas pada Ibnu.


"Percuma kau bertanya padanya," saut teman kakak kelas tersebut.


"Ada apa memangnya?" tanyanya.


"Kau lihat matanya, itu mata putus asa, dia sudah tidak peduli terhadap apa-apa lagi."


"Aku tidak mengerti maksudmu."


"Intinya, percuma mau di apakan, mental anak ini sudah rusak."


"Aku masih tidak menyangka, anak umur enam tahun seperti dia punya sifat psikopat seperti ini."


"Ya, itu karena beberapa faktor."


"Lebih baik kau bawa anak yang terluka itu ke UKS dan aku akan membawa anak psikopat ini ke ruang guru."


"Ya," jawabnya.


"Hahahaha, lepaskan! lepaskan! kepalanya masih belum hancur," kata Ibnu yang sedang ditangkap kakak kelas.


"Gila, ini parah banget luka di wajahnya," kata kakak kelas.


"Sudah! yang lain bubar, pulang sana," kata kakak kelas kepada orang-orang yang melihat orang yang melihat.


"Cih, siapa kau? lepaskan atau kau juga mau hah?" kata Ibnu dengan wajah garangnya.


"Sepertinya tak ada pilihan lain selain membuat anak ini pingsan," kata kakak kelas dan langsung memukul tengkuk Ibnu sampai pingsan.


...****************...


"Memanggil ambulan juga percuma, kepalanya sudah sangat hancur di dalam karena benturan itu, dia akan mati," kata kakak kelas.


"Hey! jangan begitu, pasti masih bisa," kata temannya.


"Percuma, anak ini akan mati."


Ambulan kemudian datang dan membawa anak yang terluka itu ke rumah sakit.


Singkat cerita, saat di pengadilan ibu yang anaknya terluka bahkan sampai mati tidak terima dan meminta hukuman mati pada Ibnu karena dia sudah membunuhnya dengan sengaja.


"Setelah sedikit kita selidiki, ini semua salah anak anda dan juga tes yang dilakukan menunjukan bahwa anak itu mempunyai gangguan kejiwaan dan anakmu memancing hal itu keluar," kata hakim pengadilan.


"Tapi dia membunuh."


"Ibnu Rahman dinyatakan tidak bersalah dan kasus ditutup," kata hakim pengadilan.


Saat itu Ibnu kecil hanya terdiam bersama pengasuh panti asuhan di dalam pengadilan tersebut dan pulang ke panti asuhan.


Saat di panti asuhan, Ibnu diusir dan tidak diizinkan tinggal di panti asuhan lagi.


"Kau hanya memperburuk nama panti asuhan ini, pergi kau dari sini," kata petugas panti asuhan dan melempar tas yang berisi pakaian Ibnu.


Ibnu berjalan tanpa tujuan sampai malam hari dan duduk di bawah lampu jalanan. Kebetulan gurunya yang mengajarinya di hari pertama sekolah lewat melihat Ibnu dan menawari untuk tinggal di rumahnya.


"Hey Ibnu! mau tinggal di rumah ibu?" tanya guru.


Tanpa basa-basi Ibnu langsung menerimanya dan mereka pergi ke rumah ibu guru.


Setelah cukup lama guru tersebut memutuskan untuk mengadopsi Ibnu kecil.


"Terima kasih saja tidak akan cukup, jadi aku akan menjadi anak yang baik," kata Ibnu dengan senyumnya.


Semua berjalan dengan lancar tapi tidak selamanya. Saat Ibnu berumur 15 tahun dia tidak tau bahwa ibunya sudah mengalami depresi karena pekerjaannya dan tuntutan orang tua ibunya yang ingin cepat mempunyai cucu kandung dan bukan adopsi.


Untuk kedua kalinya setelah Ibnu pulang sekolah dia melihat lagi pemandangan 9 tahun yang lalu dan sama persis, Ibnu menemukan ibunya yang sekarang sudah gantung diri di kamarnya.


"I-ibu? kenapa? kenapa? semua orang yang dekat denganku selalu berakhir begini," kata Ibnu dengan menangis di depan mayat ibunya yang tergantung.


Ibnu lebih bijak sekarang, dia menelpon polisi tentang kejadian itu. Setelah seminggu penyelidikan penyebab kematiannya diketahui yaitu karena pekerjaan dan depresi yang mendalam.


Mendengar hal itu, Ibnu sudah tidak tau apa-apa lagi dan dia menuju rumahnya untuk pulang.


"Huh, karena pekerjaan ya," kara Ibnu sambil melihat langit.


Pada malam hari Ibnu pergi ke luar rumahnya dan pergi ke SD nya dulu tempat ibunya bekerja dengan membawa benda tajam. Entah apa yang terjadi semua guru di SD tersebut belum pulang dan masih di sekolah padahal sudah malam.


Setelah sampai di SD nya dulu tanpa pikir panjang Ibnu membunuh semua guru yang ada di sana bahkan setelah dia juga keluar dari SD tersebut dia bahkan juga membunuh pasangan yang sedang berduaan pada malam hari.


Tak butuh waktu lama, polisi langsung dengan cepat bisa menemukan pelaku pembunuhnya. Dan Ibnu mendapat hukuman penjara selama 12000 tahun. Tidak terbayang akan seperti apa dunia saat di sudah keluar dari penjara.


1 tahun berlalu setelah di selidiki lebih dalam lagi, terdapat beberapa hal yang aneh dan setelah menyelidikinya lagi pengadilan memutuskan untuk mengeksekusi mati Ibnu saat masih berumur 16 tahun.


Saat malam hari, sebelum paginya Ibnu Rahman di eksekusi Nobu datang pada Ibnu dan menawarkan bergabung padanya dan akan membantu membuat kematian palsu. Anehnya tidak ada yang tau bagaimana Nobu bisa menemui Ibnu di dalam penjara.


Ibnu menyetujui hal itu dan Ibnu lolos dari penjara dengan memalsukan kematiannya dan mereka pergi ke jepang, dan kemudian Nobu menjelaskan semua tentang psycho dan dia menjadi bawahan terpercaya Nobu.


Mulai dari hari itu Ibnu yang dulu sudah tidak ada berkat Nobu yang sudah membantunya dan memperbaiki sifatnya.


SELANJUTNYA : Balas dendam?