
"Omong kosong, palingan dari orang yang menusukku kemaren."
Aku tau bahwa surat itu tidak penting, makanya aku membakarnya.
"Aku butuh makan, banyak banget aku ngambil darahku buat Geovani tadi, kira-kira 1 botol itu cukup enggak ya sampai sore."
"Misalkan aku tidak memberinya darah apa yang terjadi? dia tidak memberitahuku."
Sepertinya banyak yang belum dia jelaskan, terutama tentang matahari. Akan kutanyakan saja padanya langsung saat pulang sekolah nanti.
Aku kemudian mengambil bahan-bahan yang sempat aku beli dalam perjalanan pulang tadi dan mulai memasak, setelah selesai memakan makanan yang aku buat dan langsung pergi menuju kamarku dan bermain handhpone, saat menjelajahi internet aku menemukan berita dimana ada 27 mayat yang ditumpuk di tempat sampah yang ditemukan tadi pagi oleh warga sekitar dan seperti yang diduga pembunuhnya adalah KN.
"Apa sih sebenarnya tujuan dia membunuh, ditambah membunuh tanpa luka hanya memberi angka ditubuh korban itu sangat tidak masuk akal."
Kalau dipikir aku ini lebih tidak masuk akal karena keabadianku, sudah lama aku menyelidiki diriku sendiri tapi tidak menemukan petunjuk apapun tentang keabadianku bahkan masih banyak misteri tentang keabadianku salah satunya yaitu apa benar aku ini abadi atau regenerasi saja, kalau aku hanya meregenerasi saja artinya aku abadi dan tidak bisa mati dan kalau aku abadi kenapa aku bisa tumbuh tua.
"Arghh, makin hari semakin pusing, bahkan aku sendiri tidak paham apa yang aku pikirkan barusan."
"Mungkin aku tidur aja lah, siapa tau aku bisa bertemu Rei di mimpi," kataku sambil meletakkan handphone ku dan langsung mencoba tidur.
"Oy kadal, bangun!" kata Tomo.
Aku terbangun dari tidurku karena dibangunkan oleh Tomo yang berada di kamarku saat itu.
"Ha? apa?" kataku yang masih setengah tidur.
"Bangun binatang, kau disuruh ke sekolah," kata Tomo.
"Ha? ngapain?" tanyaku.
"Kepala sekolah mau bicara sama kamu," kata Tomo.
"Jam berapa sekarang?" tanyaku.
"Jam 2 siang," jawab Tomo.
"Malas lah, masih ngantuk," kataku.
"Cepat," kata Tomo.
"Mau bicara apa lagi?" tanyaku.
"Mana tau aku, salah sendiri asal pulang seenaknya," kata Tomo.
"Iya iya," kataku.
"Bawa tas?" tanyaku.
"Bawalah," jawab Tomo.
Aku kemudian bersiap-siap dan langsung pergi ke sekolah pada siang itu.
"Parah banget kamu Kir, berangkat sekolah jam 2 siang," kata Tomo.
"Yoi."
Saat sampai di sekolah Tomo berbicara padaku untuk langsung pergi ke ruang kepala sekolah saja, Tomo berkata dia ingin langsung pergi ke kelas.
Saat sampai di ruang kepala sekolah aku melihat hanya ada kepala sekolah di sana sendirian dan aku langsung masuk dan bertanya kepadanya.
"Permisi pak, ada apa ya pak memanggil saya yang sedang istirahat di rumah? tanyaku pada kepala sekolah.
"Silahkan duduk dulu," kata kepala sekolah.
"Baik pak," kataku dan langsung duduk di salah satu kursi di ruangan tersebut.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf atas kejadian tadi pagi."
"Itu kejadian yang tidak terduga dan juga hal itu sudah terjadi tidak mungkin bisa diubah," kataku.
"Dan juga saya meminta maaf kalau pihak sekolah tidak bisa membantumu tentang kejadian dimana kamu menghajar polisi tadi pagi," kata kepala sekolah.
"Tapi, kalau tentang kamu yang menangkap pembunuh itu sudah diatasi bahkan semua murid menganggap itu hanya berita hoax," kata kepala sekolah.
Sontak aku terkejut, apa yang terjadi saat aku berada di rumah.
"Ha? kenapa bisa begitu pak? tanyaku.
"Saat istirahat pertama tadi, saya melihat Tomo yang keliling memberitahukan kepada semua murid bahwa itu berita bohong yang dibuat, mungkin dia ingin membantumu untuk tidak menjadi pusat perhatian lagi."
Dia seenaknya saja, membantu orang sampai segitunya.
"Kira, lindungi sahabatmu itu," kata kepala sekolah.
Aku kemudian beranjak dan dari kursi dan langsung berjalan keluar ruangan.
"Aku mau masuk kelas dulu pak, terima kasih," kataku.
Aku berjalan dan akhirnya sampai di kelas, saat sampai di kelas aku diizinkan masuk dengan bebas oleh guru yang sedang mengajar di kelasku waktu itu.
"Hey, Berita itu hanya hoax bukan?"
"Benar, itu hanya hoax."
Seperti biasa aku pergi ke bangkuku dan saat duduk Tomo langsung menyapaku.
"Heh, ternyata tetap sekolah kukira bakal langsung pulang habis bicara sama kepala sekolah," kata Tomo.
Mungkin sebaiknya aku tidak membicarakan hal itu, jadi sebaiknya aku pura pura tidak tau saja.
"Tenang Kir, berita itu sekarang sudah menjadi hoax jadi kamu enggak jadi pusat perhatian lagi," kata Tomo.
"Ha? kok bisa begitu? tanyaku seolah aku tidak tahu apa-apa.
"Aku juga tidak tahu, aku mendengar dari kuping ke kuping," kata Tomo.
"Oh begitu. Btw Geovani kok enggak ada?" tanyaku.
"Dia di UKS, tiba-tiba dia merasa enggak enak badan dan langsung diminta guru pergi ke UKS. Cie tiba-tiba nyariin, pasti ada sesuatu di antara kalian nih," kata Tomo.
Aku kemudian meminta izin kepada guru untuk pergi ke UKS dengan alasan aku merasa tidak enak badan.
Setelah di beri izin aku langsung pergi ke UKS untuk menemui Geovani, saat sampai aku melihat Geovani yang sedang tidur sempat terpikir olehku kenapa dia sakit? bukankah dia abadi selama yang membuat kontrak tidak mati.
Apa mungkin karena dia terkena sinar matahari?
Aku kemudian pergi menutup jendela kaca dengan gorden sampai tidak ada cahaya matahari yang masuk dan hanya menyalakan lampu elektronik.
"Oy vani bangun, kamu enggak mati kan karena sinar matahari?" tanyaku.
"Oy vampir bangun."
Tunggu!? aku ngapain kesini? mau bangunin dia? buat apa? dia kan sakit kenapa mau aku bangunin? tunggu! kok dia bisa sakit? apa mungkin kondisi mental yang memegang kontrak mempengaruhi kesehatan vampir?
Kalau aku amati sepertinya vampir tahan terhadap matahari, karena kalau kulihat tadi walaupun Geovani terkena matahari dia tetap sehat dan tidak terbakar. Yang ingin kutahu hanya kenapa dia bisa sakit? apakah kondisi mental orang yang memegang kontrak mempengaruhi kesehatan vampir?.
Tanpa kusadari Geovani terbangun dan langsung memelukku dan juga menggigit leherku.
"Aw, hey, tidak perlu sambil memeluk bisa bukan?" kataku.
Sialan, dia menggigitku sangat keras sekali, sepertinya dia masih setengah tidur.
Untung saja kami berada di titik buta dari cctv UKS kalau tidak pasti bakal jadi masalah Yang lebih report lagi.
Aku melepas pelukannya tapi tetapi membiarkan dia menggigit leherku.
Geovani perlahan membuka matanya dan akhirnya sadarkan diri.
"Aku di mana?" tanya Geovani.
"Aku punya pertanyaan," kataku.
"Bisa kau tunda dulu hal itu, aku mencoba menyegarkan diriku dulu," kata Geovani.
"Ngomong-ngomong kamu ngapain disini Kir?" tanya Geovani.
"Aku disini bukan karena kau sakit, aku kesini karena masih ada yang belum kau jelaskan tentang vampir," kataku.
"Hmm, tsundere nih," kata Geovani.
"Kalau kamu bisa begitu berarti boleh aku tanyakan," kataku.
"Ish, nggak asik," kata Geovani.
"Kalau tentang aku yang sakit ini karena aku enggak minum darahmu, jadi kalau dalam jangka waktu lama aku enggak minum darahmu aku bakal sakit bahkan pingsan sampai aku bisa minum darahmu lagi," kata Geovani.
Belum juga aku nanya, tapi ok lah bisa lebih cepat.
"Kalau matahari gimana?" tanyaku.
"Cih, kami tahan terhadap matahari."
"Ada pertanyaan lagi?" Tanya Geovani
"Untuk sekarang tidak ada, untuk sekarang," kataku.
"Yaudah."
"Yaudah aku mau kembali ke kelas," kataku.
"Kukira kamu mau temenin aku disini, masalahnya aku masih butuh darahmu," kata Geovani.
"Oh iya, sini botolnya kuisikan lagi," kataku.
"Padahal sudah kubilang kalau aku lebih suka minum dari sumbernya langsung, hmph."
"Mana botolnya?" tanyaku.
"Kubuang."
"Ha!? serius?" tanyaku.
"Karena aku mau langsung dari sumbernya jadi aku buang alat penghalang itu," kataku.
"Kelakuan hadeh, kalau begini aku ngikut alur ajalah," kataku.
Saat kembali ke kelas, tidak banyak hal Yang tejadi sampai saat pulang sekolah juga. Kami bertiga pulang bersama
Malam telah tiba, aku berbaring di kasurku memikirkan apa yang akan kulakukan besok karena aku tidak pergi ke pertemuan orang tua.
Sempat terpikir bagiku seperti apa rasanya mempunyai keluarga yang benar benar bisa disebut keluarga walaupun hanya sebentar itu sudah cukup bagiku. Tanpa sadar aku tertidur terlalu cepat, mungkin karena aku banyak kehilangan darah.
Di pagi hari, saat ingin mencari udara segar aku dihampiri oleh Tomo dan dia langsung memintaku mengenakan pakaian sekolah dan bersiap pergi ke sekolah.
"Aku enggak pergi, ngapain aku menggunakan seragam kalau aku enggak pergi?" tanyaku.
"Cepat aja enggak usah banyak omong."
Aku menurutinya dan bersiap dan menunggu apa instruksi dari Tomo selanjutnya.
Sebelum itu, aku pergi ke rumah Geovani untuk mengantar darahku yang sudah kubungkus menggunakan kantong darah yang aku temukan di UKS kemaren.
Aku menunggu cukup lama. Saat aku mendengar suara bel di rumahku aku langsung bergegas pergi ke pintu depan. Betapa terkejutnya aku ternyata yang datang adalah ayahnya Tomo.
"Paman? ada apa ya?" tanyaku.
Ayah Tomo kemudian memperlihatkan surat pemberitahuan yang bertuliskan namaku.
"Aku akan jadi walimu untuk pertemuan ke sekolah," kata ayah Tomo.
Jadi ini yang dimaksud Tomo kalau aku bakal pergi.
"Tidak usah repot repot paman, itu tidak perlu," kataku.
"Kenapa memangnya? apa karena aku bukan orang tuamu? kata ayah Tomo.
"Itu ... ,"
"Hey dengar Kira, aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri semenjak orang tuamu meninggal dan aku juga tau perlakuan mereka terhadapmu," kata ayah Tomo.
"Aku... ,"
"Bahkan kalau orang tuamu tidak bisa menerima keabadianmu aku bisa menerimanya," kata ayah Tomo.
"Loh, kok paman tau?" tanyaku dengan heran.
"Aku sudah lama mengetahuinya, Tomo yang memberitahuku," kata ayah Tomo.
"Aku... benar benar abadi dan itu bukti bahwa aku monster," kataku.
"Walau begitu, aku tetap menganggapmu keluarga."
"Aku ini MONSTER!!!" teriakku.
"Aku tetap menganggapmu keluarga," kata ayah Tomo.
"Aku ini monster, monster, monster, bukan manusia, hanya monster yang berwujud manusia," kataku dengan keras entah itu terdengar sampa ke tetangga atau tidak.
"Walau begitu, aku tetap menganggapmu manusia dan bagian dari keluargaku." kata ayah Tomo dengan lembut.
Aku kemudian memukulkan tanganku ke arah dinding dengan sangat keras sampai tanganku terluka parah.
"Setelah paman melihat secara langsung tanganku yang meregenerasi ini apakah masih menganggapku manusia?" kataku sambil melihatkan luka yang aku buat dari memukul dinding dengan sangat keras tadi.
Ayah Tomo langsung memelukku dengan lembut sembari berkata 'Ya, kamu manusia sekalipun kamu berbeda dengan manusia lainnya tapi kamu tetap manusia'.
Dalam pelukannya aku meneteskan air mata, aku tidak tau kenapa aku meneteskan air mata sepertinya itu keluar sendiri.
Ini pelukan yang hangat, sudah lama aku tidak merasakannya. Aku berharap ini semua bukan mimpi.
Singkat cerita, aku pergi ke sekolah bersama ayah Tomo sebagai waliku. Saat sampai di sekolah aku melihat Tomo sedang bersama ibunya, aku tidak menghampirinya karena kondisi emosionalku yang sekarang.
Saat selesai, aku diajak oleh ayah Tomo pergi kerumahnya untuk makan siang, awalnya aku menolak tapi karena ayah Tomo memaksa jadi aku menerimanya.
Setelah sampai dirumahnya, aku melihat Tomo yang sudah terlebih dahulu pulang dengan ibunya.
"Yo Kira, gimana?" tanya Tomo.
"Apanya?" tanyaku.
"Udah enggak usah ribut, makanan sudah siap nih," kata ibu Tomo.
Aku berjalan pergi ke meja makan dan duduk di salah satu kursi yang kosong.
Aneh, perasaanku yang tinggal di rumah Tomo cuma 3 orang tapi kenapa ada 4 kursi di ruang makannya?
"Enggak usah ragu Kira, makan aja. Tomo kalau makan susah, suka pilih-pilih."
"Namanya juga manusia pasti pilih-pilih makanan," saut Tomo.
"Kalau perlu jangan sisain Tomo, Kira," kata ayah Tomo.
"Hehehehe."
Sembari makan aku melihat Tomo dan ayahnya yang bersenda gurau dengan lepas dan sekali-sekali ayah Tomo juga bergurau padaku sampai membuatku tertawa, padahal tertawa saat makan itu tidak baik.
Jadi ini rasanya bersama keluarga yang sesungguhnya. Ah, ini menyenangkan sekali, aku ingin hidup bersama mereka selamnya.
"Loh Kira, kenapa kamu nangis," tanya ibu Tomo.
"Untuk kalian, terima kasih," kataku sambil menundukkan kepala.
"Habisi dulu makannya," kata ayah Tomo.
Selesai makan, aku berpamitan kepada mereka untuk pulang ke rumahku.
"Sudah mau pulang?" tanya ibu Tomo.
"Iya... masih ada urusan," kataku.
"Kalau begitu hati-hati ya, maaf enggak bisa ngantar," kata ibu Tomo.
"Enggak apa-apa tante, ini aja udah cukup kok, sekali terima kasih paman, tante, dan Tomo juga," kataku.
Aku berjalan pulang ke rumahku, sampai saat di rumah aku masih tetap memikirkan hal menyenangkan itu sampai malam hari.
Aku mengira aku telah menemukan kebahagiaan mempunyai keluarga, tapi itu semua dihancurkan saat aku bangun di pagi hari.
Di pagi hari aku bangun dan langsung pergi ke dapur mengambil susu dan langsung pergi menonton televisi.
"Kasus KN di temukan lagi hari ini, kali ini korbannya tinggal di ................, 3 orang yang tinggal di rumah tersebut ditemukan tewas tanpa luka dan hanya ditemukan angka pagi hari ini," kata reporter televisi.
"Kasus KN lagi."
"Hmm, rumah yang ada di TV itu mirip sekali dengan rumah Tomo," kataku.
Tunggu dulu, 3 orang? tinggal di ...... jangan-jangan.
Aku kemudian berlari menuju rumah Tomo yang berada di gang sebelah dengan cepat.
"Oy, oy, oy seriusan ini," kataku sambil berlari menuju rumah Tomo.
Saat sampai betapa terkejutnya aku di rumah Tomo banyak sekali orang di sana.
Tahan dulu kir, mungkin itu tetangga di sebelahnya dan bukan keluarga Tomo.
Saat aku berjalan mendekat dan bertanya kepada polisi yang berada di sana polisi tersebut menjawab 'Korban kali ini adalah keluarga Shiroi dan semua anggota keluarganya meninggal dibunuh oleh KN,' "
"Jadi pak, orang yang bernama Shiroi Tomo juga... ," kataku.
"Sangat disayangkan dia juga meninggal."