
"Aku memutuskan untuk terlibat dalam hal ini," kataku.
"Kenapa? padahal kau bisa hidup tenang," tanya Hato.
"Karena aku merasa, sepertinya aku ada kaitannya dengan dunia psychokinesis ini," kataku.
"Jadi kemana sekarang kita akan berlari?" tanya Hato.
"Aku ada ide," kataku.
"Apa itu?" tanya Hato.
"Kita bicarakan saja dengan mereka," kataku.
"Ha!? kau gila, memangnya mereka mau di ajak bicara setelah di serang dengan kekuatan psycho dari Aki tadi pagi," kata Hato.
"Ikut saja," kataku.
Karena aku sudah memperkirakan beberapa hal, jadi ini adalah ide yang bisa dibilang cukup hebat. Sebenarnya yang akan aku lakukan cuma hal biasa tapi hanya untuk membuat suasana sedikit tegang aku jadi sedikit menakuti kak Hato.
"Mudahan saja bukan hal yang aneh atau apalah lah," kata Hato.
Saat anggota Assasin mengejar kami, aku hanya diam seolah menyerahkan diri pada mereka. Setelah mereka sampai sesuai perkiraanku mereka langsung menangkap kami.
"Anu, bisakah kita bicara sebentar?" tanyaku.
"Setelah kau menendang wajahku kau ingin bicara?" kata salah satu pria.
"Dan jangan lupa karena kekuatan psycho yang digunakan temanmu tadi."
"Kalian tau? sebenarnya aku tidak ada hubungannya dengan psycho, temanku yang sudah kalian bunuh hanya dia yang memiliki psycho dan kami berdua tidak mempunyai psychokinesis," kataku.
"Tidak apa, mungkin kau akan berguna sedikit. Tunggu! kau bilang 'bunuh', iya kan?" tanya salah satu pria.
Ha? jangan bilang kalau mereka tidak tau kalau Aki sudah mati, ya walaupun dia memalsukan kematiannya.
"Kalian tidak tau?" jadi bukan kalian yang membunuhnya?" tanyaku.
"Syukurlah kalau dia sudah mati, karena dia terus berlari jadi kami hanya melempar benda tajam dari jauh dan benda tajam itu menancap dibadannya, jadi kami tidak tau kalau dia sudah mati," kataku.
Walaupun aku tidak terlalu mengenalnya, asal kalian tau saja dia tidak akan mati semudah itu.
"Walaupun sekarang kalian tidak ada hubungannya dengan psycho, kalian berdua akan tetap berguna bagi kami."
"Terutama seorang perempuan ini," kata salah satu pria dengan niat jahatnya.
"Oy, berani kalian apa-apakan dia aku tidak segan membunuh kalian," kataku dengan tatapan sangat serius.
Sebenarnya aku hanya menggertak mereka saja, sejujurnya aku tidak punya keberanian untuk membunuh seseorang.
"Itu tidak perlu Kir, Rei yang memintaku untuk melindungimu jadi kau tidak perlu melindungiku," kata Hato.
Setelah mengatakan hal itu kak Hato langsung melepaskan dirinya sendiri dan menghajar mereka satu persatu tetapi saat dalam perkelahian salah satu pria membawa benda tajam dan berhasil melukai tangan kak Hato.
*Hahahaha. A*ku memang tidak berguna sekali, masalah sepertinya ini saja menyerahkan pada perempuan.
Karena tidak ada yang bisa aku lakukan jadi aku hanya berdiam diri saja. Saat melihat ada pria yang membawa senjata tajam dan ingin menusuk kak Hato dari belakang dengan reflek aku langsung memegangi tangan pria tersebut.
"Ish ish, kalian ini apa tidak malu? melawan wanita sendirian saja menggunakan benda tajam padahal kalian sudah melukai tangannya dengan benda tajam itu dan sekarang ingin menusuknya dari belakang," kataku.
"Kira," kata Hato.
"Berisik, kau yang masih berlindung di belakang wanita apa pantas mengatakan itu hah?"
"Uh, yang kau katakan itu membuatku sakit, kalau begitu bagaimana kalau aku ikut menghantam kalian?" tanyaku.
Kalau sudah begini ideku sudah gagal, mau bagaimana lagi sebaiknya aku juga membantu.
Tanpa pikir panjang, aku langsung memukul tengkuk orang yang membawa benda tajam tadi sehingga dia pingsan.
Daripada berkelahi dengan mereka dan membuang tenaga, aku memilih untuk langsung membuat mereka semua pingsan dengan memukul tengkuk mereka walaupun kadang aku juga terkena pukulan untungnya luka pukulan itu langsung beregenerasi dan beruntungnya aku karena tidak dilihat oleh kak Hato.
"Daripada melawan mereka lebih baik langsung seperti ini saja," kataku.
"Apa kita biarkan saja mereka semua terbaring di jalanan seperti ini?" tanya Hato.
"Nggak apa-apa," kataku.
"Sepertinya betul apa yang kau katakan Kir, Aki belum tentu meninggal," kata Hato.
"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang," tanyaku.
"Aku mau mengurus beberapa hal, kebetulan aku kesini disuruh ibuku jadi sekalian menuhin perintah Rei," kata Hato.
"Jadi begitu, kalau tentang tidur malam ini kau ingin di hotel?" tanyaku.
"Maunya sih begitu," kata Hato.
"Kalau kau tidak keberatan aku akan menerimanya," kata Hato.
"Kalau begitu kau pulang saja duluan, aku mau ambil uangku," kataku.
"Kenapa pulang duluan? aku bisa ikut," kata Hato.
"Nggak usah ikut!" perintahku.
"Trus, yang jaga kamu siapa?" kata Hato.
"Astaga, aku bisa jaga sendiri, liat tadi kan," kataku.
"Aki masih kurang yakin sih, tapi ingat hati-hati," kata Hato.
Singkat cerita kak Hato pergi menuju hotel dan dia tinggal di sana untuk beberapa hari sampai aku selesai pindah. Saat itu aku masih belum tau bahwa hotel yang ditinggali oleh kak Hato hanya bersebelahan kamar dengan psycho yang aku temui saat bersama Geovani di taman.
Karena kelelahan aku tidur lebih cepat dari biasanya. Sebelum aku tidur, aku sudah sangat yakin bahwa aku mengunci rumahku.
Aku tiba-tiba terbangun dengan terikat di sebuah kursi dan kaki juga tangan terikat di kursi.
"Woaah, eh?"
"Oh kau sudah bangun, maaf atas perlakuan tidak sopan kami," kata seseorang yang tidak ku kenal berada di depanku.
"Ada apa ini? kenapa aku diikat di kursi? dan juga kalian siapa?" tanyaku dengan bingung karena aku baru saja bangun tidur kaget karena diikat.
"Kau bisa memanggilku Ketua, kami baru saja menculikmu hahahahaha."
Ha!? aku diculik? siapa memangnya orang ini daritadi dia selalu tersenyum, apa hidupnya sebahagia itu sampai selalu tersenyum, kalau dilihat sepertinya dia juga seumuran denganku.
"Eeee maaf, aku tidak mengerti apa yang kau katakan, mungkin aku bisa mudah mengerti apa yang akau katakan kalau kau melepas ikatan ini," kataku.
"Sebenarnya aku juga ingin melepaskanmu dari kursi itu karena aku nggak tega liat orang digituin, tapi nanti kamu malah lari," kata ketua.
"Oh begitu, kalau boleh tau kenapa saya diculik ya?" tanyaku.
"Tidak ada apa-apa, hanya saja karena temanmu yang sudah mati itu seorang psycho jadi aku sedikit tertarik padamu," kata ketua.
"Dari yang aku dengar kau bukan seorang psycho bukan?" tanya ketua.
"Ya, darimana kau tau itu?" tanyaku.
"Oh, itu dari anak buahku," kata ketua.
"Anak buah?" bingungku.
"Aku juga minta maaf karena perbuatan anak buahku padamu kemaren," kata Ketua.
Apa sih yang dia bicarakan hah? aku nggak mengerti.
"Sebagai gantinya, aku menghukum para pria tersebut karena telah berperilaku buruk padamu," kata Ketua.
Kemaren? apa mungkin anggota Assasin kemaren.
"Hey, tolong bawakan karung itu kemari," perintah ketua pada salah satu orang yang juga ada di sana.
Kemudian seseorang datang membawa karung besar ke hadapanku.
"Apa ini?" tanyaku.
"Bukalah karungnya sendiri kalau kau ingin tau hahahaha," kata ketua.
"Maunya sih begitu, tapi tanganku masih terikat di kursi," kataku.
"Oh iya, ahahahahahahaha aku lupa," kata ketua.
Saat ketua membuka karung tersebut di hadapanku betapa terkejutnya aku karena di dalam karung itu ada 7 kepala tanpa badan dan saat kulihat lagi ternyata itu adalah kepala anggota Assasin yang mengejar kami kemaren.
"I-ini, apa kau yang melakukan ini? tanyaku.
"Ya begitulah, lagian juga mereka anak buahku jadi tidak apa-apa. Ini juga salah mereka karena mengganggumu kemaren, anggap saja ini sebagai permintaan maaf atas kelakuan mereka," kata ketua.
Aku memang tidak boleh menyimpulkan seseorang dari luarnya saja, orang ini berbahaya, sangat berbahaya bahkan.
"Tunggu! tadi kau berkata anak buahmu bukan?" tanyaku.
"Iya, benar," jawab ketua.
"Jadi kau, juga seorang Assasin?" tanyaku.
"Lebih tepatnya pemimpin dari grup Assasin," kata ketua.
Hahahahahaha sampai di culik pemimpinnya langsung pasti ada yang lebih dari yang kuperkirakan.
"Aku adalah Nobu sang pemimpin Assasin, mempunyai banyak alasan kenapa aku menculikmu," kata Nobu.