Fate 7 Psychokinesis

Fate 7 Psychokinesis
Ch 33. Unknow



~Kyoto~


"Aku pulang!"


"Selamat datang, gimana? udah selesai ngurusnya?"


"Iya, sudah bu."


"Syukurlah."


"Keadaan Rei gimana bu?" tanya Hato pada ibunya saat masuk rumah.


"Dia baik, lagi tidur di kamarnya," jawab Ibu Hato.


"Hari ini kita bawa Rei ke Tokyo ya bu," kata Hato pada ibunya.


"Tapi nak, kita tidak punya uang," jawab ibu Hato.


"Gapapa bu, Hato ada rezeki jadi bisa bawa Rei ke Tokyo untuk pengobatan lagi," kata Hato.


"Syukurlah kalau begitu," kata ibu Hato.


"Kita berangkat jam 3 pagi ya bu," kata Hato.


Hato kemudian berjalan ke kamar Rei yang sedang tertidur.


"Rei maaf, kakak nggak bisa bawa Kira."


"Iya gapapa kak," jawab Rei.


"Loh, belum tidur? aku kira sudah tidur," kata Hato.


"Apa Kira yang kakak sebutkan itu sepenting itu dalam hidupku dulu sebelum aku kehilangan?" tanya Rei.


"Ya, dia sangat penting bagimu," jawab Hato.


"Aku pernah tanya pada ibu tentang Kira tapi dia tidak tau, bagaimana dia penting bagiku kalau aku saja bahkan tak bisa berjalan ke luar rumah untuk bertemu orang lain, seandainya dia yang datang menemuiku di rumah ini seharusnya ibu kenal dengan dia," kata Rei.


"Itu jangan terlalu dipikirkan, saat ingatanmu kembali kau pasti akan mengerti semuanya," jawab Hato.


"Memangnya ingatanku bisa kembali" tanya Rei.


"Pasti bisa," jawab Hato.


"Besok kita akan ke Tokyo buat pengobatanmu lagi, ok?" kata Hato.


"Sebenarnya aku berpikir sebaiknya kalian tidak mengobatiku lagi," kata Rei.


"Kamu kenapa lagi?" tanya Hato.


"Kalau terus mengobatiku uang kalian tidak akan cukup untuk memenuhi keinginan kalian," kata Rei.


"Kau tau Rei? Keinginanku hanya ingin melihat adikku tersenyum bahagia, hanya itu," kata Hato.


Setelah mendengar itu, Rei tiba-tiba tersenyum kepada Hato dan berkata "Aku sudah tersenyum bahagia sekarang."


"Itu bukan senyum bahagia adikku, tapi terpaksa tersenyum," kata Hato sambil mencubit pipi Rei.


"Ad-aduh, hmp!"


"Hehe. Sudah malam sebaiknya kamu tidur, besok kita ke Tokyo pagi-pagi sekali," kata Hato.


...****************...


Hacih!….


Suara bersinku.


"Kau tak apa?" tanya Asada.


"Sepertinya ada yang membicarakanku," jawabku.


Setelah selesai makan ramen kami berdua pergi ke hotel yang di katakan oleh Nobu.


~Di depan hotel~


Gede banget hotelnya, kalau aku sendirian pasti tersesat.


"Ikut aku! jangan sampai nggak ikut!" kata Asada.


"Ya ya," jawabku.


Dalam perjalanan menuju kamar kami tidak banyak bicara karena aku fokus melihat betapa besarnya hotel ini.


Aneh sekali aku, kayak tidak pernah liat bangunan sebesar ini.


"Kamarmu di sana," kata Asada dengan menunjuk salah satu pintu kamar.


"Oh di sana, kukira kita satu kamar ternyata beda," kataku.


"Ha? apa yang kau pikirkan sudah jelas laki-laki dan perempuan dipisah," kata Asada.


"Jadi aku cuma berdua aja sama Ibnu?" tanyaku.


"Ya, memangnya sama siapa lagi," jawab Asada.


"Aku kira bakal sama Masaki juga," kataku.


"Kalai dia masih hidup dia juga akan di sana," kata Asada.


"Nggak kebayang seperti apa kalau aku dan dia satu kamar, pasti bertengkar terus," kataku.


"Ya nggak kebayang karena dia sudah tidak ada," kata Asada.


Aku kemudian masuk ke kamar yang ternyata tak terkunci, saat masuk aku sudah melihat ada Ibnu yang menundukkan diri.


"Ada apa denganmu?" tanyaku pada Ibnu.


"Tolong hukum aku seberat-beratnya tuan," pinta Ibnu.


"Ya, akan kuhukum seberat-beratnya dirimu, karena kau lalai dan tidak sadar bahwa yang masker yang kau gunakan mengandung obat bius dan karena itu Masaki jadi … jadi … sudah tidak ada," kataku.


Aku kemudian berjalan melewatinya dengan santai.


"Eh? tuan? kau tidak menghukumku?" bingung Ibnu.


"Itu sudah tak perlu," jawabku.


"Saya sangat berterima kasih tuan," kata Ibnu sambil menundukkan dirinya lagi.


"Saya juga sebenarnya ingin menggunakan itu untuk ke Tokyo, tapi nyonya Nobu melarang dan tidak memberitahu alasannya," jawab Ibnu.


"Jadi harus tanya langsung ke Nobu ya."


"Aku mau istirahat, jadi tolong jangan berisik," kataku.


"Apa istirahat akibat obat bius itu belum cukup tuan?" tanya Ibnu.


"Huh, aku tak tau mau melakukan apa, jadi tidur mungkin yang terbaik," kataku.


"Apa tuan sudah makan malam?" tanya Ibnu.


"Sudah," jawabku.


"Baguslah."


Keesokan paginya aku bangun dari tidur, entah kenapa aku bisa tidur setelah tak sadarkan diri cukup lama.


"Akhirnya tuan bangun," kata Ibnu yang sedang berkaca saat itu.


"Kau mau kemana berpakaian rapi seperti itu?" tanyaku.


"Bukankah sudah diberitahu oleh nyonya Nobu, kalau pertemuannya di batalkan tadi malam jadi pagi ini pertemuannya," jawab Ibnu.


"Aku tidak ingat, tapi melihatmu sepertinya itu benar," kataku.


"Pertemuannya jam 10 sebelum itu kita akan bertemu dengan perdana menteri terlebih dahulu," kata Ibnu.


"Jadi sebaiknya tuan juga bersiap-siap," kata Ibnu.


"Gimana ya, kau ingat kan aku tidak bawa pakaian apa-apa," kataku.


"Astaga aku lupa, maafkan saya tuan," kata Ibnu sambil menundukkan diri.


"Gapapa, itu bukan salahmu tapi salahku karena tidur terlalu lama kemaren," kataku.


"Anu Ibnu … bisakah kau berhenti menunduk padaku seperti itu, tidak perlu sampai seperti itu," kataku.


"Kalau ke toko sekarang mana ada yang buka," kata Ibnu.


"Hey … kau tidak mendengarku?"


"Sebaiknya tuan gunakan dulu pakaianku," kata Ibnu.


Dia tak mendengarku sama sekali, kenapa dia senang sekali menundukkan diri?


"Aaaa … aku tak ada pilihan lain," jawabku.


"Silahkan pakai saja pakaian di koper itu tuan, saya ingin sarapan," kata Ibnu dan langsung keluar dari kamar hotel.


"Huh, aku juga lapar," kataku sambil beranjak dari tempat tidur dan menuju ke koper milik Ibnu.


"Apa tidak ada pakaian simpel? semuanya pakaian rapi, aku nggak suka pakaian repot begini," kataku.


"Terpaksa gunain ini ajalah," kataku.


Setelah selesai memakainya aku pergi sarapan bersama semuanya dan tanpa ada kejadian penting kami pergi menemui perdana menteri.


"Naik mobil?" tanyaku.


"Bukannya kau sudah kuat naik mobil tuan?" tanya Ibnu.


"Mana mungkin aku tahan," jawabku.


"Ok google, jarak ke tempat perdana menteri dari lokasi sekarang," kataku pada internet di hpku.


"Hanya 500 meter lebih, eit tunggu! aku hampir lupa, kenapa tidak gunakan teleportasi milik Ibnu untuk ke tempat perdana menteri bahkan juga saat ingin pergi Tokyo saat kita di Osaka?" tanyaku.


"Itu karena aku ingin menikmati perjalanan," jawab Nobu.


"Cih, karena keegoisanmu Masaki sudah tidak ada lagi, walaupun kau adalah ketua Assasin dan aku hanya wakilmu, perlakuanku tak akan berubah," kataku.


"Jadi kau masih ingin menikmati perjalan menuju ke tempat perdana menteri?" tanyaku.


"Kau harus ingat aku ini atasanmu KIRA!" kata Nobu dengan tegas.


"Lantas kenapa kalau kau atasanku?" tanyaku.


"Tak ada gunanya berdebat, aku akan jalan kaki menuju ke sana sendirian," kataku.


"Kau-"


"Sudahlah nyonya," kata Yui yang menengahi Nobu.


Ibnu kemudian tiba-tiba menundukkan badannya ke pada Nobu dan pergi mengikutiku tanpa mengatakan apapun pada Nobu dan yang lain.


"Biarkan juga dia nyonya," kata Yui.


"Ada apa denganmu?" tanyaku pada Ibnu yang mengikutiku.


"Sudah jelas mengikuti tuan," jawab Ibnu.


"Apa tuan ingin teleport saja dengan saya menuju tempat perdana menteri?" tanya Ibnu.


"Ya, aku ingin teleport saja," jawabku.


"Tapi kita tidak bisa langsung ke sana karena nyonya Nobu ingin para pemerintah tidak tau apa kekuatan yang dimiliki Assasin walaupun mereka tau kalau Assasin bersekutu dengan iblis," kata Ibnu.


"Tidak masalah," jawabku.


"Baiklah."


Ibnu kemudian memegang telingaku dan kami langsung berpindah ke tempat yang tidak jauh dari tempat perdana menteri.


"Sambil menunggu mereka kebetulan ada beberapa toko di daerah sini, bagaimana kalau kita mencari pakaian di sana," kata Ibnu.


"Sambil menunggu mereka ya, boleh lah daripada bosan nunggu," kataku.


Saat dalam perjalanan aku tak sadar bahwa aku berpapasan dengan kak Hato yang membawa Rei berobat ke Tokyo, tetapi Rei tidak bersamanya saat itu.


"Ki… Kira?"


Karena aku merasa mendengar namaku dipanggil, aku penasaran dan melihat kebelakang saat itu juga kak Hato juga melihatku dan kami saling melihat satu sama lain. (Bukan adegan romantis)


"Kak Hato?"


"Benar… kau Kira," kata kak Hato.