Fate 7 Psychokinesis

Fate 7 Psychokinesis
Ch 1. Pertemuan



KRIING...!!!


Suatu pagi di sebuah rumah Terdengar suara alarm hp yang menunjukan pukul 06:00, seseorang yang tertidur di kasur langsung mengambil hp tersebut dan mematikan alarm tersebut.


Pemuda tersebut langsung pergi ke kamar mandi untuk bersiap siap pergi ke sekolah.


...****************...


Setelah selesai mandi dan berpakaian pemuda tersebut pergi ke dapur untuk memasak.


Aw...!!!


Terdengar suara teriakan kecil dari dapur, ternyata saat ingin memotong sayur jari pemuda tersebut terkena irisan pisau yang cukup dalam.


Niiing!!....Nuuung!!.....Niiing!!....Nuuung!!....8×


Bunyi suara bel


"Astaga, siapa sih mencet bel pagi pagi gini, lagi sibuk juga," kata pemuda tersebut dengan kesal.


Pemuda tersebut langsung membuka pintu dan terlihat ada seorang laki-laki dengan senyuman iblis di depannya.


"Hey Tomo, apa di rumahmu tidak ada jam?" kata pemuda yang berada di dalam rumah dengan nada lesu.


"Tentu saja ada," jawab Tomo.


"Lantas kenapa kamu datang jam segini?"


"Aku bosan kalau menunggu di rumahku," jawab Tomo sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


"Siapa yang mengizinkanmu masuk."


"Sudahlah kir, kitakan teman," Kata Tomo sambil merangkul pundak pemuda tersebut dengan senyumannya yang seperti iblis.


Namaku Akihiro Akira umur 16 tahun, aku sekolah kelas 2 menengah atas. Aku hanyalah manusia biasa walaupun bisa dibilang sedikit tidak biasa. Kalian lihat apa yang terjadi pada jariku tadi. Ya, itulah sesuatu yg membuatku sedikit tidak biasa, yaitu regenerasi tubuh, tapi aku tidak tahu darimana asal kekuatan ini, kemungkinan ini bawaan dari lahir. Walaupun begitu aku tetap merasakan rasa sakit saat terluka.


"Hey Kir, kapan pertama kali kamu tau kalau kamu memiliki kekuatan regenerasi?" tanya Tomo sambil mengambil piring dan gelas.


Btw aku merahasiakan kekuatanku dari semua orang kecuali Tomo dan orang tuaku.


"Waktu aku berumur 4 tahun aku tidak sengaja menginjak paku dan ibuku yang melihat kulit dan daging yang beregenerasi langsung panik dan membawaku ke rumah sakit," jawabku.


"Jadi dokter yang membantumu juga tau kalau kamu punya kekuatan regenerasi?" tanya Tomo dengan nada reporter televisi.


"Tidak, karena kabarnya dokter itu meninggal terkena penyakit stroke setelah 2 jam dia memberi tahu orang tuaku tentang regenerasi," kataku.


"Oh," kata Tomo.


"Kau sudah makan?" tanyaku pada Tomo.


"Em... anu... itu... belum" jawab Tomo dengan wajah malunya.


"Yaudah sekalian aja makan sama-sama kita," kataku.


"Hehehe, bisa request?" tanya Tomo.


"Enggak dulu," jawabku


...****************...


Dalam perjalanan ke sekolah aku penasaran kenapa Tomo mengkerut kan dahinya.


"Ada apa denganmu?" tanyaku kepada Tomo.


"kamu tau kan tentang Killer Number?" tanya Tomo.


"Tidak tau, siapa dia memangnya?" jawabku dengan gelengan kepala.


"Itu loh pembunuhan yang terjadi akhir akhir ini. Pembunuh yang membunuh hanya dengan angka tanpa luka sedikitpun di badan korban," Tomo yang menjelaskan dengan tangan yang di ambai-ambai.


"Oh, kalau tidak salah pembunuh itu pernah melakukan aksinya 70 tahun yang lalu kan?, Kalau dipikir-pikir mustahil banget kalau orang yang sama masih hidup," kataku.


Tanpa disadari kami berdua sudah sampai di sekolah.


Disekolah aku hanyalah murid biasa seperti mayoritas murid lainnya, tidak populer dan tidak terlalu mencolok juga. Tak perlu punya banyak teman juga, bagiku Tomo sudah cukup, lagipula punya banyak teman tidak menjamin apa-apa. Jika kau bertanya padaku apa itu pertemanan aku tidak tau, karena bagiku itu adalah kata lain dari memanfaatkan.


...****************...


Saat jam pelajaran


"Ok anak anak, sekarang cepat ganti baju dan langsung kelapangan kita praktek olahraga!!" Kata guru sambil berjalan keluar kelas dan menuju ke lapangan.


"Pak!! Uhuk, saya boleh izin ke UKS tidak pak, saya merasa tidak enak badan." kataku dengan nada memohon dan ditambah batuk palsu.


"Terima kasih pak."


Aku langsung pergi ke UKS dan berbaring di kasur di dekat jendela.


...****************...


15 Menit Kemudian


Tok!.. Tok!.. Tok!...


Terdengar suara ketokan dari jendela, aku langsung terbangun dan membuka gorden dan terlihat ada Tomo dan aku langsung membuka jendela.


"Astaga, ganggu orang lagi tidur aja," kataku dengan lesu.


"Hilih sakit pura-pura aja sok-sokan tidur," Kata Tomo dengan suara jengkel.


"Aku nitip cincinku," Kata Tomo.


"Heh, cincin apa ini, sejak kapan kau menggunakan aksesoris wanita seperti ini," kataku dengan heran.


"Berisik, kau kira hanya wanita yang boleh menggunakan cincin," jawab Tomo.


"Atau jangan-jangan kau punya gebetan?" tanyaku dengan akting kaget


"Terserah mu, aku mau ke lapangan,"kata Tomo.


Aku menutup kembali jendela dan gorden, saat aku berbalik badan aku terkejut karena tiba tiba ada wanita berpakaian serba putih duduk di samping kasur tempat tidurku.


"Si-siapa kamu?" tanyaku dengan was-was.


Wanita itu langsung meniupkan tangannya dan keluar aura-aura hitam yang pekat yang dimana aura itu langsung masuk ke dalam tubuhku.


"Apa-apaan ini?" tanyaku dengan marah.


Wanita itu perlahan menghilang dan akhirnya menghilang tanpa jejak.


"Apa itu tadi? apa aku beneran sakit?" Kata ku sambil memegang kepala.


Singkat cerita aku terus memikirkan tentang kejadian tadi sampa jam pelajaran kedua.


**Jam pelajaran kedua**


"Baik anak anak hari ini kita kedatangan murid baru," kata guru sambil menyuruh murid baru tersebut masuk.


Ada murid baru, tidak biasanya. Pasti dikelas ini ada MC dari satu cerita.


"Kir, semoga dia perempuan yang cantik," kata Tomo sambil tangan yang berdoa.


"Apa wajahku terlihat peduli," kataku dengan menunjuk wajahku.


Anak baru tersebut langsung masuk dan memperkenalkan diri.


"Ha-hai namaku Geovani, senang bertemu dengan kalian," kata murid baru tersebut dengan malu.


"Kir, cantik dia kir," kata Tomo.


Kalau di lihat dari namanya sepertinya dia bukan orang jepang, kalau dia baru pindah dari luar negeri mustahil bahasa jepangnya selancar itu. Yah aku juga tidak terlalu peduli.


...****************...


Saat pulang sekolah


"Kir, kamu pulang duluan saja, aku mau ekskul," kata Tomo.


"Memang begitu rencanaku," kataku sambil keluar dari kelas.


Singkat cerita saat aku sampai di depan rumah aku terkejut karena anak baru bernama Geovani itu ternyata pindah disebelah rumahku.


Kalau Tomo tau hal ini pasti dia sering ke rumahku, masalahnya dia kalau ke rumahku cuma bisa berantakan rumahku dan aku lebih suka sendiri kalau di rumah.


"Aku pulang," kataku sambil membuka pintu rumahku.


Aneh-aneh saja, padahal aku tinggal sendirian. kenapa aku berbicara begitu.


"Selamat datang."


Terdengar suara wanita menjawab salamku, sontak terkejut dan langsung menutup kembali pintu rumahku.


Tung-tunggu aku tinggal sendirian dan pintunya aku kunci tadi pagi, lantas siapa itu?


Astaga aku baru sadar, saat aku membuka pintu tadi nggak terkunci. Tapi apa benar aku mengunci pintu tadi pagi, aarrrgghh malah bikin pusing. Mungkin sebaiknya aku masuk dan langsung pergi memeriksa ada siapa di dalam rumahku.