
"Kira!" kata kak Hato dengan terkejut.
"Ternyata kau ada di sini," kata kak Hato.
Tanpa tau apa-apa Ibnu berjalan tanpa memperdulikan apapun sampai dia tidak tau kalau aku bertemu dengan kak Hato. Dan akhirnya dia sadar kalau aku tertinggal di belakang.
"Tuan?" –Ibnu menoleh ke belakang– "Tuan? itu makhluk yang kemaren, bagaimana dia bisa di sini juga?" bingung Ibnu.
"Kira… tidak kusangka kita bertemu di sini," kata kak Hato.
"Kak Hato?" bingungku.
"Sepertinya kau sudah pasti bergabung dengan Assasin, tapi kumohon apa kau bisa kembali?" pinta kak Hato.
"Kembali? … aku nggak punya tempat itu tau," jawabku.
"Bisakah aku minta tolong padamu kak?" tanyaku.
"Apa itu?" tanya kak Hato.
"Mulai sekarang kamu dan Rei sudah tak perlu lagi terlibat dalam psychokinesis," kataku.
"Apa maksudmu?" bingung kak Hato.
Aku tidak ingin kalian ikut terlibat lagi dalam psychokinesis ini, aku yang akan menanggungnya karena kalian berharga bagiku dan aku juga nggak mau kehilangan sesuatu yang berharga lagi.
"Hey! kenapa kau tidak menjawab? ada apa memangnya?" tanya kak Hato dengan gelisah.
"Aku nggak apa-apa. Ingat ya kak, mulai sekarang aku mohon jangan terlibat lagi," kataku.
"Kalau begitu kau juga tak boleh terlibat lagi, kau yang bilang akan tinggal di apartemen sebelah rumahku dan hidup normal di sana," kata kak Hato.
"Itu tidak bisa," jawabku.
"Dan juga lupakanlah tentang keinginanmu yang mau mengembalikan ingatan Rei tentangku, itu lebih baik jadi dia tak terlibat lagi," kataku.
"Apa yang kau bicarakan dari tadi? aku nggak ngerti maksudmu," kata kak Hato.
"Intinya, kalian sudah tak perlu terlibat lagi, aku akan menanggung semuanya," jawabku.
"Tapi … kau dalam bahaya dengan posisimu yang sekarang," kata kak Hato.
"Ya mungkin itu benar. Tapi pegang kata-kataku ini "Aku tidak akan mati!" kataku.
"Aku tak peduli soal itu, aku hanya ingin kau kembali bersama kami," kata kak Hato.
"Tuan!" teriak Ibnu dari kejauhan dan menghampiriku yang bersama kak Hato saat itu.
"Tenang Ibnu, tak perlu panik aku bisa mengendalikan ini," kataku.
"Ibnu! jadi kau yang menculik Kira!" kata kak Hato dengan sedikit marah.
Menculik? aku nggak tau apa-apa, tapi kalau dia berkata seperti itu artinya tuan Kira di bawa paksa ke rumah Nobu, gumam Ibnu.
"Tolong mengertilah kak, ini demi kalian," kataku.
"Itu tidak akan berhasil tuan," kata Ibnu dengan sikap kuda-kudanya.
"Tuan?" bingung kak Hato.
"Oy oy oy, kau mau ngapain?" tanyaku pada Ibnu.
"Ini hanya bisa diselesaikan dengan perkelahian," kata Ibnu.
"Jadi kau ingin bertarung untuk mendapatkan Kira? aku terima tantanganmu," jawab kak Hato.
"Aku tak akan menahan diri dengan wanita," kata Ibnu dengan kuda-kudanya.
"Aku tak masalah dengan itu," kata kak Hato dengan kuda-kudanya juga.
"Oy oy. Ibnu, sudah kubilang aku bisa mengendalikannya," kataku.
"Tenang tuan, aku tak akan menggunakan kekuatanku dan akan kuselesaikan dengan sangat cepat," kata Ibnu dengan sangat yakin.
"Oy!…. Ini perintah…!" kataku dengan tegas kepada Ibnu.
"Ba-baik tuan," kata Ibnu dengan langsung berlutut padaku.
"Sudah tak apa kak," kataku pada kak Hato.
"Kira boleh aku bertanya sesuatu?" tanya kak Hato.
"Apa itu?"
"Dari tadi dia memanggilmu 'Tuan' memangnya dia siapamu?" tanya kak Hato.
"Dia bukan siapa-siapa dia hanya Ibnu, jadi maukah kau menuruti yang aku katakan tadi?" tanyaku.
"Kir-"
Karena aku datang terlambat jadi aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, gumam Ibnu.
"Ini demi kalian, supaya kalian tidak terlibat lagi, dan kau juga bisa pegang kata-kataku tadi," kataku.
"Baiklah kalau kau memang ingin begitu," kata kak Hato.
"Untunglah," kataku.
"Tapi setidaknya maukah kau bertemu dengan Rei?" minta kak Hato padaku.
"Tidak untuk sekarang," jawabku.
"Dia juga lupa ingatankan, jadi ya tidak apa-apa bertemu denganmu dan mulai dari awal," kata kak Hato.
Aku melihat jam tangan milikku untuk melihat apakah masih lama waktu yang aku miliki.
Masih lama, sepertinya tidak masalah.
"Mungkin boleh, tapi aku hanya akan melihat dari jauh," kataku.
"Aku tidak yakin kalau kau hanya akan melihat dari jauh," kata kak Hato.
"Tentu, aku ikut agar tuan tak diculik oleh wanita ini," kata Ibnu.
"Ya ya, terserahmu," kataku.
Kami bertiga kemudian berjalan dan sampai di mana tempat ada Rei sendirian dengan kursi rodanya.
Oh iya, aku baru ingat kalau Rei lumpuh permanen tapi itu bukan masalah bagiku.
"Hey! kenapa kau meninggalkan dia sendirian di sana?" tanyaku dengan sedikit nada tegas.
"Aku tak meninggalkannya sendirian, aku meninggalkannya bersama ibuku," jawab kak Hato.
"Jadi di mana ibumu?" tanyaku.
"Entah, mungkin dia pergi ke toilet," kataku.
Rei… akhirnya aku bisa melihatmu lagi setelah cukup lama saat kau menjadi roh di rumahku saat itu.
Reflek, aku berjalan ke arah Rei yang duduk di kursi roda di sana dan disusul belakangku oleh kak Hato.
"Sudah kuduga, kau pasti tidak akan melihat saja dari jauh," kata kak Hato dan mengikutiku.
"Kau bisa melihat dari situ saja," kata kak Hato pada Ibnu.
"Ya aku tau, aku tipe orang yang bisa membaca situasi," kata Ibnu.
~~
"Rei!!!" panggil kak Hato.
Rei tak membalas panggilannya melainkan hanya tersenyum pada kakaknya yaitu Hato.
"Anu … pria ini siapa kak?" tanya Rei dengan sedikit takut.
Benar, dia hilang ingatan. Andai dia tak kehilangan ingatannya aku pasti sudah memeluknya sekarang.
"Perkenalkan, aku Akihiro Akira," kataku.
"Nama itu," –Rei menoleh pada kakaknya–
"Ya, dia Akihiro Akira yang sering aku ceritakan," kata kak Hato.
"Dia?" bingung Rei.
"Ya, sayang sekali ya kau harus kehilangan ingatanmu," kataku.
"Boleh bicara berdua sebentar kak?" tanyaku pada kak Hato.
"Tentu." jawab Hato.
"Kalian ada urusan apa memangnya pergi ke Tokyo?" tanyaku.
"Untuk pengobatan Rei lah, apalagi kalau bukan demi kebahagian adikku," jawab kak Hato.
"Apa kalian punya biaya hidup?" tanyaku.
"Eee… ada kok tenang aja," jawab kak Hato.
"Bohong, kau tidak pandai berbohong ya kak," kataku.
"Maaf saja ya, kalau tentang itu," kata kak Hato.
"Kalau begitu boleh minta nomor rekeningmu?" tanyaku.
"Untuk?" bingung kak Hato.
"Untuk memberimu beberapa uang yang aku miliki," kataku.
"Aku menolak, aku tak bisa menerima uang dari seseorang begitu saja tanpa ada hal yang aku kerjakan," kata kak Hato.
"Begitu ya. Kalau begitu aku mempekerjakanmu untuk membuat Rei bahagia dan merawatnya," kataku.
"Sebenarnya itu memang tugasku," jawab kak Hato.
"Tapi ini permintaanku kan? jadi dengan uang yang akan aku transfer buatlah kehidupan kalian bahagia," kataku.
"Dan saat semua sudah aku selesaikan maka aku akan pulang pada kalian," bisik ku pada kak Hato.
"Kalau begitu, aku terima pekerjaan ini," kata kak Hato
Kak Hato kemudian memberikan nomor rekeningnya dan tiba-tiba hpku berbunyi.
"Ada apa ini? 'Halo?'"
.....
.....
"Sudah kubilang bukan," kataku.
.....
"Ok, sama-sama," jawabku dan kemudian mematikan panggilan itu.
"Kir, aku tak terjadi apa-apa denganmu karena posisimu adalah domba yang bersekutu dengan serigala untuk menangkap domba lainnya," bisik kak Hato padaku.
"Tetap pegang kata-kataku, 'aku tidak akan mati' percayalah kak," kataku.
Kemudian aku berjalan mendekati Rei dan berlutut di depannya sembari berkata "Rei, aku sayang sama kamu."
Mendengar ucapanku, walupun dia kehilangan ingatannya wajahnya memerah dan langsung berpaling dariku.
Aku janji, akan aku bereskan semuanya, semuanya, sampai tidak tersisa.
Aku kemudian berjalan menuju Ibnu dan Ibnu bertanya padaku siapa tadi yang menelepon.
"Itu polisi yang aku temui tadi malam," kataku.
"Dan polisi itu berkata padaku 'Sesuai perkiraan, sebelum pesawat berangkat kami menemukan ada 6 bom di pesawat, dan kami akan mencari lagi. Kami juga berterima kasih atas informasi yang kau berikan,' aku memang hebat," kataku.