
setelah selesai membersihkan badan, aku pergi ke luar untuk berolahraga dan juga melihat ke rumah Geovani apakah benar dia sudah tidak ada.
"Rumahnya memang kosong, semua barang-barangnya juga udah nggak ada," kataku.
Aku kemudian pergi dari rumahnya dan pergi berolahraga dengan cara berkeliling daerah tempat tinggalku.
setelah cukup lama dalam perjalanan aku memutuskan untuk beristirahat dan di bawah pohon.
Geovani nggak ada Tomo juga nggak ada, aku jadi nggak punya siapa-siapa lagi.
"Argh, aku mau bunuh diri aja, bosan banget hidup."
"Aku penasaran gimana kalau Geovani tau aku abadi, apa dia nyesal karena mutuskan kontrak dengan keabadian," kataku.
Dari awal emangnya apa sih ini psycho-psychoan nggak ada fungsinya sama sekali, bahkan di luar sana masih ada 6 orang yang juga menjadi psycho kira-kira kekuatannya apa sama tidak bergunanya denganku.
Hmmm, bagaimana jika sebenarnya keabadianku ini juga kekuatan psycho yang aku tidak ketahui, hahahaha nggak mungkin lah.
Aku terbaring di bawah sejuknya pohon dan tiba-tiba ada seseorang duduk di sampingku.
"Yo Kir, boleh aku duduk di sini?"
Saat kulihat ternyata adalah Hermawan.
"Kau sudah duduk ngapain lagi bertanya," kataku.
Hermawan adalah murid pindahan dari indonesia dan pindah ke jepang tapi tidak sekelas denganku, dia merupakan perfect pria di sekolahku. Bisa dibilang dia orang yang populer di sekolah, banyak di sukai wanita karena wajahnya yang tampan, dan sifatnya yang sangat baik dan juga tidak sombong intinya dia pria terbaiklah lah di sekolah.
"Aku tidak menyangka orang sepertimu mengenalku," kataku.
"Hahahaha, mana mungkin aku lupa, kamu kan yang dulu bantu aku waktu aku baru pindah dan nggak bisa bahasa jepang, aku bertanya pada orang-orang menggunakan bahasa inggris tidak ada yang mengerti dan kamu yang bantu aku," kata Hermawan.
"Kejadian itu ada ya," kataku.
"Aku turut berduka cita Kir, tentang sahabatmu," kata Hermawan.
"Hey Herman, cepat yang lain sudah nunggu dari tadi," panggil seseorang kepada Hermawan dari jauh.
"Ya! aku pergi Kir, mau ikut?" ajaknya.
"Enggak," kataku.
"Ok ok."
Hermawan kemudian pergi dengan temannya itu dan entah pergi kemana.
"Huh, sepulang ini aku ambil berkas ke sekolah habis tu pindah ke tempat yang selalu ingin aku tinggali yaitu... apa ya," kataku.
Soal uang aku tidak perlu khawatir, uangku selalu masuk terus menerus karena beasiswa ku.
Duh, bangganya aku pada diriku sendiri.
"Hahahahahahahahahaha."
"Ibu, orang itu kenapa? kenapa dia tertawa di bawah pohon itu?" tanya seorang anak kecil pada ibunya.
"Dia lagi depresi nak, kasian temennya yang biasanya berangkat sekolah sama dia udah pulang duluan," jawab ibu dari anak tersebut.
"Cih, sembarangan," kataku dengan kecil.
Jadi masalahku hanya tinggal 1 sekarang, yaitu aku nggak tau mau pindah.
Saat aku berdiri untuk pergi pulang, aku melihat ada 3 orang dengan baju bagus berteriak.
"Itu dia!!! dia orang yang tadi malam cepat tangkap!"
Saat itu, aku tidak sadar bahwa yang di maksud ketiga pria tersebut adalah aku dan saat mereka sampai padaku mereka pun menangkapku.
"Hey, ada apa ini? aku hanya beristirahat di sini," tanyaku dengan heran.
"Kamu harus ikut kami, kamu sangat mencurigakan," kata salah satu pria tersebut.
Ada kemungkinan ini ada kaitannya dengan Geovani yang gagal membunuhku, mungkin.
"Biar aku ajarkan 1 hal pada kalian," kataku.
"Nggak usah banyak bicara, diam dan ikut kami!" kata pria tersebut.
"Gini, kalau kalian ingin menangkap orang, ikat kaki dan tangannya," kataku.
Aku kemudian menendang salah satu dada pria tersebut sampai terjatuh dan juga menendang wajah kedua pria lainnya sampai terjatuh.
"Uh, pasti sakit kan ditendang seperti itu oleh bocah," kataku.
"Sudah lama juga aku tidak berkelahi, sepertinya ini cukup pas untuk melihat apakah aku masih bisa berkelahi." kataku dengan berdiri tegak dan menantang mereka.
Saat mereka bertiga bangun mereka mengeluarkan benda tajam dari saku mereka.
"Wow, mari kita ambil kesimpulannya, aku kalah dalam pertarungan melawan kalian, ya aku mengalah tapi aku tidak menyerahkan diri," kataku.
"Hahahaha, mari tangkap aku kalau bisa," kataku dan langsung lari dari mereka secepat mungkin.
Saat kulihat kebelakang, ternyata mereka mengejarku.
Kalau begini aku nggak boleh pulang ke rumah, aku harus lari jauh sejauh-jauhnya dan langsung pulang ke rumahku saat mereka tertinggal jauh.
Aku berlari tanpa tujuan dari mereka dan saat aku melihat sebuah tempat persembunyian aku pergi dan sembunyi di tempat tersebut.
"Dari awal emangnya apa tujuan mereka?"
"Salahku apa?"
Entah apa yang aku pikirkan di saat-saat yang sempit itu aku mencoba untuk pergi ke masa lalu dan saat aku membuka mataku ternyata aku berhasil pergi ke masa lalu.
"Ha!? apa ini? aku bisa pergi ke masa lalu kenapa kemaren nggak bisa? argh aku nggak ngerti cara gunain kekuatan psycho ini."
Aku kemudian melihat jam dan ternyata jam 4 pagi dan berjalan entah kemana.
Saat berjalan cukup lama, aku kemudian bertemu dengan ketiga pria yang mengejarku.
"oy oy oy, ini keberuntungan kah? atau...."
Saat mereka melihatku mereka tidak mengejarku.
Kalau mereka tidak mengejarku berarti aku masih belum berbuat hal yang bakal bikin aku di kejar.
Saat saling melewati, salah satu pria memegang bahuku dan bertanya padaku.
"Hey! anak muda, apa yang kau lakukan di malam begini sendirian?" tanya pria tersebut.
"Saya baru selesai ngerjain tugas, jadi sebelum tidur saya jalan jalan dulu," kataku dengan sopan.
Mereka emangnya ngapain juga malam-malam begini.
Karena aku melihat jam di tanganku hanya tinggal sebentar lagi aku akan kembali aku tiba tiba berlari dan malah membuat ketiga orang tersebut curiga padaku.
Gawat, sebentar lagi waktuku habis, bisa bahaya kalau mereka lihat aku tiba-tiba hilang.
Tanpa sadar aku terus berlari dan akhirnya aku kembali ke mada depan.
"Huh, aku nggak nyangka bakal di kejar juga di masa lalu."
Tunggu, kalau kusimpulkan penyebab aku di kejar di jaman sekarang itu karena diriku pergi ke masa lalu.
"Argh, itu tak ada gunanya sekarang."
Saat aku berdiri dari tempat persembunyianku, ketiga pria tersebut langsung melihatku dan mendatangiku.
"Huh, aku capek, mungkin aku jelasin aja tentang semalam. Tunggu, walaupun mereka mau di ajak bicara memangnya mereka mau maafin tentang aku yang memukul mereka."
"Tangkap dia!"
Itu gampang Kir, tinggal bilang aja 'nggak sengaja' atau 'kepleset' pasti mereka ngerti.
"Aku menyerah dan minta maaf soal tentang aku yang memukulmu karena aku terpleset," kataku sembari mengangkat tanganku.
Saat mereka ingin mendekatiku tiba-tiba ada seseorang menggunakan hoodie dan topeng dan membuat ketiga pria tersebut tumbang secara tiba-tiba.
"Huh, akhirnya ketemu. Aku kira aku kehilangan jejakmu tadi."
"Siapa?" tanyaku.
"Aku bosan lindungi dari belakang, mulai sekarang aku terang-terangan," katanya.
"Siapa?" tanyaku.
"Aku bayanganmu."
"Wtf, bagaimana bisa bayanganku menjadi seseorang. Aku juga baru tau kalau bayangan itu hidup dan bisa berbicara," kataku.
"Huh, hentikan pura-pura bodohmu itu."
Orang itu kemudian membuka topengnya, dan sedikit membuatku terkejut, ternyata dia seorang wanita.
"Ada apa?" tanya wanita tersebut.
Suara dia saat menggunakan topeng dan tidak menggunakan topeng sangat berbeda jadi sulit untuk mengetahuinya bahwa dia wanita selain membuka topengnya.
"Maksudmu bayangan? aku tak mengerti," kataku.
"Bisa di bilang aku pelindungmu," kata wanita tersebut.
"Siapa yang menyuruhmu? katakan padanya aku tidak membutuhkan itu," kataku.
"Terserah apa katamu, aku tetap akan melakukannya," kata wanita tersebut.
Tiba-tiba datang seorang pria menghampiri wanita tersebut dengan kelelahan.
"Aduh, hey cepat banget, kenapa nggak tunggu? " kata pria tersebut.
"Untuk apa aku menunggumu."
"Oh, hai Kir," sapa pria tersebut.
"Siapa?"
"Aku psycho."
Hoh, lagi, aku bertemu dengan mereka lagi.
"Asal kamu tau, dialah psycho yang menusuk perutmu tempo hari," kata wanita tersebut.
"Hehehehe, ya maaf, habisnya aku mau buktiin dia beneran bisa balik ke masa lalu apa enggak," kata pria tersebut.
"Oh, jadi kamu yang nusuk aku," kataku.
"Ya maaf."
"Dan wanita ini psycho juga?" tanyaku.
"Tidak, dia cuma manusia biasa," kata pria tersebut.
"Setidaknya aku tau kekuatan psycho ke7," kata wanita tersebut.
"Terserah kalian lah," kataku dan langsung mencoba pergi dari mereka.
"Tunggu! mau kemana kamu?" tanya wanita tersebut.
"Pulang ke rumahku," kataku.
"Jangan dulu! masih ada yang ingin kubicarakan," kata wanita tersebut.
"Ya aku juga, kemana hilangnya luka di perutmu saat aku menusukmu?" tanya pria tersebut.
"Hey! nggak usah ikut campur, lagian ngapain sih ngikutin terus," kata wanita tersebut pada pria tersebut.
"Argh, andai waktu di gang itu aku langsung membunuhmu dan menggantung mayatmu di tiang listrik, pasti aku nggak bakal kerepotan sekarang," kata wanita tersebut.
"Ya baiklah, aku diam aja," kata pria tersebut.
"Hey Kir, dari yang aku lihat sepertinya kau mau pindah, pa benar?" tanya wanita tersebut.
"Ya, lagian nggak ada yang bisa kulakukan di sini," kataku.
"Bisakah kau tidak pindah dan tetap berada di sini," pinta wanita tersebut.
"Untuk?"
"Tolong pikirkan lagi setelah aku mengatakan hal ini."
"Apa itu?" tanyaku.
"Wah, tidak kusangka ternyata ketiga pria yang mengejar Kira adalah anggota dari Assasin," kata pria tersebut.
"Siapa itu Assasin?"
"Siapa itu Assasin?"
"Ah, tidak, bukan apa-apa, lanjutkan saja pembicaraan kalian."
"Apa yang ingin kau katakan tadi?" tanyaku.
"Rei masih hidup," kata wanita tersebut.