
Di suatu tempat seseorang keluar dari suatu hotel dengan menggunakan pakaian musim dingin padahal sekarang musim panas.
"Sial, padahal kemaren aku berhasil bertemu dengan Kira tapi aku malah kehilangan jejaknya."
"Ini salahnya sendiri karena tidak mau membunuh, dia terlalu naif. Jika saja dia mau membunuh mungkin dia bisa memutar waktu tanpa kehilangan ingatannya."
"Argh, karena aku kehilangan jejaknya aku hanya bisa berharap kalau perbuatanku pada Kira kemaren bisa mengubah masa depan walaupun sedikit."
...****************...
"Sepertinya kau memang harus pindah dari sini Kir," kata Hato.
"Pindah kemana?" tanyaku.
"Mungkin kau bisa pind-"
"Bagaimana kalau aku pindah ke luar negeri," kataku.
"Bukankah itu terlalu jauh."
"Hanya bergurau," kataku.
"Kita kesampingkan dulu masalah itu, sekarang sebaiknya kita memanggil ambulan sekarang," kataku.
Bukannya melakukan hal yang aku katakan sendiri tapi aku malah berdiam diri saja di dekat mayat Aki.
"Ada apa Kir? kau hanya melamun," tanya Hato.
"Ah tidak, hanya saja aku lupa dimana aku meletakkan hp milikku," kataku.
"Nih gunakan hpku," kata Hato dan memberikan hpnya padaku.
"Kenapa tidak kau saja yang menelponnya?" tanyaku.
"Aku tidak tau nomor ambulan, maaf aja ya," kata Hato.
Aku kemudian mengambil hpnya dan menelpon nomor ambulan.
"Kenapa bisa seperti ini ya, padahal hanya sebentar saja dia pergi keluar," kata Hato.
Itu menurutmu yang sebentar, tapi bagiku yang kau katakan tadi itu cukup memakan banyak waktu.
"Kita beruntung dia mati di depan jalan rumahku," kataku.
"Ha? kenapa begitu?" tanya Hato.
"Karena sangat jarang orang lewat jalan ini, jadi mungkin tidak banyak orang yang melihat ada orang terbunuh di sini," kataku.
"Tapi kau bilang beruntung atas kematiannya, apa itu nggak apa-apa?" tanya Hato.
"Aku yakin ini ulas Assasin, tapi kenapa mereka hanya membunuhnya dan membiarkannya mayatnya, apa mereka hanya membunuh untuk menyenangkan hidup mereka?" bingungku.
"Mungkin tujuan mereka hanya anggota mereka yang tau," kata Hato.
"Apa ada keluarganya di disini?" tanya Hato.
"Sepertinya dia tinggal sendiri," kataku.
"Masih ada yang membuatku penasaran dengan Aki, yaitu... apa ya aku lupa," kataku.
"Tentang apa?" tanya Hato.
Sayang sekali aku tidak bisa tau apa-apa tentang psycho sekarang karena sumber informasinya sudah tidak ada lagi.
"Ah tidak, tidak ada," kataku.
Tunggu, bukankah kemaren juga ada psycho lain saat aku berada di taman bersama Geovani, mungkin aku bisa bertemu dengannya lagi.
Tak lama kemudian ambulan datang dan mengangkat Aki ke dalam mobil ambulan dan petugas ambulan yang ada di sana bertanya pada kami.
"Apa kalian keluarganya?" tanya supir ambulan.
"Kami cu-"
"Kami tidak mengenalnya, saat kami berdua ingin pulang ke rumah kami melihat dia sudah terkapar dengan 3 benda tajam tertancap di badannya seperti ini," kataku.
"Kalau begitu, kami akan membawanya ke rumah sakit," kata supir ambulan dan langsung mengemudikan ambulannya ke rumah sakit.
Ada yang aneh dengan kematiannya, sepertinya ada sebuah kesengajaan disini.
"Hey, kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Hato.
"Memangnya salah? bukankah benar aku memang tidak mengenalnya, dan kau juga masih belum percaya dengannya artinya kita sudah cukup untuk berurusan dengannya lagian dia juga sudah meninggal," kataku.
Ini aneh, tidak seperti biasanya. Daritadi Kira hanya mengatakan kata 'Mati' tapi entah kenapa terkahir ini dia berkata 'Meninggal' mungkin dia juga berduka cita tapi tidak ingin diketahui orang, gumam Hato.
"Melihat sikapmu yang begitu tenang setelah mengetahui bahwa orang yang kau kenal meninggal, sepertinya kau sudah terbiasa dengan kematian," kata Hato.
"Hahahahahaha, aneh-aneh saja kau beranggapan begitu," kataku.
"Lebih baik kau pindah ke apartemen sebelah rumahku, jadi kau bisa bertemu dengan Rei setiap hari ditambah jarak ke sekolah tidak begitu jauh," kata Hato.
"Masalahnya kalau aku tetap berada di sini lambat atau cepat, Assasin pasti akan menemukanku," kataku.
"Kalau soal itu, untung saja rumahku sangat jauh dari sini, jadi Assasin mungkin akan kesulitan bertemu denganmu," kata Hato.
"Memangnya di mana kau tinggal?" tanyaku.
"Kurang lebih jaraknya 100 km dari sini, aku mengeceknya dengan maps di hp," kata Hato.
"Sepertinya pindah ke sana juga boleh, karena aku sudah tidak punya alasan lagi tinggal di sini," kataku.
Sepertinya hari ini aku harus mencari psycho yang kemaren bertemu denganku, tapi apa aku bisa mereka menemukannya di taman. Arhg yang penting aku pergi kesana apabila tidak ada ya sudahlah.
"Jadi kau akan pindah," tanya Hato.
"Kapan?" tanya Hato.
"Secepatnya, karena aku ingin bertemu Rei jadi aku mau secepatnya setelah aku mengurus berkas sekolahku," kataku.
"Sepertinya aku akan tinggal di daerah sini setidaknya dalam beberapa hari, apa di dekat sini ada penginapan?" tanya Hato.
"Setauku di sini hanya ada hotel di sebrang sekolah,"
"Ya kalau hotel aku tau, karena aku menginap di sana selama beberapa hari ini untuk melihatmu," kata Hato.
"Jadi kenapa kau bertanya tentang penginapan kalau kau sudah ada tempat tinggal sementara di hotel itu?" tanyaku.
"Ah... uang yang aku bawa tidak cukup, jadi aku mencari tempat yang lebih murah," kata Hato.
"Oh begitu, kenapa tidak tinggal di rumahku saja, masih ada kamar yang kosong di rumahku," kataku.
"Kau tidak perlu khawatir, aku bukan orang yang mudah terbawa suasana. Aku juga tidak memaksamu," kataku.
Kak Hato hanya terdiam saat aku mengatakan itu. Kemudian aku berjalan masuk ke rumah untuk bersiap-siap untuk mengurus berkasku di sekolah.
"Jadi, sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanyaku.
"Itu... bagaimana denganmu," tanya Hato.
"Kalau aku sekarang mau mengurus berkas untuk pindah, mau ikut?" tanyaku.
"Boleh?" tanya Hato.
"Tentu saja, malah aku akan senang karena tidak sendirian," kataku.
"Syukurlah kalau begitu, ngomong-ngomong kemana perginya wanita yang biasanya bersamamu itu?" tanya Hato.
"Oh, dia juga pindah. Tiba-tiba banget lagi, dia cuma tinggalin surat yang isinya bertuliskan perkataan minta maaf dan juga perkataan dia pindah," kataku.
"Pantas saja aku tidak melihatnya pagi ini," kata Hato.
Kami berdua kemudian bersiap dan pergi berangkat pergi ke sekolahku.
Tunggu, memangnya ada guru di sekolah hari ini?
Dengan ragu aku berangkat ke sekolah karena aku berpikir sekarang libur memangnya ada guru di sekolah.
Mudahan saja ada guru di sekolah, setidaknya ada kepala sekolah lah, karena ini bukan weekend dan juga libur ini bukan karena weekend.
Saat sampai di sekolah aku bersyukur karena ternyata ada kepala sekolah di sekolah jadi aku bisa langsung mengurus semuanya.
"Jadi begitu ya, sangat di sayangkan kami akan kehilangan murid berharga seperti dirimu," kata Kepala sekolah.
"Kalau boleh tau dia siapa ya?" tanya kepala sekolah sekaligus menunjuk kearah Hato.
"Oh, dia kakak sepupu saya pak, saya bakal tinggal sama keluarga dia pak," kataku pada kepala sekolah.
Sesaat setelah aku keluar dari ruangan kepala sekolah bersama kak Hato tiba-tiba kepala sekolah memanggilku.
"Ada apa ya pak?" tanyaku.
"Di kantin tu, ada kepala kepolisian siapa tau kau ingin bertemu dengannya," kata Kepala sekolah.
Ha!? kau bercanda? kenapa aku harus menemuinya.
"Oh jadi dia ada disana, sebenarnya saya ingin menemuinya tapi saya sedang terburu-buru sepertinya tidak bisa," kataku.
"Sayang sekali kalau seperti itu," kata kepala sekolah.
"Ad-"
"Jangan tanya," tanyaku.
"Aku bahkan belum mengatakan apapun," kata Hato.
Kemudian aku dan Hato berjalan pulang, dalam perjalanan pulang Kak Hato bertanya padaku.
"Bagaimana menurutmu tentang Aki, aku tidak menyangka dia akan secepat itu meninggal," kata Hato.
"Apa kau berpikir dia benar-benar meninggal?" tanyaku.
"Iya, bukankah kau sudah mengeceknya," kata Hato.
"Aki belum mati, aku tau karena psycho tidak bisa semudah itu dibunuh apalagi hanya dengan 3 pisau yang tertusuk, dia pasti mempunyai tujuan kenapa dia memalsukan kematiannya entah itu untuk mengkhianati kita atau membantu kita aku masih belum tau," kataku.
"Jadi dia belum meninggal?" tanya Hato.
"Tentu saja, lihat saja jika tidak mengkhianati kita dia pasti akan datang ke rumahku kalau dia merasa sudah aman," kataku.
Saat dalam perjalanan pulang aku iseng melihat kebelakang terkejut karena melihat anggota Assasin yang mengikuti kami.
"Sepertinya kita harus lari Kak," kataku.
"Ha? ada apa memangnya?" tanya Hato.
"Kau bisa melihatnya kebelakang," kataku.
"What!? mereka lagi," kata Hato.
Kami berdua kemudian lari tanpa tujuan karena jika kami berlari ke rumahku mereka akan mudah menemukanku.
"Kau tau, aku sudah memutuskan," kataku sambil berlari.
"Memutuskan apa?" tanya Hato.
"Aku memutuskan untuk terlibat dalam hal ini," kataku.